Skip to content

MENJADI KUNCI-KUNCI KEBAIKAN

21 January 2010

Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.

LAFAZ HADÎTS:

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Dari Anas bin Mâlik radhiallâhu ‘anhu, dia berkata, “Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia ada kunci-kunci pembuka kebaikan dan gembok-gembok penutup keburukan. Di antara manusia ada gembok-gembok penutup kebaikan dan kunci-kunci pembuka keburukan. Beruntunglah orang-orang yang Allah letakkan kunci-kunci pembuka kebaikan di tangannya dan celakalah orang-orang yang Allah letakkan kunci-kunci pembuka keburukan di tangannya.”

TAKHRÎJ:

Hadîts ini diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah di Sunan-nya di Pembukaan Kitab Sunan Ibnu Mâjah, bab Man Kâna miftâhan lilkhair (no. 237) dan Ibnu Abi ‘Âshim di As-Sunnah (no. 232).

Hadîts ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Shahîhah (1332) dan Dzhilâlul-jannah (297/299) dengan syawâhid-nya.

SYARH (PENJELASAN) HADÎTS:

Sesungguhnya di antara manusia ada (pemilik) kunci-kunci pembuka (pintu-pintu) kebaikan dan (pemilik) gembok-gembok penutup (pintu-pintu) keburukan (yaitu orang-orang yang dijadikan oleh Allah sebab, dimana orang-orang lain bisa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, seperti ulama, pemegang kekuasaan, mujahid dll). Di antara manusia ada (pemilik) gembok-gembok  penutup (pintu-pintu) kebaikan dan (pemilik) kunci-kunci pembuka (pintu-pintu) keburukan (yaitu orang-orang yang dijadikan oleh Allah sebab, dimana orang-orang tidak bisa mengerjakan kebaikan dan tidak bisa meninggalkan keburukan).[1]

FAIDAH-FAIDAH Yang berhubungan dengan HADÎTS

  1. Sesungguhnya Allâh-lah yang membuka dan menutup segala segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki ism (nama) Al-Fattâh. Di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadîts Al-Fattah memiliki tiga makna, yaitu: Al-Hâkim (Yang Maha Memutuskan Perkara), An-Nâshir (Yang Maha Menolong)  dan Al-Fattâh (Yang Maha Membuka).[2]
  2. Berkata Ibnul-Qayyim rahimahullâh, “Kunci semua kebaikan adalah  keinginan bertemu dengan Allah dan mendapatkan akhirat (surga). Kunci semua keburukan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan. Mengetahui hal ini adalah suatu hal yang sangat agung dan termasuk ilmu yang paling bermanfaat di antara ilmu-ilmu yang lain, yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan. Tidaklah ada orang-orang yang mengenal dan memperhatikan hal ini kecuali orang-orang yang sangat beruntung dan mendapatkan taufik”[3]
  3. Berkata Syaikh Abdurrazzâq Al-‘Abbâd hafidzhahullah, “Ketahuilah! Orang-orang yang terjatuh ke dalam kemaksiatan tidak akan membiarkan dirinya terjatuh sendirian di dalam kemaksiatan. Dia akan mengajak orang lain bersamanya. Oleh karena itu, berhati-hatilah!”[4]
  4. Pintu-pintu kebaikan itu banyak sekali. Barang siapa yang telah dibukakan salah satu pintu kebaikan maka janganlah mengejek atau merendahkan orang lain yang telah dibukakan pintu kebaikan yang lain. Ada kisah yang menarik sekali, “Abdullah Al-‘Umari seorang ahli ibadah mengirim surat ke Imam Mâlik (yang isinya) menyarankan agar sang Imam menyendiri (dari orang-orang) dan beramal. Maka sang Imam pun membalas surat tersebut, “Sesungguhnya Allah membagi amalan-amalan sebagaimana membagi rezeki. Banyak orang yang dibukakan baginya pintu shalat, tetapi tidak dibukakan baginya pintu puasa. Begitu pula yang lainnya, dibukakan pintu sedekah tidak dibukakan pintu puasa. Dan yang lainnya lagi, dibukakan pintu jihad. Menyebarkan ilmu termasuk diantara amalan-amalan yang sangat afdhal. Saya telah rida dengan apa yang telah Allah bukakan untuk saya. Saya mengangap apa yang sekarang saya jalani tidaklah lebih rendah dari apa yang Anda amalkan. Saya berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan ketakwaan.[5]
  5. Miftâhul-khair (kunci kebaikan) tidak hanya para ustadz atau para dai, tetapi juga meliputi setiap orang yang bisa mengajak orang-orang lain untuk taat dan menjauhi perbuatan maksiat, seperti: pemimpin daerah atau suatu organisasi, guru, orang tua, mujâhid (orang yang berjihad), orang kaya yang memanfaatkan hartanya untuk kebaikan dll.
  6. Menjadi miftâhul-khair termasuk salah satu cara untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan menjadi orang yang paling dicintai oleh Allah. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Orang yang paling dicintai  oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”[6]

  1. Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi miftâhul-khair?

Orang-orang yang ingin menjadi miftâhul-khair harus memiliki atau mengerjakan hal-hal sebagai berikut:

  • Al-‘azm (tekad yang bulat) dan niat yang benar

Hendaknya kita tanamkan di dalam hati kita keinginan yang kuat untuk mengubah dan mengajak orang-orang di sekeliling kita kepada kebaikan. Dengan demikian, kita akan senantiasa berpikir bagaimana cara yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Terkadang kita agak malu, tapi ingatlah bahwa “malu itu tidak datang kecuali untuk kebaikan.” Jika kita malu untuk berbuat baik, maka ketahuilah itu datangnya dari setan.

Allah ta’âla berfirman:

Artinya: “Jika kamu telah ber-‘azm maka tawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS Ali ‘Imran : 159)

  • Ilmu

Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana yang merupakan miftâhul-khair dan mana yang merupakan miftâhus-syarr (kunci keburukan). Dengan ilmu kita bisa membedakaan yang mana termasuk perbuatan taat dan yang mana termasuk perbuatan maksiat. Dengan ilmu kita mengetahui halal dan haram. Semakin tinggi ilmu seseorang maka perkara-perkara yang menurutnya syubhat akan semakin berkurang.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu adalah hadits berikut:

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ مَا يَخْلُفُ الْمَرْءُ بَعْدَهُ ثَلَاثًا : وَلَدًا صَالِحًا يَدْعُو لَهُ فَيَبْلُغُهُ دُعَاؤُهُ ، أَوْ صَدَقَةً تَجْرِي فَيَبْلُغُهُ أَجْرُهَا ، أَوْ عِلْمًا يُعْمَلُ بِهِ بَعْدَهُ

Artinya: “Sebaik-baik yang ditinggalkan oleh seseorang setelah dia meninggal ada tiga: (1) Anak yang soleh yang selalu berdoa kepadanya, sehingga sampailah kepadanya apa yang di doakan, (2) sedekah yang pahalanya mengalir kepadanya, dan (3) ilmu yang diamalkan (oleh orang lain) setelahnya.[7]

Qatadah rahimahullâh berkata,

بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَحْفَظُهُ الَّرجُلُ لِصَلَاحِ نَفْسِهِ وَصَلَاحِ مَنْ بَعْدَهُ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ حَوْلٍ

Artinya: “Seseorang yang menghapal satu bab ilmu (diniatkan) untuk kesolehan dirinya dan kesolehan orang-orang setelahnya, lebih afdhal daripada beribadah sepanjang tahun.”[8]

  • Beramal dengan ilmu

Mungkin di antara kita pernah mengeluh, “Saya sudah lama berdakwah, tetapi mengapa tidak banyak memberikan pengaruh?” Kita harus sadar dan muhâsabah (introspeksi) diri kita sendiri. Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kesolehan akan “menularkan” kesolehannya kepada orang lain? Oleh  karena itu, kerjakanlah kewajiban-kewajiban dan jauhilah larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya! Adapun amalan-amalan yang sifatnya nâfilah (sunnah) maka kita amalkan semampu kita dan kita pertimbangkan manakah di antara amalan-amalan tersebut yang lebih mudah dan lebih afdhal untuk diri kita dari yang amalan-amalan lainnya.[9]

Sebagian dari kita mungkin memandang bahwa amalan itu hanya dikhususkan pada amalan yang dzhâhir saja. Pandangan ini salah. Amalan-amalan itu meliputi amalan-amalan zhâhir dan juga  batin. Bahkan amalan yang paling besar menurut Allah adalah tauhid. Sedangkan tauhid, sebagaimana kita ketahui, termasuk amalan batin.

  • Mengikuti cara yang dicontohkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam

Syaikh Rabî’ Al-Madkhali telah menulis buku khusus tentang  ini.[10]

  • Menjadi An-Nâshih (Orang yang selalu menasihati)

Menjadi An-Nâshih (Orang yang selalu menasehati) adalah nikmat yang sangat besar sekali. Coba bayangkan, seandainya  kita sedang melakukan perbuatan dosa, kemudian ditegur atau dilarang oleh seseorang, maka betapa senangnya hati kita, karena tidak jadi melakukan maksiat kepada Allah. Begitu pula, ketika di suatu masjid tidak hidup amalan-amalan sunnah kemudian datang seseorang menasihati dan menganjurkan untuk beramal dan menghidupkan sunnah, maka betapa senangnya hati kita. Senantiasa kita akan mengucapkan kepada orang tersebut “terima kasih” atau paling tidak, kita akan selalu mendoakan kebaikan untuknya.

Selama ada orang-orang yang seperti itu, maka Allah akan senantiasa menurunkan keberkahan-Nya.

Allah subhânu wa ta’âla menceritakan perkataan Nabi ‘Isa ‘alaihis-salâm,

Artinya: “Dan Dialah (Allah) yang telah menjadikan saya mubarak (penuh dengan keberkahan) di mana pun saya berada.” (QS Maryam : 31)

Di antara tafsiran ayat ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsîr rahimahullâh di dalam tafsirnya adalah “menjadi mubârak yaitu dengan ber-amr bil-ma’rûf wa nahi ‘anil-munkar (Menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran).”

  • Berakhlak yang mulia dan menjaga murû’ah[11] (wibawa, citra atau kehormatan  diri)

Meskipun menjaga murû’ah bukanlah sesuatu yang wajib, tetapi hal ini sangat memberikan pengaruh terhadap orang-orang di sekeliling kita.

Imam As-Syafi’i rahimahullâh pernah berkata,

لَوْ أَنَّ الْمَاءَ الْبَارِدَ يَثْلَمُ مِنْ مُرُوْءَتِي شَيْئًا مَا شَرِبْتُ الْمَاءَ إِلَّا حَارًّا

Artinya : “Seandainya air yang dingin (dapat) merusak sesuatu dari kewibawaanku (kehormatanku) maka saya tidak akan minum air kecuali yang panas.”[12]

  • Berteman dengan orang-orang yang telah dikenal sebagai miftâhul-khair

Ketahuilah! Hewan-hewan saja bisa memberikan pengaruh terhadap watak seseorang, jika dia sering bersamanya. Padahal hewan-hewan tersebut tidak bisa berbicara. Apalagi jika yang sering bersamanya adalah orang-orang yang bisa berbicara, tentu pengaruhnya akan semakin besar. Janganlah malu mendekati miftâhul-khair meski umur kita masih terlalu muda! Begitu pula orang yang sudah diberi hidayah oleh Allah sebagai miftâhul-khair, janganlah gengsi bergaul dengan yang lebih muda. Bisa jadi kebaikan-kebaikan “mengalir” melalui yang lebih muda.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkata,

الْفَخْرُ وَ الْخُيَلَاءُ فِي الْفَدَّادِيْنَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَ السَّكِيْنَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

Artinya : “Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada pengembala-pengembala (yang meninggikan suaranya terhadap hewan-hewan) dari kalangan pengembala-pengembala unta. Sedangkan ketenangan terdapat pada pengembala kambing”[13]

  • Hikmah dalam berdakwah

Allah ta’ala berfirman:

Artinya: “Berdakwahlah ke jalan Rab-mu dengan berhikmah dan nasihat yang baik. Serta debatlah mereka dengan yang lebih baik.” (QS An-Nahl: 125)

Al-Ustâdz Abdullah Zaen hafidzhahullâh telah menulis buku khusus dalam permasalahan ini. Silahkan merujuknya.[14]

  • Berlemah lembut terhadap yang lain

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkata,

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari kelemah-lembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan.”[15]

  • Sabar

Menjadi miftâhul-khair tidaklah mudah. Tentu ada saja hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan baik dari dalam diri kita sendiri ataupun dari orang lain. Perjuangan dakwah kita belumlah seberapa bila dibanding para Nabi ‘alaihimush-shalâtu wassalâm. Rasululullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Saad bin Abi Waqqâsh radhiallâhu ‘anhu

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

Artinya: “Ya Rasulullah! Manusia manakah yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keberagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar keberagamaannya.”[16]

  • Banyak berdoa

Jangan lupa banyak berdoa kepada Allah agar dijadikan miftâhul-khair dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita di waktu-waktu yang mustajab. Hal ini banyak dilupakan oleh kebanyakan orang.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk semua. Billâhit-taufîq walhamdulillâh.


[1] Lihat Syarh Sunan Ibn Mâjah li As-Sindi dan li As-Suyûthi

[2] Lihat Shifâtullah  ‘Azza wa jalla Al-Wâridah fil-Kitâb was-Sunnah li As-Seggâf Hal. 270

[3] Hâdil-arwâh hal. 39. Beirut: Dârul-kutub Al-‘ilmiyah

[4]Ceramah umum beliau di Universitas Islam Madinah yang berjudul ‘Kaifa takûnu miftâhan lilkhair?‘. Jazâhullah khairan.

[5] Siyar A’lâm An-Nubalâ’ tentang Imam Malik rahimahullah

[6] Diriwayatkan oleh Ath-Thabrâni dari hadis Ibnu ‘Umar dengan lafaz, “Bahwasanya seseorang mendatangi Rasululah shallallahu ‘alahi wa sallam. Kemudian dia bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai oleh Allah? Dan Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pun menjawab, ‘Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat di antara mereka. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada seorang muslim, engkau menghilangkan kesusahan dari dirinya, engkau membayarkan hutangnya, atau engkau menghilangkan kelaparan darinya. Berjalan bersama saudaraku untuk suatu keperluan, lebih  saya sukai daripada ber-i’tikaf di masjid ini –yaitu masjid nabawi- selama sebulan. Barang siapa yang menahan marahnya, maka Allah akan menutupi auratnya. Barang siapa yang mengekang marahnya, walaupun sebenarnya dia mampu untuk melampiaskan, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mengisi hatinya dengan keamanan pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk suatu keperluan sampai saudaranya mendapatkannya, maka Allah akan menetapkan kakinya di atas Ash-Shirat (jembatan) di hari banyak orang-orang terpeleset di atasnya.”

Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13646 (12/453), Al-Mu’jam Al-Ausath no. 6026 (6/139-140), Al-Mu’jam Ash-Shaghir no. 861 hal. 106, dan di Al-Ausath juga diriwayatkan dari hadis Jabir no. 5787 (6/58), dangan lafaz, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia.”

Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 906 (2/573), dan no. 426 (1/787), dan di Shahihul-Jami’ no. 4289 dan di Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2623.

[7] HR Ibnu Mâjah No. 241 dan Ibnu Khuzaimah No. 2495. Di-shahîh-kan oleh Syaikh Al-Albâni di At-Ta’lîq (1/58), Ahkâmul-janâ’iz Hal. 176 dan Ar-Raudh hal. 1013

[8] Jâmi’ bayan al-‘ilmi wa fadhlihi jilid I hal 111. Dâr Ibnil-Jauzi

[9] Syaikh Ibrâhim Ar-Ruhaili telah menulis buku berjudul ‘Tajrîdul-ittibâ’ fi bayâni asbâb tafâdhulil-a’mâl‘. Silakan merujuknya.

[10]Judul bukunya Manhajul-anbiyâ’ fid-da’wah ilallâh fîhi alhikmah wal-‘aql’

[11] Murû’ah adalah kehormatan atau citra diri atau sesuatu yang sudah sepantasnya ada pada seseorang,  sebagai contoh: Di suatu  daerah sesuatu yang aib sekali jika seorang thalibul-ilmi shalat dengan memakai celana, maka untuk menjaga murû’ah-nya dia shalat dengan memakai sarung. Hukumnya kembali kepada adat masing-masing daerah.

[12] Manâqib Asy-Syafî li-Ar-Râzy hal 85 dinukil dari Ma’âlim fî tharîq thalabil’ilm hal 166

[13] HR Al-Bukhâri  No. 3499 dan Muslim No. 187. Ahlul-wabar dapat diartikan orang-orang pedalaman (baduwi) karena rumah-rumah mereka dulunya terbuat dari al-wabr atau bulu. Adapun makna hadits di atas penulis ambilkan dari Syarh Shahih Muslim li An-Nawawi

[14] Judul bukunya ’14 CONTOH PRAKTEK HIKMAH DALAM BERDAKWAH’

[15] HR Muslim  No. 2592

[16] HR At-Tirmidzi No. 2398 dan Ibnu Mâjah No. 4523

Download Menjadi Kunci kebaikan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: