Oleh: Abu Ahmad Said Yai*
{ فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ }
Artinya: “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS Hûd: 112)
RINGKASAN TAFSÎR[1]
(Maka tetaplah kamu [pada jalan yang benar]), yaitu ber-istiqâmah-lah kamu, (sebagaimana diperintahkan kepadamu) di dalam kitab-Nya, ber-‘aqîdah-lah yang benar, beramal solehlah dan tinggalkan kebatilan tanpa menyimpang ke kiri ataupun ke kanan dan terus meneruslah dalam keadaan seperti itu sampai kamu wafat. (dan [juga] orang yang telah bertaubat bersama kamu), yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mu’minin. Agar kalian mendapatkan balasan yang baik kelak di hari penghisaban (yaumul-hisâb) dan hari pembalasan (yaumul-jazâ’).
(Dan janganlah kalian melampaui batas!), yaitu berlebih-lebihan dari batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik di dalam ber-‘aqîdah maupun beramal.
(Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan) dan Dia tidak akan pernah lalai terhadap apa yang kalian kerjakan dan Maha mengetahui segala sesuatu yang disembunyi-sembunyikan meskipun tidak tampak di hadapan manusia.
MEMAKSIMALKAN IBADAH DI BULAN YANG PENUH BERKAH
Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
Tidak terasa bulan yang kita nanti-nanti datang juga. Bulan yang kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadhan, itulah nama bulan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
Bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan.
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diutus pada bulan Ramadhan.
3. Pada bulan Ramadhan setan-setan akan dibelenggu, seluruh pintu-pintu neraka ditutup dan seluruh pintu-pintu surga dibuka oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
4. Beramal di bulan Ramadhan bisa menghapuskan dosa-dosa antara Ramadhan yang lalu dengan Ramadhan yang sekarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر)).
Artinya: “Shalat lima waktu, Jum’at yang satu dengan Jum’at yang lainnya dan Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya dapat menghapuskan dosa di antara (waktu-waktu) tersebut jika menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)
Dan masih banyak sekali keutamaan-keutamaan bulan yang penuh berkah ini.
HINANYA HATI YANG KERAS
oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
{ أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}
Artinya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Az-Zumar: 22)
Ringkasan Tafsir[1]
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam”, yaitu dengan dipermudah untuk mengenal-Nya, bertauhid kepada-Nya, taat akan perintah-Nya dan menjadi bertambah semangat untuk mengerjakan ajaran Islam. Dan ini adalah pertanda yang baik bagi seseorang.
“Lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya”, yaitu cahaya kebenaran yang membuat hatinya bertambah yakin. Apakah mereka itu sama dengan orang yang hatinya keras? Tentu saja tidak sama.
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah”, yaitu mereka yang hatinya tidak lunak ketika diingatkan akan Allah, tidak khusyû’, tidak paham, tidak sadar dan selalu membangkang.
“Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” yang akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan.
Selengkapnya
NABI AHMAD DI DALAM AL-QUR’ÂN
Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
{ وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ }
Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika ‘Îsâ Ibnu Maryam berkata, ‘ Hai Banî Isrâîl, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad.’ Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’.” (QS As-Shaff : 6)
Tafsir Ringkas
Selengkapnya
MENYIKAPI REZEKI YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH
Oleh : Ustadz Abu Ahmad Said Yai
Khuthbah I
Muqaddimah
Hadirin rahimakumullaah.
Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kita untuk bertakwa. Ketahuilah takwa adalah kata yang sangat ringan diucapkan, tetapi sangat berat untuk melaksanakannya. Di hari ini saja, cobalah ingat berapa dosa yang telah kita lakukan, berapa dosa yang telah diperbuat oleh hati-hati kita. Sebagai contoh, apakah hati-hati kita telah selamat dari rasa iri terhadap orang lain yang telah diberi kenikmatan lebih kepadanya, harta yang melimpah dan rezeki yang banyak?
Ketahuilah rezeki bagaikan hujan, dia terbagi tidak merata. Terkadang turun di pegunungan. Terkadang tidak turun di padang sahara.
Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa membawa laknat.
Ingatlah ketika Allah menenggelamkan kaum Nabi Nuuh ‘alaihissalaam yang membangkang! Dengan apa Allah membinasakan mereka? Dengan hujan dan banjir yang sangat besar.
Ibadah Teragung dalam Sejarah
Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai
Hidup di dunia adalah hidup yang sementara. Sungguh indah apabila kita menjadi hamba Allah yang benar-benar mulia. Tidaklah kita diciptakan di dunia ini kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ }
Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (QS Adz-Dzariyat : 56)
Jika kita tahu bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah hanyalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka sudah seharusnya kita benar-benar dapat meluangkan waktu kita untuk beribadah kepada-Nya.
Ibadah-ibadah sangatlah banyak jumlahnya. Kira-kira, ibadah apakah yang paling agung dalam sejarah manusia?
Apakah shalat? Ataukah sedekah? Ataukah berbakti kepada kedua orang tua? Ataukah ibadah lain?
BENARKAH CARA BERISLAM ANDA?
Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
Tidak bisa dipungkiri Islam “lahir” lebih dari 14 abad yang lalu. Selang waktu yang sangat lama ini sangat memungkinkan untuk terjadi kesesatan di dalam “tubuh” Islam. Jangankan 14 abad, dalam waktu yang sangat singkat saja, suatu kaum bisa menjadi sesat, sebagaimana terjadi pada Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam selama 40 hari. Yang tadinya mereka hanya menyembah kepada Allah, akhirnya mereka menyembah kepada berhala.
Begitu pula dengan jarak yang sangat jauh dengan pusat penyebaran Islam di zaman dahulu, seperti: Madinah, Mekkah, Baghdad, Mesir dll. Untuk bisa mencapai negeri Indonesia, para penyebar Islam harus menempuh pelayaran dan perjalanan yang sangat lama. Ini juga mendukung terjadinya kesesatan.
Berdasarkan catatan sejarah, di awal-awal masuknya Islam ke Indonesia, Islam banyak disebarkan oleh para pedagang Islam yang berinteraksi dengan masyarakat pribumi. Mereka tidak terkenal sebagai ulama yang benar-benar menguasai ilmu Islam secara mendalam sebagaimana ulama-ulama yang berada di pusat penyebaran Islam di zaman dahulu. Seandainya benar mereka adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu yang sangat dalam, tentunya kita akan mendapatkan peninggalan-peninggalan ilmiah mereka, baik berupa: tulisan tangan, riwayat perkataan mereka atau kemasyhuran mereka di dunia Islam. Tetapi ternyata kita tidak menemukannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Islam di Indonesia dulunya diajarkan oleh orang-orang yang belum mencapai derajat ulama yang mendalam ilmunya. Jika demikian, maka Islam bisa ternoda dengan ketidakberilmuan mereka. Ini juga sangat mendukung terjadinya kesesatan di Indonesia.
Perbandingan Kenikmatan Surga dan Kenikmatan Dunia
Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.
Surga memiliki banyak kenikmatan. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia. Berikut ini adalah perbedaan kenikmatan dunia dengan kenikmatan di surga beserta dalil-dalilnya:
1. Apa yang ada di dunia hanya sedikit, sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di surga.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى }
(1) Artinya: “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.’!” (QS An-Nisa’ : 77)
Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa kesenangan dunia ini hanya sedikit saja. Buat apa kita mengejar yang sedikit ini dan melalaikan yang lebih baik nanti.
Disebutkan pula di dalam hadits berikut:
عن مُسْتَوْرِد يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ )).
(2) Diriwayatkan dari Mustaurid radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah! Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, hendaknya dia melihat, seperti apa jari itu kembali.”[1] (Berapa banyak air yang berada di jarinya bila dibanding dengan air laut-pen)
Selengkapnya
Kekhususan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Oleh Umatnya
Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.
Berikut ini adalah beberapa kekhususan-kekhususan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh umatnya yang sebagian Nabi pun bisa memilikinya:
- Kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kewajiban umatnya untuk mencintainya melebihi segala sesuatu
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ }
(1) Artinya: “Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah: 24)
Perkataan penulis “mencintainya melebihi segala sesuatu” tentu harus diartikan mencintainya melebihi segala sesuatu setelah kecintaan kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah yang utama dan yang paling utama.
- Kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan qarin (jin pendamping) yang beragama Islam
Beberapa Kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Nabi Yang Lain
Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain, bahkan sebagian kekhususan tersebut tidak dimiliki oleh para nabi ‘alaihimush-shalatu was-salam.
Mengapa kita harus mengetahui kekhususan-kekhususan ini? Karena untuk dapat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sempurna kita harus mengetahui hal ini, sehingga kita bisa membedakan dan membandingkan kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh Nabi yang lain.
Di antara kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari semua nabi adalah sebagai berikut:
- Kekhususan yang Allah berikan kepadanya dengan menjadikan tanda kenabian yang paling besar untuknya dan terdapat di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an)
Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam yang berpahala jika membacanya dimulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas. Perlu penulis tekankan bahwa Al-Qur’an bukanlah makhluk, sebagaimana diyakini oleh orang-orang yang menyimpang dari akidah Ahlus-sunnah wal-jama’ah.
Mengapa Al-Qur’an bisa menjadi mu’jizat yang paling besar dan paling agung dari seluruh mu’jizat-mu’jizat yang lain yang diberikan kepada para Nabi?






