Skip to content

MENYIKAPI REZEKI YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH

24 July 2011

Oleh : Ustadz Abu Ahmad Said Yai

 Khuthbah I

Muqaddimah

Hadirin rahimakumullaah.

Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kita untuk bertakwa. Ketahuilah takwa adalah kata yang sangat ringan diucapkan, tetapi sangat berat untuk melaksanakannya. Di hari ini saja, cobalah ingat berapa dosa yang telah kita lakukan, berapa dosa yang telah diperbuat oleh hati-hati kita. Sebagai contoh, apakah hati-hati kita telah selamat dari rasa iri terhadap orang lain yang telah diberi kenikmatan lebih kepadanya, harta yang melimpah dan rezeki yang banyak?

Ketahuilah rezeki bagaikan hujan, dia terbagi tidak merata. Terkadang turun di pegunungan. Terkadang tidak turun di padang sahara.

Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa membawa laknat.

Ingatlah ketika Allah menenggelamkan kaum Nabi Nuuh ‘alaihissalaam yang membangkang! Dengan apa Allah membinasakan mereka? Dengan hujan dan banjir yang sangat besar.


Begitulah harta! Begitulah dunia! Allah membagikannya tidak merata kepada setiap orang. Ada orang yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Terkadang bermanfaat untuk hamba, terkadang dapat membawa petaka.

Hadirin rahimaniyallaahu wa iyyaakum.

Jika kita semua mengetahui bahwa semua rezeki telah diatur oleh Allah, semua telah dibagi oleh Allah, apa yang kita harus lakukan? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki yang sedikit? buat apa kita iri dengan orang lain? buat apa merasa hina? Apakah harta bisa menjamin untuk masuk surga? Apakah dunia bisa menjamin untuk mendapatkan ke-ridhaa-an Allah?

Ketahuilah wahai hadirin yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan! Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian? Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

)قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ …وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ(

Artinya: “Saya pernah berdiri di pintu surga. Ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu neraka. Ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits yang khathib baca adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan. Orang kaya jumlahnya tidaklah banyak di surga. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita memperhatikan harta-harta kita, dari mana diperoleh dan untuk apa dipergunakan?

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

(يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ)

Artinya: “Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia).” (HR. An-Nasaai dan Ibnu Maajah dengan sanad yang hasan)

Saya teringat, ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ}

Artinya: “Telah melalaikan kalian berbanyak-banyak.” (yaitu: harta, wanita dan anak)

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِى مَالِى – قَالَ – : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ, أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ.

Artinya: Nanti seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allah pun) berkata, “Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang, apa-apa yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan.”

Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu waktu? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai semuanya dalam satu waktu? Tentu tidak.

Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula? Tidak! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang sebenarnya yang dicari di dunia ini?

Apakah ketenaran? Apakah pujian? Apakah kedudukan di dunia?

Subhaanallaah! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal tersebut.

Bersedekahlah! Ber-infaaq-lah di jalan Allah! Bukakanlah pintu-pintu kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh  Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki yang halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allah subhaanahu wa ta’aala.

Baarakallahu lii ….

 ————————————————————————————————————————————————

Khuthbah II

Muqaddimah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

)فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم.)

Artinya: “Demi Allah! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi, yang paling saya takutkan pada kalian adalah dunia yang akan dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah menghancurkan mereka.” (HR Al-Bukhaari dan Muslim)

Hadits yang khathiib baca tadi dengan jelas menjelaskan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan dari akhirat. Apakah saya, Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian termasuk orang yang lalai ataukah tidak?

Kekayaan! Kekayaan apakah yang sebenarnya harus kita miliki?

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman di dalam surat Adh-Dhuhaa:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)

Artinya: “(6) Bukankah dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu? (7)  Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk? (8) Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang miskin, lalu dia memberikanmu kekayaan.” (QS. Adh-Dhuha : 6-8)

Bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tidak memiliki harta dan kekayaan? Sebenarnya kekayaan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam?

Coba perhatikan hadits yang akan saya bacakan:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: “Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang. Akan tetapi, kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa/hati.”

Hadits yang baru disebutkan sangat jelas menjelaskan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati yang dimiliki oleh seorang mukmin, yaitu rasa puas, ridhaa dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah. Hal inilah yang dinamakan dengan qanaa’ah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diberikan rasa qanaa’ah yang sangat tinggi.

Jika kita menginginkan dunia, dunia tidak akan pernah ada habisnya. Jika seseorang memiliki satu gunung emas, niscaya dia akan menginginkan dua gunung emas atau lebih banyak lagi.

Sampai kapan orang-orang yang mengejar dunia akan puas? Yaitu, sampai mulut-mulut mereka dipenuhi dengan tanah atau kematian yang menjemput mereka.

Dunia bukan tujuan hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita fokuskan diri kita untuk benar-benar beribadah kepada Allah dan mengisi sisa-sisa hari kita ini dengan takwa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala .

Hadirin rahimaniyallaahu wa iyyaakum.

Inilah beberapa nasihat yang bisa khathiib sampaikan pada khuthbah Jumat ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan di akhir khutbah ini marilah kita bershalawat  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  karena Allah telah memerintahkan hal tersebut di dalam Al-Qur’an.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Doa

Penutup

Download Ebook

2 Comments leave one →
  1. arihendari permalink
    24 July 2011 05:38

    subhanallah….🙂

  2. Sularno Abinya Ilhamfadhillah permalink
    24 February 2012 19:59

    Subhanallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: