Skip to content

Tanah Sesuci Air

6 March 2010

Oleh: Muhammad Abdul Majid (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)

Rasulullah sholallahu alaihi wasallam mengerjakan sholat,kemudian Beliau melihat seseorang menyingkir dan tidak mengerjakan sholat bersama jamaah.Maka diantara metode dakwah dan kesempurnaan akhlak beliau,bahwa beliau tidak serta merta menghardik atau mencerca seseorang dikarenakan kesalahan yang diperbuat,hingga mengetahui sebab musababnya.Dengan lemah lembut beliau bertanya,”Hai fulan,apa yang menghalangimu untuk sholat bersama jamaah?” Ia menjawab ”Wahai Rasulullah,aku sedang junub dan tidak menemukan air.” Mendengar hal itu beliau bersabda,”Hendaklah engkau menggunakan tanah,karena sesungguhnya itu sudah mencukupimu.”(HR Bukhari dan Muslim)

Pengganti air yang menyucikan

Allah subhanahu wa taala berfirman,”Dan jika kamu junub maka mandilah,dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan,kembali dari tempat buang air(kakus)atau menyentuh perempuan,lalu kamu tidak memperoleh air,maka bertayamumlah dengan tanah yang baik(bersih);sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu…”(QS Al-Maaidah:6). Ayat yang mulia ini memaparkan kepada kita bahwa Allah telah mensyariatkan tata cara bersuci dari hadats kecil dan besar dengan menggunakan air,kemudian Allah jadikan air tersebut suci dan mensucikan.Maka bersuci dengannya merupakan perkara yang wajib selagi kita mampu menggunakannya.Dus,suatu ketika kita dihadapkan pada kondisi dimana air menghilang atau susah didapat,atau air melimpah ruah tetapi kita tidak mampu menggunakannya untuk bersuci dikarenakan beberapa sebab.Disinilah Allah dengan segala rahmat dan kasih sayangnya kepada kita,memberikan solusi terhadap permasalahan diatas dengan mensyariatkan tayamum sebagai pengganti,dan tanah sebagai medianya.Tayamum merupakan kekhususan diantara banyak kekhususan yang Allah peruntukkan untuk umat ini,Allah permudahkan baginya segala urusan,hukum-hukum agama(syariat)dan menjadikan dari segala kesempitan jalan keluar.Rasulullah sholallahu alahi wasallam bersabda,”Aku diberikan lima(kekhususan)yang tidak diberikan seorangpun sebelumku : Aku telah dimenangkan dari musuh dengan(dikirimnya)rasa takut kepda mereka jarak satu bulan,dan bumi seluruhnya telah dijadikan bagiku sebagai masjid(tempat sholat)dan alat bersuci,maka siapapun dari umatku telah mendapati waktu sholat,maka sholatlah.”dalam riwayat yang yang lain :”Maka disitulah masjid dan alat bersucinya.”(HR Bukhari dan Muslim)

Definisi tayamum

Tayamum secara etimologi(bahasa)bermakna al-qashd(menuju).Adapun secara terminologi (tinjauan syariat)tayamum adalah menyengaja menggunakan permukaan tanah untuk bersuci agar menjadi boleh segala yang dibolehkan dengan wudhu dan mandi.

Makna”Ash-shoiid”dalam Al-quran surat Al-Maaidah:6)

Dalam kamus Lisaanul Arab disebutkan :”Ash-shoiid”artinya tanah.Ada yang mengatakan : tanah yang suci.Ada pula yang mengatakan : semua debu yang suci.

Abu Ishaq berkata,”Ash-shoiid adalah permukaan bumi.Diwajibkan bagi orang yang bartayamum untuk menepukkan kedua tangannya pada permukaan bumi.Tanpa memperdulikan apakah pada tempat itu terdapat debu atau tidak.Karena Ash-shoiid bukanlah debu.Ia adalah permukaan bumi.Baik debu atau selainnya.”Beliau melanjutkan,”Seandainya seluruh permukaan tanah adalah batu yang tidak ada debu diatasnya,lalu orang yang hendak bertayamum menepukkan tangannya ke atas batu itu,maka hal itu sudah menjadi penyuci baginya jika ia mengusapkan pada wajahnya.”

Sebab-sebab dibolehkannya tayamum

Tayamum menggantikan kedudukan air sebagai alat bersuci pada beberapa sebab berikut ini ;

1.Ketika tidak ada air,baik pada waktu bepergian maupun bermukim.

2.Orang yang memiliki air,tetapi ia mengkhawatirkan dirinya,teman seperjalanannya atau hewan tunggangannya kehausan jika ia menggunakannya.

Ibnul Mundzir berkata, ”Semua ulama yang kami ketahui bersepakat bahwa musafir yang takut akan keselamatan dirinya karena kehausan,sementara ia memiliki air sekedar untuk bersuci saja,maka ia membiarkan airnya untuk minumnya dan bertayamum.”

Ibnu Qudamah berkata,”Orang yang khawatir akan keselamatan hewan tunggangannya dan khawatir hartanya akan hilang sia-sia,maka keadaannya serupa dengan orang yang menemukan air tapi ia dihadang oleh perampok atau binatang buas yang dikhawatirkannya terhadap keselamatan hewannya atau hartanya.Jika ia merasa kehausan dan khawatir akan kebinasan atas dirinya,maka ia wajib meminumnya dan bertayamum.

3.Jika orang sakit khawatir_bila menggunakan air_sakitnya semakin parah atau memperlambat kesembuhannya.

Jumhur : Abu Hanifah,Malik,Asy-syafii dalam salah satu pendapatnya,dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa tidak disyaratkan kekhawatiran akan kematian sehingga orang yang sakit dibolehkan untuk bertayamum.Bahkan jika wudhu akan menambah sakitnya atau memperlambat kesembuhannya,maka ia boleh bertayamum;berdasarkan keumuman ayat dalam surat Al-Maidah.Dan juga berdasarkan keumuman firman Allah subhanahu wa taala yang artinya,”Allah menghendaki kemudahan bagimu,dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(QS Al-Baqarah:185)

4.Tidak mampu menggunakan air ketika sakit,pada kondisi tidak bisa bergeraknya anggota tubuh untuk berwudhu,dan tidak pula mendapati seorangpun yang mewudhukannya sementara ia takut kehabisan waktu sholat.

5.Jika mengkhawatirkan terhadap dirinya akan dinginnya air,dan tidak terdapat alat yang bisa menghangatkannya.

Tata cara tayamum yang benar

Tata cara tayamum yang benar adalah seperti yang telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah sholallahu alahi wasallam yaitu menepuk tanah dengan kedua tangan sekali tepuk,kemudian meniupnya lalu mengusapkan pada wajah dan kedua telapak tangan.Dari’Ammar bin Yasir ia berkata, ”Aku junub dan tidak memiliki air.Aku lantas berguling-guling diatas tanah lalu sholat.Kuceritakan hal itu kepada Nabi sholallahu alaihi wasallam,lalu beliau bersabda, ”Sesungguhnya,cukuplah kau lakukan begini.Nabi sholallahu alahi wasallam menepukkan kedua telapak tangannya ke atas tanah lalu meniupnya.Kemudian beliau usap dengannya wajah dan kedua telapak tangan beliau.”(HR Muttafaq alaihi,Abu Daud dan An-Nasa-i).Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa tayamum itu dengan dua kali tepukan,satu tepukan untuk wajah dan tepukan yang lain untuk tangan hingga siku,adalah pendapat yang marjuh(tidak kuat atau lemah),hal itu berdasarkan bukti-bukti berikut:

1.Dalil-dalil pendapat ini adalah dhaif(lemah),tidak ada satupun hadits shahih yang marfu’

2.Hukum tayamum dikaitkan dengan tangan secara mutlak,dan lengan tidak termasuk didalamnya,sebagaimana hukum potong tangan bagi pencuri.Sebagai buktinya adalah argumentasi Ibnu abbas tentang penentuan batas pemotongan tangan bagi pencuri yang dinashkan dengan firman Allah subhanahu wa taala tentang tayamum yang artinya,”Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”(QS Al-Maidah:6)

Hal-hal yang membatalkan tayamum

Tayamum batal dengan perkara yang membatalkan wudhu apabila ia sebagai pengganti dari hadats kecil(wudhu), dan batal dengan adanya sebab-sebab yang mewajibkan mandi apabila ia sebagai pengganti mandi besar.Ia juga batal dengan adanya air bagi yang sebelumnya tidak mendapatkan air. Dikatakan juga dengan adanya kemampuan untuk menggunakan air bagi yang sebelumnya tidak mampu. Adapun sholat yang telah dikerjakan maka tetap sah dan tidak wajib diulang. Dari Abu Said Al-khudri ia berkata:”Dua orang laki-laki berada dalam sebuah perjalanan, lalu tibalah waktu sholat, sedangkan mereka tidak memiliki air. Kemudian mereka bertayamum dengan tanah yang suci lalu sholat. Beberapa saat kemudian, mereka menemukan air. Maka salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi sholatnya, sedangkan yang satunya tidak. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah sholallahu alahi wasallam dan menceritakan hal tersebut. Lalu beliau berkata kepada orang yang tidak mengulang shalatnya :”Engkau telah sesuai dengan sunnah dan sholatmu sudah mencukupi.” Dan beliau sholallahu alaihi wasallam berkata kepada orang yang berwudhu dan mengulang sholatnya :”Engkau mendapatkan dua kali.”(HR Abu Daud dan An-Nasa-i)

Beberapa masalah yang berkaitan dengan tayamum

1. Orang yang betayamum lalu mengerjakan sholat, kemudian ada air pada saat ia sedang sholat, maka apakah ia meneruskan sholatnya atau memutuskannya?

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat:

Pertama, ia harus memutuskan sholatnya dan harus menggunakan air ,kemudian mengulangi sholatnya dari awal.

Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan Ahmad,serta pendapat yang dipilih oleh Ats-Tsauri dan Ibnu Hazm.Hujjah mereka adalah:

1.Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,”Tanah yang baik adalah alat bersuci bagi orang Muslim,meskipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun.Jika air telah ditemukan,maka bersihkanlah kulit tubuhmu.”Mereka mengatakan,karena ia telah menemukan air.

2.Mereka mengatakan,karena ia telah mampu menggunakan air,maka batallah tayamumnya,seperti orang yang keluar dari sholat.

3.Mereka mengatakan,karena tayamum adalah thaharah yang bersifat darurat,maka batallah tayamumnya dengan hilangnya kondisi darurat tersebut.Sebagaimana bersucinya wanita yang istihadhah,ketika darahnya telah berhenti.

Kedua, ia terus mengerjakan sholatnya dan tidak perlu memutuskannya.

Ini adalah madzhab Malik dan Asy-syafii,serta riwayat yang kedua dari Ahmad.Konon,ia telah menarik pendapatnya.Ini juga pendapat Abu Tsaur,Daud,dan Ibnul Mundzir.Hujjah mereka adalah sebagai berikut:

1.Firman Allah azza wa jalla,”Dan janganlah kamu merusakkan(pahala)amal-amalmu.”(QS Muhammad:33).Mereka mengatakan,ia tidak boleh keluar dari sholatnya karena hal itu.

2.Thaharah itu ada waktunya,dan sholat juga ada waktunya.Ketika itulah ia tidak dibebani dengan kewajiban bersuci_ketika tengah mengerjakan sholat_.Sebab ia telah bertayamum sebagaimana yang diperintahkan,dan ia keluar dari waktu bersuci dengan bertakbir untuk sholat(yakni takbiratul ihram).Ia tidak boleh membatalkan thaharah yang telah berlalu waktunya,dan membatalkan sholat yang dikerjakannya sebagaimana yang difardhukan kepadanya.Ia tidak boleh membatalkannya kecuali dengan hujjah dari Al-Quran,Sunnah,dan Ijma’.

Adapun pendapat yang paling jelas menurut sebagian besar ulama(dan mendekati kebenaran),bahwa ia tetap meneruskan sholatnya.Karena tidak adanya dalil shahih yang mewajibkannya untuk memutuskan sholat setelah memulainya.Sebagaimana halnya orang yang mengerjakan puasa kafarah;jika ia telah memulai puasa kemudian ia mendapati budak wanita,maka ia tidak perlu membatalkan puasanya.Wallahu a’lam.

2. Orang yang telah mengerjakan sholat dengan bertayamum,kemudian air datang,sementara ia masih berada dalam waktu sholat: Apakah ia harus mengulang sholatnya?

Barangsiapa yang telah mengerjakan sholat dengan bertayamum,kemudian air datang,sedangkan ia masih berada dalam waktu sholat,maka ia tdak wajib mengulangi sholatnya,menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama_sebagaimana pendapat Malik,Ats-tsaur,Al-auza’i,Al-Muzani,Ath-Thahawi,Ahmad dalam salah satu riwayatnya,dan ini juga pendapat Ibnu Hazm_.Sementara Abu Hanifah dan Asy-Syafii bependapat,ia harus mengulangi shalatnya jika mampu menggunakan air.Wallahu a’lam.

Dibolehkan bertayamum dengan tembok

Dari Ibnu Abbas ia berkata,”Aku dan Abdullah bin Yasar,mantan budak Maimunah, istri Nabi sholallahu alaihi wasallam datang menenui Abu Juhaim bin al-Harits bin ash-Shimmah al-Anshori. Lalu berkatalah Abu Juhaim :”Nabi sholallahu alaihi wasallam datang dari arah sumur Jamal.Kemudian seorang laki-laki berjumpa dengannya dan mengucap salam pada beliau tetapi Nabi sholallahu alaihi wasallam tidak menjawab salamnya hingga mendatangi sebuah tembok dan mengusap wajah dan tangannya. Setelah itu beliau menjawab salamnya.”(HR Muttafaq alaihi,Abu Daud dan An-Nasa-i). Dalam hadits ini terkandung ajaran dibenarkan bertayamum di atas tembok yang memiliki debu apabila tangan dikepalkan di atasnya. Karena tayamum dapat dilakukan di atas hamparan bumi, baik berupa tanah, debu, atau selainnya(tidak ada debu sama sekali).

Kemuliaan Islam

Demikianlah beberapa pembahasan singkat mengenai fungsi dan kedudukan tanah dalam kehidupan kita. Bila kita mencermati tatanan agama islam yang mulia niscaya akan kita dapati bahwa Islam sangat menekankan kebersihan. Sungguh Allah telah memuliakan islam dan pemeluknya dengan menjadikan thoharoh (bersuci) sebagai kunci ibadah yang paling utama yaitu sholat. Maka tidaklah diterima sholat seorang muslim sehingga jasadnya, pakaiannya dan tempat sholatnya bersih. Pada kondisi tidak ada air untuk bersuci, Allah mensyariatkan tayamum sebagai pengganti dari wudhu dan mandi, sehingga tidak kita dapati kelemahan dan kekurangan dalam agama ini. Oleh karenanya untaian kata syukur selayaknya kita layangkan kepada Allah yang telah menjadikan agama ini sempurna. Sehingga tidak patut bagi kita untuk menodai kesempurnaan Islam dengan membuat atau mengadakan perkara-perkara baru, menambah atau mengurangi tatanan syariat Islam yang hanif (lurus) in

Download TANAH,SESUCI AIR

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: