Skip to content

Bagaimana Hukum Wanita Kuliah di Luar Daerah Tanpa Mahram?

8 July 2016

Soal:

Assalamualaikum ustadz, Bagaimana menyikapi kehendak orang tua yang menginginkan kita untuk kuliah di luar daerah, sementara saya ingin masuk pondok pesantren dan menimba ilmu agama? Apakah kalo saya menolak saya dianggap sebagai anak durhaka?

Rahma di J

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahamtullah wabarakatuh.

 

Wanita sudah sepantasnya berada di rumahnya. Dengan demikian dia bisa menjaga aurat dan kehormatannya dengan baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tetap tinggallah di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias seperti cara berhias orang-orang Jahiliah dulu.” (QS Al-Ahzab: 33)

Allah menyuruh istri-istri Nabi untuk tetap tinggal di dalam rumah-rumah mereka. Perintah ini juga berlaku kepada kaum muslimat yang lain.

Kuliah di luar daerah akan mengakibatkan beberapa kemaksiatan atau menjadi penyebab untuk bermaksiat, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bersafar tanpa mahram.

Mungkin sebagian beranggapan bahwa nanti dia bisa diantar-jemput oleh mahram, tetapi pada kenyataannya banyak sekali wanita yang kuliah di luar daerah tidak mengindahkan hal ini. Bahkan dia bermudah-mudahan untuk bersafar tanpa mahramnya.

  1. Adanya ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan.
  2. Terbiasa melihat wajah laki-laki yang mengajar di ruangan atau di luar ruangan kuliah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS An-Nur: 31)

  1. Bermudah-mudahan berkomunikasi dengan lawan jenis.

 

Oleh karena itu, kuliah di luar daerah bagi Saudari bukanlah suatu ketaatan, bahkan bisa mengantarkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat, terkecuali saudari bisa menghindari hal-hal di atas dengan belajar di tempat yang benar-benar terjaga dan dikhususkan untuk wanita.

 

Apakah harus mentaati orang tua untuk melakukan hal tersebut?

Tidak boleh mentaati orang tua yang menyuruh untuk melakukan hal yang diharamkan di dalam syariat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya pada yang baik.”[1]

Dan orang tua termasuk makhluk yang tidak boleh kita taati jika menyuruh kita untuk melakukan perbuatan maksiat.

 

Apakah dengan menolaknya dianggap telah melakukan perbuatan durhaka?

Jika kita menolaknya karena menghindari perbuatan maksiat maka tidak mengapa dan ini tidak dikategorikan sebagai kedurhakaan.

 

Bagaimana dengan keinginan untuk masuk pondok pesantren?

Setiap orang wajib untuk menuntut ilmu yang wajib dia pelajari, seperti: cara shalat, cara puasa, cara berzakat ketika dia wajib berzakat, cara berhaji jika dia ingin berhaji, cara berjual-beli ketika dia ingin berjual beli dan lain-lain. Ketika dia dituntut untuk mempelajari ilmu-ilmu yang dia butuhkan dalam kehidupan dia, maka dia wajib belajar. Dan belajar agama untuk saat ini sangatlah mudah. Saudari bisa membeli banyak buku agama dan majalah, begitu juga dengan mendengarkan kajian-kajian islami, baik dari: kaset, CD, radio, internet dan lain-lain, bahkan Saudari juga bisa bertanya langsung kepada para ustadz dengan menggunakan telepon, SMS, WA atau yang lainnya.

Adapun ilmu-ilmu yang sifatnya tambahan dan tidak semua orang wajib mempelajarinya, seperti: ilmu musthalah, ilmu faraidh, ilmu ushulul-fiqh dll. maka hukum mempelajarinya adalah sunnah. Jika orang tua menghalangi untuk belajar di pondok pesantren maka kita harus mentaatinya, karena ilmu-ilmu yang wajib kita pelajari untuk diri kita masih bisa kita peroleh tanpa harus berada di pondok pesantren. Ketika bertentangan antara perintah orang tua yang wajib kita taati dengan keinginan untuk belajar di pondok pesantren yang hukumnya adalah sunnah, maka kita dahulukan yang wajib daripada yang sunnah.

 

Allahu a’lam bishshawab. Billahittaufiq.

[1] HR Muslim no. 1840 dari Ali radhiallahu ‘anhu.

Bagaimana Kedudukan Ilmu Umum Bila Dibandingkan dengan Ilmu Syar’i?

4 July 2016

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz, mohon penjelasannya, banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu, ilmu apakah yang dimaksud disini? Kalau yang dimaksud ilmu syar’i lalu bagaimana kedudukan ilmu umum seperti fisika, kimia dll.

Humaidi – pandeglang – 08578257XXXX

 

Jawaban:

Read more…

Apa Hukum Menginapnya Wanita Yang Bersafar Tanpa Mahram?

1 July 2016

Soal:

Assalamualaikum. Maaf ustadz, mohon penjelasan tentang tidak diperbolehkannya safar bagi seorang perempuan itu maksudnya haram atau bagaimana ya ustadz? Terus maksud dari safar disini apakah sekedar di jalan saja atau posisi sudah di tempat tujuan tapi hanya beberapa hari masih dihitung safar? Contoh kasus, seorang wanita karena tugas, dia harus menginap di hotel luar kota (yang sudah terhitung safar) untuk beberapa hari tanpa di dampingi mahramnya. Mahram hanya mengantar dan menjemputnya ketika sudah selesai.  Apakah hal ini termasuk terlarang juga atau bagaimana ustadz? Terima kasih atas penjelasan Ustadz.

Wassalamualaikum.

Abdillah di S

 Jawaban:

Read more…

Apa Hukum Memakai Kawat Gigi dan Mengenakan Dasi?

20 June 2016

Soal:

Assalamualaikum. Ana mau tanya. Apa hukum memakai kawat gigi, hukum memakai dasi dan hukum mendengarkan musik? Tolong dijelaskan!

Fakhrie-08536093XXXX

 

Jawaban:

Read more…

IBUKU TIDAK ADIL DALAM BERSIKAP KEPADAKU. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN.?

5 June 2016

Soal:

Saya seorang anak perempuan yg sering dibeza-bezakan daripada adik lelaki saya. Malah sejak kecil jika ada kesalahan yg berlaku, walaupun bukan salah saya akan ibu saya menyalahkan saya. Apalagi jika salah saya, akan dibuatnya saya makin bersalah. Tidak ada yg saya buat dibanggakan oleh ibu saya. Tetapi adik lelaki saya selalu dipujinya, dilindungi dari marahnya & diberi muka.

Sekarang saya sudah dewasa & berumahtangga, saya makin lagi diasingkan. Kata ibu saya, saya sudah berkahwin & tidak memasukkan saya dlm hal ehwal keluarga. Saya rasa amat tersingkir kerana saya yg tua & sebelum berkahwin pun, saya yg coba menguruskan famili saya setelah bapa saya bercerai dgn ibu saya. Saya fikir sudah dewasa tidak mahu memikirkan atau mengambil hati tentang hal perbezaan layanan yg terjadi antara saya & adik lelaki saya, tetapi kadangkala percakapan & perbuatan ibu saya amat mengecilkan hati saya. Saya sanggup & sudah minta ampun segala dosa saya dgn ibu & malah sudah coba berbaik dgn adik lelaki saya, tetapi mereka tidak pernah mengaku & minta ampun dgn saya. Adik lelaki saya yg selalu dimenangkan, menjadi tiada hormat dgn saya, kakaknya yg tua darinya.

Baru-baru ini saya jadi agak bosan dgn perangai mereka yg melampaui batas, lalu saya marah dgn ibu saya. Saya rasa ini perasaan yg terpendam sekian lama ditindas bulat-bulat oleh mereka. Saya akui kedudukan saya sebagai anak & saya mungkin berdosa & salah menunjukkan perasaan marah dgn ibu saya.

Tetapi saya ingin tahu apakah seorang anak tiada hak untuk menyuarakan kebenaran atau perasaannya? Saya rasa amat tertekan & juga seperti timun dalam hal ini. Rasanya sebagai anak, apa saya persuarakan kepada ibu akan jadi dosa & bersalah. Jadi, dimanakah hak seorang anak terhadap orang tua? Dimanakah keadilan?

Saya rasa mahu pergi jauh kerana kehadiran saya seperti tidak diperlukan lagi & jika saya jijik bagi mereka, buat masa ini saya mahu menjauhkan diri.

Wajarkah perbuatan saya yg ingin mengelakkan pergaduhan, ketegangan & tekanan. Adakah saya berdosa & bersalah?

 

Dari Anak Malang

Read more…

Bagaimana Cara Mengatasi Gejolak Syahwat bagi Pemuda?

4 June 2016

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz, mohon pencerahannya karena seumuran kami para remaja 15 tahun ke atas itu syahwat semakin bergejolak terutama pada umur 17. kami takut terkena fitnah syahwat. Apakah nikah muda bisa sebagai solusi? Mohon penjelasannya and ditempel diedisi mendatang yach. Syukran

08211959XXXX

 

Jawaban:

Read more…

JIKA NABI MUHAMMAD WAFAT ATAU DIBUNUH

24 July 2015

 

 

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (144) وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا

نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ (145)

(144) Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang maka dia tidak dapat mendatangkan ke-mudharat-an kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (145) Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami berikan balasan kepada orang yang bersyukur. (QS Ali ‘Imran: 144-145)

 

Tafsir Ringkas

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” Beliau bukanlah rasul yang berbeda dengan para rasul yang lain. Beliau termasuk para rasul yang memiliki tugas untuk menyampaikan risalah (ajaran) dari Rabb mereka dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Untuk menjalankan perintah-perintah Allah, tidak disyaratkan bagi para rasul harus hidup kekal. Dan yang wajib dilakukan oleh seluruh umat adalah menyembah Rabb mereka pada setiap waktu dan keadaan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan, “Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?” dengan meninggalkan keimanan dan jihad dan yang lainnya yang telah datang perintahnya kepada kalian.

“Barang siapa yang berbalik ke belakang maka dia tidak dapat mendatangkan ke-mudharat-an kepada Allah sedikit pun.” Sesungguhnya orang tersebut justru mendatangkan ke-mudharat-an untuk dirinya sendiri. Adapun Allah, Allah Maha Kaya tidak membutuhkan orang tersebut. Allah tetap akan menegakkan agama-Nya dan memuliakan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Setelah Allah menghina orang yang berbalik ke belakang (murtad), Allah memuji orang-orang yang tetap bersama Rasul-Nya dan tetap melaksanakan perintah Rabb mereka, dengan perkataan-Nya, “Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” 

Kesyukuran tidak akan bisa terwujud kecuali dengan menegakkan peribadatan kepada Allah di setiap keadaan. Dan di dalam ayat ini terdapat petunjuk dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, bahwa wafatnya seorang pemimpin atau pembesar tidaklah boleh membuat ragu keimanan mereka atau meninggalkan sebagian konsekuensi keimanan tersebut.

Dan ini tidak bisa terwujud kecuali dengan mempersiapkan segala hal di dalam urusan agama dan mempersiapkan orang-orang yang memiliki kemampuan. Apabila seorang di antara mereka wafat maka orang lain akan menggantikannya. Begitu pula seluruh orang-orang yang beriman harus memiliki keinginan untuk menegakkan agama Allah, berjihad karena Allah sesuai kemampuan …

Di dalam ayat ini juga terdapat dalil bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq dan para sahabatnya telah membunuh orang-orang yang murtad setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka adalah pembesar-pembesar yang mempraktikkan kesyukuran.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” Kemudian Allah ta’ala mengabarkan bahwa seluruh jiwa batas waktu hidupnya tergantung dengan izin dan qadar Allah. Barang siapa yang Allah tetapkan dia akan mati dengan takdirnya maka dia aka mati walaupun tanpa ada sebab. Barang siapa yang Allah menginginkannya tetap hidup, meskipun dia telah melakukan sebab-sebab yang dapat membuatnya mati, maka hal tersebut tidak dapat mematikannya sebelum sampai ajal kematiannya. Hal ini dikarenakan Allah telah menetapkan qadha’ dan qadar-Nya, dan Allah telah menulisnya sampai ajal tertentu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan setiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula bisa) memajukannya.” (QS Al-A’raf: 34)

Kemudian Allah mengabarkan bahwa Allah memberikan manusia balasannya di dunia dan akhirat sesuai dengan apa-apa yang mereka inginkan.

Allah berfirman, “Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu.” 

Allah ta’ala juga berfirman:

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (20) انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا (21)

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami beri bantuan dari kemurahan Tuhan-mu. Dan kemurahan Tuhan-mu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS Al-Isra’: 20-21)

“Dan kami berikan balasan kepada orang yang bersyukur.” Allah tidak menyebutkan balasan untuk mereka untuk menunjukkan banyak dan besarnya balasan untuk mereka dan juga untuk menunjukkan bahwa balasan itu tergantung kepada kadar kesyukuran, yaitu tergantung kepada sedikit, banyak dan kualitasnya.

 

Penjabaran Ayat

  Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,803 other followers

%d bloggers like this: