Skip to content

Sunnah yang Dilupakan dalam Shalat ‘Bershaf bagaikan Shaf Malaikat’

1 March 2010

Oleh: Tanzilul Furqan (Eks Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)

Para pembaca yang dirahmati Alloh pada edisi kali ini akan dibahas topik yang  berkaitan erat dengan shalat berjama’ah, yaitu merapatkan dan meluruskan shaf shalat.

Mengapa permasalahan ini dibahas?

Ada beberapa alasan mengupas masalah ini, di antaranya :

A. Asingnya syariat yang agung ini.

Fakta nyata di masyarakat kita sekarang budaya merenggangkan shaf , mereka tidak berdiri kecuali di atas sajadahnya masing-masing, merasa risih dan aneh bila saudaranya menempelkan kakinya. Tidak sedikit menimbulkan kesalahpahaman yang mengarah kepada kebencian dan tindakan kekerasan bahkan pernah diceritakan di suatu daerah terjadi pemukulan terhadap seseorang yang menempelkan kakinya pada kaki saudaranya yang berdiri di sebelahnya dalam shalat karena dianggap banci, ya Subhanallah!!! Kita mengadu kepada Alloh dari keterasingan melaksanakan syari’at yang mulia ini.. Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan menuturkan apa yang terjadi di zamannya. Beliau berkata, “Sunnah yang shahih dan jelas ini pada zaman sekarang bahkan sejak masa yang lalu telah terabaikan, seakan seperti syari’at yang telah dihapus, sehingga hampir tidak dijumpai dalam shalat atau masjid … Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (As-Siraj Wahhaj 2/292)

B. Membendung salah kaprah sejak dini.

Bila kekeliruan  ini tidak diluruskan, akan dianggap sebagai suatu tuntunan yang ditiru oleh anak-anak kita dan orang-orang awam dari generasi ke generasi.

C. Mulia dengan sunnah.

Islam itu indah dan mulia, semakin dikenal dan diterapkan ajarannya akan semakin tampak keindahannya, Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam. Umat Islam akan memiliki izzah dan percaya diri bila berada di atas sunnah..   Amirul Mu’minin Umar bin Khattab mengungkapkan rasa bangganya,“Kami orang yang rendah lagi hina – tanpa Islam, lantas Alloh memuliakan kami dengan Islam. Maka jika kami mencari kemuliaan kepada selain Islam pasti Alloh akan merendahkan kami” ( lihat Tabsiratul Anam bi Al-Huquq fi Al-Islam- Shaleh bin Thaha Abdul wahid hal 207).

Shaf  Para Malaikat

* Alloh berfirman,”Dan sesungguhnya kami (para malaikat) benar-benar bershaf-shaf.” (As-Shaffat : 165).

Berkata Qatadah,” Para malaikat bershaf-shaf di langit.” (Tafsir Ibnu Katsir : 7/ 5).

Bagaimana Malaikat bershaf ?.Jabir bin Samurah menuturkan pada suatu hari Rasulullah pernah keluar kepada kami seraya berkata, “Apakah kalian tidak ingin bershaf seperti shafnya para malaikat di sisi Rabb mereka?” Kami bertanya, “Ya, Rasulullah lantas bagaimana sifat shaf para malaikat di sisi Rabb mereka?” Beliau menjawab. “Mereka menyempurnakan shaf yang pertama dan rapat di dalam shaf .” (HR.Muslim hadits no,430. lihat juga Abu Dawud (661), An-Nasa’i (815), Ibnu Majah (992), dan Imam Ahmad di dalam musnadnya juz 2 / 95).

Shaf  Shalat Ciri Keistimewaan Umat Islam

Saudaraku rahimakumullah, ketahuilah bahwa shaf dalam shalat merupakan kekhususan yang Alloh anugerahkan kepada umat ini, karena dengan demikian mereka menyerupai shaf para malaikat di langit.

* Dari Khudzaifah Ia berkata bahwa telah bersabda Rasulullah,“Kita diistimewakan dari umat lainnya dengan tiga perkara : Shaf kita dijadikan bagaikan shaf malaikat …” (Di keluarkan Imam Muslim di dalam kitab shahihnya, kitab Al-Imamah, juz 2, hal 43. Albani membawakan di dalam Shahih An-Nasa’i juz 1 hal 178 beliau berkata shahih).

* Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Nadhrah, ia berkata,”Adalah Umar apabila telah dikumandangkan iqomat, maka beliau menghadap manusia seraya berkata,”Rapat dan luruskan shaf-shaf kalian!. Sesungguhnya Allah menginginkan agar kalian meniru sifat shafnya malaikat, sambil membaca ayat, “Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf”. Mundurlah wahai fulan dan majulah wahai fulan”. Kemudian beliau maju bertakbir.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 7, hal 43).

Perintah Merapikan Shaf

Banyak sekali hadits yang menunjukkan perintah menegakkan sunnah ini, di antaranya :

* Dari Anas Rasulullah bersabda, “Rapatkanlah shaf kalian, mendekatlah antara sesama dan sejajarkanlah bahu-bahu. Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya saya melihat setan masuk dari sela-sela shaf seperti kambing hitam kecil.” (HR. Abu Dawud no 667, dishahihkan syaikh Al-Bani di dalam Shahih Abu Daud 3 / 245)

* Dari Anas ia berkata telah bersabda Rasulullah , “Rapikanlah (lurus dan rapat) shaf kalian, sesungguhnya rapinya shaf termasuk menegakkan shalat.” (Bukhari : 723).

* Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata Rasulullah  bersabda, “Rapikanlah shaf dan janganlah berselisih karena itu akan menyebabkan perselisihan hati kalian.”(HR Muslim no. 432)

* Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah  bersabda,”Rapikanlah shaf sejajarkanlah antara bahu, penuhi yang masih kosong (longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian, dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf maka Alloh  akan menyambungnya, dan barang siapa yang memutus shaf maka Alloh  akan memutuskannya.” (HR Abu Dawud no. 666 dan di shahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Dawud 3/243).

Berdasarkan beberapa hadits tersebut, dapat dipahami betapa pentingnya permasalahan ini. Bagaimana tidak, Rasulullah  telah menjelaskan dan menekankan dengan lafadz yang berbeda-beda. Apakah seorang muslim yang jujur dan mengetahui perintah tersebut masih meremehkannya ? Dimanakah nurani umat Islam di dalam mengungkapkan perasaan cintanya kepada Rasulullah? Semoga Alloh  melapangkan kita semua untuk mampu mengikuti sunnah Rasulullah .

Ancaman  kepada Orang yang Tidak Memperhatikan Shaf

Saudaraku, semoga Alloh memberi taufiq kepadaku dan kepadamu Tidak hanya berhenti sampai di situ bahkan Rasulullah  mengancam dengan ancaman yang sangat keras.

Rasulullah bersabda,”Sungguh kalian mau merapikan shaf, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan di antara kalian.” (HR Bukhori no. 717 dan Muslim no. 436)

Imam ash-Shon’ani berkata dalam Subulus Salam 3/84 setelah membawakan beberapa hadits dalam masalah ini,” Hadits-hadits di atas dan ancaman yang terkandung di dalamnya menunjukkan wajibnya merapikan shaf, tetapi sayang masalah ini banyak diremehkan orang.”

Faedah

Al Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i ketika menerangkan firman Alloh  surat Ash Shaf : 4, ”Seakan mereka bagaikan bangunan yang tersusun kokoh .” Beliau menukil perkataan Qotadah,”Tidakkah kalian memperhatikan kepada pemilik bangunan betapa ia tidak ingin bangunannya  tidak selaras ? Maka demikian pula Alloh  senang bila perintahnya selaras. Sesungguhnya Alloh  membariskan (membentuk shaf) orang-orang mukmin ketika mereka berperang dan ketika shalat,. Maka kalian wajib berpegang kepada perintah Alloh karena sesungguhnya yang demikian itu adalah ismah (jaminan terjaga dari kesalahan) bagi siapa saja yang mau mengambilnya”. (Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim, lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 8 hal 81).

Cara Merapikan Shaf

Sesungguhnya para sahabat adalah orang yang paling paham dan paling tahu tentang maksud merapikan shaf .

Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah bersabda,”Rapikanlah shaf-shaf kalian karena sesungguhnya saya dapat melihat kalian dari belakang punggungku. Dan seorang di antara kami merapatkan pundaknya dengan pundak temannya, dan kakinya dengan kaki temannya.” (HR Bukhori 725)

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i berkata dalam Fathul Barri 2/247,”Keterangan ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dipraktikkan pada zaman Nabi. Dengan demikian maka hadits ini dapat dijadikan hujjah untuk menerangkan maksud dari merapikan shaf dan sifatnya”..

Dalam riwayat lain ada tambahan ucapan Anas bin Malik,”Seandainya engkau praktikkan hal itu pada saat ini niscaya engkau akan mendapati seorang dari mereka bagaikan keledai kepanasan.” (lihat Silsilah Al-Ahadits ash Shahihah hal 31).    

Demikianlah fakta yang terpampang di masyarakat kita. Apa yang beliau sabdakan benar-benar terjadi  dan ini merupakan tanda di antara tanda-tanda kenabian beliau.

Beberapa Peringatan Penting Seputar Shaf

  1. Shalat di antara tiang

Abdul Hamid bin Mahmud berkata,”Saya pernah shalat bersama Anas bin Malik, lalu kami terdesak ke tiang, maka kami pun maju dan mundur.” Anas berkata, “Kami dahulu menghindari ini pada zaman Nabi.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Tirmizi, Ibnu Hibban, dengan sanad shahih, lihat As-Shahihah 1/656).

  1. Menarik orang untuk bershaf bersamanya.

Semua hadits tentangnya tidak ada yang shahih, yang benar ia bergabung dengan shaf bila memungkinkan, kalau tidak memungkinkan maka ia shalat sendiri di belakang shaf dan shalatnya shah. (lihat Ad-Dha’ifah 2/322 oleh Al Bani).

Dampak negatif penarikan tersebut di antaranya :

  • Memundurkan seseorang dari tempat yang afdhal
  • Menimbulkan kelonggaran dalam shaf padahal diperintah menutupnya
  • Mengganggu konsentrasi (kekhusu’an)
  • Beribadah tanpa dasar/dalil yang shahih.

( Lihat Taudhihul Ahkam 2 / 509 oleh Syaikh Alu Bassam ).

  1. Posisi imam bila makmum hanya seorang

Termasuk kesalahan jika makmum hanya satu yaitu imam maju sedikit, yang benar posisinya sejajar sebagaimana yang dilakukan Ibnu Abbas ketika shalat bersama Rasulullah. Imam Bukhari membuat bab hadist tersebut.”Bab apabila hanya imam dan makmum, maka makmum berdiri di sebelah kanan imam sejajar.” Tidak maju dan tidak mundur . Lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/223.

  1. Ahlul fadhli yang berhak di shaf paling depan dekat Imam.

Rasulullah bersabda, “Hendaklah yang mengiringi di belakangku di antara kalian adalah orang yang utama dan cerdik cendekia kemudian berikutnya kemudian berikutnya …” (HR. Muslim no, 432).

Imam Nawawi Asy Syafi’I menerangkan “Di dalam hadits ini, mendahulukan orang yang paling utama posisinya dekat Imam, karena ia lebih utama  dihormati, barang kali imam membutuhkannya sebagai pengganti, mengingatkan imam ketika lupa yang tidak bisa dilakukan oleh selainnya, dan agar supaya mereka paham sifat shalat, memelihara, memberitahu, dan mengajarkannya kepada manusia, agar supaya orang-orang yang di belakangnya meneladaninya, maka ia lebih patut didahulukan. (Sharah Shahih Muslim-Imam Nawawi dari hadist no.432 ).

Penutup

Sebagai penutup penulis bawakan himbauan dan nasehat ahli hadits abad ini As-Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Bani kepada kaum muslimin khususnya para imam masjid. “Sesungguhnya saya menghimbau kepada kaum muslimin khususnya para imam masjid yang berupaya mengikuti jejak Nabi dan mengharapkan pahala menghidupkan sunnahnya agar mengamalkan sunnah yang mulia ini dengan penuh usaha dan menyeru manusia untuk melaksanakannya, sehingga mereka selamat dari ancaman (Silsilah Ahadits As-Shahihah 1/73 ).

Semoga bermanfaat.

Download Sunnah yang dilupakan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: