Skip to content

PERANG BADAR, AWAL KEMENANGAN

28 February 2010

Oleh: Abdurrahman Muttaqin (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. ( Ali Imran : 123)

SEBAB PEPERANGAN

Ketika Nabi Muhammad mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan pulang dari negeri Syam, beliau bermaksud menghadangnya (karena kafilah dagang Quraisy yang pulang dari Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah, karena letak kota Madinah diantara Syam dan Mekkah). Maka Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk bersiap-siap menghadang kafilah itu. Beliau berkata :”Sesungguhnya aku telah dikabari (oleh mata-mata beliau), bahwa kafilah dagang Abu Sufyan akan tiba melewati Madinah. Apakah kalian mau keluar untuk menghadang kafilah ini?” para sahabat yang penuh kepatuhan dan kecintaan berkata :”Ya!”. Maka Rasulullah pun keluar bersama para sahabat. Dan dalam hal ini beliau tidak memaksa setiap sahabatnya untuk ikut serta, Rasul hanya mensyaratkan bahwa siapa saja yang mempunyai tunggangan dan siap digunakan, agar bisa bergabung. Maka berkumpulah tak kurang dari 313 sahabat dari Muhajirin dan Anshar dan bersama mereka 2 ekor kuda saja dan  70 ekor unta yang dinaiki bergantian satu unta untuk tiga orang, karena mereka hanya bermaksud menghadang saja bukan untuk berperang.

Abu Sufyan dalam sikap waspada karena penghadangan kafilah sering terjadi. Maka dia menanyai setiap orang yang berpapasan dengannya tentang apa yang dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ketika dia diberi tahu bahwa Nabi Muhammad dan sahabatnya bergerak untuk menghadangnya, dia mengirim utusan menuju Mekkah untuk mengabarkan hal yang genting ini dan meminta bantuan untuk menghadapi Nabi Muhammad.

PASUKAN KESYIRIKAN DATANG

Maka keluarlah kaum Musyrikin Quraisy dengan congkaknya. Mereka berkekuatan 1000 orang personel dengan persenjataan lengkap berbeda dengan pasukan Muslimin yang hanya berjumlah 313 orang saja dengan persiapan apa adanya. Tapi setelah mereka keluar, muncul rasa khawatir dalam diri mereka bahwa Bani Bakr yang merupakan musuh mereka akan menyerang Mekkah karena pertahanan mereka di Mekkah melemah dikarenakan sebagian besar mereka keluar untuk berperang. Tapi memang sudang menjadi Sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam akan tolong menolong dalam permusuhan dengan umat Islam, saat itu pula Iblis terlaknat menjelma sebagai sosok Suraqah bin Malik Al-Madlaji, pembesar Bani Kinanah dan menemui mereka dan berkata :”Sesungguhnya aku adalah tetangga kalian, kami tidak akan keluar dari belakang kalian dengan sesuatu yang kalian benci (yaitu tidak ada penyerangan terhadap kalian)”. Maka menjadi tenang dan mantaplah mereka untuk terus maju menuju pasukan Nabi Muhammad.

Setelah itu tibalah utusan dari Abu Sufyan mengabarkan bahwa Abu Sufyan beserta kafilahnya selamat karena mereka menghindari hadangan dengan melewati pesisir pantai dan meminta para pasukan untuk kembali ke Mekkah. Tapi berkata Abu Jahal dengan congkaknya:”Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga kita telah sampai di Badar, kita akan bermalam disana selama tiga hari(untuk berpesta), kita disana akan menyembelih unta dan kita akan makan-makan, juga meminum khamr, dan mendengar nyanyian para budak-budak wanita, dan bangsa Arab akan mendengar apa yang kami perbuat dan apa yang kami kumpulkan(dari pasukan yang besar), dan mereka(bangsa Arab) akan menyegani kita selamanya”.

MASA-MASA YANG SULIT

Dan telah sampai kabar kepada Rasulullah bahwa kaum Musyrikin Quraisy dengan jumlah yang besar dan bersenjatakan lengkap sedang menuju Badar untuk menghadapi beliau dan para sahabatnya. Maka beliau pun meminta pendapat para sahabatnya. Dan diantara mereka ada yang takut berhadapan dengan pasukan Musyrikin Quraisy dikarenakan Pasukan Muslimin belum siap untuk itu, karena memang mereka keluar hanya bermaksud menghadang kafilah saja bukan untuk sebuah pertempuran besar. Maka berkatalah para pembesar kaum Muhajirin seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin Amr mendukung usulan untuk menghadapi pasukan Musyrikin Quraisy. Berkata Miqdad bin Amr;”Demi Allah, kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israel berkata kepada Nabi Musa “Maka pergilah kamu hai Musa dan tuhanmu untuk berperang, sesungguhnya kami duduk-duduk saja disini” akan tetapi kami katakan “Pergilah wahai Rasul dan tuhanmu untuk berperang, sesungguhnya kami akan bersama kalian untuk berperang”. Kemudian Nabi meminta pendapat dari kaum Anshar yang mana mereka adalah personel yang paling banyak didalam pasukan Muslimin. Maka berkatalah Sa’ad bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:”Seolah-olah engkau sedang menawari kami (untuk berperang menghadapi Musyrikin Quraisy) ya Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau meminta kami untuk menunjukkan sebuah lautan, kemudian engkau menyebranginya, maka kami pun benar-benar akan menyebranginya bersamamu tanpa ada seorang pun dari kami yang tertinggal, dan kami tidak akan benci untuk bertemu musuh kami besok. Kami benar-benar bersabar didalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Mudah-mudahan Allah akan  memperlihatkan kepadamu sesuatu dari kami yang bisa menenangkan matamu. Maka majulah bersama kami atas berkah Allah”. Maka menjadi mantap dan tenanglahlah hati Rasulullah dikarenakan kerelaan kaum Muslimin untuk berjuang bersama beliau.

YA ALLAH, BINASAKANLAH MEREKA PAGI INI

Sampailah pasukan Muslimin di Badar dan memilih tempat yang dekat dengan sumber air atas usulan sahabat Al-Khabab bin Al-Mundzir. Sampailah juga pasukan kemusyrikan dari Quraisy di Badar. Kaum Muslimin kemudian membuat kemah untuk menjadi markas komando bagi Rasulullah.

Pada waktu pagi hari bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan yang penuh berkah tahun kedua Hijriyyah, berhadap-hadapanlah kedua pasukan. Maka berdoalah Rasulullah ketika itu,”Ya Allah, orang-orang Quraisy itu benar-benar telah siap untuk berhadapan diiringi kuda-kuda dan sikap congkak mereka dalam keadaan menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, aku mohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka pagi ini.

Sebelum pertempuran dimulai, keluarlah tiga orang dari Musyrikin  Quraisy menantang kaum Muslimin untuk duel satu lawan satu, mereka adalah Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya Syaibah, serta Al-Walid bin Utbah. Maka keluarlah tiga orang Anshar untuk menghadapi mereka. Tapi ketiga Musyrikin itu menolak dan meminta dari kalangan mereka sajalah yang berhak menghadapi mereka yaitu dari kaum Muhajirin Quraisy. Maka keluarlah tiga pahlawan muhajirin yaitu Ali bin Abi Thalib, Hamzah singa Allah, serta Ubaidah bin Al-Harist. Maka dengan mudah Ali membunuh Syaibah, Hamzah membunuh Utbah, dan Ubaidah dan A-Walid saling melukai sampai kemudian Ali dan Hamzah membunuh Al-Walid.

Setelah melihat ketiga jagoan mereka takluk ditangan pahlawan Islam, menjadi kalaplah pasukan Musyrikin. Mereka mulai maju menyerang pasukan Muslimin. Di lain tempat, Rasulullah memberi instruksi kepada pasukannya dan membakar semangat mereka untuk bertempur. Setelah itu beliau bersabda mengomando para sahabatnya untuk maju:” Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi !!” . Ketika mendengar hal yang demikian, Umair bin Al- Humam dari Anshar bertanya memastikan:”Ya Rasulullah, apakah surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”. Rasul bersabda:”Ya”. Maka Umair berkata: ”Bakhin, bakhin (perkataan yang diucapkan orang Arab ketika merasa takjub terhadap sesuatu)”, maka Rasul bertanya:”Apa yang mendorongmu berkata demikian?”, jawab Umair:”Tidak apa-apa, demi Allah ya Rasulullah, kecuali aku menginginkan menjadi penghuninya”. Rasul bersabda:”Kamu termasuk penghuninya”, maka menjadi terpaculah Umair untuk bertempur dan pada pertempuran ini Umair  terbunuh dan mendapatkan apa yang dia inginkan.

DAN API PERTEMPURAN PUN BERKOBAR

Maka berkecamuklah pertempuran dengan dahsyatnya antara kaum Muslimin yang berjumlah 313 orang saja berbekal keimanan dan ketakwaan melawan kaum Musyrikin walaupun peralatan dan jumlah mereka kalah jauh dibanding kaum Musyrikin yang berkekuatan tiga kali lipat. Tapi kaum Musyrikin kewalahan melawan kaum Muslimin walau jumlah mereka lebih banyak. Dalam perang ini Rasulullah tidak hanya diam melihat jalannya pertempuran, tapi beliau ikut terjun langsung ke medan pertempuran sebagaimana yang dikabarkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib:”Sesungguhnya kita bertempur dalam perang Badar, dan kita berlindung dibalik Rasulullah yang mana beliau lebih dekat jaraknya dengan pasukan  musuh. Dan ketika itu beliau adalah orang yang paling dahsyat bertempurnya”

TENTARA DARI LANGIT

Dalam pertempuran ini Allah menurunkan pertolongan kepada pasukan Muslimin sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa ketika salah seorang pasukan Muslimin mengejar salah seorang pasukan Musyrikin, dia mendengar dari arah atas suara lecutan cambuk dan suara penunggang kuda yang berkata;”Majulah Khaizum (nama kuda malaikat)” maka tiba-tiba jatuhlah orang musyrik tersebut dan terlihat hidungnya terpotong dan wajahnya hancur seperti terkena lecutan cambuk, maka orang tersebut mengabarkannya kepada Rasulullah, ,maka bersabda Rasulullah:”Engkau benar, itu adalah bantuan dari langit ketiga”. Selain itu malaikat-malaikat memenggal kepala-kepala kaum Musyrikin. Maka terlemparlah kepala-kepala mereka tanpa tahu siapa yang memenggalnya. Itulah pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.

Maka menjadi terkocar-kacirlah barisan kaum Musyrikin dan semakin tampaklah kekalahan mereka. Dan pada pertempuran ini terbunuhlah para musuh-musuh Allah seperti Abu Jahal yang disebut Nabi “Firaunnya umat ini”, Umayyah bin Khalaf, serta Al-Ash bin Hisyam bin Mughirah. Dan  terbunuh dalam pertempuran ini 70 orang dari barisan Musyrikin dan 70 orang tertawan. Sedangkan dari pihak Muslimin gugur 14 orang sahabat, 6 orang dari Muhajirin dan 8 orang dari Anshar.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI PERISTIWA INI

1. Bahwa penghadangan Rasulullah terhadap kafilah dagang Quraisy bukanlah perampokan akan tetapi merupakan permintaan kembali hak-hak kaum Muslimin yang dirampas kaum Musyrikin ketika berhijrah. Bahkan penganiyaan kaum Musyrikin terhadap kaum Muslimin tak sebanding dengan harta yang dibawa Abu Sufyan.

2. Bahwa sebenarnya kaum Musyrikin mengetahui adanya Allah sebagai pencipta, sebagaimana sumpah Abu Jahal dengan nama Allah ketika berangkat berperang. Akan tetapi mereka menyekutukan Allah dengan menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan dan tempat meminta.

3. Bahwa perang ini merupakan perang besar pertama dan menentukan keberadaan kaum Muslimin selanjutnya, sebagaimana doa Rasul sebelum perang dimulai:” Ya Allah, jika Engkau menghancurkan kelompok ini (yakni kaum Muslimin), maka engkau tak akan lagi disembah untuk selama lamanya”.

4. Allah akan membantu hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya, dan memberi kemenangan walau pun jumlah dan persenjataan kaum Muslimin sangat minim, seperti turunnya Malaikat diturunkan untuk membantu kaum Muslimin.

5.  setelah kita melihat beratnya perjuangan Rasul dan para sahabatnya dalam membela agama Allah, maka selayaknya kita sebagai penerus umat Islam juga berjuang membela agama ini dengan mengamalkan perintah Allah serta perintah Rasul-Nya, dan  menjaga agama ini dari noda-noda syirik dan hal-hal yang baru yang tidak ada tuntunannya dari Rasul. Dal hal itu juga merupakan bentuk penghargaan kita kepada mereka.

Download PERANG BADAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: