Skip to content

OPTIMALKAN IBADAH DI BULAN SYA’BAN

19 Mei 2015

Oleh: Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A.

 

Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Bulan ini memiliki banyak keutamaan. Ada juga ibadah-ibadah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan.

Bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena di saat penamaan bulan ini banyak orang Arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua-gua setelah lepas bulan Rajab.

Baca selengkapnya…

KETIKA DUA KELOMPOK MUKMIN SALING BERPERANG

17 Mei 2015

Oleh: Said Yai

 

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua kelompok dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikan oleh kalian antara keduanya! Akan tetapi, kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, maka perangilah oleh kalian (kelompok) yang melanggar perjanjian itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah. Kalau mereka telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan hendaklah kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Hujurat: 9)

 

Ringkasan Tafsir

“Dan kalau ada dua kelompok dari orang-orang yang beriman” baik jumlahnya sedikit ataupun banyak, “berperang”, baik yang sedang berperang atau akan berperang, “maka damaikan oleh kalian antara keduanya!” dengan membuat perjanjian kesepakatan. “Akan tetapi, kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain”, dengan menolak perjanjian tersebut atau tidak ridha dengan hukum Allah, “maka perangilah oleh kalian (kelompok) yang melanggar perjanjian itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah,” yaitu sampai mereka kembali kepada kebenaran.

“Kalau mereka telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan hendaklah kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Syaikh As-Sa’di berkata, “Bahwasanya peperangan merusak hubungan persaudaraan seiman. Oleh karena itu, dia termasuk dosa besar yang paling besar. Sesungguhnya iman  dan persaudaraan seiman tidak lenyap dengan adanya peperangan (antara sesama orang yang beriman), sebagaimana dosa-dosa besar lain yang di bawah syirik (tidak melenyapkan iman). Dan inilah madzhab Ahlis-sunnah wal-jamaa’ah, begitu pula dalam permasalahan: wajibnya mengadakan perdamaian di antara orang-orang yang beriman dengan adil, wajibnya memerangi orang-orang melanggar perjanjian atau pemberontak sampai mereka kembali kepada perintah Allah… Dan (setelah memerangi mereka), harta mereka dilindungi (atau tidak menjadi ghaniimah), yang dibolehkan hanyalah membunuh mereka ketika mereka terus melakukannya, tetapi tidak dibolehkan mengambil harta-harta mereka.”

Baca selengkapnya…

Akhirnya Aku Tidak Dipaksa untuk Menuntut Ilmu

13 Mei 2015

Hari ini (23 April 2015) adalah hari terakhir mengajar secara resmi murid-murid di kelas III laki-laki, tingkat SMA di Ponpes Imam Al-Bukhari.
Seorang murid saya suruh untuk menceritakan secara ringkas kehidupannya di Ponpes. Beliau bercerita, bahwasanya dulu dia belajar karena disuruh orang tuanya, terpaksa dan selalu ingin keluar dari pondok.
Bertahun-tahun dari tingkat TK sampai SMP atau sekitar 10 tahun.
Banyak tindakan yang beliau lakukan yang menunjukkan keterpaksaan beliau belajar di pondok ini, bahkan berkali-kali berniat untuk keluar dan melarikan diri.
Qadarullah maa syaa-a fa’ala, liburan kenaikan kelas dari SMP ke SMA beliau berubah. Niatnya menjadi sungguh-sungguh ingin belajar ilmu agama, tanpa paksaan dari siapa pun. Sampai-sampai teman-temannya selalu mengejeknya dengan menyebut-nyebut kelakukannya dulu sewaktu tidak suka berada di pondok.
Beliau mulai menyadari pentingnya ilmu agama dan berdakwah.
Ketika beliau ditanya, “Apa yang membuat kamu berubah?”
Beliau menjawab, “Alhamdulillah, ini karena teman-teman dan para ustadz.”
Beliau menyebutkan bahwa teman-temannya sangat membantu sekali dalam perubahan niatnya tersebut.

Baca selengkapnya…

BOLEHKAH WANITA BERENANG DI KOLAM RENANG?

10 Mei 2015

Oleh: Said Yai
Terkadang wanita juga membutuhkan sesuatu yang bisa menyegarkan kembali dirinya dari kejenuhannya menjalankan aktivitas sehari-harinya, tidak hanya laki-laki yang bisa dengan mudah mencari aktivitas untuk menghibur dirinya.
Cara yang ditempuh wanita pun bermacam-macam, ada yang suka berbelanja, ada yang suka pergi ke gunung, ada yang suka berenang dan ada yang suka melakukan aktivitas lainnya.

Mungkin sebagian pembaca pernah bertanya, apakah boleh seorang wanita pergi ke kolam renang untuk berenang di sana? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang wanita untuk mandi di hammaam (tempat pemandian umum di zaman Rasulullah)?
Ya, benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang wanita untuk mandi di tempat pemandian umum. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُدْخِلْ حَلِيلَتَهُ الْحَمَّامَ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia memasukkan istrinya ke dalan hammaam (tempat pemandian umum).”

Baca selengkapnya…

HUKUM MENJUAL BARANG-BARANG UNTUK PERAYAAN HARI VALENTINE

1 Februari 2015

no valentinOleh: Said Yai Ardiansyah

Setiap tanggal 14 Februari, sebagian manusia di seluruh dunia memperingati hari Valentine. Mereka mengatakan bahwa hari tersebut adalah hari berkasih sayang dengan yang lain. Warna merah muda di jual di toko-toko sebagai lambang cinta dan kasih sayang.

Benda-benda khusus pun dijual yang begitu identik dengan perayaan ini, seperti: coklat, bunga, kartu, kado, perhiasan berwarna merah muda dll.

Omzet penjualan ‘helm karet’ pun semakin meningkat yang menunjukkan bahwa pada hari itu penggunaannya sangat banyak sekali di kalangan pemuda.

Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang sangat mendesak untuk membahas permasalahan yang berhubungan dengan perayaan ini. Permasalahan tersebut penulis batasi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apa hukum merayakan hari valentine?
  2. Apa hukum membantu mempersiapkan acara tersebut?
  3. Apa hukum menjual barang-barang yang digunakan untuk perayaan hari valentine?
  4. Apa hukum menggunakan ‘helm karet’ di kalangan pemuda-pemudi?

Baca selengkapnya…

BAGAIMANA MENZAKATI HARTA PERUSAHAAN?

1 Oktober 2014

hartaOleh: Said Yai

Perusahaan jika dia adalah milik satu orang, maka dia langsung menzakatinya sesuai aturan yang telah disebutkan dalam zakat mal.
Tetapi jika perusahaannya adalah milik bersama maka dizakatkan sesuai porsi sahamnya.
Setelah diketahui porsi sahamnya, maka dilihat juga jenis usahanya.
Jika murni perdagangan barang saja, hanya jual beli saja, maka sahamnya wajib dizakatkan semua digabung dengan harta pribadinya.
Tetapi jika perusahaan bergerak dibidang lain, maka yang dihitung bukan seluruh sahamnya, karena sahamnya ada yang sudah menjadi barang, seperti gedung, mobil, dll yang tidak diperjualbelikan, yang seperti itu tidak wajib dizakatkan.
Sehingga yang dizakatkan adalah: modal, barang yang
diniatkan untuk dijual dan keuntungan yang didapatkan.
Jika diketahui jumlah tersebut di perusahaan dan pemilik saham masing2 mengetahui prosentase sahamnya. maka tinggal menghitungnya dan digabungkan dengan harta pribadinya.
Untuk piutang perusahaan para ulama berselisih pendapat dalam hal ini, meskipun yang lebih aman dia juga dimasukkan ke dalam perhitungan zakat.
Allahu a’lam bishshawab.

JIKA DOA KITA TIDAK DIKABULKAN

22 September 2014

doamustajabOleh: Said Yai Ardiansyah

Mungkin ada di antara kita yang telah banyak menengadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh tetapi ternyata Allah subhanahu wa ta’ala tidak atau belum mengabulkan doanya. Padahal semua sebab-sebab dikabulkan doa telah dilakukannya, seperti:

  1. Ikhlas dan tidak berbuat syirik.
  2. Memulai dengan pujian dan salawat.
  3. Dengan sungguh-sungguh dan tidak lalai.
  4. Yakin akan dikabulkan oleh Allah.
  5. Memilih waktu dan tempat mustajab.
  6. Meninggalkan makanan, minuman dan pakaian haram.
  7. Meninggalkan maksiat dan bertaubat.
  8. Mengerjakan ketaatan dan bertawasul dengan nama-nama Allah, dan lain-lain.

Dia berkata, “Ada apa gerangan? Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah Allah Maha Kuasa dan mengabulkan doa-doa hamba yang berdoa kepada-Nya? Apakah Allah tidak sayang kepadaku? Bukankah Allah mengatakan:

{ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}

‘Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya untuk kalian.’ (QS Ghafir: 60).”

Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: