Skip to content

Ciri-Ciri Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[1]

24 Desember 2010

Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Oleh karena itu, sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kita harus meneladani beliau. Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi keistimewaan dengan memiliki kefasihan lisan dan retorikanya indah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berperangai luwes, jelas lafaznya, ringkas bicaranya, benar maknanya, tanpa dibuat-buat.

 

Beliau telah dikaruniai jawami‘ul-kalim (kalimat ringkas tetapi mengandung banyak makna dan hikmah), mempunyai mutiara-mutiara hikmah yang indah dan menguasai logat-logat orang arab, berdialog dan berbicara kepada setiap kabilah sesuai dengan logat dan bahasa mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat penyantun, sabar, memberi maaf pada saat mempunyai kekuatan dan sabar pada saat tertimpa musibah. Ini adalah sifat-sifat yang ditanamkan oleh Allah kepadanya. Setiap orang yang penyantun pasti memiliki kesalahan dan kekeliruan, beda halnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semakin banyak gangguan yang dihadapinya maka semakin bertambah pula kesabarannya.

 

‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipilihkan dua hal kecuali beliau akan memilih yang paling mudah di antara kedua hal tersebut, dengan syarat hal itu tidak mengandung perbuatan dosa. Apabila mengandung perbuatan dosa, maka beliaulah yang paling jauh darinya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas dendam kepada seseorang untuk kebutuhan pribadi atau dunianya, tetapi dia membalas (perlakuan jelek orang lain) karena syariat Allah. Beliau adalah orang yang paling jauh dari kemarahan dan orang yang paling cepat ridha/rela. Sifat kedermawanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada tandingannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedekah seperti orang yang tidak takut miskin.

 

Ibnu ‘Abbas   radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan kepadanya Al-Qur’an. Kemurahan hati Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam memberikan kebaikan lebih cepat dari angin yang bertiup kencang.”

Keberanian, kejantanan, kekuatan dan kepahlawanan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam di saat berhadapan dengan musuh sudah tidak diragukan lagi. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam adalah orang yang paling berani dalam menghadapi berabagai kondisi yang sulit.

 

‘Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Apabila peperangan  telah memanas dan serangan semakin seru, maka kami berlindung di belakang Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, tidak ada seorang pun yang lebih dekat dengan musuh kecuali beliau.”

 

Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan dengan suara yang aneh, orang-orang pun menuju ke tempat datangnya suara itu. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bertemu mereka sewaktu beliau kembali dari arah suara tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pun mendahului mereka, beliau mengendarai kuda milik Abu Thalhah yang tidak berpelana, di leher beliau tergantung sebilah pedang, beliau berkata, ‘Janganlah kalian takut! Janganlah takut!

Beliau sangat pemalu dan sangat menjaga pandangan matanya.”

 

Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, “Beliau sangat pemalu melebihi gadis perawan pingitan. Apabila beliau tidak menyukai sesuatu maka hal itu dapat diketahui dari raut wajahnya.”

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam adalah orang yang selalu menundukkan pandangan, lebih lama memandang ke bawah daripada memandang ke atas, segala pandangannya merupakan pengamatan. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah berbicara dengan seseorang dalam hal-hal yang tidak terpuji karena malu dan karena kemuliaan jiwanya.

 

Beliau tidak mau menyebutkan nama seseorang yang beliau dengar melakukan sesuatu yang tidak beliau sukai, beliau hanya mengatakan, “Mengapa ada orang-orang yang berbuat seperti ini dan seperti itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam adalah orang yang paling adil, orang yang menjaga kehormatan, paling tepat perkataanya dan paling dapat menjaga amanah. Hal ini telah diakui oleh kawan maupun lawannya.

 

Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau dikenal sebagai Al-Amin (yang terpercaya) dan dijadikan sebagai hakim pada masa jahiliyah.  Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah manusia yang paling rendah hatinya dan paling jauh dari kesombongan. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam melarang para sahabatnya berdiri untuk menghormatinya (ketika beliau mendatangi mereka), sebagaimana yang dilakukan bangsa-bangsa lain untuk menghormati raja-raja mereka.  Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam mengunjungi orang-orang miskin dan duduk bersama orang-orang fakir, menghadiri undangan hamba sahaya, dan duduk di antara sahabatnya seakan-akan beliau adalah salah satu dari mereka.

 

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menyambung dan menjahit sandalnya, menjahit bajunya, mengerjakan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri…Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam seperti manusia pada umumnya membersihkan pakaiannya dan menyelesaikan urusannya sendiri. “

 

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam adalah orang yang paling menepati janji, suka menyambung silaturahmi, orang yang penyayang dan pengasih, orang yang paling baik dalam bergaul dan paling baik akhlaknya.

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam paling jauh dari akhlak yang tercela dan beliau tidak berkata buruk, tidak pula suka mencela, tidak suka melaknat, tidak bersuara keras di pasar dan tidak membalas perbuatan buruk dengan keburukan pula, tetapi beliau memaafkannya dan membiarkannya.

Beliau tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak membedakan diri dari budak-budaknya dalam hal makanan dan minuman, sama sekali tidak mengatakan “hus” atau “ah” kepada pembantunya, dan tidak mengkritiknya dalam apa yang dikerjakan maupun yang ditinggalkan. Beliau menyukai orang-orang miskin dan duduk-duduk bersama mereka, melayat jenazah mereka dan tidak meremehkan orang fakir karena kefakirannya.

Dalam suatu perjalanan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan untuk menyembelih seekor kambing, salah satu dari mereka berkata, “Aku yang menyembelihnya.” Yang lainnya berkata, “Aku yang mengulitinya.” Yang lain berkata, “Aku Yang memasaknya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata, “Aku yang menyiapkan kayu bakarnya.” Mereka pun berkata, “Cukuplah kami yang mengerjakannya.” Beliau pun berkata, “Aku tahu bahwa kalian cukup mampu untuk mengerjakan itu semua. Akan tetapi, saya tidak suka diistimewakan oleh kalian. Sesungguhnya Allah tidak suka melihat hambanya diistimewakan dari teman-temannya.” Kemudian beliau shallallahu ‘alahi wa sallam pun berdiri dan mengumpulkan kayu bakar.

 

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam selalu mensyukuri nikmat walaupun sedikit, tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela makanan yang beliau rasakan dan tidak pula memujinya. Beliau selalu menahan lisannya kecuali pada hal-hal yang bermanfaat baginya, mempersatukan para sahabatnya dan juga tidak memecah belah persatuan mereka, menghormati orang yang terhormat pada setiap kaumnya dan memberikan wewenang kepadanya untuk mengatur kaumnya. Selalu menanyakan sahabat-sahabatnya dan bertanya kepada orang-orang tentang permasalahan mereka, memuji kebaikan dan membenarkannya, mencela kejelekan dan menghinakannya, sederhana dan tidak suka menyelisihi, tidak kikir dalam menyampaikan kebenaran dan tidak pula melampaui batas.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tidak duduk dan tidak berdiri kecuali dalam keadaan berdzikir, tidak duduk pada suatu tempat yang istimewa.

 

Apabila beliau mendatangi suatu kaum yang sedang duduk, maka beliau duduk pada tempat yang tersisa  dan memerintahkan orang-orang untuk melakukan hal-hal yang serupa. Orang-orang merasa senang dengan keutamaan dan kebaikan akhlak yang dimilikinya, sehingga beliau seakan-akan bapak mereka, mereka saling mendekat kepada beliau dalam kebenaran dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan di hadapannya dengan bertakwa…

 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam selalu bergembira dan berakhlak mulia, lemah lembut tutur katanya, tidak kasar dan tidak keras suaranya, tidak berkata keji, tidak mencela, bukan seorang pemuji, selalu mengabaikan hal-hal yang beliau tidak sukai dan beliau tidak pernah berputus asa.

 

Begitulah ciri-ciri Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, selain fisiknya yang indah dan bagus dilengkapi dengan akhlak yang mulia. Beliaulah orang yang paling cocok untuk dijadikan suri teladan kita.

Download Ebook


[1] Diringkas dari kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyur-Rahman Al-Mubarakfuri –rahimahullah-.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: