Skip to content

KEMUDAHAN DARI ALLAH DAN MENGAPA KITA HARUS BERAMAL.?

18 June 2010

Oleh: Abu Ahmad Said Yai*

Lafaz Ayat-Ayat:

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)}

Artinya: ”(5) Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (6) dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, (7)maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (8)  Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, (9)serta mendustakan pahala terbaik, (10)maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS Al-Lail : 5-10)

Tafsir Ringkas

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى}

“Adapun orang yang memberikan” apa-apa yang diperintahkan oleh Allah berupa ibadah-ibadah harta, seperti: zakat, kafarat, nafkah, sedekah, infak di dalam kebaikan; begitu pula dengan ibadah-ibadah badan, seperti: shalat, puasa dan sejenisnya; dan juga ibadah badan-harta, seperti: haji dan umrah dll.

“Dan bertakwa” dari  melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, berupa: maksiat dan perbuatan haram, kesyirikan dll.

{ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى }

“Dan membenarkan adanya ganjaran yang terbaik (al-husnâ)”, maksudnya adalah membenarkan kandungan kalimat ‘lâ ilâha illallâh dan apa-apa yang berhubungan dengannya yang berupa seluruh keyakinan di dalam agama serta apa-apa yang berujung pada ganjarannya di akhirat nanti.

{ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى }

“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”, maksudnya adalah Kami akan mempermudah orang tersebut untuk terus melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Ini adalah “buah” dari sebab-sebab yang telah dilakukan itu, sehingga Allah memudahkan jalannya untuk berbuat baik, sehingga nanti mengantarkannya ke dalam surga.

{ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ }

“Dan adapun orang-orang yang bakhil” terhadap apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dengan meninggalkan infak yang wajib dan sunnah dan ibadah-ibadah yang wajib dilakukan.

{ وَاسْتَغْنَى }

“Dan merasa dirinya cukup” sehingga tidak beribadah kepada Allah, tidak merasa bahwa dirinya masih sangat membutuhkan pertolongan Allah, tidak berinfak di jalan Allah dan tidak beramal soleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

{ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى }

“Serta mendustakan pahala terbaik” maksudnya adalah ganti dari apa-apa yang disedekahkan dan apa-apa yang dihasilkan dari itu berupa surga kelak.

{ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى }

“Maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”, maksudnya adalah Kami akan mempermudah orang tersebut untuk terus melakukan perbuatan buruk dan meninggalkan perbuatan baik, sehingga nanti mengantarkannya ke dalam neraka.[1]

Sebab Turunnya Ayat-ayat tersebut

Sebab turun ayat-ayat ini yang paling masyhur adalah berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash-Shiddîq radhiallâhu ‘anhu. Dulu beliau memerdekakan budak-budak yang beragama Islam di Mekkah .Bapaknya pun berkata kepadanya, “Aku melihatmu memerdekakan orang-orang lemah.Mengapa kamu tidak memerdekakan lelaki-lelaki yang kuat yang dapat membantu dan melindungimu?”Dia pun berkata, “Wahai ayahku!Sesungguhnya saya hanya mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.” ‘Âmir bin ‘Abdillâh bin Az-Zubair (perawi hadîts) berkata, “Sebagian anggota keluargaku mengabarkan kepadaku bahwa ayat-ayat ini diturunkan sehubungan dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakr As-Shiddîq radhiallâhu ‘anhu.[2]

Sebab lain yang disebutkan di dalam buku-buku tafsir yaitu berhubungan dengan perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Dardâ’:

))مَا مِنْ يَوْمٍ غَرَبَتْ فِيهِ شَمْسُهُ إِلاَّ وَبِجَنْبَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَان ، يَسْمَعُهُ خَلْقُ اللَّهِ كُلُّهُمْ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَأَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا ((

Artinya: “Tidak ada hari yang matahari terbenam pada hari itu kecuali di sampingnya ada dua malaikat yang berteriak –semua makhluk mendengar teriakan mereka kecuali jin dan manusia-, ‘Ya Allah! Berikan ganti untuk orang yang berinfak! Lenyapkanlah (harta) orang yang tidak berinfak!’.”[3]

Kemudian Allah menurunkan ayat-ayat tersebut di atas.[4]

Penjabaran Ayat-ayat

Perintah untuk beriman, beramal soleh dan menjauhi perbuatan maksiat

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى}

“Adapun orang yang memberikan dan bertakwa

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan penggalan ayat ini, di antara pendapat-pendapat yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan hartanya dengan menginfakkannya di jalan Allah dan bertakwa kepada Allah ta’âla.[5]
  2. Memberikan hak Allah dan menjauhi perbuatan yang haram.[6]
  3. Memberikan zakat dan bertakwa kepada Allah.[7]
  4. Memberikan kejujuran di dalam hatinya dan bertakwa.[8]

{وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى}

“Dan membenarkan adanya ganjaran yang terbaik (al-husnâ)”

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan penggalan ayat ini, di antara pendapat-pendapat yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut:

  1. Membenarkan ganti (kompensasi) dari apa yang diinfakkan.[9]
  2. Membenarkan kalimat “lâ ilâha illallâh”.[10]
  3. Membenarkan adanya jannah (surga).[11]
  4. Membenarkan janji-janji Allah.[12]
  5. Membenarkan pahala yang diberikan oleh Allah.[13]
  6. Membenarkan segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya.[14]

Syaikh ‘Abdurrahmân As-Sa’di merajihkan pendapat yang kedua, yaitu membenarkan kalimat “lâ ilâha illallâh” sebagaimana telah disebutkan di atas. Dengan kalimat ini, maka akan mencakup seluruh makna yang disebutkan oleh para ulama yang berupa ganjarannya di dunia dan di akhirat.

Jaminan Allah untuk orang yang melakukan hal-hal tersebut

{فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى}.

“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”, maksudnya adalah Kami akan mempermudahnya untuk beramal kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan, sehingga nanti mengantarkannya ke dalam surga.[15]

Larangan untuk pelit dantidak butuh kepada pertolongan Allah serta mengingkari janji Allah

{وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى}

“Dan adapun orang-orang yang bakhil” yang tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah,“dan merasa dirinya cukup”akanRabb-nya dan tidak mengharapkan pahala-Nya.[16]

{وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى}

“Serta mendustakan ganjaran yang terbaik (al-husnâ)”

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan penggalan ayat ini. Perbedaan pendapat tersebut sebagaimana telah disebutkan pada firman-Nya  {وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى}.

{فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى}

“Maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”, maksudnya Allah akan memudahkannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang tidak diridai oleh Allah sehingga nanti dia akan masuk ke dalam neraka. Muqâtil berkata, “Kami akan mempersusahnya untuk melakukan perbuatan baik.”[17]

Ayat-ayat yang semisal dengan ayat-ayat di atas

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa apabila seseorang terus-menerus beramal soleh maka Allah akan mempermudahnya untuk beramal soleh. Sebaliknya, apabila seseorang terus menerus beramal buruk maka Allah akan mempermudahnya untuk beramal buruk. Di dalam Al-Qur’an kita akan mendapatkan banyak sekali ayat-ayat seperti ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

{ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ }[الصف :5].

Artinya: “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS Ash-Shaff : 5)

{ وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ } [الأنعام:110]

Artinya: “Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS Al-An’âm : 110)

Begitu pula bisa dilihat pada Surat At-Taubah ayat 127, Al-Mâidah ayat 49, An-Nisâ’ ayat 115 dll.

Bukankah Allah sudah mentakdirkan segala sesuatu, untuk apa kita beramal?

Pertanyaan itu pernah ditanyakan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam telah memberikan jawabannya, sebagaimana pada hadîts berikut:

(( عَنْ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-… قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟ قَالَ:(اعْمَلُوا, فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ, أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ, وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى} الآيَةَ.))

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Ali radhiallâhu ‘anhu… Mereka (para sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam) berkata, “Ya Rasulullah!Apakah kami berpasrah dengan apa yang tuliskan untuk kami dan kami tidak beramal?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Beramallah! Setiap orang akan dimudahkan sesuai tujuan dia diciptakan. Barang siapa yang tergolong orang-orang yang bergembira[18] maka akan dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang tersebut. Barang siapa yang yang tergolong orang-orang yang sengsara[19] maka akan dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang sengsara.” Kemudian beliau membaca …(seperti ayat-ayat di atas).[20]

Apakah setelah para sahabat mendengar hadîts tersebut menjadi tambah malas untuk beribadah?

عَنْ بَشِيرِ بْنِ كَعْبٍ ، قَالَ : سَأَلَ غُلاَمَانِ شَابَّانِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ…قَالَ : ((اعْمَلُوا ، فَكُلٌّ عَامِلٌ مُيَسَّرٌ لِعَمَلِهِ الَّذِي خُلِقَ لَهُ.)) قَالاَ : (فَالآنَ نَجِدُّ وَنَعْمَلُ.)

Artinya: Diriwayatkan dari Basyîr bin Ka’b radhiallâhu ‘anhu bahwasanya ada dua orang budak yang muda bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…(kemudian mereka bertanya mirip dengan pertanyân di hadits sebelum ini-pen) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Beramallah! Setiap orang yang beramal akan dimudahkan untuk mengamalkan sesuai tujuan dia diciptakan.”Kemudian mereka berkata, “Inilah saatnya!Kami akan berusaha keras dan beramal.”[21]

Begitu pula diriwayatkan dari Surâqah bin Ju’syum radhiallâhu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pertanyaan yang mirip dan dijawab dengan jawaban yang mirip dengan itu, kemudian Surâqah radhiallâhu ‘anberkata:

((فَلَا أَكُوْنُ أَبَدًا أَشَدَّ اِجْتِهَادًا فِيْ اْلعَمَلِ مِنّي الآن.))

Artinya: “Dulu aku tidak pernah sesemangat sekarang ini dalam beramal. (yaitu setelah mendengar hadîts tersebut-pen)”[22]

Apakah orang yang sudah merasa beramal soleh boleh merasa aman dari ancaman neraka?

Seseorang yang sudah dan terus menerus beramal soleh, sudah sepantasnya dia bersyukur kepada Allah. Dengan terus-menerusnya dia dalam beramal soleh maka ini merupakan ciri-ciri dia nanti akan menjadi penduduk surga, sebagaimana dijelaskan pada dalil-dalil sebelumnya.

Meskipun demikian, seorang mukmin harus tetap waspada dari ancaman neraka, karena dia tidak tahu bagaimana nanti akhir hidupnya.Sesungguhnya semua amalan tergantung dengan amalan yang dilakukan di akhir hayatnya. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

))إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ((

Artinya: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang senantiasa beramal dengan amalan ahli neraka, tetapi ternyata dia termasuk ahli surga. Dan ada juga yang senantiasa beramal dengan amalan ahli surga ternyata dia termasuk ahli neraka.Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung bagaimana akhirnya.”[23]

Kesimpulan

  1. Ayat ini diturunkan berhubungan dengan perbuatan Abu Bakr Ash-Shiddiq yang memerdekakan budak-budak muslimin di Mekkah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallammengatakan, “Ya Allah! Berikan ganti untuk orang yang berinfak! Lenyapkanlah (harta) orang yang tidak berinfak!”
  2. Allah memberikan balasan yang setimpal untuk setiap amalan. Apabila amalannya baik, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan; Apabila amalannya buruk maka Allah akan membalasnya dengan keburukan.
  3. Allah akan mempermudah orang-orang yang beriman, yang selalu beramal soleh dan meninggalkan maksiat untuk beramal soleh, sehingga nanti akan mengantarkannya ke surga.
  4. Allah akan mempermudah orang-orang yang bakhil, orang-orang yang merasa tidak butuh dengan Rabb-nya untuk beramal buruk dan akan menyusahkan mereka untuk beramal yang baik. Ini semua akibat ulah mereka sendiri, sehingga nanti akan mengantarkannya ke neraka.
  5. Kendatipun kita mengetahui bahwa Allah telah menetapkan takdir setiap insan, sampai-sampai Allah menakdirkan apakah nanti dia akan masuk surga atau neraka, kita tetap diperintahkan untuk beramal dan berusaha.
  6. Orang-orang yang senantiasa beriman dan beramal soleh serta menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat harus bersyukur kepada Allah, karena ini merupakan ciri kebaikan untuknya. Meskipun demikian, dia tidak boleh merasa aman dari ancaman neraka, karena amalan seseorang itu tergantung dengan bagaimana akhir hayatnya nanti.

Tamma bifadhlillahi wa karamihi. Mudahan tulisan ini bermanfaat untuk semua.Amin.

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Madinah: Kompleks Percetakan Mushhaf Raja Fahd.
  2. Aisarut-Tafâsîr li kalaam ‘Aliyil-Kabiir. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. Al-Madinah: Maktabah Al-Uluum wal-hikam
  3. Al-Jâmi’ li ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Mesir: Dârul-kutub Al-Mishriyah.
  4. Jâmi’ul-bayân fî ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jarîr Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  5. Ma’ârijul-Qabûl bi syarhi sullamil-wushûl ilâ ‘ilmil-ushûl. Hâfizh binAhmad Al-Hakami. 1410 H/1990 M. Dammâm: Dâr Ibnil-Qayyim.
  6. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
  7. Shahîh Al-Bukhâri. Muhammad bin Isma’îl Al-Bukhâri. Riyâdh: Dârus-Salâm.
  8. Shahîh Ibni Hibbân bi tartîb Ibni Balabân. Muhammad binHibbân Al-Busti. Tartîb: Ibnu Balabân. Tahqîq Syu’aib Al-Arnauth. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  9. Shahîh Muslim. Muslim bin Al-Hajjâj. Riyâdh: Dârus-Salâm.

10. Syifâ’ul-‘Alîl fi Masâilil-Qadhâ’ wal-Qadar wal-Hikmah wat-Ta’lîl. Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim Al-Jauziyah. Beirut: Dârul-Ma’rifah.

11. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.

12. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurrahmân bin Nâshir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.

الكتاب : أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير

المؤلف : جابر بن موسى بن عبد القادر بن جابر أبو بكر الجزائري

الناشر : مكتبة العلوم والحكم، المدينة المنورة، المملكة العربية السعودية

الطبعة : الخامسة، 1424هـ/2003م

مصدر الكتاب : موقع مكتبة المدينة الرقمية

http://www.raqamiya.org

[ الكتاب موافق للمطبوع ، ومعه حاشيته المسماة نهر الخير على أيسر التفاسير ]


Download KEMUDAHAN DARI ALLAH DAN MENGAPA KITA HARUS BERAMAL


*Staf Pengajar Mata Kuliah Tafsîr,Hadîts dll. di Ma’had Ali Imam Syafii Jember.

[1]Digabungkan dan diringkas dari Tafsîr As-Sa’di hal. 926 dan Aisar At-Tafâsîr jilid V hal. 580-581

[2]Lihat Tafsîr Ath-Thabari Jilid ke-24 hal. 471

[3]Sampai di sini, perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallamtersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhâri no. 1442 dan Muslim no.2336 dari Abu Hurairah radhiallâhu ‘anhu.

[4]Tambahan ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hâtim dalam tafsîrnya jilid X hal.3441 dan Ath-Thabari dalam tafsîrnya jilid ke-24 hal.471

[5]Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbâs

[6]Ini adalah pendapat Qatâdah

[7]Ini adalah pendapat Adh-Dhahhâk.Ketiga poin ini bisa dilihat di Tafîr Ath-Thabari Jilid ke-24 hal. 468.

[8]Ini adalah pendapat Al-Hasan.Lihat Tafsîr Al-Qurthubi jilid ke-20 hal. 83.

[9]Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbâs

[10]Ini adalah pendapat Abu ‘Abdirrahmân dan Dhahhâk.

[11]Ini adalah pendapat Mujahid.

[12]Ini adalah pendapat Qatâdah, Muqâtil dan Al-Kalbi.

[13]Ini adalah pendapat Khashîf.

[14]Ini adalah pendapat ‘Ikrimah.Keenam poin ini bisa dilihat di Tafsîr Ath-Thabari Jilid ke-24 hal.469-470, Tafsîr Al-Baghawi jilid ke-8 hal.442 dan Tafsîr Ibni Katsîr jilid ke-8 hal. 417.

[15]Lihat Tafsir Ath-Tabhari jilid ke-24 hal 471 dan Al-Baghawi jilid ke-8 hal. 443.

[16]Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Ababas dan yang lainnya.Lihat Tafsîr Ibni Abi Hâtim jilid ke-10 hal.3440, Tafsîr Ath-Thabari jilid ke-24 hal.471 dan Tafsîr Al-Baghawi jilid ke-8 hal. 443

[17] Tafsir Al-Baghawi jilid ke-8 hal. 443

[18] Yaitu penduduk surga.

[19] Yaitu penduduk neraka.

[20]HR Al-Bukhâri no. 4949

[21]Tafsir Ath-Thabari jilid ke-24 hal. 475

[22]HR Ibnu Hibban di Shahih-nya no. 337 (Syaikh Syu’aib berkata, “Isnadnya sesuai dengan syarat Muslim.”)

[23]HR Al-Bukhâri no. 6607

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: