Skip to content

Pembagian Tauhid

28 January 2010

Oleh : Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.

1.Tauhid Rububiyah

Pengertian tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan keyakinan bahwa Dialah satu-satunya Pencipta, Penguasa, Pengatur segala urusan alam semesta.

Dalam bagian tauhid yang satu ini, seluruh manusia dari anak cucu Adam, tidak ada yang mengingkarinya kecuali hanya sebagian kecil dan sangat jarang. Bahkan hati manusia telah diberikan fitrah agar mengakui dan meyakini (bahwa Dia-lah Tuhan sekalian alam) melebihi keyakinannya kepada selain-Nya (yang ada di dalam alam semesta ini).

Akan tetapi bagian tauhid ini belum memadai atau mencukupi untuk menjadikan seseorang sebagai orang yang bertauhid di hadapan Tuhannya, kecuali setelah Allah memberikannya hidayah kepada dua bagian tauhid lainnya, yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid asma` wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya).

Hal ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan kepada manusia melalui kitab-Nya, bahwa kaum musyrikin juga mengakui dan meyakini bagian tauhid rububiyah ini. Akan tetapi, keyakinan dan pengakuan mereka tersebut sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, dikarenakan mereka belum mengesakan Allah dalam ibadah, (yaitu pengertian dari tauhid Uluhiyah).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Kalaulah bagian tauhid ini (tauhid rububiyah) dapat menyelamatkan manusia dengan sendirinya, maka akan selamat pulalah kaum musyrikin. Oleh karena itu, tauhid uluhiyahlah yang menjadi pembeda dan pemisah antara kaum musyrikin dan kaum muwwahhidin (kaum yang bertauhid)” [Madaarijus Salikiin (1/324)].

2. Tauhid Uluhiyah

Pengertian tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, maka tidak boleh (haram) seorang hamba mendirikan shalat, berdoa, berkorban (menyembelih hewan) kecuali hanya untuk Allah, dan tidak pula thawaf kecuali di rumah-Nya (ka`bah), dan tidak pula ber-istighatsah kepada orang yang telah meninggal (mayat) dan kepada sesuatu yang gha’ib, dan tidak pula bertawakkal kecuali hanya kepada Sang Pemilik segala urusan dan ciptaan, Zat yang mempunyai sifat uluhiyah, yaitu (sifat yang merupakan bagian dari) sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.

Oleh karena itu, tidak boleh (haram) bagi seorang hamba menyerahkan apapun dari jenis ibadahnya kepada selain Allah. Hanya Allah yang berhak memiliki (ibadah hamba-Nya), adapun selain-Nya (maka tidak berhak sedikitpun). Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi misi dakwah semua rasul Allah,

Allah berfirman:

Artinya : ”Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS An-Nahl : 36)

Artinya : ”Katakanlah: “Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS Az-Zumar : 11)

Seluruh rasul (yang Allah utus kemuka bumi ini), memulai dakwah terhadap kaum mereka dengan perintah untuk mengesakan Allah dalam segala ibadah, (yaitu pengertian dari tauhid Uluhiyah). Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Soleh dan Syu`aib :

Artinya : “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS Al-A’raf : 85, 65, 73 dan 85)

Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersyahadat bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maksud syahadat di hadis tersebut yaitu sehingga mereka bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, kemudian mengesakan-Nya dalam ibadah, dan bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya yang wajib untuk diikuti (ajarannya).

Oleh karena itu, para rasul menjadikan bagian tauhid ini sebagai misi dakwah mereka, karena bagian tauhid ini adalah bagian paling asas (pondasi) yang akan dibangun di atasnya  seluruh bagian dari amal ibadah, maka tanpa menguatkan dan memperkokoh asas (pondasi)  tersebut tidak akan sah seluruh amalan (yang dikerjakan oleh seorang hamba). Oleh karena itu, jika tauhid ini belum terwujud maka akan muncul lawan dari tauhid tersebut, yaitu syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.”

(QS An-Nisa’ : 48 dan 117)

Artinya: ”Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.” (QS Al-An’am :88)

Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi kewajiban yang paling pertama bagi seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Artinya : ”Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,” (QS Al-An’am : 151)

3. Tauhid Asma` wa Shifat

Pengertian tauhid asma` wa shifat adalah iman terhadap seluruh nama dan sifat yang telah Allah tetapkan atas dirinya, dengan tidak men-tasybih-kan (menyerupakan dengan makhluk), men-tamtsil-kan (membuat permisalan dengan makhluk), men-ta`thil-kan (meniadakan sifat), men-tahrif-kan (mengubah huruf atau makna), dan tidak pula men-takyif-kan (menggambarkan bentuk) nama dan sifat yang dimiliki oleh Allah tersebut. Dialah Allah yang memiliki nama dan sifat-Nya yang mulia dan sempurna, Yang Maha Suci dari sifat kekurangan dan penyerupaan (dengan makhluk-Nya) dan tidak ada pula yang mampu menandingi kemuliaan-Nya.

Oleh karena itu, wajib bagi seorang muslimin menetapkan seluruh apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya yang tedapat dalam Al-Qur’an atau melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Artinya : “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS Al-A’raf : 180)

Jadi, seorang muslim menetapkan seluruh nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifatnya yang mulia bagi Allah sesuai dengan yang telah Allah tetap bagi diri-Nya. Dan dia mengenal-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat tersebut.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Pengetahuan tentang zat (Allah) serta seluruh sifat dan perbuatan-Nya, akan mendatangkan ilmu (pengetahuan) terhadap  hal selain-Nya. Oleh karena itu, secara zat-Nya, Dialah Tuhan sekalian alam dan Penguasanya, maka  ilmu (pengetahuan) ini merupakan asal dari setiap ilmu lainnya. Jadi, barang siapa mengenal Allah maka ia akan mengetahui selain-Nya, dan barang siapa yang bodoh terhadap Tuhannya maka dia akan lebih bodoh lagi dengan hal selain Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Artinya : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.” (QS Al-Hasyr : 19)

Renungilah ayat ini, maka akan kamu dapati makna yang sangat mulia dan agung, yaitu sesungguhnya barangsiapa yang lupa kepada Tuhannya maka dia telah melupakan zat dan dirinya sendiri, serta dia belum mengetahui hakikat dirinya dan maslahat-maslahat (bagi dirinya sendiri), bahkan ia lupa dimana letak kebaikan dan keberhasilan bagi dirinya dalam kehidupannya di dunia ini dan di tempat ia akan kembali kelak. Sehingga ia menjadi orang mu`aththil (orang yang meniadakan nama dan sifat Allah) yang hina, yang derajatnya sama dengan hewan-hewan ternak. Bahkan bisa jadi hewan-hewan tersebut lebih mengetahui maslahat-maslahatnya (dari orang tersebut)……dan maksud bahwa ilmu (pengetahuan) terhadap Allah merupakan asal mula seluruh ilmu adalah ilmu terhadap Allah tersebut merupakan asal mula ilmu seorang hamba terhadap hal-hal yang mampu memberikan kebahagiaan, kesempurnaan dan manfaat bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat kelak……..” [ Miftaahu daaris sa`aadah (1/86) ].

Dan beliau juga berkata, ”Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah yang beribadah dengan segala nama dan sifat  yang diketahui oleh manusia” [ Madaarijus Saalikiin (1/420) ].

Pengetahuan seorang hamba terhadap Tuhannya akan mewariskan sifat malu kepada hamba tersebut yang datangnya dari Allah, dan juga kecintaan kepada-Nya, serta hati yang selalu terikat  kepada-Nya, kerinduan dengan perjumpaan-Nya, kesenangan kepada-Nya, selalu taubat kepada-Nya, takut kepada-Nya dan berserah diri menuju kepada-Nya.

Manusia berbeda-beda dalam mengenal Allah. Tidak ada yang mengenalnya kecuali orang-orang yang Allah kenalkan diri-Nya kepada mereka dan (orang-orang) yang Allah bukakan hati-hati mereka untuk mengenal apa-apa yang tersembunyi dari selain diri mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Kecintaan dan kerinduan tergantung pada  ilmu dan pengetahuan terhadap-Nya. Sejauh mana ilmu terhadap-Nya bertambah, maka sejauh itu pulalah kecintaan kepada-Nya akan bertambah sempurna…Barang siapa yang lebih mengenal Allah beserta seluruh nama dan sifat-Nya maka ia akan semakin lebih cinta kepada-Nya dan semakin sempurna pula kenikmatan untuk sampai pada-Nya, berhadapan dengan-Nya serta melihat wajahnya dan mendengar perkataan-Nya…

(Jadi kesimpulannya adalah) letak kesempurnaan seorang hamba adalah dalam dua kekuatan ini: ilmu dan cinta, maka ilmu yang paling utama adalah ilmu (pengetahuan) kepada Allah dan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya dan kenikmatan yang paling sempurna adalah kenikmatan yang disebabkan oleh keduanya (ilmu dan cinta). Wallahu musta’an.” [ Al-Fawaid (hlm : 70) ]

Malik bin dinar rahimahullah berkata, “(Ada sebagian) penghuni dunia keluar (meninggalkan) dunia yang ia tempati, akan tetapi ia belum pernah merasakan sesuatu yang paling indah di dalamnya. maka sebagian orang bertanya, “Apakah itu Ya Abu Yahya?” Ia berkata, “ma`rifatullah (Mengenal Allah) `azza wa jalla ” [ Al-Hilyah li Abii na`iim (156-57)]

Dan apabila Anda menelaah kitabullah, maka hampir keseluruhan ayat -yang terdapat di dalamnya- diakhiri dengan tadzkir (penyebutan) sebagian dari nama-nama Allah `azza wa jalla atau sebagian dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Seperti beberapa firman Allah di bawah ini:

Artinya : “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS Al-Hujurat : 14)

Artinya :“Dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Fath : 4)

Artinya : “Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah : 235)

Artinya : “Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS At-Taghabun : 6)

Seluruh yang terdapat dalam ayat ini yang berupa nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia akan memberikan pengaruh di dalam hati seorang yang  mengetahuinya, sehingga Allah (akan senantiasa) mengawasinya dalam segala urusannya. Dengan demikian, sempurnalah kecintaan, ketakutannya, dan pengharapannya kepada Allah.

Oleh karena itu ketika Nuh `alaihissalam mendakwahi kaumnya, tetapi mereka (kaum Nuh) tidak memenuhi dakwahnya karena beliau mengetahui bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan terhadap kebesaran Allah.

Artinya : “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh : 13)

Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Apakah yang menyebabkan kalian tidak memuliakan Allah dengan memberikan hak-Nya yang mulia sebagaimana mestinya?” Sesungguhnya apabila makhluk memuliakan Allah maka mereka pasti tidak akan berbuat syirik kepada selain Allah, karena seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Jadi, bagaimana bisa mereka   berlindung kepada selain-Nya?! dan segala bentuk keburukan akan tertolak dari mereka dikarenakan kekuatan, keperkasaan dan kekuasaan-Nya. Bagaimana bisa mereka percaya kepada selain Allah?

Apabila makhluk memuliakan Tuhan mereka, maka akan hadir perasaan takut kepada-Nya dari dalam hati mereka sehingga tidak akan didapati dari mereka yang berbuat kemaksiatan. Perasaan takut itulah yang menghalanginya dari hal-hal yang menyebabkan kemarahan Allah. Oleh karena itu, tidaklah seseorang berbuat maksiat kepada Allah kecuali dia itu termasuk orang-orag yang tidak mengagungkan-Nya sebagaimana mestinya.

Dari Abul-‘Aliah, dia berkata, “Dulu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seluruh perbuatan dosa yang dilakukan seorang hamba adalah akibat kebodohannya.” Maksud kebodohan di sini adalah kebodohan tentang Allah. Ini menunjukkan pemahaman sahabat radhiallahu ‘anhum ajma`iin tentang kitabullah azza wa jalla. … Oleh karena itu, Nabi Yusuf berkata,

Artinya : “Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu Aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah Aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf : 33)

Maka atas dasar ini semua, seorang hamba memiliki kewajiban agar tidak mengurangi sedikitpun dari hak Tuhannya, dan dia juga harus mengetahui bahwa setiap kali ia memuliakan hak Allah maka ia juga akan dimuliakan di mata Allah, dan ia akan menjadi manusia yang paling bahagia di daarain (dunia dan akhirat).

Artinya : “Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur :55)

و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين,

وصلى الله و سلم على نبينا محمد و على أصحا به أجمعين.

(Bagian kedua dari kitab ‘Adzhdzhimuu Haqqallaahi Tuflihuu ‘Ibadallah‘ yang disusun oleh Suha ‘Adil Hasan Da’waji dan diterjemahkan oleh Abu Ahmad Said Yai. Mudahan bermanfaat)

Download Bagian kedua kitab Adzhdzhimuu Haqqallaahi Tuflihuu ‘Ibadallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: