<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kajiansaid&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://kajiansaid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kajiansaid.wordpress.com</link>
	<description>Kajian Ahlus-sunnah sesuai pemahaman salaful-ummah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 09:34:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kajiansaid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3c90458773fc9202b54b0f14b1ad5da6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Kajiansaid&#039;s Blog</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kajiansaid.wordpress.com/osd.xml" title="Kajiansaid&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kajiansaid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>AYAT TERBERAT UNTUK NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/ayat-terberat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/ayat-terberat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 08:02:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Ahmad Said Yai* { فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ } Artinya: “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS Hûd: 112) RINGKASAN [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=324&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>Oleh: Abu Ahmad Said Yai<a title="" href="#_ftn1">*</a></strong><strong></strong></p>
<h2 align="center"><strong>{ فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ }</strong><strong></strong></h2>
<p dir="LTR">Artinya: “<em>Maka tetaplah kamu </em><em>(</em><em>pada jalan yang benar</em><em>)</em><em>, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang </em><em>t</em><em>elah </em><em>bert</em><em>aubat bersama kamu. </em><em>D</em><em>an janganlah ka</em><em>lian</em><em> melampaui batas</em><em>!</em><em> Sesungguhnya </em><em>D</em><em>ia Maha melihat apa yang ka</em><em>lian</em><em> kerjakan</em>.” (QS Hûd: 112)</p>
<p dir="LTR"><strong>RINGKASAN TAFSÎR<a title="" href="#_ftn2"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p dir="LTR"><strong><em>(Maka tetaplah kamu [pada jalan yang benar])</em></strong>, yaitu ber-<em>istiqâmah</em>-lah kamu, <strong><em>(sebagaimana diperintahkan kepadamu) </em></strong>di dalam kitab-Nya, ber-<em>‘aqîdah</em>-lah yang benar, beramal solehlah dan tinggalkan kebatilan tanpa menyimpang ke kiri ataupun ke kanan dan terus meneruslah dalam keadaan seperti itu sampai kamu wafat. <strong><em>(</em></strong><strong><em>dan </em></strong><strong><em>[</em></strong><strong><em>juga</em></strong><strong><em>]</em></strong><strong><em> orang yang </em></strong><strong><em>t</em></strong><strong><em>elah </em></strong><strong><em>bert</em></strong><strong><em>aubat bersama kamu</em></strong><strong><em>)</em></strong>, yaitu para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan kaum <em>mu’minin. </em>Agar kalian mendapatkan balasan yang baik kelak di hari penghisaban (<em>yaumul-<span style="text-decoration:underline;">h</span>isâb</em>) dan hari pembalasan (<em>yaumul-jazâ’</em>).</p>
<p dir="LTR"><strong><em> (Dan janganlah kalian melampaui batas!)</em></strong><em>,<strong> </strong></em>yaitu berlebih-lebihan dari batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, baik di dalam ber-<em>‘aqîdah</em> maupun beramal.</p>
<p dir="LTR"><strong><em> (Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan)</em></strong> dan Dia tidak akan pernah lalai terhadap apa yang kalian kerjakan dan Maha mengetahui segala sesuatu yang disembunyi-sembunyikan meskipun tidak tampak di hadapan manusia.</p>
<p><span id="more-324"></span></p>
<p dir="LTR"><strong>Ayat apakah yang mengandung p</strong><strong>erintah terberat untuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong><strong>?</strong></p>
<p dir="LTR">Ayat di ataslah yang menurut Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat berat untuk dilaksanakan.</p>
<p dir="LTR">Ibnu ‘Abbâs <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata:</p>
<h2>مَا نُزِّلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ- آيَةً هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هذِهِ الآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِه حِيْنَ قَالُوْا لَه: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ : (( شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخْوَاتُهَا )). <strong></strong></h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban?’ Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepada sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya.”<a title="" href="#_ftn3">[2]</a></p>
<p dir="LTR"><strong>Mengapa</strong><strong> ayat tersebut dianggap sangat berat oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong><strong>?</strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR">Karena pada ayat tersebut mengandung perintah untuk ber-<em>istiqâmah</em>.</p>
<p dir="LTR">Sebenarnya seperti apakah <em>istiqâmah</em> yang dimaksudkan, sehingga Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merasa sangat berat ketika mendapatkan perintah tersebut? Inilah yang menjadi bagian pembahasan artikel ini, serta penulis menambahkannya dengan sebab-sebab agar bisa ber-<em>istiqâmah</em>, cara termudah untuk ber-<em>istiqâmah</em>, hal-hal yang dapat merusak dan menghalangi ke-<em>istiqâmah</em>-an serta keutamaan orang yang ber-<em>istiqâmah</em>.</p>
<p dir="LTR"><strong>Pengertian <em>istiqâmah</em></strong></p>
<p dir="LTR">Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan istiqâmah, di antara definisi mereka yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Abu Bakr Ash-Shiddîq ketika menafsirkan (<em>tsummas-taqâmû</em>): “Tidak berbuat syirik terhadap Allah dengan segala apapun.”<a title="" href="#_ftn4">[3]</a></li>
<li>‘Umar bin Al-Khaththâb <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>: “<em>Istiqâmah</em> adalah lurus pada ketaatan/melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak belok (ke kiri dan ke kanan) seperti beloknya serigala.” <a title="" href="#_ftn5">[4]</a></li>
<li>Abul-Qâsim Al-Qusyairi: “<em>Istiqâmah</em> adalah suatu derajat yang dengannya segala urusan (agama) menjadi sempurna dan dengannya akan didapatkan kebaikan-kebaikan dan keteraturan.” <a title="" href="#_ftn6">[5]</a></li>
<li>An-Nawawi: “Lurus pada ketaatan sampai diwafatkan dengan keadaan seperti itu.” <a title="" href="#_ftn7">[6]</a></li>
<li>Ibnu Rajab Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>anbali: “Menapaki jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa berbelok-belok ke kanan dan ke kiri. Termasuk di dalamnya adalah mengerjakan seluruh perbuatan taat, baik yang <em>d</em><em>z</em><em>h</em><em>âhir</em> maupun yang bâthin dan meninggalkan seluruh larangan seperti itu pula.” <a title="" href="#_ftn8">[7]</a></li>
</ol>
<p dir="LTR"><strong>Hakikat <em>istiqâmah</em></strong></p>
<p dir="LTR">Dari definisi-definisi (pengertian-pengertian) di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa hakikat <em>istiqâmah</em> meliputi hal-hal berikut:</p>
<ol>
<li>Mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik</li>
<li>Berjalan di atas kebenaran/agama yang haq.</li>
<li>Melaksanakan segala perintah, baik yang wâjib maupun yang <em>sunnah</em>, baik yang <em>d</em><em>z</em><em>h</em><em>âhir</em> maupun yang <em>bât</em><em>h</em><em>in</em>.</li>
<li>Meninggalkan segala larangan, baik yang haram maupun yang makrûh.</li>
<li>Teratur dalam mengerjakan ketaatan.</li>
<li>Terus menerus dalam keadaan seperti itu, tidak belok ke kanan maupun ke kiri sampai ajal menjemput.</li>
</ol>
<p dir="LTR"><strong>Sebab-sebab agar dapat ber-istiqâmah</strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR">Seseorang bisa ber-istiqâmah karena sebab-sebab sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em>Taufîq</em> dan hidâyah dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></li>
</ol>
<p dir="LTR">Inilah sebab yang paling utama. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ..}</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kesesatannya, niscaya Allah akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS Al-An’âm: 125)</p>
<p dir="LTR">Oleh karena itu, sebisa mungkin kita melakukan berbagai hal yang dicintai oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> agar Allah memberikan <em>taufîq</em> dan hidâyahnya kepada kita.</p>
<ol>
<li>Doa</li>
</ol>
<p dir="LTR">Allah mengabulkan doa para hambanya. Oleh karena itu, jika kita ingin ber-<em>istiqâmah</em>, kita harus banyak memohon kepada Allah agar bisa menjadi <em>mustaqîm</em> (orang yang ber-<em>istiqâmah</em>). Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah: 186)</p>
<ol>
<li>Mengikuti <em>manhaj ahlis-sunnah wal-jamâ’ah</em>/golongan yang selamat</li>
</ol>
<p dir="LTR">Niat ikhlash dan rajin beribadah saja tidaklah cukup untuk bisa ber-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em>. Seseorang yang ingin ber-<em>istiqâmah</em> harus berjalan di jalan yang <em>haq</em>. Jika tidak demikian, percuma saja dia ber-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em> pada kesesatan yang justru nantinya akan menjerumuskannya ke dalam api neraka.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mengabarkan bahwa hanya ada satu kelompok yang senantiasa tampak dengan kebenarannya, sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<h2 align="center">(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ )).</h2>
<p dir="LTR">Artinya : ”Senantiasa ada sekelompok orang di kalangan umatku yang selalu tampak dengan kebenarannya. Orang yang tidak mengacuhkan mereka tidak dapat memberikan <em>mudhârat</em> kepada mereka sampai datang perkara Allah dan mereka tetap dengan kebenarannya.”<a title="" href="#_ftn9">[8]</a></p>
<ol>
<li>Sering ber-<em>mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>âsabatun-nafs</em> (mengintrospeksi diri)</li>
</ol>
<p dir="LTR">Orang yang ingin ber-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em> harus sering ber-<em>muhasabatun-nafs</em>.  Jika seseorang  tidak menyadari akan hakikat apa yang dilakukannya yang berupa kebaikan dan dosa, maka dia tidak akan mau berubah. Semakin banyak seseorang berintrospeksi, maka semakin banyak pula ia akan menyadari bahwa amalan kebaikan yang dia lakukan belumlah seberapa dan dosa yang dilakukannya sudah sangat banyak dan bertumpuk-tumpuk.</p>
<p dir="LTR">‘Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata:</p>
<h2 align="center">((حاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، فَإنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِيْ الْحِسَابِ غَدًا، أَنْ تُحَاسَبُوْا أَنْفُسَكُمْ اْليَوْمَ..))</h2>
<p dir="LTR">Artinya: &#8220;Introspeksilah diri-diri kalian, sebelum nanti kalian ditunjukkan amalan-amalan kalian (di hari <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>isab/</em>perhitungan)! Timbang-timbanglah diri kalian, sebelum nanti kalian ditimbang (di hari <em>mizan</em>/penimbangan amal)! Sesungguhnya, mengintrospeksi diri pada saat ini lebih mudah ketimbang nanti ditunjukkan amalan-amalan (di hari <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>isab</em>).&#8221;<a title="" href="#_ftn10">[9]</a></p>
<ol>
<li>Mengerjakan perbuatan baik setelah mengerjakan perbuatan buruk</li>
</ol>
<p dir="LTR">Salah satu sebab didatangkan ke-<em>istiqâmah</em>-an adalah dengan mengiringi segala keburukan/kejelekan/dosa dengan perbuatan yang baik. Sebagai contoh, jika seseorang pernah mencuri, maka dia harus bertaubat dan mengembalikan harta curiannya itu, kemudian dia iringi dengan memperbanyak sedekah. Mudah-mudahan dengan bersedekah, dosa-dosanya dapat diampuni oleh Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em>. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS Hûd: 114)</p>
<ol>
<li>Tidak meninggalkan amalan-amalan yang dulu biasa dikerjakan</li>
</ol>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mencela orang yang pernah beribadah dengan amalan tertentu kemudian orang tersebut meninggalkannya, sebagaimana diterangkan pada <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts</em> berikut:</p>
<h2 align="center">عن عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- : (( يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ. ))</h2>
<p dir="LTR">Artinya: Diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullâh! Janganlah kamu seperti si Fulan (si Anu), dulu dia mengerjakan <em>shalat</em> malam kemudian dia meninggalkannya.”<a title="" href="#_ftn11">[10]</a></p>
<p dir="LTR">Perlu menjadi catatan, yang dituntut dalam ber-<em>i</em><em>stiqâmah</em> bukanlah jumlah (kuantitas) amalan tersebut, tetapi yang menjadi tuntutan adalah kebersinambungan dalam mengerjakan suatu amalan, meskipun amalan itu sedikit.</p>
<p dir="LTR"><strong>Cara termudah untuk mencapai ke-<em>istiqâmah</em>-an</strong></p>
<p dir="LTR">Cara termudah untuk mencapai ke-<em>istiqâmah</em>-an adalah dengan <em>mujâhadatun-nafs</em> (memaksa, melatih diri dan berjuang sekuat tenaga). Ke-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em>-an bukanlah sesuatu yang mudah diraih seperti <em>membalikkan tangan</em>. Oleh karena itu, untuk  bisa ber-<em>mujâhadatun-nafs</em><em>, </em>maka harus memperhatikan hal-hal berikut:</p>
<ol>
<li>Harus bertekad untuk merubah diri (<em>al-‘azm</em>) dan ber-<em>tawakkal</em> kepada Allah</li>
</ol>
<p dir="LTR">Tanpa tekad yang kuat ke-<em>istiqâmah</em>-an tidak akan bisa dicapai. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka ber-<em>tawakkal</em>-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang ber-<em>tawakkal</em> kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imrân : 159)</p>
<ol>
<li>Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu</li>
</ol>
<p dir="LTR">Salah satu cara menumbuhkan tekad untuk ber-<em>istiqâmah</em> adalah dengan terus-menerus mencari sebab agar bisa mencintai Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas segala sesuatu. Ke-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em>-an sangat erat kaitannya dengan keimananan seseorang. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2 align="center">(( ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا, وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ, وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.))</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Ada tiga hal yang apabila ketiga hal tersebut berada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu: menjadikan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaannya kepada segala sesuatu selain keduanya, mencintai seseorang yang dia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya jika dia dilempar ke dalam api.”<a title="" href="#_ftn12">[11]</a></p>
<p dir="LTR">Dengan memiliki rasa cinta yang seperti disebutkan di atas, maka seseorang akan terus berupaya memacu dirinya untuk bisa ber-<em>istiqâmah</em>.</p>
<ol>
<li>Mengatur waktu dan aktivitas keseharian sebaik, sepadat dan seefektif mungkin</li>
</ol>
<p dir="LTR">Seorang yang ingin ber-<em>istiqâmah</em> harus benar-benar membuat jadwal kegiatannya untuk tiap hari, tiap pekan, tiap bulan dan tiap tahun. Untuk kegiatan harian, contohnya: ketika hendak melatih diri untuk shalat malam (tahajjud), maka dia berusaha untuk tidur lebih awal (tidak lama setelah shalat <em>Isyâ’</em>) dan memasang jam alarm atau sejenisnya untuk dapat membangunkannya pada sepertiga malam terakhir.</p>
<p dir="LTR">Untuk kegiatan mingguan, contohnya: dia menargetkan di dalam sepekan ada satu hari dimana ia harus menyempatkan diri untuk berinfak kepada sekian orang, membantu orang lain dan tetangga.</p>
<p dir="LTR">Untuk kegiatan tahunan, contohnya: dia membiasakan untuk dapat ber-<em>i’tikâf</em> di sepuluh hari terakhir di bulan <em>Ramadhân</em>, sehingga dia pun telah merencanakan hari libur/cuti dari semua aktivitasnya.</p>
<ol>
<li>Melaksanakan ibadah-ibadah sebaik mungkin seolah-olah ibadah tersebut adalah ibadah yang terakhir kali dan ajal akan menjemput</li>
</ol>
<p dir="LTR">Orang yang ingin ber-<em>istiqâmah</em> harus membiasakan dirinya ketika mengerjakan suatu ibadah tertentu, dia membayangkan bahwa seolah-olah dia tidak akan hidup lama lagi, sehingga ia akan benar-benar bersungguh-sungguh dalam beribadah dan meningkatkan kualitas ibadahnya.</p>
<ol>
<li>Mengintrospeksi diri atas apa-apa terhadap amalan-amalan baik yang telah ditinggalkannya dan terhadap amalan-amalan buruk yang telah dikerjakannya.</li>
</ol>
<p dir="LTR">Setelah memasang target-target ibadah dan amalan-amalan, introspeksi diri setiap hari sangat dibutuhkan. Ini dilakukan agar seseorang bisa memperbaiki dirinya.</p>
<ol>
<li>Turut andil dalam dakwah</li>
</ol>
<p dir="LTR">Setelah Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em> menyebutkan keutamaan orang yang ber-<em>istiqâmah</em> di dalam surat Fushshilat, sebagaimana penulis cantumkan pada akhir di akhir pembahasan. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memuji orang-orang yang berdakwah. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: ‘Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.’?” (QS Fushshilat: 33)</p>
<p dir="LTR">Ini menunjukkan ada kaitan erat antara ke-<em>istiqâmah</em>-an dengan berdakwah.</p>
<ol>
<li>Rela bersabar untuk melatih diri dan mengekang hawa nafsu selama bertahun-tahun</li>
</ol>
<p dir="LTR">Untuk dapat ber-<em>istiqâmah</em> tidaklah mudah. Kita harus rela mengekang hawa nasu kita dan terus ber-<em>mujâhadah</em> selama bertahun-tahun. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad bin Al-Munkadir berkata:</p>
<h2 align="center">(( كَابَدْتُ نَفْسِيْ أَرْبَعِيْنَ سَنَةٍ حَتَّى اسْتَقَمْتُ))</h2>
<p dir="LTR">Artinya: Saya mengekang jiwaku selama empat puluh tahun barulah saya bisa ber-<em>istiqâmah</em>. <a title="" href="#_ftn13">[12]</a></p>
<p dir="LTR"><strong>Hal-hal yang merusak dan menghalangi keistiqamahan</strong></p>
<ol>
<li>Setan</li>
</ol>
<p dir="LTR">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Iblis menjawab: ‘Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.’.” (QS Al-A’râf: 16)</p>
<ol>
<li>Hawa nafsu</li>
<li>Lemahnya niat untuk berubah</li>
<li>Masyarakat dan keluarga yang rusak dan Islam yang dianggap asing</li>
</ol>
<p dir="LTR">Masyarakat dan keluarga yang rusak/buruk dapat menghalangi seseorang untuk bisa ber-<em>istiqâmah</em>. Seseorang yang ingin bertobat dan ingin ber-<em>istiqâmah</em> sering kali merasa tidak enak jika menyelisihi masyarakat atau keluarganya yang rusak.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah mengabarkan bahwa Islam di akhir zaman akan terlihat asing, sebagaimana sabda beliau:</p>
<h2 align="center">(( بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ )).</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Oleh karena itu, beruntunglah orang-orang yang terasingkan.”<a title="" href="#_ftn14">[13]</a></p>
<p dir="LTR">Dan juga sabdanya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<h2 align="center">(( طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ))، فَقِيلَ: مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (( أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سُوءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ )).</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Beliau pun ditanya, “Siapakah orang-orang yang asing itu, ya Rasulullah?” Beliau pun menjawab, “(Mereka adalah) orang-orang <em>sh</em><em>â</em><em>li<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> di antara orang-orang jelek/rusak yang (jumlahnya) banyak. Orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada orang yang mematuhinya.” <a title="" href="#_ftn15">[14]</a></p>
<p dir="LTR">Oleh karena itu, jika seseorang ingin menjalankan Islam dan beristiqamah, pasti akan terlihat asing. Contohnya saja cadar, kaum salaf tidak berselisih pendapat bahwa cadar itu disyariatkan di dalam Islam, wanita bercadar lebih <em>afdhal</em> dari yang tidak bercadar dan para istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diwajibkan memakai cadar. Pada zaman sekarang, cadar sangat terlihat asing, bahkan sebagian orang awam/tidak berilmu mengidentikkannya dengan terorisme. Parahnya, sebagian orang-orang yang di-<em>ustâdz</em>-kan/dikyaikan juga mengatakan hal yang serupa.</p>
<ol>
<li>Zaman yang penuh fitnah yang berbeda dengan zaman salaf</li>
</ol>
<p dir="LTR">Zaman yang kita jalani sekarang ini sangat berbeda dengan zaman salaf dahulu. Pada zaman ini, kaum muslimin akan mendapatkan fitnah yang sangat besar. Jika seseorang ingin menjauhinya, fitnah tersebutlah yang akan datang kepadanya. Ini juga dapat menghalangi seseorang untuk ber-<em>istiqâmah</em>.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2 align="center">(( يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ )).</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, (ketika itu) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti orang yang memegang bara api<a title="" href="#_ftn16">[15]</a>.”<a title="" href="#_ftn17">[16]</a></p>
<ol>
<li>Tidak adanya orang yang sering menasihati</li>
</ol>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> selalu memberi nasihat dan petunjuk kepada para sahabatnya, sehingga Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em> mengatakan di dalam Al-Qur’an:</p>
<h2 align="center">{ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura: 52)</p>
<p dir="LTR">Tidak adanya seorang penasihat di suatu daerah maka itu adalah suatu musibah yang sangat besar dan bisa menghalangi seseorang untuk ber-<em>istiqâmah</em>. Oleh karena itu, penulis mengingatkan kepada pembaca yang di wilayahnya tidak terdapat sang pemberi nasihat (baca: <em>ustâdz</em>), untuk segera mendatangkan sang penasihat, berhijrah ke tempat yang di sana ada sang penasihat atau dengan cara lain agar bisa selalu dinasihati.</p>
<ol>
<li>Banyak berkecimpung dengan urusan dunia</li>
</ol>
<p dir="LTR">Banyak berkecimpung dengan urusan dunia juga dapat menghalangi ke-<em>istiqâmah</em>-an. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>anahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali ‘Imrân: 185)</p>
<ol>
<li>Teman yang jelek</li>
</ol>
<p dir="LTR">Tidak diragukan bahwa teman yang jelek sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Oleh karena, pilihlah teman yang baik dan soleh yang bisa mengajak kita untuk bisa ber-<em>istiqâmah</em>.</p>
<ol>
<li>Takut dikatakan sebagai orang yang soleh, alim, taat atau semisalnya</li>
</ol>
<p dir="LTR">Ini juga dapat menghalangi seseorang untuk ber-<em>istiqamah</em>, terutama orang-orang yang memiliki rasa malu tinggi. Akan tetapi, jika dia benar-benar mencintai Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, maka dia tidak akan menghiraukan hal tersebut.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah ditanya oleh seseorang tentang amalan seseorang yang dilakukan dengan ikhlas dan tidak ingin mendapatkan pujian. Kemudian, dia pun dipuji oleh orang-orang karena amalan tersebut. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata:</p>
<h2 align="center">(( تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ )).</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin.”<a title="" href="#_ftn18">[17]</a></p>
<ol>
<li>Putus asa dengan rahmat dan pengampunan Allah sehingga tidak mau bertobat</li>
</ol>
<p dir="LTR">Orang yang bergelimang dengan dosa, biasanya terbesik di hatinya, “Bagaimana mungkin aku menjadi seorang yang bisa ber-istiqâmah, sedangkan aku telah bergelimang dengan dosa dan hampir tidak ada kebaikan yang pernah aku perbuat?”</p>
<p dir="LTR">Ketahuilah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> Maha Pengampun dan menerima tobat hamba-hambanya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54) }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “ (53)Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (54) Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS Az-Zumar: 53-54)</p>
<p dir="LTR"><strong>Keutamaan orang yang beristiqâmah</strong></p>
<p dir="LTR">Keutamaan orang yang bisa ber-<em>istiqâmah</em> sangat banyak sekali. Akan tetapi, secara umum keutamaan  tersebut tercantum pada tiga ayat berikut:</p>
<h2 align="center">{ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32)}</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “(30) Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: &#8220;Tuhan kami ialah Allah&#8221; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-<em>istiqâmah</em>), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: &#8220;Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan <em>jannah</em> yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu. (31) Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (32) Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rab) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Fushshilat: 30-32)</p>
<p dir="LTR">Az-Zu<span style="text-decoration:underline;">h</span>aili berkata, “…Oleh Karena itu, agama adalah jalan untuk kebaikan manusia dan menjauhkannya dari keburukan dan dosa. Al-Qur’an menganjurkan untuk ber-<em> istiq</em><em>â</em><em>mah</em> dan menjanjikan balasan terbaik sebagaimana tercantum pada ayat-ayat berikut…” (kemudian beliau menyebutkan ketiga ayat di atas-pen).<a title="" href="#_ftn19">[18]</a></p>
<p dir="LTR">Ibnul-Qayyim <em>ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imahullah</em> berkata<a title="" href="#_ftn20">[19]</a>, “…Oleh karena itu, agama (Islam) seluruhnya terkandung di dalam firman Allah<a title="" href="#_ftn21">[20]</a>: { فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ } dan</p>
<h2>firman-Nya<a title="" href="#_ftn22">[21]</a>: { إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ }.”</h2>
<p dir="LTR">Sungguh besar bukan keutamaan orang yang ber-<em> istiq</em><em>â</em><em>mah</em>?</p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Kesimpulan</strong><strong></strong></p>
<ol>
<li>Ayat yang menurut Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat berat untuk dilaksanakan adalah ayat yang mengandung perintah untuk ber-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em> di dalam surat Hûd.</li>
<li>Hakikat dari ke-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em>-an meliputi hal-hal berikut: berada di atas kebenaran, menjalankan semua perintah, meninggalkan semua larangan, teratur dalam ketaatan dan kebersinambungan dengan keadaan seperti itu sampai akhir hayat.</li>
<li>Seseorang yang ingin ber-<em>istiqâmah</em> harus mencari sebab-sebab ke-<em>istiqâmah</em>-an.</li>
<li>Cara termudah untuk ber-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em> adalah dengan ber-<em>mujâhadatun-nafs</em></li>
<li>Ada beberapa hal yang bisa merusak/menghalangi ke-<em>istiqâmah</em>-an seseorang. Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang <em>mu</em><em>’m</em><em>in</em> menjauhinya.</li>
<li>Orang yang mencapai derajat ke-<em>istiq</em><em>â</em><em>mah</em>-an akan mendapat ganjaran yang sangat besar sebagaimana telah disebutkan.</li>
</ol>
<p dir="LTR">Demikian. Mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa ber-istiqâmah sampai akhir ayat kita nanti. Âmîn.</p>
<p dir="LTR">Prabumulih, 15 <em>Dzul-Qa’dah</em> 1431 H/23 Oktober 2010 M.</p>
<h4><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/ayat-terberat-untuk-nabi.pdf">Download Ebook</a></h4>
<p dir="LTR">Daftar Pustaka</p>
<p dir="LTR">Al-Qur&#8217;ân dan Terjemahannya. Madînah: Kompleks Percetakan Mush<span style="text-decoration:underline;">h</span>af Raja Fa<span style="text-decoration:underline;">h</span>d.</p>
<ol>
<li>Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ikam</li>
<li>Al-Jâmi&#8217; li a<span style="text-decoration:underline;">h</span>kâmil-Qur&#8217;ân. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad bin A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad Al-Qurthubi. Mesir: Dârul-kutub Al-Mishriyah.</li>
</ol>
<p dir="LTR">3.      Al-Minhâj Syar<span style="text-decoration:underline;">h</span> Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim bin Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajjâj. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>yiddin An-Nawawi. Beirut: Dârul-Ma’rifah.</p>
<ol>
<li>Az-Zuhd wa Ar-Raqâ’iq. ‘Abdullâh bin Al-Mubârak. Beirut: Dârul-Kutub Al-‘Ilmiyah.</li>
<li>Az-Zuhd. A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad bin <span style="text-decoration:underline;">H</span>anbal Asy-Syaibâni. Beirut: Dârul-Kutub Al-‘Ilmiyah.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;">H</span>ilyatul-Auliyâ’ wa Thabaqatul-Ashfiyâ’. Abu Nu’aim A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad bin ‘Abdillah Al-Ashbahâni. 1405. Beirut: Dârul-Kitâb Al-‘Arabi.</li>
<li>Jâmi’ Al-‘Ulûm wal-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ikam. Ibnu Rajab Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>anbali. 1414 H/2003 M. Riyâdh: Dâr-Al-Muayyad.</li>
<li>Ma&#8217;âlimut-tanzîl. Abu Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>usain bin Mas&#8217;ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li><em>Mushannaf Abdir-Razzâq.</em> Abdur-Razzâq bin Hammâm Ash-Shan’âni. 1403 H. <em>Mushannaf Abdir-Razzâq.</em> Beirut: Al-Maktab Al-Islâmi.</li>
<li>Tafsîr Al-Qur&#8217;ân Al-&#8217;Adzhîm. Ismâ&#8217;îl bin &#8216;Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li>Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân bin Nâshir As-Sa&#8217;di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.</li>
<li>Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di <em>footnotes</em>.</li>
</ol>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">*</a>Staf Pengajar di Ma’had Tadrîbud-Dua’ât Al-Istiqomah dan SDIT Al-Istiqomah Prabumulih, Sum-Sel.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">[1]</a> Digabungkan dan diringkas dari buku-buku: Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm 4/534, Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân hal. 390 dan Aisar At-Tafâsir 2/193.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">[2]</a> Lihat Tafsîr AL-Qurthubi 9/107. Akhir perkataan Ibnu ‘Abbâs semisal dengan apa yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3297 dan yang lainnya. Di-<em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah no. 955.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref4">[3]</a> Lihat Jâmi’ Al-‘Ulûm wal-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ikam hal. 235.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref5">[4]</a> Kitab Az-Zuhd milik Imam A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad hal. 115 dan Ma’âlimut-Tanzîl 4/203.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref6">[5]</a> Lihat Syar<span style="text-decoration:underline;">h</span> Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim milik An-Nawawi 1/199.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref7">[6]</a> Lihat Syar<span style="text-decoration:underline;">h</span> Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>i<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim milik An-Nawawi 1/199.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref8">[7]</a> Jâmi’ Al-‘Ulûm wal-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ikam hal.236.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref9">[8]</a> HR Muslim no. 5059.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref10">[9]</a> HR Ibnul-Mubârak di kitab <em>Az-Zuhd wa Ar-Raqâ&#8217;iq</em> no. 307, Ibnu Abi Syaibah di <em>Al-Mushannaf</em> no. 35600,  Ahmad di kitab <em>Az-Zuhd</em> no.639 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albâni menyatakan, &#8220;<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts ini mauqûf.&#8221;. Jadi hadits ini benar datangnya dari ‘Umar <em>radhiallâhu &#8216;anhu</em>. Lihat <em>Silsilah Adh-Dha&#8217;îfah</em> no. 1201.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref11">[10]</a> HR Al-Bukhâri no. 1152.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref12">[11]</a>             HR Al-Bukhâri no. 16 dan Muslim 173.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref13">[12]</a> <span style="text-decoration:underline;">H</span>ilyatul-Auliyâ’ 3/147.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref14">[13]</a> HR Muslim no. 389.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref15">[14]</a> HR A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad no. 6650, di<span style="text-decoration:underline;">h</span>asankan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref16">[15]</a> Maksudnya: di tengah malam yang sangat gelap tidak ada yang bisa dijadikan sumber penerangan kecuali bara api. Apabila dia tidak memegangnya, maka dia tidak bisa selamat di jalan yang penuh rintangan, seperti: jalan berduri atau di pegunungan yang penuh dengan tebing. Apabila dia tidak berjalan, bahaya masih juga mengancamnya, seperti: dia akan diserang binatang buas atau yang lainnya. Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali harus berjalan dengan membawa bara api yang nanti akan melukai tangannya.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref17">[16]</a> HR At-Tirmidzi no. 2260. Di-<em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah no. 957.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref18">[17]</a> HR Muslim no. 6891.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref19">[18]</a> At-Tafsîr Al-Wasîth III/2304</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref20">[19]</a> Lihat Tharîq Al-Hijratain wa Bab As-Sa’âdatain hal. 73.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref21">[20]</a> Yaitu ayat yang kita bahas ini.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref22">[21]</a> Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: &#8220;Tuhan kami ialah Allah&#8221; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-<em>istiqâmah</em>), tidak ada ketakutan pada diri mereka dan tidak pula mereka bersedih.” (QS Al-Ahqâf: 13)</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=324&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/ayat-terberat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMAKSIMALKAN IBADAH DI BULAN YANG PENUH BERKAH</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/memaksimalkan-ibadah-di-bulan-yang-penuh-berkah/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/memaksimalkan-ibadah-di-bulan-yang-penuh-berkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 07:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.   Tidak terasa bulan yang kita nanti-nanti datang juga. Bulan yang kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadhan, itulah nama bulan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah sebagai berikut: 1.    Al-Qur’an diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan. 2.    [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=318&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh: </strong><strong>Ustadz Abu Ahmad </strong><strong>Said Yai</strong><strong>, Lc.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak terasa bulan yang kita nanti-nanti datang juga. Bulan yang kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan <em>Ramadhan</em>, itulah nama bulan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Al-Qur’an diturunkan oleh Allah pada bulan <em>Ramadhan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga diutus pada bulan <em>Ramadhan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Pada bulan <em>Ramadhan</em> setan-setan akan dibelenggu, seluruh pintu-pintu neraka ditutup dan seluruh pintu-pintu surga dibuka oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Beramal di bulan <em>Ramadhan</em> bisa menghapuskan dosa-dosa antara <em>Ramadhan</em> yang lalu dengan <em>Ramadhan</em> yang sekarang. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h3 style="text-align:justify;"> (( الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر)).</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Shalat</em> lima waktu, <em>Jum’at</em> yang satu dengan <em>Jum’at</em> yang lainnya dan <em>Ramadhan</em> yang satu dengan <em>Ramadhan</em> yang lainnya dapat menghapuskan dosa di antara (waktu-waktu) tersebut jika menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan masih banyak sekali keutamaan-keutamaan bulan yang penuh berkah ini.</p>
<p><span id="more-318"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan bulan <em>Ramadhan</em>, Malaikat Jibril <em>‘alaihissalam</em> pernah berdoa agar orang yang mendapatkan bulan <em>Ramadhan</em> tetapi dosa-dosanya tidak diampuni maka dia akan mendapatkan kerugian dan kehinaan yang besar. Hal tersebut ternyata diaminkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagaimana dijelaskan pada <em>hadits</em> berikut:</p>
<h3 style="text-align:justify;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ: (( آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ))، فَقِيلَ لَهُ : (( يَا رَسُولَ اللَّهِ ! مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ )) فَقَالَ : (( قَالَ لِي جِبْرِيلُ : أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ &#8211; أَوْ بَعُدَ &#8211; دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ &#8230;إلخ )).</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah menaiki mimbar seraya berkata, “Amin! Amin! Amin!” Setelah itu Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun ditanya, “Apa yang tadi engkau lakukan?” Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun menjawab, “Jibril berkata kepadaku, ‘Mudah-mudahan Allah menghinakan seorang hamba yang telah memasuki <em>Ramadhan</em> tetapi dia tidak diampuni.’ Aku pun mengatakan, ‘Amin.’&#8230;”  (HR. Ibnu Khuzaimah di <em>Shahih</em>-nya, Ibnu Hibban di <em>Shahih</em>-nya dan yang lainnya. <em>Hadits</em> ini di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih At-Targhib wa At-Tarhib</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang merugi dan dihinakan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Amin. Oleh karena itu, penting sekali penulis mengingatkan diri penulis dan pembaca agar dapat memanfaatkan bulan <em>Ramadhan</em> ini semaksimal mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memaksimalkan ibadah kita di bulan ini banyak sekali amalan-amalan yang dapat kita lakukan. Akan tetapi, sebelum penulis menyebutkan semua amalan tersebut, sebaiknya kita mengetahui dua syarat suatu amalan akan diterima oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Dua syarat tersebut adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Ikhlas dan  lawannya adalah syirik</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh amalan kita harus hanya diserahkan kepada Allah dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya . Termasuk bentuk syirik adalah riya’ (pamer dan ingin dipuji).</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak mengadakan hal yang baru di dalam agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah amalan-amalan yang kita lakukan di bulan <em>Ramadhan</em> beserta sedikit penjelasannya:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    <em>Shaum/Shiyam</em>/Puasa</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Shaum Ramadhan</em> hukumnya wajib dikerjakan oleh semua kaum muslimin dan muslimat yang <em>baligh</em> dan berakal terkecuali orang-orang yang memiliki <em>‘</em><em>udzur</em><em>,</em> seperti: sakit, safar (perjalanan jauh), <em>haidh</em>, nifas dll. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h3 style="text-align:justify;">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Shaum</em>/puasa memiliki banyak keutamaan, di antaranya disebutkan pada hadits berikut:</p>
<h3 style="text-align:justify;">عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ.))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai <em>Rabb</em><em>-</em>ku! Saya telah menghalanginya dari makanan dan (memenuhi) syahwatnya di siang hari. Berilah saya izin untuk memberi syafaat untuknya. Al-Qur’an pun berkata, ‘Saya telah menghalanginya untuk tidur di malam hari. Berilah saya izin untuk memberi syafaat untuknya.’ Akhirnya mereka pun dapat memberikan syafaat.” (HR. Ahmad di <em>Musnad</em>-nya, Al-Hakim di <em>Al-Mustadrak</em>, Al-Baihaqi di <em>Syu’abul-Iman</em> dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Misykatul-Mashabih</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Agar puasa kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">a.    Hendaknya bersahur</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً ))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Bersahurlah kalian sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">b.    Hendaknya mengakhirkan sahurnya sampai dekat waktu subuh. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> selalu mengakhirkan sahurnya, sehingga jarak antara waktu sahur dengan shalat adalah sepanjang bacaan lima puluh ayat (sekitar sepuluh menit). Banyak orang yang melalaikan hal ini. Bahkan sebagian masyarakat di suatu daerah tidak lagi bersahur karena sudah menjadi adat-kebiasaan mereka. Padahal sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan puasa umat-umat sebelum kita.</p>
<p style="text-align:justify;">c.     Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersahur dengan <em>tamr</em> (kurma). Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan,</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ ))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Hidangan sahur yang paling baik adalah kurma.”  (HR. Abu Dawud. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih Sunan Abi Dawud</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">d.    Tidak perlu melafazkan niat ketika bersahur. Karena niat tempatnya adalah di hati.</p>
<p style="text-align:justify;">e.    Ketika siang hari di bulan <em>Ramadhan</em>, selain mengerjakan hal-hal yang wajib dan menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, hendaknya memperbanyak amalan-amalan sunnah dan meninggalkan hal-hal yang dimakruhkan apalagi yang diharamkan.</p>
<p style="text-align:justify;">f.     Hendaknya memperbanyak berdoa ketika berpuasa. Karena ini termasuk waktu yang mustajab (dikabulkan).</p>
<p style="text-align:justify;">g.    Ketika hampir masuk waktu <em>Maghrib</em>, hendaknya benar-benar telah mempersiapkan diri untuk berbuka, sehingga mendapat keutamaan berbuka di awal waktu dan tidak mengakhirkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">h.    Ketika berbuka hendaknya berdoa dengan doa berikut:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Dahaga telah pergi. Kerongkongan telah basah. Pahala telah ditetapkan. Insya Allah.” (HR. Abu Dawud. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih Sunan Abi Dawud</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">i.      Di-<em>sunnah</em>-kan berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, maka digantikan dengan <em>tamr</em> (kurma kering). Jika tidak ada, maka cukup digantikan dengan air.</p>
<p style="text-align:justify;">j.      Jika berbuka di tempat orang lain hendaknya membaca doa:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ.))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian. Orang-orang bertakwa telah memakan makanan kalian. Dan para Malaikat berdoa untuk kalian. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Di-<em>shahih</em>-kan  oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih Sunan Ibni Majah</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">k.    Di-<em>sunnah</em>-kan juga menyediakan makanan pembuka puasa untuk orang-orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرُهُ ، إِنَّهُ لاَ يَنْتَقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ ))</h3>
<p style="text-align:justify;">Barang siapa yang memberi makanan pembuka orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.  (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih Sunan Ibni Majah</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa hal yang hendaknya kita lakukan ketika kita bersahur, berpuasa dan berbuka.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Shalat <em>Tarawih</em>/<em>Qiyam Ramadhan</em></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah <em>Isya’</em> sampai waktu <em>Subuh</em> di-<em>sunnah</em>-kan mengerjakan shalat <em>Tarawih</em>. Jumhur ulama memandang bahwa shalat <em>Tarawih</em> di-<em>sunnah</em>-kan secara berjamah. Inilah yang dikerjakan dari masa ke masa. Sebenarnya waktu yang paling <em>afdhal</em> untuk mengerjakannya adalah di sepertiga malam yang terakhir. Hal ini banyak orang yang melupakannya. Akan tetapi, jika merasa berat untuk mengerjakannya, maka bisa dikerjakan langsung  setelah shalat <em>Isya’</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Barang siapa yang mendirikan shalat malam di bulan <em>Ramadhan</em> dengan keimanan dan mengharapkan ganjarannya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.“ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Hendaknya kita tidak mempermasalahkan jumlah rakaat yang dikerjakan di tiap-tiap masjid. Dan hendaknya kita bisa berlapang dada dalam menerima perbedaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>3.    </em><em>‘Umrah</em></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk orang-orang yang diberi harta lebih, maka sebaiknya mengisi <em>Ramadhan</em> dengan berumrah ke Mekkah. Pahala umrah di bulan <em>Ramadhan</em> sangatlah besar dan sama seperti pahala orang yang mengerjakan haji. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً. ))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Umrah di bulan <em>Ramadhan</em> seperti haji.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih Sunan Ibni Majah</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Mencari <em>Lailatul-qadr</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Laitul-Qadr</em> adalah satu malam di bulan Ramadhan yang pada malam itu para malaikat turun. Lailatul-Qadr tidak diketahui kapan akan terjadi di tiap tahunnya. Akan tetapi, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah mengabarkan bahwa malam itu terdapat di antara sepuluh hari terakhir di bulan <em>Ramadhan</em>. Pada malam itu seluruh bentuk amalan akan dinilai lebih baik dari amalan-amalan seribu bulan. Waktu yang sedikit tetapi dilipatgandakan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Ini berlaku untuk semua orang. Oleh karena itu, para salaf (orang terdahulu) mengisi malam-malam di akhir <em>Ramadhan</em> dengan beribadah dan tidak tidur.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan keutamaan menghidupkan malam <em>lailatul-qadr</em>:</p>
<h3 style="text-align:justify;">(( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِ ))</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Barang siapa yang mendirikan (ibadah) di malam lailatul-qadr karena keimanan dan mengharapkan ganjarannya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian kaum muslimin salah dalam memahami <em>lailatul-qadr</em> ini, sebagian memandang bahwa pada malam itu akan diturunkan cahaya untuk satu orang yang dipilih oleh Allah, sehingga pada kemudian harinya dia menjadi orang memiliki banyak kesaktian/keanehan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman seperti itu salah dan harus diluruskan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>5.    </em><em>I’tikaf</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>I’tikaf</em> adalah tinggal di dalam masjid dan tidak keluar darinya sampai waktu tertentu dengan niat ibadah kepada Allah. Dengan ber-<em>i’tikaf</em> kita tidak hanya bisa mencari <em>lailatul-qadr</em>, memfokuskan diri untuk beribadah dan meninggalkan urusan-urusan dunia, tetapi kita juga bisa meneladani Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sunnah i’tikaf</em> ini banyak ditinggalkan oleh mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia. Padahal para khatib <em>Jum’at</em> dan para penceramah setiap tahunnya menyebutkan keutamaannya. Seharusnya para pemuka agama tidak hanya dapat berbicara di atas mimbar, tetapi juga harus menunjukkan peraktek langsungnya di masyarakat. Jika para pemuka agama beri’tikaf, insya Allah orang-orang yang lain juga akan mengikutinya. Sebaiknya seluruh instansi dan perusahaan yang ada di masyarakat kita meliburkan kegiatannya pada hari-hari ini dan menganjurkan kepada seluruh pegawainya untuk ber-<em>i’tikaf</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang sudah biasa mengerjakan amalan ini insya Allah akan merasa ada yang kurang jika dia mendapatkan bulan Ramadhan tetapi belum beri’tikaf. Apakah Anda ingin menjadi salah satunya?</p>
<p style="text-align:justify;">6.    Banyak membaca dan mempelajari Al-Qur’an</p>
<p style="text-align:justify;">Bulan ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk meluangkan waktu membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an, maka sebaiknya segera mempelajarinya. Bagi yang bisa membaca, diusahakan untuk menkhatamkan Al-Qur’an. Bagi yang sudah lancar, diusahakan untuk mengkhatamkan beberapa kali dalam satu bulan. Jika telah bisa mengkhatamkan dua kali, diusahakan untuk mengkhatamkan tiga kali, kemudian empat kali, kemudian lima kali dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain membaca diusahakan juga untuk memahami kandungan makna Al-Qur’an, baik dengan membaca terjemahan Al-Qur’an atau buku tafsir.</p>
<p style="text-align:justify;">7.    Memperbanyak seluruh amalan kebajikan</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berada di bulan <em>Ramadhan</em> sangatlah baik. Kebaikan beliau pada bulan ini lebih baik daripada kebaikan-kebaikannya di bulan yang lain. Beliau sangat mudah berinfak dan membantu orang lain pada bulan ini sebagaimana dijelaskan oleh pada hadits Ibnu ‘Abbas. Sampai-sampai Ibnu Abbas membuat permisalan ‘Kebaikan beliau lebih cepat dari pada angin (hujan) yang bertiup kencang’. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa hal yang bisa penulis sampaikan. Mudah-mudahan kita bisa memaksimalkan ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Dan mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang diampuni dosa-dosanya. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tamma bi fadhlillahi wa karamihi.</em> Mudahan bermanfaat.</p>
<h4><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/maksimalkan-ibadah-di-bulan-berkah.pdf">Download Ebook</a></h4>
<p style="text-align:justify;"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.    <em>Hadyun-Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam fi Ramadhan</em>. Sami bin Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    <em>Istiqbalul-Muslimin li Ramadhan</em>. ‘Athiyah Muhammad Salim.</p>
<p style="text-align:justify;">3.    <em>Ramadhan Kaifa Nastaqbiluhu wa Kaifa Naghtanimuhu?</em>. As-Sayyid Al-Arabi  bin Kamal.</p>
<p style="text-align:justify;">4.    <em>Taujihat Ramadhaniyah</em>. Ibnu Abdillah Az-Zuhairi.</p>
<p style="text-align:justify;">5.    Buku-buku lain yang telah disebutkan di makalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">(Artikel Majalah Lentera Qolbu edisi Ramadhan tahun I)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=318&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/memaksimalkan-ibadah-di-bulan-yang-penuh-berkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HINANYA HATI YANG KERAS</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/hinanya-hati-yang-keras/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/hinanya-hati-yang-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 07:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tholibul Ilmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc. { أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ} Artinya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=317&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>oleh: Ustadz Abu A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad Said Yai, Lc.</strong></p>
<h2 align="center">{ أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari <em>Rabb</em>-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Az-Zumar: 22)</p>
<p><strong>Ringkasan Tafsir<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam”</strong>, yaitu dengan dipermudah untuk mengenal-Nya, bertau<span style="text-decoration:underline;">h</span>id kepada-Nya, taat akan perintah-Nya dan menjadi bertambah semangat untuk mengerjakan ajaran Islam. Dan ini adalah pertanda yang baik bagi seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Lalu ia mendapat cahaya dari <em>Rabb</em>-nya”</strong>, yaitu cahaya kebenaran yang membuat hatinya bertambah yakin.  Apakah mereka itu sama dengan orang yang hatinya keras? Tentu saja tidak sama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah”</strong>, yaitu mereka yang hatinya tidak lunak ketika diingatkan akan Allah, tidak <em>khusyû’</em>, tidak paham, tidak sadar dan selalu membangkang.</p>
<p><strong>“Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”</strong> yang  akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan.<br />
<span id="more-317"></span><br />
<strong>Hati Memiliki Sifat</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat tersebut pun bisa berubah-ubah setiap waktu. Begitu pula hati, dia pun memiliki sifat. Hati bisa menjadi sehat dan juga bisa menjadi sakit. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta’âlâ</em><em> </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلَاءِ دِينُهُمْ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “…Dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang <em>mu</em><em>’</em><em>min</em>) ditipu oleh agamanya.” (Al-Anfâl : 49)</p>
<p>Hati juga bisa menjadi lunak dan juga bisa menjadi sekeras batu. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>âna<span style="text-decoration:underline;">h</span>u wa ta’âlâ </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً }</h2>
<p>Artinya: “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS Al-Baqarah : 74)</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula hati bisa mengkilap, bersinar dan bisa juga menjadi hitam kelam sebagaimana diterangkan di beberapa <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts</em> Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, sebisa mungkin kita memperhatikan kondisi hati kita setiap saat. Jangan sampai hati kita menjadi hati yang keras atau mulai mengeras sehingga nantinya akan menjadi keras. <em>Na’ûdzu billâhi min dzâlik. </em></p>
<p><strong>Bahaya Hati yang Keras</strong></p>
<p>Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras sangat tercela dan dalam kesesatan yang nyata.</p>
<p>Mâlik bin Dînâr<em> ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imahullâh</em> pernah berkata:</p>
<h2>( مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوْبَةٍ أَعْظَمِ مِنْ قَسْوَةِ قَلْبٍ، وَمَا غَضِبَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- عَلَى قَوْمٍ إِلَّا نَزَعَ مِنْهُمُ الرَّحْمَةَ.)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allah<em> ‘azza wa jalla</em> marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya terhadap mereka.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Tanda-tanda hati yang keras atau mulai mengeras</strong></p>
<p>Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut:</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.</li>
<li style="text-align:justify;">Tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan. Berbeda dengan kaum <em>mu’minîn</em>, hati mereka akan bergetar jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an atau diingatkan akan Allah. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</li>
</ol>
<h2 align="center">{ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah  gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada <em>Rabb</em>-lah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfâl : 2)</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta&#8217;âlâ</em>. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</li>
</ol>
<h2 align="center">{ أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Dan tidakkah mereka (orang-orang <em>munâfiq</em>) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS At-Taubah : 126)</p>
<ol>
<li>Tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta’âlâ </em></li>
<li>Bertambahnya kecintaan terhadap dunia dan mendahulukannya atas akhirat</li>
<li>Tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah</li>
<li>Bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya. Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</li>
</ol>
<h2 align="center">{ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS Ash-Shaf : 5)</p>
<ol>
<li>Tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan <em>ma’ruf</em> dan <em>munkar</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dan masih banyak lagi tanda yang lainnya. Oleh Karena itu, sebisa mungkin kita mendeteksi keadaan hati kita, jangan sampai hati kita mulai mengeras.</p>
<p><strong>Sebab-sebab kerasnya hati</strong><strong></strong></p>
<p>Hati menjadi keras tentu ada penyebabnya. Penyebab-penyebab kerasnya hati di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan.</li>
</ol>
<p>Inilah sebab yang paling besar yang dapat menutupi hati seseorang dari menerima kebenaran.</p>
<h2 align="center">{ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ}</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, karena mereka telah mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka. Dan Itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (QS Ali ‘Imrân: 151)</p>
<ol>
<li>Mengingkari perjanjian yang dibuat kepada Allah</li>
</ol>
<p>Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka kami laknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. (QS Al-Mâ-idah : 13)</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Abu Bakr Al-Jazâiri ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Melanggarnya dengan tidak konsisten dengan apa yang ada di dalamnya yang berupa perintah dan larangan.”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<ol>
<li>Banyak tertawa</li>
</ol>
<p>Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2>(( لاَ تُكْثِرُوا الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ.))</h2>
<p>Artinya: “Janganlah kalian banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol>
<li>Banyak berbicara dan banyak makan</li>
</ol>
<p>Bisyr bin Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ârits pernah berkata:</p>
<h2>(خَصْلَتَانِ تُقَسِّيَانِ الْقَلْبَ: كَثْرَةُ الْكَلَامِ وَكَثْرَةُ الْأَكْلِ.)</h2>
<p>Artinya: “Dua hal yang dapat mengeraskan hati: Banyak berbicara dan banyak makan.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<ol>
<li>Banyak melakukan dosa</li>
</ol>
<p>Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2>( إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ ، صُقِلَ قَلْبُهُ ، فَإِنْ زَادَ ، زَادَتْ ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ : {كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}.)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Sesungguhnya seorang <em>mu’min</em> jika melakukan dosa, maka akan terbintik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti (dari dosa tersebut) dan memohon ampun, maka hatinya akan mengkilap. Apabila dia terus melakukan dosa, maka bertambah pula titik hitam itu. Itu adalah Ar-Rân (Penutup) yang disebutkan oleh Allah di kitab-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka (QS Al-Muthaffifîn : 14).’.”</p>
<ol>
<li>Lalai dari ketaatan</li>
</ol>
<p>Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ}</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang-binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’râf : 179)</p>
<ol>
<li>Lagu-laguan dan alat musik</li>
</ol>
<p>‘Abdullah bin Mas’ûd <em>radhiall</em><em>â</em><em>hu &#8216;anhu</em> pernah berkata:</p>
<h2>(( الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ ))</h2>
<p>Artinya: “Lagu-laguan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<ol>
<li>Suara wanita yang menggoda</li>
</ol>
<h2 align="center">{ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Maka janganlah kamu tunduk (menghaluskan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik!” (QS Al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>zâb : 32)</p>
<ol>
<li>Mengikuti hal-hal yang merusak hati</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal yang merusak hati sangatlah banyak. Akan tetapi, dari semua itu ada lima hal yang menjadi “kunci utama” perusak hati. Kelima hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Ibnul-Qayyim <em>ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imahullâh</em>:</p>
<h2>(وَأَمَّا مُفْسِدَاتُ الْقَلْبِ الْخَمْسَةُ&#8230;: مِنْ كَثْرَةِ الْخِلْطَةِ, وَالتَّمَنِّي, وَالتَّعَلُّقُ بِغَيْرِ اللهِ, وَالشَّبْعُ, وَالْمَنَامُ. فَهذِهِ الْخَمْسَةُ مِنْ أَكْبَرِ مُفْسِدَاتِ الْقَلْبِ.)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Adapun kelima hal yang merusak hati adalah: banyak bergaul (berkumpul dengan manusia), (banyak) berangan-angan, tergantung kepada selain Allah, kekenyangan (banyak makan) dan (banyak) tidur. Inilah kelima hal utama yang dapat merusak hati ”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengetahui sebab-sebab ini, mudah-mudahan kita bisa menghindarinya, sehingga hati kita tidak menjadi keras atau bertambah keras.</p>
<p><strong>Obat hati yang keras</strong></p>
<p>Hati yang keras juga memiliki obat agar dia bisa kembali melunak. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat melunakkan hati:</p>
<ol>
<li>Beriman kepada Allah dan selalu meningkatkan keimanan.</li>
</ol>
<p>Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ }</h2>
<p>Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS At-Taghâbun : 11)</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Banyak mengingat Allah (ber-<em>dzikr</em>) dan membaca Al-Qur’an dengan men-<em>tadabburi</em>-nya (memahami dan merenungi maknanya).</li>
</ol>
<p>Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)</p>
<ol>
<li>Belajar ilmu <em>syar’i</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan lagi bahwa ilmu <em>syar’i</em> dapat membimbing seseorang untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa. Di awal surat Ali ‘Imrân Allah subhanahu wa ta&#8217;ala memuji orang-orang yang memiliki ilmu mendalam. Tahukah pembaca, doa apakah yang mereka ucapkan? Doa yang diucapkan oleh mereka adalah:</p>
<h2 align="center">{ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “&#8221;Ya <em>Rabb</em> kami, janganlah Engkau jadikan hati-hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).&#8221; (QS Ali ‘Imrân : 8)</p>
<p style="text-align:justify;">Merekalah yang lebih tahu akan Rabb-nya bila dibandingkan orang-orang awam dan mereka juga lebih tahu bahwa hati manusia bisa berubah-ubah, sehingga mereka berdoa dengan doa tersebut.</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Berlindung kepada Allah dari hati yang tidak <em>khusy</em><em>û</em><em>’</em> dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em></li>
</ol>
<p>Doa tersebut yaitu:</p>
<h2>(اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Ya Allah! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang bermanfaat, dari hati yang tidak <em>khusyû’</em>, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ol>
<li>Berbuat baik terhadap anak yatim dan orang miskin</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiallâhu &#8216;anhu</em> bahwasanya seseorang mengadu kepada Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> tentang hatinya yang keras. Beliau <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda:</p>
<h2>(( إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ.))</h2>
<p>Artinya: “Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<ol>
<li>Banyak mengingat kematian</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Shafiyah <em>radhiallâhu &#8216;anhâ</em> bahwasanya seorang wanita mendatangi ‘Âisyah <em>radhiallâhu &#8216;anhâ</em> dan mengadukan keadaan hatinya yang keras. Kemudian ‘Âisyah pun berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.” Kemudian wanita itu pun mengerjakannya. Setelah itu, dia pun mendapatkan petunjuk di hatinya dan bersyukur kepada ‘Âisyah <em>radhiallâhu &#8216;anhâ</em>.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Sa’îd bin Jubair<a title="" href="#_ftn11">[11]</a> dan Rabî’ bin Abi Râsyid<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> rahimahumallâh pernah berkata:</p>
<h2>(( لَوْ فَارَقَ ذِكْرُ الْمَوْتِ قَلْبِي سَاعَةً خَشِيت أَنْ يَفْسُدَ قَلْبِي.))</h2>
<p>Artinya: “Seandainya mengingat kematian terpisah dari hatiku satu waktu saja, saya takut hatiku akan menjadi rusak.”</p>
<ol>
<li>Banyak berziarah kubur</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Abu Thâlib (murid Imam Ahmad) pernah berkata, “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillâh (Imam Ahmad) tentang bagaimana melunakkan hatinya. Beliau pun menjawab, ‘Masuklah ke dalam pemakaman dan usaplah kepala anak yatim.’.”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda:</p>
<h2>(( &#8230;فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ.))</h2>
<p>Artinya: “Kunjungilah oleh kalian pemakaman! Sesungguhnya hal itu dapat mengingatkan akan kematian.”<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<ol>
<li>Menghadiri majlis ta’lim dan majlis nasihat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Menghadiri majlis-majlis seperti ini sangat berpengaruh terhadap hati manusia. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Al-‘Irbâdh bin Sâriyah <em>radhiallâhu &#8216;anhu</em> , “Pada suatu hari Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> <em>shalat</em> kemudian menghadap ke kami dan memberikan nasihat yang sangat menyentuh, yang membuat mata-mata menangis dan hati-hati menjadi takut.”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<ol>
<li>Menjauhi sebab-sebab terjadinya fitnah dan dosa</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Agar hati kita tidak menjadi keras, maka kita berusaha sekuat mungkin untuk menjauhi sebab-sebab terjadinya dosa atau fitnah. Oleh karena itu, Allah <em>subhânahu wa ta&#8217;âlâ</em> melarang para sahabat bertanya atau meminta sesuatu hal kepada istri-istri Nabi <em>shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam</em> kecuali dari belakang tabir.</p>
<p>Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ </em>berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS Al-Ahzâb : 53)</p>
<p>10. Makan makanan yang halal</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad pernah ditanya oleh seseorang, “Dengan apa hati bisa menjadi lunak?” Kemudian beliau pun menjawab, “Ya <em>bunayya</em> (wahai anakku)! Dengan makan makananan yang halal.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>11. Shalat malam</p>
<p>12. Beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah di waktu <em>sa<span style="text-decoration:underline;">h</span></em><em>û</em><em>r</em> (sebelum Subuh)</p>
<p>13. Berteman dengan orang-orang yang soleh</p>
<p>Ibrâhim Al-Khawwâsh pernah berkata:</p>
<h2>(دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاء : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ, وَخَلَاءُ الْبَطْنِ, وَقِيَامُ اللَّيْلِ, وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحْرِ, وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ.)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Obat hati ada lima macam, yaitu: membaca Al-Qur’an dengan men-<em>tadabburi</em>-nya, mengosongkan perut, <em>shalat</em> malam, mendekatkan diri (kepada Allah) di waktu <em>sah</em><em>û</em><em>r</em> dan duduk-duduk (berteman) dengan orang-orang yang soleh.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p><strong>Bertaubat dari hati yang keras</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin di antara pembaca yang budiman ada yang berkata, “Hati saya sudah sangat keras. Mana mungkin Allah menerima taubatku! Dosa yang telah saya lakukan sangatlah banyak.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah bahwa Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ </em>memiliki nama <em>Al-Ghafûr</em> (Maha Pemberi Ampun). Allah akan mengampuni semua dosa hamba-Nya jika dia benar-benar ingin kembali kepada-Nya.</p>
<p>Cobalah baca ayat berikut ini:</p>
<h2>{ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar : 53)</p>
<p>Dan coba juga perhatikan <em>hadîts</em> <em>qudsi</em> berikut ini:</p>
<h2>قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ ، وَلاَ أُبَالِي ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Allah <em>tabâraka wa ta’âla</em> berkata, ‘Wahai anak adam! Sesungguhnya jika engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan-Ku maka Aku akan mengampuni semua apa yang ada pada dirimu dan Aku tidak perduli (seberapa besar dosamu). Wahai anak Adam! Seandainya dosamu sampai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (seberapa besar dosamu). Seandainya engkau datang kepada-Ku dengan sepenuh bumi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa), kemudian engkau tidak berbuat syirik terhadapku sedikit pun, maka Aku akan datang sepenuh bumi itu pula dengan pengampunan.”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong><strong></strong></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Hati memiliki sifat-sifat yang bisa berubah-ubah.</li>
<li style="text-align:justify;">Orang yang telah dibukakan hatinya untuk menerima agama Islam dan taat kepada Allah tidak sama dengan orang yang berhati keras.</li>
<li style="text-align:justify;">Orang yang berhati keras akan mendapatkan ancaman yang sangat besar</li>
<li style="text-align:justify;">Orang yang berhati keras memiliki sifat-sifat sebagai berikut: bermalas-malasan dalam mengerjakan ketaatan, tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan dengan berbagai ujian, tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allah, bertambahnya kecintaan terhadap dunia dan mendahulukannya atas akhirat, tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah, bertambahnya kemaksiatan yang dilakukannya dll.</li>
<li style="text-align:justify;">Hati bisa menjadi keras disebabkan oleh beberapa hal. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita menjauhi sebab-sebab tersebut.</li>
<li style="text-align:justify;">Hati yang keras pun dapat diobati dengan berbagai cara yang telah disebutkan.</li>
<li style="text-align:justify;">Orang-orang yang telah terjerumus kepada kemaksiatan atau merasa bahwa hatinya sangat keras, maka harus segera bertaubat dan Allah akan mengampuni orang-orang yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.</li>
</ol>
<p>Demikian. Mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan Allah selalu menjaga hati kita agar tetap lunak. Amin.</p>
<h2 align="center">(( يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ. آمِيْن ))</h2>
<p>Palembang, 24 <em>Muharram</em> 1432 H/30 Desember 2010.</p>
<h3><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/hinanya-hati-yang-keras.pdf">Download Ebook</a></h3>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li><em>Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr</em>. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri.</li>
<li><em>At-Ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>rîr wa At-Tanwîr</em>. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad Ath-Thâhir bin &#8216;Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sa<span style="text-decoration:underline;">h</span>nûn.</li>
<li><em>Az-Zuhd</em>. A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad bin <span style="text-decoration:underline;">H</span>anbal Asy-Syaibâni. Beirut: Dârul-Kutub Al-‘Ilmiyah.</li>
<li><em>Dzammu Qaswatil-Qalb</em>. Al-Hâfidzh Ibnu Rajab Al-Hanbali dan <em>Muqaddimah muhaqqiq</em>-nya, Abu Maryam Thâriq bin ‘Âtif hijâzi. Dâr Ibni Rajab.</li>
<li><em>Dzammul-Hawâ</em>. ‘Abdurrahmân bin Abil-Hasan Al-Jauzi. <em>Tahqîq</em> : Mushthafâ ‘Abdul-Wâhid.</li>
<li><em><span style="text-decoration:underline;">H</span></em><em>ilyatul-Auliyâ’ wa Thabaqatul-Ashfiyâ’</em>. Abu Nu’aim A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad bin ‘Abdillah Al-Ashbahâni. 1405. Beirut: Dârul-Kitâb Al-‘Arabi.</li>
<li><em>Jâmi&#8217;ul-bayân fî ta&#8217;wîlil-Qur&#8217;ân</em>. Muhammad bin Jarîr Ath-Thabari. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.</li>
<li><em>Ma&#8217;âlimut-tanzîl</em>. Abu Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>usain bin Mas&#8217;ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li><em>Madârijus-sâlikîn</em>. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Beirut: Dâru Ihyâ’ At-Turâts Al-‘Arabi.</li>
</ol>
<p>10. <em>Mushannaf Ibni Abi Syaibah</em>. ‘Abdullâh bin Muhammad bin Abi Syaibah. Dâr As-Salafiyah Al-Hindiyah Al-Qadîmah.</p>
<p>11. <em>Syu’abul-Îmân</em>. Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi. 2003 M/1423 H. Riyâdh: Maktabatur-Rusyd.</p>
<p>12. <em>Tafsîr Al-Qur&#8217;ân Al-&#8217;Adzhîm</em>. Ismâ&#8217;îl bin &#8216;Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.</p>
<p>13. <em>Thabaqât Al-Hanâbilah</em>. Abul-Husain bin Abi Ya’la. Beirut: Dârul-Ma’rifah.</p>
<p>14. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di <em>footnotes</em>.</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Diringkas dan digabungkan dari: Tafsîr At-Thabari XXI/277-278, Tafsîr Ibni Katsîr III/334-336 dan VII/93 serta At-Ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>rîr wa At-Tanwîr XXIV/63-64.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ma’âlimut-Tanzîl VII/115.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Aisarut-Tafâsîr I/338.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> HR Ibnu Majah no. 4193 dan yang lainnya (Dinyatakan <em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> oleh Syaikh Al-Albâni di Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Ibni Mâjah).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <span style="text-decoration:underline;">H</span>ilyatul-Auliyâ’ VIII/350 .</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <span style="text-decoration:underline;">H</span>R Al-Bai<span style="text-decoration:underline;">h</span>aqi di Syu’abil-Îmân VII/107 dan yang lainnya (<em><span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts mauqûf</em> ini dinyatakan <em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> isnâd</em>-nya oleh Syaikh Al-Albâni di Silsilah Adh-Dha’îfah ketika men-<em>takhrîj</em> <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts no. 2430).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Madârijus-Sâlikîn I/343.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> HR Muslim no. 7081 dan yang lainnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> HR A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad no. 7576 dan 9018. <span style="text-decoration:underline;">H</span>adits ini di<span style="text-decoration:underline;">h</span>asankan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah no. 854.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> HR Ibnu Abi Ad-Dunya (<em>takhrîj</em> ini dinukil dari kitab <em>Dzammu Qaswatil-qalb</em>).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> HR A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad di Az-Zu<span style="text-decoration:underline;">h</span>d no. 2006, <span style="text-decoration:underline;">H</span>ilyatul-Auliya’ IV/276 dan yang lainnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> HR Ibnu Abi Syaibah di Al-Mushannaf XIII/562 dan yang lainnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Thabaqât Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>anâbilah I/39.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> HR Muslim no. 2304 dan yang lainnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> HR Abu Dâwud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Mâjah no. 43 (<em><span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts</em> ini dinyatakan <em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> oleh Syaikh Al-Albâni di Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>i<span style="text-decoration:underline;">h</span> Abi Dâwûd dan yang lainnya).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> <span style="text-decoration:underline;">H</span>ilyatul-Auliyâ’ IX/182.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Dzammul-Hawâ I/70.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> HR At-Tirmidzi no. 3540. <em>Hadîts</em> ini di-<em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> At-Tirmidzi.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=317&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/hinanya-hati-yang-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NABI AHMAD DI DALAM AL-QUR’ÂN</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/nabi-ahmad-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/nabi-ahmad-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 06:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc. { وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ } Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika ‘Îsâ Ibnu Maryam berkata, ‘ Hai Banî Isrâîl, Sesungguhnya aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=314&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: Ustadz Abu A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad Said Yai, Lc.</p>
<h2 align="center">{ وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ }</h2>
<p>Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika ‘Îsâ Ibnu Maryam berkata, ‘ Hai Banî Isrâîl, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad.’ Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’.” (QS As-Shaff : 6)</p>
<p><strong>Tafsir Ringkas</strong><strong></strong><br />
<span id="more-314"></span><br />
<strong>“Dan (Ingatlah)”</strong> wahai Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em><strong>, “ketika ‘Îsâ Ibnu Maryam berkata, ‘ Hai Banî Isrâîl, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian.’.”</strong> Sebagaimana kalian beriman kepada Nabi Mûsâ, Hârûn, Dâwûd dan Sulaimân <em>‘alaihimussalâm</em>, maka berimanlah kepadaku, bahwa aku adalah Rasulullah (utusan Allah) kepada kalian. Sebagai buktinya, <strong>aku “membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat,”</strong> yang mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata. Kesamaan antara kita menunjukkan bahwa sumber syariat kita sama, yaitu berasal dari Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta&#8217;</em><em>â</em><em>la</em>.</p>
<p>Selain itu, aku juga <strong>“memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku.”</strong></p>
<p>Nabi ‘Îsâ <em>‘alaihissalâm</em> seperti para nabi sebelum beliau, mereka <em>‘alaihimussalâm</em> selalu membenarkan  para nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira akan datangnya nabi setelahnya. Nabi ‘Îsâ (Yesus) <em>‘alaihissalâm</em> mengabarkan bahwa nama Nabi tersebut adalah <strong>A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad</strong>, yaitu Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong> “Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka”</strong> yaitu Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> <strong>“dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’.”</strong> Hal tersebut sama dengan apa yang dikatakan oleh Fir’aun kepada Nabi Mûsâ <em>‘alaihissalâm</em> dan juga dikatakan oleh Banî Isrâîl terhadap nabi <em>‘Îsâ</em> <em>‘alaihissalâm</em>.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>PENJABARAN DAN TAFSIR AYAT</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Siapakah Banî Isrâîl?</strong><strong> Bolehkah menghina Israel?</strong></p>
<p>Isrâîl (إِ<strong>سْرَائِيْل</strong>)adalah nama Nabi Ya’qûb bin Nabi Is<span style="text-decoration:underline;">h</span>âq bin Nabi Ibrahim <em>‘alaihimussalam</em>. Sedangkan Banî Isrâîl (<strong>بَنِي إِسْرَائِيلَ</strong>)adalah anak-keturunan dari Nabi Ya’qûb <em>‘alaihissalâm</em>. Hal ini tidak diingkari oleh orang-orang Yahudi.</p>
<p>Para Zionis/Yahudi telah membuat suatu negara yang dinamai dengan ISRAEL. Sebagai orang Islam, tentu kita tidak senang dengan penamaan tersebut, karena itu salah satu bentuk penghinaan terhadap Nabi Isrâîl atau Nabi Ya’qûb <em>‘alaihissalâm</em>.</p>
<p>Negara Israel telah melakukan banyak hal yang membuat kaum muslimin murka. Akan tetapi, dibalik kemurkaan tersebut sering sekali sebagian kaum muslimin salah dalam berucap dengan mengatakan, “Terkutuk Israel! Hancurkan Israel!” atau dengan kata-kata yang semisal dengan itu. Perkataan itu sudah sepantasnya tidak “keluar” dari lisan kita, karena menghina Israil sama dengan menghina Nabi Ya’qûb <em>‘alaihissalâm</em>.</p>
<p>Jika ingin menghina negara tersebut, maka janganlah lepaskan kata ‘negara’ dari kata ‘Israel’. Atau lebih amannya kita ganti dengan nama yang betul-betul aman dari penghinaan terhadap Nabi Ya’qub, yaitu dengan mengatakan, “Negara Zionis atau negara Yahudi.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apakah Nabi Ya’qub bertemu dengan Nabi Ibrahim <em>‘alaihissalâm</em>?</strong></p>
<p>Ya, Nabi Ya’qub <em>‘alaihissalâm</em> bertemu dengan Nabi Ibrâhîm <em>‘alaihissalâm</em>. Inilah yang dikuatkan (di-<em>râji<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>-kan) oleh Ibnu katsîr <em>ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imahullâh</em> di dalam tafsirnya dengan dalil Firman Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta&#8217;âl</em><em>â</em> :</p>
<h2>{ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }</h2>
<p>Artinya: “Dan Ibrâhîm telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya&#8217;qûb. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam!’.” (QS Al-Baqarah : 132)</p>
<p>Ibnu Katsîr <em>ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imahullah</em> berkata, “Sebagian ulama salaf (yang terdahulu) membaca (يَ<strong>عْقُوبُ</strong>) dengan (<strong>يَعْقُوبَ</strong>) sebagai <em>‘Athf</em> dari <strong>(بَنِيهِ)</strong>, yang berarti anak-anaknya. Seolah-olah Nabi Ibrahim <em>‘alaihissalâm</em> mewasiatkan kepada anak-anaknya dan juga cucunya, yaitu Ya’qûb bin Is<span style="text-decoration:underline;">h</span>âq.” <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Siapakah Nabi terakhir Banî Isrâîl?</strong></p>
<p>Nabi ‘Îsâ bin Maryam ‘alaihis-salâm adalah nabi terakhir Banî Isrâîl.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Akan tetapi, kenabian Nabi ‘Îsâ <em>‘alaihissalâm</em> tidak diakui oleh sebagian Banî Isrâîl atau orang-orang Yahudi.</p>
<p><strong>Pengabaran akan datangnya Nabi A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> oleh Nabi Ibrahim <em>‘alahissalâm</em> dan Nabi <em>‘</em>Îsâ ‘<em>alaihissalâm</em></strong></p>
<p>Setiap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa ta&#8217;âlâ</em> diikat dengan perjanjian oleh Allah untuk mengabarkan tentang akan diutusnya Rasulullah, yaitu Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Apabila beliau <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> diutus, maka mereka harus mengikutinya, mendukung dan berjuang untuknya.</p>
<p>Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ .}</h2>
<p>Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’. Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: &#8220;Kami mengakuinya.’ Allah berfirman: &#8220;Kalau begitu, saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.’.&#8221; (QS Âli ‘Imrân : 81)</p>
<p>Ibnu ‘Abbâs <em>radhiallâhu &#8216;anhu</em> bekata, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali Allah membuat perjanjian kepadanya, apabila dia (Nabi Muhammad) diutus, sedang Nabi tersebut hidup, maka dia akan mengikutinya. Dan Allah memerintahkan agar dia memerintahkan kepada umatnya, apabila Muhammad diutus sedangkan mereka hidup, maka mereka harus mengikutinya dan menolongnya.”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Nabi Ibrâhîm <em>‘alahissalâm</em> mendoakan agar diutusnya Nabi tersebut di kaum yang berada di sekitar Ka’bah setelah beliau dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam membangun Ka’bah. Doa tersebut tercantum di dalam Al-Qur’an:</p>
<h2>{رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ}</h2>
<p>Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah : 129)</p>
<p>Begitu pula Nabi ‘Îsâ bin Maryam <em>‘alaihissalâm</em>, beliau mengabarkan tentang akan datangnya Nabi setelahnya yaitu Nabi A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana tercantum pada ayat di atas.</p>
<p>Di dalam <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts, Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> pernah ditanya oleh Abu Umâmah, “Ya Nabi Allah! Apa permulaan kenabianmu?” Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> pun menjawab:</p>
<h2 align="center">( دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى ، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهُ قُصُورُ الشَّامِ. )</h2>
<p>Artinya: “Doa bapakku Ibrâhîm, kabar gembira dari <em>‘</em>Îsâ dan ibuku melihat cahaya yang keluar dari dirinya yang menerangi istana-istana Syam.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kabar tentang akan datangnya Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> juga tercantum di Taurat dan Injil. Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ</em> mengabarkan di dalam Al-Qur’an:</p>
<h2 align="center">{ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا }</h2>
<p>Artinya: “Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka <em>ruku&#8217;</em> dan sujud mencari karunia Allah dan ke-<em>ridha</em>-an-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. <span style="text-decoration:underline;">Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,</span> yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath : 29)</p>
<p><strong>Sekarang ini, orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari pernyataan di atas, Bagaimana ini?</strong></p>
<p>Orang-orang Yahudi dan Nasrani disifatkan oleh Allah sebagai kaum yang suka merubah kitab suci mereka. Jadi, merupakan suatu yang wajar jika mereka menyembunyikan hal ini. Padahal mereka semua meyakini kebenaran hal tersebut. Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ }</h2>
<p>Artinya: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 146)</p>
<p><strong>A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad adalah salah satu nama Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> mengabarkan bahwa beliau memiliki banyak nama. Di antara nama beliau adalah A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad, sebagaimana tercantum pada hadits berikut:</p>
<h2>( لِي خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ. )</h2>
<p>Artinya: “Saya memiliki lima nama: Saya adalah Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad dan A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad, saya adalah Al-Mâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>i yang denganku Allah menghapuskan kekufuran, saya adalah Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>âsyir yang manusia nanti dikumpulkan di hadapanku dan saya adalah Al-‘Âqib (Yang terakhir).”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Arti dari nama ‘A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad (</strong><strong>أحمد</strong><strong>)’</strong></p>
<p>A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad berasal dari kata ‘<em><span style="text-decoration:underline;">h</span>amd</em>’ yang berarti pujian. Di dalam bahasa Arab, ‘A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad’ memiliki tiga arti:</p>
<ol>
<li>Menunjukkan makna paling/yang ter-  (<em>Shîghah Al-Mubâlaghah</em>) untuk kata ‘<span style="text-decoration:underline;">h</span>âmid’ (orang yang memuji). Jadi Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling banyak memuji Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ</em>. Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</li>
</ol>
<h2>( أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ ، وَبِيَدِي لِوَاءُ الحَمْدِ وَلاَ فَخْر. )</h2>
<p>Artinya: “Saya adalah pemimpin anak Adam di hari kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada bendera puji-pujian dan aku tidak sombong. “<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<ol>
<li> Menunjukkan makna paling/yang ter- untuk kata ‘ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd’ (orang yang dipuji). Jadi Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling banyak dipuji oleh semua makhluk. Bahkan, Allah sendiri memuji beliau di dalam Al-Qur’an dengan sifat-sifat mulia dan di dalam Al-Qur’an Allah tidak pernah memanggilnya dengan namanya, tetapi dengan mengatakan,<strong> (يَا أَيُّهَا النَّبِي)</strong> dan <strong>(يَا أَيُّهَا الرَّسُوْل</strong>) berbeda dengan Nabi-nabi yang lainnya, mereka dipanggil dengan namanya.</li>
<li>Menunjukkan simbol dari kata ‘Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <strong>(مُحَمَّد)’</strong>. Arti dari Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad adalah orang yang banyak dipuji dan di dalam bahasa Arab dapat disimbolkan dengan kata ‘A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad’.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p><strong>Tidak ada Nabi setelah Nabi </strong><strong>A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad</strong><strong> </strong><strong><em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em></strong><strong> </strong></p>
<p>Sangat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad atau Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah <em>subhânahu wa ta’âlâ</em> dan tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<h2 align="center">{ مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا }</h2>
<p>Artinya : “Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>zâb : 40)</p>
<h2>( كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي. )</h2>
<p>Artinya: “Dulu Banî Isrâîl dipimpin oleh para Nabi. Jika ada nabi yang wafat, maka akan digantikan oleh seorang nabi. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Kedua dalil di atas sangat jelas menunjukkan bahwa tiada Nabi setelah Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Oleh karena siapa saja yang mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi setelah Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>, maka sesungguhnya dia adalah Kadzdzab (pendusta).</p>
<p><strong>Pengabaran Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa akan muncul nabi-nabi palsu</strong><strong></strong></p>
<p>Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> juga mengabarkan bahwa sepeninggal Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> akan ada orang-orang yang mengaku Nabi. Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2>(&#8230;وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي. )</h2>
<p>Artinya: “Sesungguhnya di dalam umatku akan ada tiga puluh pendusta. Semuanya mengaku bahwa dia adalah nabi, sedangkan saya adalah penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku.” <a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Setelah membaca dalil di atas, maka tidak ada alasan untuk membenarkan ajaran-ajaran nabi-nabi palsu yang baru seperti: Mirza Ghulam A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad, Lia Eden dan sejenisnya. Mereka bukanlah kaum muslimin dan jangan ragu untuk mengatakan bahwa mereka bukan beragama Islam.</p>
<p><strong>Pengingkaran Banî Isrâîl atas apa yang dibawa oleh Nabi  Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> </strong></p>
<p>Di akhir ayat, <em>subhânahu wa ta’âlâ</em> berfirman:</p>
<h2 align="center">{فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ}</h2>
<p>“Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.”</p>
<p>Inilah tuduhan yang dituduhkan kepada Nabi Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Orang-orang kafir menuduh beliau <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai penyihir karena beliau membawa mukjizat yang tidak masuk akal. Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan ‘Rasul’ pada ayat di atas adalah Nabi ‘Îsâ <em>‘alaihissalâm</em>. Karena Banî Isrâîl juga mengatakan bahwa beliau <em>‘alaihissalâm</em> adalah penyihir. <em>Allahu a’lam</em>, tidak ada pertentangan dari keduanya.</p>
<p><em>Tamma bifadhlillâhi wa karamih</em>.</p>
<p>Prabumulih, 28 <em>Jumâdâ Ats-Tsâniah</em> 1432 H/31 Mei 2011</p>
<h4><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/nabi-ahmad-di-dalam-alquran.pdf">Download Ebook</a></h4>
<p>DaftarPustaka</p>
<ol>
<li>Al-Qur&#8217;ân dan Terjemahannya. Madînah: Kompleks Percetakan Mush<span style="text-decoration:underline;">h</span>af Raja Fa<span style="text-decoration:underline;">h</span>d.</li>
<li><em>Adhwâul-Bayân fi Îdhâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>il-Qur’ân bil-Qur’ân</em>. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad Al-Amîn Asy-Syinqîthi. 1415 H/1995 M. Libanon: Dârul-Fikr.</li>
<li><em>Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr</em>. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ikam</li>
<li><em>At-Ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>rîr wa At-Tanwîr</em>. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad Ath-Thâhir bin &#8216;Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sa<span style="text-decoration:underline;">h</span>nûn.</li>
<li><em>Ma&#8217;âlimut-tanzîl</em>. Abu Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>usain bin Mas&#8217;ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li><em>Tafsîr Al-Qur&#8217;ân Al-&#8217;Adzhîm</em>. Ismâ&#8217;îl bin &#8216;Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li><em>Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân</em>. Abdurra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân bin Nâshir As-Sa&#8217;di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.</li>
<li>Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar sudah tercantum di <em>footnotes</em>.</li>
</ol>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsîr As-Sa’di hal. 859 dan Aisarut-Tafâsîr pada tafsir ayat ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Tafsir Ibni Katsir I/446.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat Tafsir Ibnu Katsir VIII/109.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Tafsir Ibni Katsir VIII/110.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> HR Ahmad no. 22261, Al-Hakim no 4173, Ibnu Hibban no. 6404 dan yang lainnya. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan, “Hadits ini shahih lighairih.” di catatan kakinya pada Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> HR Al-Bukhari no. 3532 dan Muslim no. 6251.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> HR At-Tirmidzi no. 3148. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan At-Tirmidzi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat penjelasan di atas di dalam Ma’âlimut-Tanzîl VÎI/108-109 dan At-Tahrîr wa At-Tanwîr XXVIII/163-165.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> HR Al-Bukhari 3455 dan Muslim 4879.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> HR At-Tirmîdzi no. 2219. Beliau berkata, “<em>Hadîts</em> ini <em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>.”<em>Hadîts</em> ini di-<em>shahîh</em>-kan juga oleh Syaikh Al-Albâni di Shahîh Sunan At-Tirmîdzi.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=314&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/nabi-ahmad-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENYIKAPI REZEKI YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/menyikapi-rezeki-yang-diberikan-oleh-allah/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/menyikapi-rezeki-yang-diberikan-oleh-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 05:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Abu Ahmad Said Yai  Khuthbah I Muqaddimah Hadirin rahimakumullaah. Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kita untuk bertakwa. Ketahuilah takwa adalah kata yang sangat ringan diucapkan, tetapi sangat berat untuk melaksanakannya. Di hari ini saja, cobalah ingat berapa dosa yang telah kita lakukan, berapa dosa yang telah diperbuat oleh hati-hati kita. Sebagai contoh, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=311&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh : Ustadz Abu Ahmad Said Yai</p>
<p><em> </em><strong><em>Khuthbah</em></strong><strong> I</strong></p>
<p>Muqaddimah</p>
<p>Hadirin ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>imakumullaah.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>aanahu wa ta’aala</em> memerintahkan kita untuk bertakwa. Ketahuilah takwa adalah kata yang sangat ringan diucapkan, tetapi sangat berat untuk melaksanakannya. Di hari ini saja, cobalah ingat berapa dosa yang telah kita lakukan, berapa dosa yang telah diperbuat oleh hati-hati kita. Sebagai contoh, apakah hati-hati kita telah selamat dari rasa iri terhadap orang lain yang telah diberi kenikmatan lebih kepadanya, harta yang melimpah dan rezeki yang banyak?</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah rezeki bagaikan hujan, dia terbagi tidak merata. Terkadang turun di pegunungan. Terkadang tidak turun di padang sahara.</p>
<p>Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa membawa laknat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatlah ketika Allah menenggelamkan kaum Nabi Nuu<span style="text-decoration:underline;">h</span> <em>‘alaihissalaam</em> yang membangkang! Dengan apa Allah membinasakan mereka? Dengan hujan dan banjir yang sangat besar.</p>
<p><span id="more-311"></span><br />
Begitulah harta! Begitulah dunia! Allah membagikannya tidak merata kepada setiap orang. Ada orang yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Terkadang bermanfaat untuk hamba, terkadang dapat membawa petaka.</p>
<p>Hadirin <em>rahimaniyallaahu wa iyyaakum</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita semua mengetahui bahwa semua rezeki telah diatur oleh Allah, semua telah dibagi oleh Allah, apa yang kita harus lakukan? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki yang sedikit? buat apa kita iri dengan orang lain? buat apa merasa hina? Apakah harta bisa menjamin untuk masuk surga? Apakah dunia bisa menjamin untuk mendapatkan ke-<em>ridhaa</em>-an Allah?</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah wahai hadirin yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan! Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian? Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2><strong>)</strong>قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ &#8230;وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ<strong>(</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Saya pernah berdiri di pintu surga. Ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu neraka. Ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits yang khathib baca adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan. Orang kaya jumlahnya tidaklah banyak di surga. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita memperhatikan harta-harta kita, dari mana diperoleh dan untuk apa dipergunakan?</p>
<p>Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga pernah bersabda:</p>
<h2>(يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia).” (HR. An-Nasaai dan Ibnu Maajah dengan sanad yang <span style="text-decoration:underline;">h</span>asan)</p>
<p>Saya teringat, ketika Rasulullah <em>shallalla</em><em>a</em><em>hu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca ayat:</p>
<h2>{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ}</h2>
<p>Artinya: “Telah melalaikan kalian berbanyak-banyak.” (yaitu: harta, wanita dan anak)</p>
<p>Beliau <em>shallall</em><em>a</em><em>ahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2>يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِى مَالِى &#8211; قَالَ &#8211; : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ, أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ.</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Nanti seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allah pun) berkata, “Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang, apa-apa yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu waktu? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai semuanya dalam satu waktu? Tentu tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula? Tidak! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang sebenarnya yang dicari di dunia ini?</p>
<p>Apakah ketenaran? Apakah pujian? Apakah kedudukan di dunia?</p>
<p><em>Subhaanallaah</em>! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersedekahlah! Ber-<em>infaaq</em>-lah di jalan Allah! Bukakanlah pintu-pintu kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh  Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki yang halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>a</em><em>a</em><em>nahu wa ta&#8217;</em><em>a</em><em>ala</em>.</p>
<p>Baarakallahu lii &#8230;.</p>
<p><em> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
</em></p>
<p><strong><em>Khuthbah</em></strong><strong> II</strong><strong></strong></p>
<p>Muqaddimah</p>
<p>Rasulullah <em>shallalla</em><em>a</em><em>hu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda:</p>
<h2>)فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم.)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Demi Allah! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi, yang paling saya takutkan pada kalian adalah dunia yang akan dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah menghancurkan mereka.” (HR Al-Bukhaari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits yang <em>khathiib</em> baca tadi dengan jelas menjelaskan bahwa Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak terlalu mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan dari akhirat. Apakah saya, Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian termasuk orang yang lalai ataukah tidak?</p>
<p>Kekayaan! Kekayaan apakah yang sebenarnya harus kita miliki?</p>
<p>Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>aanahu wa ta&#8217;aala</em> berfirman di dalam surat <em>Adh-Dhuhaa</em>:</p>
<h2>أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “(6) Bukankah dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu? (7)  Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk? (8) Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang miskin, lalu dia memberikanmu kekayaan.” (QS. Adh-Dhuha : 6-8)</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat dalam keadaan tidak memiliki harta dan kekayaan? Sebenarnya kekayaan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em>?</p>
<p>Coba perhatikan <em>hadits</em> yang akan saya bacakan:</p>
<h2>لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang. Akan tetapi, kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa/hati.”</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadits</em> yang baru disebutkan sangat jelas menjelaskan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati yang dimiliki oleh seorang mukmin, yaitu rasa puas, <em>ridhaa</em> dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah. Hal inilah yang dinamakan dengan <em>qanaa’ah</em>. Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diberikan rasa <em>qanaa’ah</em> yang sangat tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita menginginkan dunia, dunia tidak akan pernah ada habisnya. Jika seseorang memiliki satu gunung emas, niscaya dia akan menginginkan dua gunung emas atau lebih banyak lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai kapan orang-orang yang mengejar dunia akan puas? Yaitu, sampai mulut-mulut mereka dipenuhi dengan tanah atau kematian yang menjemput mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia bukan tujuan hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita fokuskan diri kita untuk benar-benar beribadah kepada Allah dan mengisi sisa-sisa hari kita ini dengan takwa kepada Allah <em>sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>aanahu wa ta&#8217;aala</em> .</p>
<p>Hadirin <em>rahimaniyallaahu wa iyyaakum.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa nasihat yang bisa <em>khathiib</em> sampaikan pada <em>khuthbah</em> Jumat ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan di akhir<em> khutbah</em> ini marilah kita bershalawat  kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,  karena Allah telah memerintahkan hal tersebut di dalam Al-Qur’an.</p>
<h2>اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.</h2>
<p>Doa</p>
<p>Penutup</p>
<h3><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/khuthbah-menyikapi-rezeki-yang-diberikan-oleh-allah.pdf">Download Ebook</a></h3>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/311/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=311&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/menyikapi-rezeki-yang-diberikan-oleh-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibadah Teragung dalam Sejarah</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/ibadah-teragung-dalam-sejarah/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/ibadah-teragung-dalam-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 04:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Syurga]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai Hidup di dunia adalah hidup yang sementara. Sungguh indah apabila kita menjadi hamba Allah yang benar-benar mulia. Tidaklah kita diciptakan di dunia ini kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman: { وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ } Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=308&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>Oleh: </strong><strong>Ustadz Abu Ahmad </strong><strong>Said Yai</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Hidup di dunia adalah hidup yang sementara. Sungguh indah apabila kita menjadi hamba Allah yang benar-benar mulia. Tidaklah kita diciptakan di dunia ini kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p dir="LTR">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2>{ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (QS Adz-Dzariyat : 56)</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Jika kita tahu bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah hanyalah untuk beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, maka sudah seharusnya kita benar-benar dapat meluangkan waktu kita untuk beribadah kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Ibadah-ibadah sangatlah banyak jumlahnya. Kira-kira, ibadah apakah yang paling agung dalam sejarah manusia?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Apakah shalat? Ataukah sedekah? Ataukah berbakti kepada kedua orang tua? Ataukah ibadah lain?</p>
<p><span id="more-308"></span></p>
<p dir="LTR">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memerintahkan seluruh manusia di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:</p>
<h2>{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ <span style="text-decoration:underline;">اعْبُدُوا</span> رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: “Wahai manusia! <span style="text-decoration:underline;">Sembahlah</span> <em>Rabb</em> (Tuhan) kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah : 21)</p>
<p dir="LTR">Apa arti kata “<em>U’buduu</em>/sembahlah” pada ayat di atas?</p>
<p dir="LTR">Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata:</p>
<h2>(كُلُّ مَا وَرَدَ فِيْ الْقُرْآنِ مِنَ الْعِبَادَةِ فَمَعْنَاهَا التَّوْحِيْدُ.)</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: “Setiap (kata) yang ada di dalam Al-Qur’an yang berarti ‘penyembahan’, maka maknanya adalah bertauhid (kepada Allah).”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Dengan demikian, sekarang kita telah sama-sama mengetahui bahwa ibadah teragung tersebut adalah <em>tauhidullah</em> (bertauhid kepada Allah).</p>
<p dir="LTR">Apa arti tauhid?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Menurut bahasa Arab, “tauhid” berarti menjadikan sesuatu menjadi satu saja. Sedangkan menurut Islam, tauhid adalah menyerahkan ibadah dengan ikhlas hanya untuk Allah dan tidak dicampuri dengan kesyirikan.</p>
<p dir="LTR">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2>{ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ }</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat&#8221;<em> </em>(QS Al-Bayyinah : 5)</p>
<p dir="LTR">Pentingkah tauhid?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Para ulama memisalkan tauhid dengan pondasi atau asas suatu bangunan. Apabila pondasinya tidak kokoh, maka percuma saja membangun bangunan yang tinggi, lambat laun bangunan tersebut akan roboh juga. Berbeda dengan bangunan yang berpondasi kuat, setinggi apapun bangunan yang didirikan, maka dia akan tetap kokoh.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>berkata, &#8221;Barangsiapa yang berkeinginan untuk membangun bangunan yang tinggi, maka perkara yang wajib dilakukannya adalah memperkuat dan memperkokoh  pondasi bangunan tersebut disertai dengan pengawasan yang ketat. Karena, tingginya sebuah bangunan itu tergantung pada kekuatan dan kekokohan pondasi bangunan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Apabila keseluruhan amal dan derajat adalah bangunan, maka pondasinya adalah iman…Orang yang tahu (berilmu), dia akan berusaha untuk menguatkan dan memperkokoh pondasi bangunannya. Sedangkan orang yang jahil (bodoh), (dia akan terus) meninggikan bangunannya tanpa (memperhatikan) pondasi bangunannya. maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah ambruknya bangunan tersebut.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p dir="LTR">Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman di dalam Al-Qur’an:</p>
<h2>{ أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.}</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan ke-<em>ridha</em>-an-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Di dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta&#8217;ala membuat permisalan tentang orang yang berpegang teguh dengan tauhid dan kalimat <em>‘Laa ilaaha illallaah’</em> dengan sebuah pohon yang memiliki akar yang kuat dan batangnya menjulang ke langit dengan kokoh serta selalu memberikan manfaat setiap waktu. Berbeda dengan orang yang tidak bertauhid, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memisalkannya dengan tanaman yang jelek.</p>
<p dir="LTR">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2>{ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24)</h2>
<h2>تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26)}</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: “ (24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb (Tuhan)nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (26) Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, dia tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.  (QS Ibrahim : 24-26)</p>
<p dir="LTR">Itulah perumpamaan orang yang bertauhid dengan orang yang tidak bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Setelah membaca paparan di atas, maka sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh meremehkan ilmu tauhid dan berhenti untuk mengajak manusia untuk bertauhid kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Sekarang ini banyak manusia terlalaikan dengan dunia dan banyaknya syubhat yang diterima, sehingga mereka merasa tidak perlu lagi untuk belajar ilmu tauhid. <em>Subhanallah</em>, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka telah aman dari dosa syirik, lawan dari tauhid.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sendiri sangat takut jika para sahabanya terjatuh pada kesyirikan. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan doa berlindung dari kesyirikan kepada orang terbaik umat ini, Abu Bakr Ash-Shiddiq, sebagaimana tercantum pada hadits berikut:</p>
<h2>عن مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ يَقُولُ : انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- إِلَى النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم-، فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ ، لَلشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : وَهَلِ الشِّرْكُ إِلاَّ مَنْ جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ ؟ قَالَ : قُلِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ.</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, dia bercerita, “Saya pernah pergi menuju Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama Abu Bakr. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Wahai Abu Bakr! Sesungguhnya kesyirikan yang ada pada diri kalian lebih samar daripada semut (yang gelap).’ Abu Bakr <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> pun berkata, ‘Bukankah yang dimaksud dengan syirik adalah jika seseorang menjadikan sembahan selain (Allah)?’ Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya! Kesyirikan lebih samar daripada semut. Apakah engkau mau saya tunjukkan sesuatu yang jika engkau mengatakannya, maka kesyirikan akan terhindar darimu, sedikit maupun banyak?’ Kemudian beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Katakanlah: <em>Allaahumma innii a’uudzu bika an usyrika bika wa ana a’lam, wa astaghfiruka limaa laa a’lam</em>. (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada Engkau sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada Engkau atas apa yang tidak aku ketahui.’.”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p dir="LTR">Subhanallah inilah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> agar kita terhindar dari kesyirikan.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Para ulama juga menyebutkan –ketika menjelaskan hadits ini- bahwa seseorang bisa saja menjadi seorang musyrik (pelaku kesyirikan) sedangkan dia tidak ketahui atau tidak sadar. <em>Allahua’lam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Siapakah di antara kita yang lebih <em>afdhal</em> dari para Sahabat Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Tentu tidak ada. Akan tetapi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata dan mewanti-wanti mereka dengan sabdanya:</p>
<h2>إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ : يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: “Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada diri kalian adalah <em>asy-s</em><em>yirk </em><em>al-a</em><em>shghar</em> (syirik kecil). Kami (Para sahabat) pun berkata, “Ya Rasulullah! Apakah <em>asy-s</em><em>yirk </em><em>al-a</em><em>shghar</em> itu?” Beliau pun menjawab, “Dia adalah <em>riya’</em>. Sesungguhnya Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berkata di hari pembalasan terhadap amalan-amalan manusia: Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian <em>riya</em><em>’</em>-i dengan amalan-amalan kalian di dunia! Lihatlah apakah kalian mendapatkan balasannya?”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p dir="LTR">Siapa di antara kita yang lebih <em>afdhal</em> dari Nabi Ibrahim <em>‘alaihissalam</em>?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Beliau <em>‘alaihissalam</em> sangat takut bila terjatuh kepada perbuatan syirik, sehingga beliau berdoa dengan doa yang diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an:</p>
<h2>وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35)</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR"> Artinya : <em>&#8221;Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: &#8220;Ya </em><em>Rabbi (</em><em>Tuhanku</em><em>)!</em><em> </em><em>J</em><em>adikanlah negeri Ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.&#8221; </em>(QS Ibrahim : 35)</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Oleh karena itu, kita harus lebih takut apabila kita terjatuh kepada kesyirikan daripada mereka. Tetapi hal ini banyak disepelekan oleh kebanyakan orang. Sebagai contoh, bagaimana menurut pendapat pembaca tentang orang yang memakai jimat di tangan, di leher atau di badannya?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Kebanyakan orang pada saat ini,  apabila ia menemukan saudaranya memakai gelang jimat di tangannya guna penyembuhan dari penyakit atau yang lainnya, kebanyakan orang tidak mengingkari hal tersebut. Akan tetapi, jika ia mendapatkan saudaranya berzina dan membunuh, maka ia sangat  menghinakan dan membesarkan hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Penulis tidak mengatakan bahwa perbuatan zina dan pembunuhan adalah dosa yang kecil dan memang benar itu adalah perbuatan dosa besar dan kita wajib untuk memperhatikan hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan menjauhinya. Akan tetapi, memakai gelang jimat adalah perkara yang lebih besar dan hina. Karena, dalam akidah (keyakinan) <em>ahlussunnah wal jama`ah</em>, pelaku dosa besar yang bertauhid tidak akan kekal dalam neraka. Akan tetapi, dia berada dibawah <em>masyi`ah</em> (kehendak) Allah. Apabila Allah mengehendaki untuk mengampuninya maka Dia akan mengampuninya. Apabila Ia mengehendaki untuk menyiksanya maka Ia akan menyiksanya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Sedangkan pemakai  <em>halqah</em> (gelang jimat) untuk pengobatan maka ia telah berbuat kesyirikan, entah itu syirik kecil (<em>syirkul ashghar</em>) ataukah syirik besar (<em>syirkul akbar</em>).</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Apabila ia memakai gelang tersebut berkeyakinan bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab untuk menyembuhkan penyakitnya, maka ini termasuk kepada syirik kecil.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Sedangkan, apabila ia memakai benda tersebut dengan keyakinan bahwa benda tersebutlah yang memberikan kesembuhan dengan sendirinya, maka ini termasuk pada syirik besar. Pelakunya akan kekal selama-lamanya dalam neraka, apabila ia meninggal dengan keyakinan semacam ini. <em>Na`udzu billahi min dzaalik. </em></p>
<p dir="LTR">Ini adalah salah satu contoh di masyarakat kita. Masih banyak lagi contoh yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Oleh Karena itu, kalau kita melihat dakwahnya seluruh Rasul, maka kita akan mendapatkan bahwa mereka semua mendakwahkan tauhid, yaitu agar manusia hanya menyembah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p dir="LTR">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<h2>{ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ }</h2>
<p dir="LTR">Artinya: “Dan telah kami utus pada setiap umat seorang Rasul untuk memerintahkan: Sembahlah Allah dan jauhilah thagut!” (QS An-Nahl : 36)</p>
<p dir="LTR">Dan juga firmannya:</p>
<h2>{ وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ }</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya : &#8221;Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.&#8221; (QS Az-Zumar : 65)</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Contoh yang harus diteladani kaum muslimin adalah Nabi kita sendiri, Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau tidak pernah meninggalkan dakwah tauhid padahal beliau adalah seorang yang bertauhid. Beliau tidak pernah melupakan dakwah tauhid meskipun beliau berada dalam kepungan kaum musyrikin Mekah.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Beliau juga tidak pernah  berhenti membicarakannya meskipun beliau berada di kota Madinah dan hidup di antara para sahabatnya yang senantiasa menolongnya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Oleh karena itu, meskipun umat ini telah mencapai derajat kesempurnaan dalam kesadaran mentauhidkan Rab-nya, kekurangan itu pasti akan muncul juga dalam diri  manusia.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Kekurangan yang paling keji adalah kekurangan dalam keikhlasan dan dalam penyepelean tauhid. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak pernah diam untuk memperingatkan akan bahaya syirik sampai tiba hari-hari menjelang wafatnya. Padahal pada saat itu umat muslimin telah sampai kepada derajat tertinggi dalam mentauhidkan Rab mereka dan juga dalam persatuan di antara  mereka.</p>
<h2>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ: لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا.</h2>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu &#8216;anha, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata ketika dia sakit yang mengakibatkan wafatnya, “Mudahan Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Subhanallah! Inilah Nabi kita shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau sangat takut jika umatnya terjatuh kepada kesyirikan setelah beliau wafat.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Dengan demikian, mudah-mudahan kita bisa sama-sama menyadari bahwa ilmu tauhid sangat penting untuk dipelajari. Oleh karena itu, untuk pembaca yang ingin mempelajari tauhid dari dasar, maka penulis menyarankan untuk membaca buku-buku berikut:</p>
<ol start="1">
<li>‘Al-Aqidah Al-Wasithiyah’ karya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah beserta kitab penjelasannya (syarh).</li>
<li>‘Kitab At-Tauhid’ dan kitab ‘Tiga Landasan Utama’ karya Syaikh Muhammad At-Tamimi beserta kitab penjelasannya.</li>
<li>‘Kitab Tauhid 1’, ‘Kitab Tauhid 2’ dan ‘Kitab Tauhid 3’ karya Syaikh Shalih Al-Fauzan dan kumpulan penulis.</li>
<li>Cara Mudah Memahami Aqidah karya Syaikh Abdullah bin ‘Abdil-‘aziz Al-Jibrin, Pustaka Tazkia.</li>
</ol>
<p dir="LTR">Dan jika bisa menghapalkan dalil-dalilnya maka itu lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="LTR">Demikian, mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba Allah yang bisa beribadah dengan ibadah teragung ini. Amin.</p>
<p dir="LTR"><em>Tamma bifadhlillahi wa karamihi.</em><em></em></p>
<p dir="LTR"><em> </em></p>
<p dir="LTR">(Diringkas dari berbagai sumber)</p>
<div>
<h3><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/ibadah-teragung-dalam-sejarah.pdf">Download Ebooknya</a></h3>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Al-Baghawi I/71.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Al-Fawaid hal. 155-156. Ibnul-Qayyim.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> HR Al-Bukhari di Adabul-Mufrad no. 716. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Adabil-Mufrad.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> HR Ahmad di Musnadnya no. 23630 dan yang lainnya. Isnadnya dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> HR Al-Bukhari no. 1330</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=308&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/ibadah-teragung-dalam-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BENARKAH CARA BERISLAM ANDA?</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/22/benarkah-cara-berislam-anda/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/22/benarkah-cara-berislam-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 12:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc. Tidak bisa dipungkiri Islam “lahir” lebih dari 14 abad yang lalu. Selang waktu yang sangat lama ini sangat memungkinkan untuk terjadi kesesatan di dalam “tubuh” Islam. Jangankan 14 abad, dalam waktu yang sangat singkat saja, suatu kaum bisa menjadi sesat, sebagaimana terjadi pada Bani Israil ketika ditinggalkan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=299&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh: </strong><strong>Ustadz </strong><strong>Abu Ahmad Said Yai</strong><strong>, Lc.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak bisa dipungkiri Islam “lahir” lebih dari 14 abad yang lalu. Selang waktu yang sangat lama ini sangat memungkinkan untuk terjadi kesesatan di dalam “tubuh” Islam. Jangankan 14 abad, dalam waktu yang sangat singkat saja, suatu kaum bisa menjadi sesat, sebagaimana terjadi pada Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em> selama 40 hari. Yang  tadinya mereka hanya menyembah kepada Allah, akhirnya mereka menyembah kepada berhala.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula dengan jarak yang sangat jauh dengan pusat penyebaran Islam di zaman dahulu, seperti: Madinah, Mekkah, Baghdad, Mesir dll. Untuk bisa mencapai negeri Indonesia, para penyebar Islam harus menempuh pelayaran dan perjalanan yang sangat lama. Ini juga mendukung terjadinya kesesatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan catatan sejarah, di awal-awal masuknya Islam ke Indonesia, Islam banyak disebarkan oleh para pedagang Islam yang berinteraksi dengan masyarakat pribumi. Mereka tidak terkenal sebagai ulama yang benar-benar menguasai ilmu Islam secara mendalam sebagaimana ulama-ulama yang berada di pusat penyebaran Islam di zaman dahulu. Seandainya benar mereka adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu yang sangat dalam, tentunya kita akan mendapatkan peninggalan-peninggalan ilmiah mereka, baik berupa: tulisan tangan, riwayat perkataan mereka atau kemasyhuran mereka di dunia Islam. Tetapi ternyata kita tidak menemukannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Islam di Indonesia dulunya diajarkan oleh orang-orang yang belum mencapai derajat ulama yang mendalam ilmunya. Jika demikian, maka Islam bisa ternoda dengan ketidakberilmuan mereka. Ini juga sangat mendukung terjadinya kesesatan di Indonesia.</p>
<p><span id="more-299"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana kita ketahui juga, agama yang banyak menyebar di Indonesia sebelum masuknya agama Islam adalah agama Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme dan Atheis. Disadari atau tidak, ini juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi percampuran agama Islam dengan agama-agama tersebut. Belum lagi dengan budaya yang beraneka ragam yang sekarang sangat tampak pengaruhnya terhadap pemeluk-pemeluk Islam di Indonesia. Ini juga bisa mendukung terjadinya kesesatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan membaca apa yang telah penulis paparkan di atas, maka Indonesia bisa menjadi “lahan” subur untuk menyebarnya berbagai kesesatan. Oleh karena itu, dalam berislam kita harus benar-benar memperhatikan apakah Islam yang kita jalani pada saat ini adalah Islam yang benar dan jauh dari kesesatan ataukah tidak. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengabarkan di dalam <em>hadits</em> Abu Hurairah:</p>
<h2 style="text-align:justify;">« افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً/كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً)).</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Umat Yahudi terpecah-belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Umat Kristen juga terpecah belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Sedangkan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>. Seluruhnya di neraka kecuali satu kelompok.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadits</em> di atas dengan jelas mengabarkan bahwa kaum muslimin akan berpecah-belah dan hanya ada satu kelompok yang selamat. Ini harus kita imani, karena Rasulullah-shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-lah yang mengatakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas juga mengabarkan bahwa ketujuh puluh kelompok tersebut masih digolongkan sebagai umat Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang beragama Islam, sehingga meskipun mereka terjatuh kepada kesesatan, mereka di akhirat nanti masih berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak untuk mengazab mereka maka Allah akan mengazab mereka, jika tidak maka Allah tidak akan mengazab mereka. Akan tetapi, kesemuanya pada akhirnya akan masuk surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis perlu mengingatkan bahwa ada kelompok-kelompok di dalam Islam yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, tetapi kelompok-kelompok tersebut sebenarnya bukanlah termasuk umat Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, seperti: Ahmadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), beberapa tarikat <em>Shufiyah</em> dan <em>Syi’ah/Rafidhah</em> yang melampaui batas dll. Kelompok-kelompok tersebut tidak termasuk ketujuh puluh kelompok yang disebutkan di dalam hadits di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapakah satu kelompok yang disebutkan di dalam hadits tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita tidak boleh mengaku-ngaku berada dalam kebenaran kecuali memang ada dalilnya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan seharusnya kita selalu merasa was-was atau ragu apakah Islam yang kita jalani pada saat ini sudah benar ataukah belum. Dengan demikian kita akan bersemangat untuk mencari kebenaran tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mensifati mereka pada kelanjutan <em>hadits</em> di atas:</p>
<h2 style="text-align:justify;">(( فَقِيلَ لَهُ : مَا الْوَاحِدَةُ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي))</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun ditanya, “Siapakah satu kelompok itu, Ya Rasulullah?” Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun menjawab, “Apa yang sesuai dengan yang saya dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, Islam yang paling benar adalah Islam yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tanpa ada penambahan dan pengurangan di dalamnya dan juga Islam yang dijelaskan oleh para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena mereka langsung menerima ilmu dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok yang paling benar, karena kelompoknya berlandaskan Al-Qur’an dan <em>As-Sunnah</em>. Akan tetapi, mengapa masih terjadi perpecahan di antara mereka sehinga yang satu kelompok mengkafirkan yang lain dan yang lainnya mengatakan sesat kelompok yang lain?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini semua terjadi karena mereka memahami Al-Qur’an dan <em>As-Sunnah</em> hanya dengan akal-akal mereka atau mencukupkan diri dengan bahasa Arab yang mereka kuasai. Sehingga mereka tidak tahu apakah mereka telah terjatuh kepada kesesatan ataukah tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara pembaca yang mudah-mudahan Allah merahmati kita semua, Jika Al-Qur’an dan <em>As-Sunnah</em> ditafsirkan atau dijelaskan dengan akal-akal manusia, maka akan terjadilah keberagaman pemahaman, karena setiap orang sangat berbeda tingkat pemahamannya dengan yang lain. Jika terus berlangsung demikian, maka Islam di setiap zaman akan berbeda-beda dan akan menjadi agama baru yang berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, kita harus mengikuti pemahaman siapa? Jawabannya adalah kita harus mengikuti pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah mereka masih ada pada zaman sekarang ini? Ya, orang-orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik masih ada pada zaman sekarang ini sampai hari kiamat nanti. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2 style="text-align:justify;">(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ )).</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya : ”Senantiasa ada sekelompok orang di kalangan umatku yang selalu tampak dengan kebenarannya. Orang yang tidak mengacuhkan mereka tidak dapat memberikan mudarat kepada mereka sampai datang perkara Allah dan mereka tetap dengan kebenarannya.”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa kita harus mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik? Setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus mengikuti pemahaman mereka, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> telah me-<em>ridha</em>-i mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:</li>
</ol>
<h2 style="text-align:justify;">{رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ}</h2>
<p style="text-align:justify;">     Artinya: “Allah telah <em>ridha</em> kepada mereka dan mereka pun telah <em>ridha</em> kepada Allah.” (QS Al-Bayyinah : 8)</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mereka adalah umat terbaik di hadapan Allah</li>
</ol>
<h2 style="text-align:justify;">(( خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ))</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang hidup setelah zamanku, kemudian yang hidup setelahnya.” <a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya</li>
</ol>
<h2 style="text-align:justify;">وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115)</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisa’ : 115)</p>
<p style="text-align:justify;">“Jalan orang-orang mukmin”, siapakah mereka? Tidak lain, mereka adalah sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Allah di dalam Al-Qur’an telah memuji mereka dan menyediakan untuk mereka surga</li>
</ol>
<h2 style="text-align:justify;">{ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100) }</h2>
<p style="text-align:justify;">Artinya: &#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah me-<em>ridha</em>-i mereka dan mereka pun telah <em>ridha</em> kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.&#8221; (QS At-Taubah : 100)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada ayat di atas Allah menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah telah me-<em>ridha-</em>i mereka dan menyediakan surga untuk mereka kelak. Oleh karena itu, kita harus bisa mengikuti jejak mereka agar bisa menjadi seperti orang-orang yang disebutkan setelah kaum Muhajirin dan Anshar dan mendapatkan keutamaan berupa ke-<em>ridha-</em>an Allah dan surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana agar kita bisa benar-benar yakin bahwa Islam yang kita jalani adalah Islam yang sesuai dengan pemahaman mereka? Agar kita bisa yakin, maka kita harus benar-benar mempelajari Islam ini dan menghidupkan keilmiahan dalam beragama. Kita tidak menerima, mengamalkan dan berkeyakinan kecuali benar-benar memiliki dalil dari Al-Qur’an dan <em>Hadits</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <em>Hadits-hadits</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menyebar di dunia Islam pun harus diseleksi lagi, karena hadits tersebut bermacam-macam; Ada hadits <em>shahih</em> dan hasan (kedua hadits inilah yang bisa menjadi <em>hujjah</em>/dalil); dan ada juga hadits <em>dha’if</em>/lemah dan <em>maudhu’</em>/palsu (kedua <em>hadits</em> ini tidak bisa dijadikan <em>hujjah</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup dengan itu, kita harus meneliti lagi apakah pemahaman kita akan tafsir Al-Qur’an dan <em>hadits</em> tersebut sudah sesuai dengan pemahaman orang-orang Islam yang terdahulu (kaum salaf dari kalangan sahabat, <em>tabi’in</em>, <em>tabi’ut-tabi’in</em> dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik) dengan membaca nukilan-nukilan perkataan mereka di kitab-kitab para ulama yang terpercaya keilmuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam urusan dunia saja kita harus ilmiah dalam menerima segala sesuatu, contohnya:</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bidang kedokteran, para dokter tidak bisa menerima suatu cara pengobatan kecuali dengan adanya penelitian dan bukti ilmiah. Begitu pula dalam bidang teknologi, para ilmuan tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu penemuan tersebut adalah ilmu pengetahuan kecuali bisa dibuktikan dan dijelaskan dengan teori-teori ilmiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi dalam beragama, maka kita juga harus menghidupkan keilmiahan dalam beragama, sehingga kita nantinya tidak salah dalam memahami agama ini dan tidak tersesat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita juga seharusnya jangan terlalu fanatik dengan <em>madzhab fiqh</em> tertentu, seperti: <em>madzhab</em> Syafi’i, <em>madzhab</em> Hanbali (Ahmad), <em>madzhab</em> Hanafi dan <em>madzhab</em> Maliki. Imam-imam <em>madzhab</em> tersebut tidaklah <em>ma’shum</em> (terjaga dari dosa), sehingga memungkinkan bagi mereka terjatuh kepada kesalahan-kesalahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidaklah ada pada suatu <em>madzhab</em> fiqh tersebut kecuali di dalamnya ada kebenaran dan kesalahan. Apa-apa yang benar dan sesuai dengan dalil, maka kita ikuti. Dan apa-apa yang salah atau menyelisihi dalil maka kita harus tolak. Kebenaran yang <em>muthlaq</em> tidak ada terdapat pada suatu <em>madzhab</em> tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, Sudah benarkah cara berislam Anda? Jika belum benar, maka marilah kita sama-sama memperbaikinya, berlapang dada menerima kebenaran dan tidak sombong.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Akhirul-kalam</em>, penulis mengharapkan kepada pembaca untuk bisa menyebarkan kebaikan yang terdapat pada tulisan ini dengan menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar pembaca, keluarga dan kaum muslimin. Mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">Prabumulih, 20 <em>Syawwal</em> 1431 H/29 September 2010</p>
<div style="text-align:justify;">
<h3><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/07/benarkah-cara-berislam-anda.pdf" target="_blank">Download Disini</a></h3>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Sampai di sini HR Abu Dawud no. 4596, At-Tirmidzi no. 2640 dan Ibnu Majah no. 3991 (Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> HR Al-Marwazi di <em>As-Sunnah</em> no. 59 dan Al-Hakim di <em>Al-Mustadrak</em> no. 444. <em>Hadits</em> ini memiliki syahid dari Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di <em>Al-Mu’jam Al-Aushath</em> no. 4886.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> HR Muslim no. 5059</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> HR Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 6635</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/299/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=299&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/22/benarkah-cara-berislam-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbandingan Kenikmatan Surga dan Kenikmatan Dunia</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/02/06/perbandingan-kenikmatan-surga-dan-kenikmatan-dunia/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/02/06/perbandingan-kenikmatan-surga-dan-kenikmatan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 15:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Said Yai, Lc. &#160; Surga memiliki banyak kenikmatan. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia. Berikut ini adalah perbedaan kenikmatan dunia dengan kenikmatan di surga beserta dalil-dalilnya: 1. Apa yang ada di dunia hanya sedikit, sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di surga. Allah subhanahu wa ta’ala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=293&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Surga memiliki banyak kenikmatan. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia. Berikut ini adalah perbedaan kenikmatan dunia dengan kenikmatan di surga beserta dalil-dalilnya:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Apa yang ada di dunia hanya sedikit, sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di surga.</strong></p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2>{ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى }</h2>
<p>(1)                Artinya: &#8220;Katakanlah: &#8216;Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.’!&#8221; (QS An-Nisa&#8217; : 77)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>mengabarkan bahwa kesenangan dunia ini hanya sedikit saja. Buat apa kita mengejar yang sedikit ini dan melalaikan yang lebih baik nanti.</p>
<p>Disebutkan pula di dalam <em>hadits</em> berikut:</p>
<h2>عن مُسْتَوْرِد يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ &#8211; وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ &#8211; فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ )).</h2>
<p>(2)                Diriwayatkan dari Mustaurid <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Demi Allah! Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, hendaknya dia melihat, seperti apa jari itu kembali.&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a> (Berapa banyak air yang berada di jarinya bila dibanding dengan air laut-pen)<br />
<span id="more-293"></span></p>
<p>Tidak terbayangkan bukan perbandingan tetesan air yang sedikit di satu jari kita dengan lautan yang sangat luas. Begitulah kenikmatan surga kita tidak bisa membandingkannya dengan kenikmatan dunia</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Kenikmatan di surga tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengabarkan di dalam <em>hadits</em><em>-</em>nya:</p>
<h2>عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : (( مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا )).</h2>
<p>(3)                Diriwayatkan dari Sahl bin Sa&#8217;d As-Sa&#8217;idi bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Satu tempat di surga yang sebesar cambuk lebih baik dari dunia dan seisinya.&#8221;<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Tidak bisa dibayangkan bukan berapa besar dan nikmatnya surga.</p>
<p>Di dalam <em>hadits</em> yang lain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengabarkan:</p>
<h2>عن أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا &#8230;وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</h2>
<p>(4)                Diriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>(beliau bersabda), &#8220;Pergi berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. Seandainya ada seorang wanita penghuni surga mengintip penduduk bumi, niscaya akan menerangi antara keduanya dan akan terpenuhi dengan anginnya (yang harum). Kerudung yang ada di kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya.&#8221;<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Adakah wanita dunia yang seperti itu? <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, sungguh lalai orang yang tidak mengharapkannya.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Surga tidak memiliki hal-hal yang jelek sebagaimana di dunia</strong></p>
<p>Surga tidak memiliki hal-hal yang jelek. Ketika penduduk bumi makan atau minum, maka pasti akan mengeluarkan kotoran, air seni dan bau yang tidak sedap. Wanita di dunia mengalami haid dan juga melahirkan. Haid tersebut adalah kotoran yang dibuang oleh wanita, sedangkan di surga tidak akan didapatkan hal-hal seperti itu.</p>
<h2>{ قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ }</h2>
<p>(5)                Artinya: &#8220;Mereka mengatakan, &#8216;Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.&#8217; Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada <span style="text-decoration:underline;">istri-istri yang suci</span> dan mereka kekal di dalamnya&#8221; (QS Al-Baqarah : 25)</p>
<p>Penduduk-penduduk surga tidak membuang kotoran-kotoran, mereka selalu bersih dan tidak pernah berbau tidak sedap. Begitu pula dengan khamr di surga, dia tidak memabukkan dan enak rasanya.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2>{ بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ (46) لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ (47) }</h2>
<p>(6)                Artinya: &#8220;(46)  (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. (47) Tidak ada dalam khamar itu sesuatu yang membuat pusing dan mereka tiada mabuk karenanya.&#8221; (QS Ash-Shaffat : 46-47)</p>
<p>Surga memiliki sungai-sungai yang airnya tidak berubah rasanya, sungai-sungai yang mengalirkan air susu yang tidak akan basi, sungai-sungai yang mengalirkan khamr yang sangat lezat dan sungai-sungai yang mengalirkan madu murni. Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2>{مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ}</h2>
<p>(7)                Artinya: &#8220;(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rab mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?&#8221; (QS Muhammad : 15)</p>
<p>Penduduk surga memiliki hati yang suci dan bersih. Mereka tidak berbicara kecuali yang baik-baik saja. Mereka tidak mengerjakan perbuatan jelek sedikitpun.</p>
<h2>{ لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ }</h2>
<p>(8)                Artinya:  &#8220;Tidak ada kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa.&#8221; (QS Ath-Thur: 23)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>juga berfirman:</p>
<h2>{ لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا (25) إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا (26) }</h2>
<p>(9)                Artinya: &#8220;(25) Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. (26)  Akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.&#8221; (QS Al-Waqi&#8217;ah : 25-26)</p>
<p>Begitulah penduduk surga, jika mereka akan memasuki surga, maka mereka ditahan dulu sebelum memasukinya di sebuah jembatan antara surga dan neraka. Mereka akan dibersihkan dari segala bentuk dosa dan rasa dendam, sehingga tidaklah mereka masuk ke dalam surga kecuali hati mereka benar-benar bersih.  Mereka tidak akan menemukan lagi apa yang dinamakan kebencian, kedengkian, kemarahan dan sebagainya sebagaimana mereka dapatkan di dunia. Hati mereka hati yang satu yang selalu bertasbih kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala.</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sebagaimana <em>hadits</em> berikut:</p>
<h2>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((&#8230;لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ ، وَلاَ تَبَاغُضَ قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا.))</h2>
<p>(10)            Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka. Hati-hati mereka tidak saling membenci. Hati-hati mereka adalah hati yang satu. Mereka bertasbih kepada Allah di setiap pagi dan petang.” <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2>{ وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ }</h2>
<p>(11)            Artinya: &#8220;Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.&#8221; (QS Al-Hijr : 47)</p>
<p>Mari kita bandingkan antara surga dan dunia, surga tidak memiliki hal-hal yang jelek, sementara di dunia kita harus menghadapi berbagai hal yang jelek. Mudah-mudahan kita diberi kesabaran oleh Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>untuk menghadapi semua ujian di dunia ini. Amin.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Kenikmatan dunia akan sirna sedangkan kenikmatan  surga akan terus kekal dan abadi</strong></p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>telah mentakdirkan surga untuk menjadi sesuatu yang akan kekal abadi. Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2>{ مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ }</h2>
<p>(12)            Artinya: &#8220;Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.&#8221; (QS An-Nahl : 96)</p>
<p>Adapun perkataan sebagian orang yang menyatakan bahwa akhirat, surga dan neraka tidak kekal, maka itu adalah perkataan yang batil. Ayat yang penulis sebutkan menjadi dalil yang sangat jelas akan kebatilan mereka. Walaupun banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur&#8217;an dan <em>As-Sunnah</em> yang menunjukkan hal yang serupa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>aPAKAH SURGA BERTINGKAT-TINGKAT?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Surga bertingkat-tingkat. Penduduk surga akan menempati tingkatan-tingkatan yang sesuai dengan mereka. Sebagaimana mereka berbeda-beda ketika di dunia dalam beramal, maka di surga pun mereka berbeda-beda tingkatannya. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:</p>
<h2>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-:  (( مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ, جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا)),</h2>
<h2>فَقَالُوا: ( يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ؟ ) قَالَ: (( إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ, أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ, مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ, فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ ))</h2>
<p>(13)            Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mendirikan <em>shalat</em> dan berpuasa di bulan <em>Ramadhan</em>, maka Allah mewajibkan dirinya untuk memasukkan dia ke dalam surga, baik dia berjihad di jalan Allah atau hanya berdiam diri di tempat di mana dia dilahirkan.&#8221; Mereka (para sahabat) berkata, &#8220;Ya Rasulullah! Apakah kami boleh memberitahukan kabar gembira ini kepada manusia?&#8221; Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan. Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkat adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus. Sesungguhnya dia berada di tengah-tengah surga dan (letaknya) paling tinggi di surga. Saya diperlihatkan bahwa <em>&#8216;arsy</em>-nya Allah berada di atasnya. Dari <em>&#8216;arsy</em> itu terpancar sungai-sungai surga.&#8221;<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><em>Hadits</em> di atas adalah dalil yang jelas bahwa surga itu bertingkat-tingkat dan kita dianjurkan untuk meminta surga yang paling tinggi, surga firdaus, kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala.</em></p>
<p>Dalil yang lainnya:</p>
<h2>عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُمَّ حَارِثَةَ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَقَدْ هَلَكَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ غَرْبُ سَهْمٍ فَقَالَتْ: ( يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْتَ مَوْقِعَ حَارِثَةَ مِنْ قَلْبِي فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ لَمْ أَبْكِ عَلَيْهِ وَإِلَّا سَوْفَ تَرَى مَا أَصْنَعُ, فَقَالَ لَهَا: (( هَبِلْتِ أَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ وَإِنَّهُ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى</h2>
<p>(14)            Artinya: Diriwayatkan dari Anas <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Ummu Haritsah mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>–Pada saat itu suaminya telah wafat di peperangan Badar karena terkena tusukan panah– Dia berkata, &#8220;Ya Rasulullah! Engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di dalam hatiku. Jika dia berada di surga, maka tidak akan menangis. Akan tetapi, jika tidak demikian, maka engkau akan melihat apa yang akan saya perbuat.&#8221; Beliau pun berkata kepadanya, &#8220;Engkau sedih? Apakah surga itu hanya satu saja? Sesungguhnya surga sangat banyak. Dan dia berada di surga Firdaus yang paling tinggi.&#8221;<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalil yang lain:</p>
<h2>عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: (( إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ ))</h2>
<p>(15)            Artinya: Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Sesungguhnya penduduk surga akan melihat penghuni-penghuni ruangan (yang mulia) di atas mereka, sebagaimana mereka melihat bintang kejora yang terang di ufuk timur atau barat, dikarenakan perbedaan keutamaan di antara mereka.&#8221;<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Mudah-mudahan kita bisa menempati ruangan-ruangan mulia yang tinggi itu. Amin.</p>
<p>(Dikutip dari buku ‘Bersama Sang Kekasih di Surga’. Penerbit Darussunnah. Karya penulis)</p>
<h3><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/02/perbandingan-kenikmatan-surga-dan-kenikmatan-dunia.pdf" target="_blank">Download Ebook</a></h3>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Muslim no. 7376.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR Al-Bukhari no. 3250</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR Al-Bukhari no. 2796</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR Al-Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 7330</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR Al-Bukhari no. 2790</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR Al-Bukhari no. 6567</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR Al-Bukhari no. 3256 dan Muslim no. 7322</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=293&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/02/06/perbandingan-kenikmatan-surga-dan-kenikmatan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekhususan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Oleh Umatnya</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/01/18/kekhususan-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-yang-tidak-dimiliki-oleh-umatnya/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/01/18/kekhususan-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-yang-tidak-dimiliki-oleh-umatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 23:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Said Yai, Lc. Berikut ini adalah beberapa kekhususan-kekhususan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh umatnya yang sebagian Nabi pun bisa memilikinya: -       Kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kewajiban umatnya untuk mencintainya melebihi segala sesuatu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: { قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=289&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah beberapa kekhususan-kekhususan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh umatnya yang sebagian Nabi pun bisa memilikinya:</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan kewajiban umatnya untuk mencintainya melebihi segala sesuatu</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h3 style="text-align:right;">{ قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ }</h3>
<p style="text-align:justify;">(1)           Artinya: &#8220;Katakanlah: &#8216;Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.&#8217; Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.&#8221; (QS At-Taubah: 24)</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan penulis &#8220;mencintainya melebihi segala sesuatu&#8221; tentu harus diartikan mencintainya melebihi segala sesuatu setelah kecintaan kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah yang utama dan yang paling utama.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan <em>qarin</em> (jin pendamping) yang beragama Islam</p>
<p><span id="more-289"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>telah menciptakan setiap manusia dengan <em>qarin</em>-nya (jin pendampingnya) ketika dia lahir. Setiap <em>qarin</em> memiliki jiwa yang jelek. Dia suka mengganggu manusia dan mengajaknya ke perbuatan maksiat dan kekafiran. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>juga memiliki <em>qarin</em>, tetapi <em>qarin</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>beragama Islam dan selalu menasihati beliau kepada kebaikan.</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : (( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ )). قَالُوا: ( وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ) قَالَ : (( وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ )).</h3>
<p style="text-align:justify;">(2)           Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas&#8217;ud bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali memiliki <em>qarin</em> (pendamping) dari golongan jin.&#8221; Mereka (para sahabat) berkata, &#8220;Engkau juga demikian, ya Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ya saya juga demikian. Hanya saja, Allah telah menolongku, sehingga dia masuk Islam. Tidaklah dia menyuruhku kecuali yang baik-baik saja.&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan kebenaran mimpi seseorang jika bertemu dengan Nabi di dalam mimpi</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : (( مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِى فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِى )).</h3>
<p style="text-align:justify;">(3)           Artinya: Diriwayatkan dari Abu hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Barang siapa yang melihatku di mimpi, maka sesungguhnya ia telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak mampu meniruku.&#8221;<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu menjadi catatan bahwa setan tidak bisa meniru bentuk tubuh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Akan tetapi, dia bisa berubah menjadi yang bentuk lainnya dan mengaku sebagai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Oleh karena itu, penting sekali mengetahui ciri-ciri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>sehingga nanti kita tidak tertipu.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan ancaman yang sangat besar bagi siapa saja yang berbohong atas namanya</p>
<h3 style="text-align:right;">عن الْمُغِيرَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: (( إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ )).</h3>
<p style="text-align:justify;">(4)           Artinya: Diriwayatkan dari Al-Mughirah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya dia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Sesungguhnya berbohong atas namaku tidak seperti berbohong atas nama selainku. Barang siapa berbohong atas namaku dengan sengaja, maka dia telah menyediakan tempat duduknya di neraka.&#8221;<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadits</em> di atas dihukumi sebagai <em>hadits</em> yang mutawatir oleh para ulama. Para ulama telah sepakat, barang siapa yang berdusta atas nama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan sengaja dan meyakini akan kebolehannya/kehalalannya, maka dia kafir. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang orang yang berdusta atas nama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan sengaja tetapi dia tetap meyakini keharamannya. Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa dia tidak kafir akan tetapi dosa yang didapatkannya lebih besar daripada berdusta atas nama selain beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>sebagaimana disebutkan pada <em>hadits</em> di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan ketidakbolehan meninggikan suara melebihi suara beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em></p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h3 style="text-align:right;">{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ * إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ * إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ }</h3>
<p style="text-align:justify;">(5)           Artinya: &#8220;(2)  Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi. Dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (3)  Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (4)  Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.&#8221; (QS Al-Hujurat : 2-4)</p>
<p style="text-align:justify;">Meninggikan suara di hadapan orang yang terhormat bukanlah adab yang baik. Jika dengan manusia biasa saja hal itu bukan suatu yang baik, bagaimana dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam? Tentunya itu tidak sopan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada pertanyaan yang menarik untuk penulis sampaikan pada pembahasan ini, apakah larangan masih berlaku untuk umat Nabi Muhammad pada zaman ini? Bukankah Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sudah meninggal dunia? Pertanyaan ini insya Allah akan dijawab pada pembahasan &#8216;Cinta Sejati kepada Sang Kekasih&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan hatinya yang tidak pernah tidur meskipun matanya tertidur</p>
<p style="text-align:justify;">Para Nabi <em>&#8216;alihimush-shalatu was-salam</em> memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mereka diberi kekhususan dengan hati yang selalu berdzikir kepada Allah meskipun mereka sedang tidur.</p>
<h3 style="text-align:right;">عن أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ لما ذكر قصة الإسراء: (&#8230;وَالنَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَائِمَةٌ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ).</h3>
<p style="text-align:justify;">(6)           Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em> ketika beliau menceritakan kisah <em>isra&#8217;</em>, beliau berkata, &#8220;Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kedua matanya tertidur, tetapi hatinya tidak tidur.&#8221;<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Para pengikut tarekat sufiyah meyakini bahwa para sufi memiliki kemampuan seperti itu. <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, itu adalah bentuk kebohongan dan <em>ghuluw</em> (berlebih-lebihan) mereka. Adapun kita, kita meyakini apa yang telah dikabarkan oleh Anas <em>radhiallahu ‘anhu</em> pada <em>hadits</em> di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan kemampuan melihat apa-apa yang ada di belakangnya sebagaimana melihat yang di depannya</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: (( أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فَوَاللَّهِ إِنِّى لأَرَاكُمْ مِنْ بَعْدِ ظَهْرِى إِذَا مَا رَكَعْتُمْ وَإِذَا مَا سَجَدْتُمْ )).</h3>
<p style="text-align:justify;">(7)           Artinya: Diriwayatkan dari Anas <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Sempurnakanlah <em>ruku</em><em>’</em> dan sujud kalian. Demi Allah! Sesungguhnya saya melihat kalian di belakangku ketika kalian <em>ruku</em><em>’</em> dan sujud.&#8221;<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang disampaikan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada umatnya dan kita harus mengimaninya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan kemampuan mendengar dan melihat apa-apa yang tidak bisa didengar dan dilihat oleh manusia</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bisa melihat malaikat, jin dan hal-hal ghaib lain yang ditampakkan oleh Allah kepada beliau dan bisa mendengar apa yang tidak didengar oleh manusia, seperti: tangisan orang yang diadzab di kubur, suara malaikat dll.</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (( إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ )).</h3>
<p style="text-align:justify;">(8)           Artinya: Diriwayatkan dari Abu Dzar <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Sesungguhnya saya melihat apa yang kalian tidak lihat dan saya mendengar apa yang tidak kalian dengar.&#8221;<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan larangan kepada kaum muslimin untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat</p>
<p style="text-align:justify;">Istri beliau adalah ibu kaum muslimin (<em>ummul-mu</em><em>&#8216;minin</em>). Istri-istri beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> hanya dikhususkan untuk Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, sehingga tidak boleh bagi seseorang setelah Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> wafat untuk menikahi mereka. Larangan tersebut telah disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an. Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>telah berfirman:</p>
<h3 style="text-align:right;">{ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ }</h3>
<p style="text-align:justify;">(9)           Artinya: &#8220;Dan tidak boleh kalian menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu amat besar (dosanya) di sisi Allah. (QS Al-Ahzab: 53)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan tempat wafatnya sebagai kuburannya</p>
<p style="text-align:justify;">Para Nabi <em>‘alaihimush-shalatu wassalam</em> dikhususkan oleh Allah untuk dikuburkan di tempat di mana mereka meninggal. Karena mereka tidaklah meninggal kecuali di tempat di mana Allah telah me<em>ridha</em>inya untuk dikuburkan di tempat itu.</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: ( لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- اخْتَلَفُوا فِي دَفْنِهِ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: ( سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- شَيْئًا مَا نَسِيتُهُ قَالَ: (( مَا قَبَضَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُدْفَنَ فِيهِ)), ادْفِنُوهُ فِي مَوْضِعِ فِرَاشِهِ.</h3>
<p style="text-align:justify;">(10)       Diriwayatkan dari ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya dia berkata, &#8220;Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>wafat, (para sahabat) berselisih pendapat dimana beliau akan dikuburkan. Abu Bakr berkata, &#8216;Saya pernah mendengar perkataan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang saya tidak lupa. Beliau bersabda, &#8216;Tidaklah Allah mewafatkan seorang nabi kecuali di tempat yang dia sukai untuk di kubur di sana.&#8217; Kuburkanlah beliau di tempat kasurnya berada!&#8217;.&#8221;<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dikuburkan di samping Masjid Nabawi tepatnya di dalam rumah ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan jasadnya yang tidak dimakan oleh hewan-hewan tanah</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: (( إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ -عَلَيْهِ السَّلَام-, وَفِيهِ قُبِضَ, وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ, فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ)), قَالُوا: (يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ؟) قَالَ: (( إِنَّ اللَّهَ -عَزَّ وَجَلَّ- قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ -عَلَيْهِمْ السَّلَام-.))</h3>
<p style="text-align:justify;">(11)       Artinya: Diriwayatkan dari Aus bin Aus <em>radhiallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bahwasanya beliau bersabda, &#8220;Sesungguhnya hari Jumat termasuk hari-hari yang aling afdal untuk kalian. Pada hari Jumat diciptakan dan diwafatkan Nabi Adam <em>&#8216;alaihissalam</em>. Pada hari itu akan ditiup sangkakala dan akan dimatikan seluruh makhluk. Perbanyaklah bersalawat kepadaku! Sesungguhnya salawat kalian akan disampaikan kepadaku.&#8221; Mereka (para sahabat) berkata, &#8220;Ya Rasulullah! Bagaimana mungkin salawat kami disampaikan kepadamu sedangkan engkau telah lenyap atau hancur?&#8221; Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad-jasad para nabi <em>&#8216;alaihimussalam</em>.&#8221;<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah kekhususan-kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang dapat penulis sebutkan pada buku ini. Meskipun, kekhususan beliau masih ada lagi yang lain. Akan tetapi, setidaknya apa yang sudah disebutkan dapat mewakili itu semua.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">(Dikutip dari buku ‘Bersama Sang Kekasih di Surga’. Penerbit Darussunnah. Karya penulis).</p>
<div style="text-align:justify;">
<p><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/01/kekhususan-rasulullah-dari-umatnya.pdf">Download Ebook</a></p>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Muslim no. 7286</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR Al-Al-Bukhari no. 7993 dan Muslim no. 6056  dan ini adalah lafaz Muslim</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR Al-Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 5 (di <em>Muqaddimah</em>-nya)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR Al-Bukhari no. 3580.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR Al-Bukhari no. 6644 dan Muslim no. 988</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR At-Tirmidzi no. 2312 dan Ibnu Majah no. 4190 dan di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Ash-Shahihah</em> no. 1722</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR At-Tirmidzi no. 1018 dan di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Shahih </em><em>Sunan At-Tirmidzi</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HR An-Nasai  no. 1374 dan Ibnu Majah no. 1636 di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albani di <em>Ash-Shahihah</em> no. 1527</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=289&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/01/18/kekhususan-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-yang-tidak-dimiliki-oleh-umatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Nabi Yang Lain</title>
		<link>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/01/10/beberapa-kekhususan-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-yang-tidak-dimiliki-nabi-yang-lain/</link>
		<comments>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/01/10/beberapa-kekhususan-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-yang-tidak-dimiliki-nabi-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 16:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saidyai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajiansaid.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Said Yai, Lc. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain, bahkan sebagian kekhususan tersebut tidak dimiliki oleh para nabi ‘alaihimush-shalatu was-salam. Mengapa kita harus mengetahui kekhususan-kekhususan ini? Karena untuk dapat mencintai Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sempurna kita harus mengetahui hal ini, sehingga kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=282&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Ustadz Said Yai, Lc.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memiliki banyak kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain, bahkan sebagian kekhususan tersebut tidak dimiliki oleh para nabi ‘<em>alaihimush-shalatu was-salam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa kita harus mengetahui kekhususan-kekhususan ini? Karena untuk dapat mencintai Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sempurna kita harus mengetahui hal ini, sehingga kita bisa membedakan dan membandingkan kekhususan beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh Nabi yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dari semua nabi adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan yang Allah berikan kepadanya dengan menjadikan tanda kenabian yang paling besar untuknya dan terdapat di dalam kitab-Nya (Al-Qur&#8217;an)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Qur&#8217;an adalah perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> yang berpahala jika membacanya dimulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas. Perlu penulis tekankan bahwa Al-Qur&#8217;an bukanlah makhluk, sebagaimana diyakini oleh orang-orang yang menyimpang dari akidah Ahlus-sunnah wal-jama&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa Al-Qur&#8217;an bisa menjadi <em>mu</em><em>’</em><em>jizat</em> yang paling besar dan paling agung dari seluruh <em>mu</em><em>’</em><em>jizat-mu</em><em>’</em><em>jizat</em> yang lain yang diberikan kepada para Nabi?</p>
<p><span id="more-282"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya ada tiga sebab yang dapat penulis sebutkan di dalam makalah ini, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    <em>Mu</em><em>’</em><em>jizat-mu</em><em>’</em><em>jizat</em> para nabi sesuai dengan keadaan masing-masing nabi dan diberikan sesuai dengan kebutuhan nabi-nabi tersebut pada zamannya. Sebagai contohnya adalah tongkat Nabi Musa <em>&#8216;alaihissalam</em>. Tongkat beliau bisa berubah menjadi ular untuk menaklukkan para penyihir. Kita semua mengetahui bahwa pada saat itu, para penyihir dianggap orang yang paling hebat dan sangat dikagumi. Begitu pula dengan <em>mu’jizat</em> yang diberikan Allah keadaan Nabi &#8216;Isa <em>‘a</em><em>laihissalam</em>, beliau bisa  menghidupkan orang mati. <em>Mu’jizat</em> ini diberikan untuk mengalahkan para tabib yang banyak menyebar pada saat itu. Pada saat itu ilmu ketabiban menjadi sangat masyhur dan dianggap sangat hebat sehingga orang-orang tergantung padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda halnya dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>beliau diberikan <em>mu’jizat</em> Al-Qur&#8217;an yang berisi kalamullah (perkataan Allah). Al-Qur&#8217;an mengalahkan semua orang-orang yang fasih dan pintar, para penyair dan ahli-ahli hikmah. Mereka tidak akan bisa menandingi Al-Qur&#8217;an sampai akhir zaman. Karena dari diutusnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sampai sekarang ini, orang-orang lebih tertarik dengan kecerdasan berpikir, berpendapat dan berhujah bila dibanding dengan kekuatan atau kesehatan fisik saja. Selain itu, Al-Qur&#8217;an bisa juga menandingi para penyihir dan para tabib sampai akhir zaman. Caranya adalah dengan membaca atau meruqyah dengan Al-Qur&#8217;an. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah <em>mu’jizat</em> yang paling agung.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Al-Qur&#8217;an tidak bisa dipahami kecuali oleh orang yang berilmu dan memahami bahasa Arab dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang membedakan Al-Qur&#8217;an dari semua <em>mu’jizat</em>. <em>Mu’jizat</em>-<em>mu’jizat</em> selain Al-Qur&#8217;an dapat dipahami hanya dengan melihat, mendengar atau dirasakan oleh pancaindra.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Al-Qur&#8217;an berlaku untuk semua manusia dan jin hingga akhir zaman. Berbeda dengan kitab-kitab yang lain yang diturunkan oleh Allah, kitab-kitab tersebut belum sempurna dan hanya dikhususkan untuk kaum tertentu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa sebab yang menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai <em>mu’jizat</em> yang paling agung dan paling besar. Barang siapa yang telah mendalami Al-Qur&#8217;an, memahami tafsirnya dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur&#8217;an, maka dia akan semakin merasakan besarnya keajaiban <em>mu’jizat</em> yang diturunkan oleh Allah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan Al-Qur&#8217;an yang memuat kandungan kitab-kitab sebelumnya ditambah dengan surat-surat mufashshal<a href="#_ftn1"><sup><sup>[1]</sup></sup></a></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Qur&#8217;an adalah kitab suci yang sempurna yang melengkapi kitab-kitab sebelumnya. Berbeda dengan kitab-kitab suci yang lainnya. Al-Qur&#8217;an tidak akan &#8220;habis dimakan oleh waktu&#8221;. Kekhususan seperti ini tidak dimiliki oleh nabi yang lainnya.</p>
<h2 style="text-align:right;">عن وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: ((أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ.))</h2>
<p style="text-align:justify;">(1)           Artinya: Diriwayatkan dari Watsilah bin Al-Asqa&#8217; bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata, &#8220;Saya diberikan yang menyerupai Taurat dengan tujuh (surat)<a href="#_ftn2">[2]</a>, dan diberikan yang menyerupai Zabur dengan <em>Al-Mi&#8217;in</em><a href="#_ftn3">[3]</a> dan diberikan yang menyerupai Injil dengan <em>Al-Matsani</em><a href="#_ftn4">[4]</a>. Dan saya diberi kelebihan dengan <em>Al-Mufashshal</em>.&#8221;<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan Al-Qur&#8217;an yang di dalamnya ada <em>Nasikh</em> dan <em>Mansukh</em><a href="#_ftn6">[6]</a><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>telah menurunkan Al-Qur&#8217;an secara berangsur-angsur. Hukum-hukum pun diturunkan secara berangsur-angsur hingga akhirnya hukum Islam menjadi sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ }</h2>
<p style="text-align:justify;">(2)           Artinya: &#8220;Ayat mana saja yang kami <em>nasakh</em>-kan (hapuskan), atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, maka kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?&#8221; (QS Al-Baqarah : 106)</p>
<p style="text-align:justify;">Kekhususan ini tidak dimiliki oleh nabi yang lainnya. Akan tetapi, yang perlu menjadi catatan, <em>Nasikh</em> dan <em>Mansukh</em> di dalam Al-Qur&#8217;an hanya untuk ayat-ayat yang mengandung hukum saja. Adapun ayat-ayat yang mengandung pengabaran <em>ghaib</em> maka tidak terdapat <em>Nasikh </em>dan <em>Mansukh</em> di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bahwasanya beliau diutus kepada semua golongan jin dan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>diutus untuk semua jin dan manusia, tanpa terkecuali dan tidak membedakan suku yang satu dengan yang lain. Adapun nabi-nabi yang lain, mereka diutus untuk kaum atau bangsa tertentu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا }</h2>
<p style="text-align:justify;">(3)           Artinya: &#8220;Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur&#8217;an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.&#8221; (QS Al-Furqan : 1)</p>
<p style="text-align:justify;">Maksud seluruh alam di sini adalah seluruh jin dan manusia.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>juga berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا * يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا }</h2>
<p style="text-align:justify;">(4)           Artinya: &#8220;(1) Katakanlah (ya Muhammad): &#8220;Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Quran), lalu mereka berkata, &#8216;Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (2)  (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Tuhan kami.&#8217;.&#8221; (QS Al-Jin : 1-2)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini juga menjelaskan bahwa jin termasuk golongan makhluk Allah yang dibebankan untuk melaksanakan syariat Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan diberi pertolongan sebelum berperang dengan tumbuhnya rasa takut di hati-hati musuh sejauh sebulan perjalanan</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan bumi yang bisa dijadikan masjid (tempat <em>shalat</em>) dan sebagai penyuci dengan bertayammum</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan dihalalkan baginya harta rampasan perang (<em>ghanimah</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan syafaat pada hari kebangkitan nanti</p>
<p style="text-align:justify;">Dalil yang menunjukkah hal itu semua adalah <em>hadits</em> berikut:</p>
<h2 style="text-align:right;">عن جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً</h2>
<p style="text-align:justify;">(5)           Artinya: Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;Saya diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun selainku: saya ditolong dengan rasa ketakutan (pada diri musuh) sejauh sebulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan penyuci –Siapapun di kalangan umatku yang mendapatkan waktu <em>shalat</em>, maka hendaklah ia <em>shalat</em>-, dihalalkan bagiku ghanimah-ghanimah (harta rampasan perang) yang dulu tidak dihalalkan bagi siapapun sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, -dulu seorang nabi hanya diutus kepada kaumnya saja- sedangkan saya diutus kepada seluruh manusia.&#8221;<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan hari <em>Jum</em><em>’</em><em>at</em></p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang Yahudi menjadikan Sabtu sebagai hari raya mingguan mereka, Orang-orang Kristen menjadikan Ahad/Minggu sebagai hari raya mingguan mereka. Sedangkan kaum muslimin, Allah telah menjadikan <em>Jum</em><em>’</em><em>at</em> sebagai hari raya mereka.</p>
<h2 style="text-align:right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوا فَهَدَانَا اللَّهُ لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنْ الْحَقِّ فَهَذَا يَوْمُهُمْ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ هَدَانَا اللَّهُ لَهُ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَالْيَوْمَ لَنَا وَغَدًا لِلْيَهُودِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى.</h2>
<p style="text-align:justify;">(6)           Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya dia berkata, &#8220;Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata, &#8216;Kita adalah kaum yang terakhir tetapi yang pertama di hari kiamat. Kita adalah orang pertama yang masuk ke dalam surga, meskipun mereka diberikan kitab sebelum kita dan kita mendapatkan kitab setelah mereka. Kemudian Allah memberi petunjuk kepada kita berupa kebenaran atas apa-apa yang mereka berselisih di dalamnya. Ini adalah hari yang mereka berselisih tentangnya. Allah telah memberi petunjuk kepada kita untuk hari ini. -Berkata (seorang perawi), &#8216;yaitu hari Jumat&#8217;-. Hari ini adalah hari kita, besok adalah hari orang Yahudi dan besok lusa adalah hari orang Nashara (Kristen).&#8221;<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadits</em> di atas juga menunjukkan bahwa kita adalah kaum terakhir yang Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada mereka. Dengan demikian. Ini menjadi dalil yang jelas tidak ada nabi baru dan tidak ada umat setelah umatnya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan cara Allah memanggilnya di dalam Al-Qur&#8217;an dengan panggilan yang menunjukkan sifat-sifat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> yang mulia</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>diberi kekhususan ini dan tidak diberikan kepada Nabi yang lain. Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>memanggil beliau dengan &#8216;<em>Ya Ayyuhannabi</em>!<a href="#_ftn10">[10]</a> (Wahai Nabi!)&#8217; dan &#8216;<em>Ya Ayyuharrasul</em>!<a href="#_ftn11">[11]</a> (Wahai Rasul!!) dan tidak memanggilnya dengan namanya. Berbeda dengan Nabi yang lainnya, Allah memanggil mereka dengan namanya saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-&#8217;Izz bin Abdissalam berkata, &#8220;Kekhususan ini tidak didapatkan oleh selainnya (Nabi Muhammad) <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Setiap nabi dipanggil dengan namanya. Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ }</h2>
<p style="text-align:justify;">(7)           Artinya: &#8220;Kami berkata, &#8216;Ya Adam! Diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini.&#8221; (QS al-Baqarah : 35)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga firmannya:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ }</h2>
<p style="text-align:justify;">(8)           Artinya: &#8220;Hai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu.&#8221; (QS Al-Maidah : 110)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga firmannya:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ }</h2>
<p style="text-align:justify;">(9)           Artinya: &#8220;Ya Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah.&#8221; (QS Al-Qashash : 30)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga firmannya:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا }</h2>
<p style="text-align:justify;">(10)       Artinya: &#8220;Ya Nuh! Turunlah dengan keselamatan yang Kami berikan.&#8221; (QS Hud : 48)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga firmannya:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ يَا إِبْرَاهِيمُ * قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا }</h2>
<p style="text-align:justify;">(11)       Artinya: &#8220;Ya Ibrahim! Engkau telah membenarkan mimpi itu.&#8221; (QS Ash-Shaffat: 104-105)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">…Sesungguhnya kedudukan orang yang dipanggil oleh Allah dengan sebaik-baik nama dan sifat yang dimilikinya lebih mulia dan lebih dekat di sisi-Nya, bila dibandingkan dengan orang yang dipanggil dengan namanya saja.&#8221;<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun penyebutan nama nama Nabi &#8220;Muhammad&#8221; di dalam Al-Qur&#8217;an bukanlah panggilan akan tetapi penyebutan itu hanyalah untuk pengabaran saja.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bahwasanya seseorang dilarang untuk memanggilnya dengan namanya atau memanggilnya sebagaimana kebanyakan manusia</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah nabi yang mulia. Oleh karena itu, tidak pantas memanggilnya dengan panggilan seperti panggilan orang biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا }</h2>
<p style="text-align:justify;">(12)       Artinya: &#8220;Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain).&#8221; (QS An-Nur: 63)</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan sumpah Allah dengan menggunakan kehidupannya</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>telah bersumpah dengan kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di dalam Al-Qur&#8217;an. Ini menunjukkan akan mulianya kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em><em> </em>berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">{ لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ }</p>
<p style="text-align:justify;">(13)       Artinya: &#8221; Demi umurmu (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).&#8221; (QS al-Hijr: 72)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Katsir menjelaskan, &#8220;Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>bersumpah dengan kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Ini menunjukkan kemuliaan yang agung, kedudukan dan derajatnya yang tinggi.&#8221;<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan perlu diketahui juga bahwa Allah tidak bersumpah dengan makhluk kecuali makhluk tersebut memiliki sesuatu kemuliaan, kehebatan dan kebaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersumpah dengan makhluk hanya dikhususkan untuk Allah semata. Adapun para makhluk-Nya tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama dan sifat Allah <em>subhanahu wa ta’ala.</em> Barang siapa yang bersumpah dengan nama makhluk-Nya maka dia telah terjatuh kepada kesyirikan.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan menjadi imam <em>shalat</em> bersama para Nabi <em>‘alaihimush-shalatu wassalam</em> di <em>Baitul-Maqdis</em><em> </em>(Palestina)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana hal ini masyhur di dalam <em>hadits</em>-<em>hadits</em> shahih ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di <em>isra&#8217; mi&#8217;raj</em>-kan.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan terbelahnya bulan</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>telah mengkhususkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan terbelahnya bulan. Kejadian itu terjadi ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>masih di Mekkah dan belum berhijrah ke Madinah. Kejadian tersebut disaksikan oleh semua orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>mengabadikan peristiwa itu di dalam Al-Qur&#8217;an dengan firman-Nya:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ }</h2>
<p style="text-align:justify;">(14)       Artinya: &#8220;Kiamat telah dekat dan bulan pernah terbelah.&#8221; (QS Al-Qamar : 1)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Hal tersebut juga dijelaskan pada <em>hadits</em> berikut:</p>
<h2 style="text-align:right;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْه- قَالَ: انْشَقَّ الْقَمَرُ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- بِمِنًى فَقَالَ: (( اشْهَدُوا)).</h2>
<p style="text-align:justify;">(15)       Artinya: Diriwayatkan dari ‘Abdullah (bin Mas&#8217;ud) dia berkata, &#8220;Bulan pernah terbelah dan kami bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di Mina. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8216;Saksikanlah!&#8217;.&#8221;<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kejadian ini hanya terlihat khusus di kota Mekkah? Apakah ada bukti bahwa orang-orang lain di luar kota Mekkah juga melihatnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya:</p>
<p style="text-align:justify;">(16)       Ya ada, sebagaimana tercantum di dalam riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi di Musnadnya yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiallahu ‘anhu</em>, dia berkata, &#8220;Orang-orang Quraisy berkata, &#8216;Ini adalah sihirnya Ibnu Abi Kabsyah (maksudnya Rasulullah)…&#8217;Tunggulah para pedagang (yang datang dari luar negeri). Sesungguhnya Muhammad tidak mampu menyihir semua manusia.&#8217; Pedagang-pedagang itupun datang dan berkata, &#8216;(Ya benar) seperti itu.&#8217;.&#8221;<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian manusia di zaman ini mengingkari kejadian ini dengan alasan tidak ada bukti otentik yang menjelaskan hal itu dan tentunya seluruh dunia akan menyaksikannya. Sungguh aneh mereka itu. Mereka bisa menerima dengan lapang dada catatan-catatan sejarah yang notabenenya tidak ada jalur periwayatan orang-orangnya (baca: tidak ber-<em>isnad</em>), tetapi begitu datang kabar dari kaum muslimin yang lengkap dengan jalur periwayatannya mereka malah menolaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan tangisan batang kurma</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan hanya para sahabat yang cinta dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Benda-benda di sekitar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun sangat mencintai beliau. Dulu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berkhutbah di batang kurma, kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memandang bahwa batang kurma tersebut sudah sangat layak untuk diganti dengan mimbar yang baru. Akhirnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun memerintahkan tukang kayu untuk membuat mimbar. Ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pindah ke mimbar baru, pelepah kurma itu pun menangis, sampai-sampai suara tangisannya terdengar oleh para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kisah tersebut tercantum pada <em>hadits</em> berikut:</p>
<h2 style="text-align:right;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- كَانَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ يَدَهُ عَلَيْهِ.</h2>
<p style="text-align:justify;">(17)       Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya dia berkata, &#8220;Dulu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berkhuthbah di atas batang kurma. Ketika beliau membuat mimbar, beliau pun pindah ke mimbar itu. Batang kurma itu pun menangis. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menenangkannya.&#8221;<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh menakjubkan bukan? Batang kurma saja bisa menangis karena sedih akan ditinggalkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>Bagaimana dengan kita? Kita seharusnya lebih sedih lagi bila  kehilangan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">-       Kekhususan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan kabar Allah di dalam Taurat dan Injil yang menceritakan bahwa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>akan diutus</p>
<p style="text-align:justify;">Barang siapa yang memperhatikan Taurat dan Injil maka dia akan mendapat bahwa dua kitab itu mengabarkan tentang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan bahwasanya beliau akan diutus diakhir zaman. Apabila orang tersebut tidak menemukannya, maka itu adalah suatu yang wajar karena mereka telah merubah dengan menambahi dan mengurangi isi dua kitab itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">{ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ }</h2>
<p style="text-align:justify;">(18)       Artinya: &#8220;(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang <em>ummi</em> (yang tidak bisa membaca) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.&#8221; (QS Al-A&#8217;raf : 157)</p>
<p style="text-align:justify;">(Dikutip dari buku ‘Bersama Sang Kekasih di Surga’. Penerbit Darussunnah. Karya penulis)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://kajiansaid.files.wordpress.com/2011/01/kekhususan-nabi-dari-semua-nabi1.pdf">Download Ebook Disini</a></strong></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Surat-surat pendek yang dimulai dari surat Qaf sampai surat An-Nas di dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Surat-surat panjang dari Al-Baqarah sampai At-Taubah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Surat-surat yang terdiri dari seratus ayat atau yang dekat dengan seratus.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Surat-surat yang jumlah ayatnya antara seratus sampai surat-surat <em>mufashshal</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR Ahmad no. 16982 dan dihasankan isnadnya oleh Syaikh Syu&#8217;aib Al-Arnauth.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Nasikh</em> artinya adalah yang menghapus hukum sebelumnya. Sedangkan <em>mansukh</em> adalah hukum yang dihapuskan dengan <em>Nasikh</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat <em>Fathul-Qadir</em> milik Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HR Al-Bukhari No. 335 dan Muslim No. 1191</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR Muslim No. 2017</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Di dalam Al-Qur&#8217;an perkataan &#8216;<em>Ya Ayyuhannabi!</em>&#8216; terulang tiga belas kali. Di antaranya adalah yang terdapat di surat Al-Anfal ayat 64, 65 dan 70.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Di dalam dalam Al-Qur&#8217;an perkataan &#8216;<em>Ya Ayyuharrasul!</em>&#8216; terulang dua kali, yaitu pada surat Al-Maidah ayat 41 dan 76.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Bidayatus-Sul</em> milik Al-&#8217;Izz bin Abdis-Salam hal. 38 (dinukil dari <em>Khashashil-Mushthafa</em> hal. 28)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Penyebutan nama Nabi &#8220;Muhammad&#8221; <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di dalam Al-Qur&#8217;an terdapat di empat tempat, yaitu: di surat Ali &#8216;Imran ayat 144, Al-Ahzab ayat 40, Muhammad ayat 2 dan Al-Fath ayat 29.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> Jilid IV hal. 532</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> HR Al-Bukhari No. 3860. Setidaknya ada lima orang sahabat yang mengabarkan kejadian ini. Mereka adalah Jubair bin Muth&#8217;im, Abdullah bin Mas&#8217;ud, Abdullah bin &#8216;Abbas, Abdullah bin &#8216;Umar dan Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhum</em>. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi orang yang mengingkari kejadian ini.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> HR Ath-Thayalisi no. 295. Di sanadnya terdapat Al-Mughirah bin Muqsim Adh-Dhabbi. Ibnu Hajar berkata tentangnya, &#8220;<em>Tsiqah mutqin illa annahu yudallis (hanya saja dia mudallis)</em>…&#8221; (Lihat <em>Taqribut-Tahdzib</em>). Al-Mugirah telah meriwayatkan hadis ini dengan <em>&#8216;an&#8217;anah</em>. Akan tetapi, <em>hadi</em><em>ts</em> ini memiliki syahid dari Jubair bin Muth&#8217;im <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> dalam riwayat Ahmad di <em>Musnad</em>-nya  no. 16750. Akan tetapi, sanadnya terputus dari Hushain bin Abdurrahman ke Muhammad bin Jubair, terdapat satu orang yang  <em>saqath </em>(jatuh) dalam sanadnya yaitu Jubair bin Muhammad bin Jubair. Dengan demikian, hadits yang pertama dengan yang kedua bisa saling menguatkan insya Allah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> HR Al-Al-Bukhari no. 3583.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajiansaid.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajiansaid.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajiansaid.wordpress.com&amp;blog=10889778&amp;post=282&amp;subd=kajiansaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajiansaid.wordpress.com/2011/01/10/beberapa-kekhususan-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-yang-tidak-dimiliki-nabi-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98ebb8908f0ca9eae79c78b58b91e300?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">saidyai</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
