Skip to content

NABI AHMAD DI DALAM AL-QUR’ÂN

24 July 2011

Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.

{ وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ }

Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika ‘Îsâ Ibnu Maryam berkata, ‘ Hai Banî Isrâîl, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad.’ Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’.” (QS As-Shaff : 6)

Tafsir Ringkas

“Dan (Ingatlah)” wahai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “ketika ‘Îsâ Ibnu Maryam berkata, ‘ Hai Banî Isrâîl, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian.’.” Sebagaimana kalian beriman kepada Nabi Mûsâ, Hârûn, Dâwûd dan Sulaimân ‘alaihimussalâm, maka berimanlah kepadaku, bahwa aku adalah Rasulullah (utusan Allah) kepada kalian. Sebagai buktinya, aku “membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat,” yang mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata. Kesamaan antara kita menunjukkan bahwa sumber syariat kita sama, yaitu berasal dari Allah subhânahu wa ta’âla.

Selain itu, aku juga “memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku.”

Nabi ‘Îsâ ‘alaihissalâm seperti para nabi sebelum beliau, mereka ‘alaihimussalâm selalu membenarkan  para nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira akan datangnya nabi setelahnya. Nabi ‘Îsâ (Yesus) ‘alaihissalâm mengabarkan bahwa nama Nabi tersebut adalah Ahmad, yaitu Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

 “Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka” yaitu Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam “dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’.” Hal tersebut sama dengan apa yang dikatakan oleh Fir’aun kepada Nabi Mûsâ ‘alaihissalâm dan juga dikatakan oleh Banî Isrâîl terhadap nabi ‘Îsâ ‘alaihissalâm.[1]

PENJABARAN DAN TAFSIR AYAT

Siapakah Banî Isrâîl? Bolehkah menghina Israel?

Isrâîl (إِسْرَائِيْل)adalah nama Nabi Ya’qûb bin Nabi Ishâq bin Nabi Ibrahim ‘alaihimussalam. Sedangkan Banî Isrâîl (بَنِي إِسْرَائِيلَ)adalah anak-keturunan dari Nabi Ya’qûb ‘alaihissalâm. Hal ini tidak diingkari oleh orang-orang Yahudi.

Para Zionis/Yahudi telah membuat suatu negara yang dinamai dengan ISRAEL. Sebagai orang Islam, tentu kita tidak senang dengan penamaan tersebut, karena itu salah satu bentuk penghinaan terhadap Nabi Isrâîl atau Nabi Ya’qûb ‘alaihissalâm.

Negara Israel telah melakukan banyak hal yang membuat kaum muslimin murka. Akan tetapi, dibalik kemurkaan tersebut sering sekali sebagian kaum muslimin salah dalam berucap dengan mengatakan, “Terkutuk Israel! Hancurkan Israel!” atau dengan kata-kata yang semisal dengan itu. Perkataan itu sudah sepantasnya tidak “keluar” dari lisan kita, karena menghina Israil sama dengan menghina Nabi Ya’qûb ‘alaihissalâm.

Jika ingin menghina negara tersebut, maka janganlah lepaskan kata ‘negara’ dari kata ‘Israel’. Atau lebih amannya kita ganti dengan nama yang betul-betul aman dari penghinaan terhadap Nabi Ya’qub, yaitu dengan mengatakan, “Negara Zionis atau negara Yahudi.”

 

Apakah Nabi Ya’qub bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm?

Ya, Nabi Ya’qub ‘alaihissalâm bertemu dengan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalâm. Inilah yang dikuatkan (di-râjih-kan) oleh Ibnu katsîr rahimahullâh di dalam tafsirnya dengan dalil Firman Allah subhânahu wa ta’âlâ :

{ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }

Artinya: “Dan Ibrâhîm telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qûb. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam!’.” (QS Al-Baqarah : 132)

Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Sebagian ulama salaf (yang terdahulu) membaca (يَعْقُوبُ) dengan (يَعْقُوبَ) sebagai ‘Athf dari (بَنِيهِ), yang berarti anak-anaknya. Seolah-olah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm mewasiatkan kepada anak-anaknya dan juga cucunya, yaitu Ya’qûb bin Ishâq.” [2]

Siapakah Nabi terakhir Banî Isrâîl?

Nabi ‘Îsâ bin Maryam ‘alaihis-salâm adalah nabi terakhir Banî Isrâîl.[3] Akan tetapi, kenabian Nabi ‘Îsâ ‘alaihissalâm tidak diakui oleh sebagian Banî Isrâîl atau orang-orang Yahudi.

Pengabaran akan datangnya Nabi Ahmad shallallâhu ‘alaihi wa sallam oleh Nabi Ibrahim ‘alahissalâm dan Nabi Îsâ ‘alaihissalâm

Setiap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ diikat dengan perjanjian oleh Allah untuk mengabarkan tentang akan diutusnya Rasulullah, yaitu Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam diutus, maka mereka harus mengikutinya, mendukung dan berjuang untuknya.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

{ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ .}

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’. Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: “Kami mengakuinya.’ Allah berfirman: “Kalau begitu, saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.’.” (QS Âli ‘Imrân : 81)

Ibnu ‘Abbâs radhiallâhu ‘anhu bekata, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali Allah membuat perjanjian kepadanya, apabila dia (Nabi Muhammad) diutus, sedang Nabi tersebut hidup, maka dia akan mengikutinya. Dan Allah memerintahkan agar dia memerintahkan kepada umatnya, apabila Muhammad diutus sedangkan mereka hidup, maka mereka harus mengikutinya dan menolongnya.”[4]

Nabi Ibrâhîm ‘alahissalâm mendoakan agar diutusnya Nabi tersebut di kaum yang berada di sekitar Ka’bah setelah beliau dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam membangun Ka’bah. Doa tersebut tercantum di dalam Al-Qur’an:

{رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ}

Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah : 129)

Begitu pula Nabi ‘Îsâ bin Maryam ‘alaihissalâm, beliau mengabarkan tentang akan datangnya Nabi setelahnya yaitu Nabi Ahmad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tercantum pada ayat di atas.

Di dalam hadîts, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Abu Umâmah, “Ya Nabi Allah! Apa permulaan kenabianmu?” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:

( دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى ، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهُ قُصُورُ الشَّامِ. )

Artinya: “Doa bapakku Ibrâhîm, kabar gembira dari Îsâ dan ibuku melihat cahaya yang keluar dari dirinya yang menerangi istana-istana Syam.”[5]

Kabar tentang akan datangnya Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga tercantum di Taurat dan Injil. Allah subhânahu wa ta’âlâ mengabarkan di dalam Al-Qur’an:

{ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا }

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan ke-ridha-an-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath : 29)

Sekarang ini, orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari pernyataan di atas, Bagaimana ini?

Orang-orang Yahudi dan Nasrani disifatkan oleh Allah sebagai kaum yang suka merubah kitab suci mereka. Jadi, merupakan suatu yang wajar jika mereka menyembunyikan hal ini. Padahal mereka semua meyakini kebenaran hal tersebut. Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

{ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ }

Artinya: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 146)

Ahmad adalah salah satu nama Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa beliau memiliki banyak nama. Di antara nama beliau adalah Ahmad, sebagaimana tercantum pada hadits berikut:

( لِي خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ. )

Artinya: “Saya memiliki lima nama: Saya adalah Muhammad dan Ahmad, saya adalah Al-Mâhi yang denganku Allah menghapuskan kekufuran, saya adalah Al-Hâsyir yang manusia nanti dikumpulkan di hadapanku dan saya adalah Al-‘Âqib (Yang terakhir).”[6]


Arti dari nama ‘Ahmad (أحمد)’

Ahmad berasal dari kata ‘hamd’ yang berarti pujian. Di dalam bahasa Arab, ‘Ahmad’ memiliki tiga arti:

  1. Menunjukkan makna paling/yang ter-  (Shîghah Al-Mubâlaghah) untuk kata ‘hâmid’ (orang yang memuji). Jadi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak memuji Allah subhânahu wa ta’âlâ. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ ، وَبِيَدِي لِوَاءُ الحَمْدِ وَلاَ فَخْر. )

Artinya: “Saya adalah pemimpin anak Adam di hari kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada bendera puji-pujian dan aku tidak sombong. “[7]

  1.  Menunjukkan makna paling/yang ter- untuk kata ‘mahmûd’ (orang yang dipuji). Jadi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak dipuji oleh semua makhluk. Bahkan, Allah sendiri memuji beliau di dalam Al-Qur’an dengan sifat-sifat mulia dan di dalam Al-Qur’an Allah tidak pernah memanggilnya dengan namanya, tetapi dengan mengatakan, (يَا أَيُّهَا النَّبِي) dan (يَا أَيُّهَا الرَّسُوْل) berbeda dengan Nabi-nabi yang lainnya, mereka dipanggil dengan namanya.
  2. Menunjukkan simbol dari kata ‘Muhammad (مُحَمَّد)’. Arti dari Muhammad adalah orang yang banyak dipuji dan di dalam bahasa Arab dapat disimbolkan dengan kata ‘Ahmad’.[8]

Tidak ada Nabi setelah Nabi Ahmad shallallâhu ‘alaihi wa sallam

Sangat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Ahmad atau Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ dan tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:

{ مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا }

Artinya : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Ahzâb : 40)

( كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي. )

Artinya: “Dulu Banî Isrâîl dipimpin oleh para Nabi. Jika ada nabi yang wafat, maka akan digantikan oleh seorang nabi. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.”[9]

Kedua dalil di atas sangat jelas menunjukkan bahwa tiada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena siapa saja yang mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi setelah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya dia adalah Kadzdzab (pendusta).

Pengabaran Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa akan muncul nabi-nabi palsu

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan ada orang-orang yang mengaku Nabi. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(…وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي. )

Artinya: “Sesungguhnya di dalam umatku akan ada tiga puluh pendusta. Semuanya mengaku bahwa dia adalah nabi, sedangkan saya adalah penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku.” [10]

Setelah membaca dalil di atas, maka tidak ada alasan untuk membenarkan ajaran-ajaran nabi-nabi palsu yang baru seperti: Mirza Ghulam Ahmad, Lia Eden dan sejenisnya. Mereka bukanlah kaum muslimin dan jangan ragu untuk mengatakan bahwa mereka bukan beragama Islam.

Pengingkaran Banî Isrâîl atas apa yang dibawa oleh Nabi  Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam

Di akhir ayat, subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

{فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ}

“Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.”

Inilah tuduhan yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang kafir menuduh beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai penyihir karena beliau membawa mukjizat yang tidak masuk akal. Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan ‘Rasul’ pada ayat di atas adalah Nabi ‘Îsâ ‘alaihissalâm. Karena Banî Isrâîl juga mengatakan bahwa beliau ‘alaihissalâm adalah penyihir. Allahu a’lam, tidak ada pertentangan dari keduanya.

Tamma bifadhlillâhi wa karamih.

Prabumulih, 28 Jumâdâ Ats-Tsâniah 1432 H/31 Mei 2011

Download Ebook

DaftarPustaka

  1. Al-Qur’ân dan Terjemahannya. Madînah: Kompleks Percetakan Mushhaf Raja Fahd.
  2. Adhwâul-Bayân fi Îdhâhil-Qur’ân bil-Qur’ân. Muhammad Al-Amîn Asy-Syinqîthi. 1415 H/1995 M. Libanon: Dârul-Fikr.
  3. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
  4. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sahnûn.
  5. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
  6. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.
  7. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurrahmân bin Nâshir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  8. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar sudah tercantum di footnotes.

 


[1] Tafsîr As-Sa’di hal. 859 dan Aisarut-Tafâsîr pada tafsir ayat ini.

[2] Tafsir Ibni Katsir I/446.

[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir VIII/109.

[4] Tafsir Ibni Katsir VIII/110.

[5] HR Ahmad no. 22261, Al-Hakim no 4173, Ibnu Hibban no. 6404 dan yang lainnya. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan, “Hadits ini shahih lighairih.” di catatan kakinya pada Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban.

[6] HR Al-Bukhari no. 3532 dan Muslim no. 6251.

[7] HR At-Tirmidzi no. 3148. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan At-Tirmidzi.

[8] Lihat penjelasan di atas di dalam Ma’âlimut-Tanzîl VÎI/108-109 dan At-Tahrîr wa At-Tanwîr XXVIII/163-165.

[9] HR Al-Bukhari 3455 dan Muslim 4879.

[10] HR At-Tirmîdzi no. 2219. Beliau berkata, “Hadîts ini shahîh.”Hadîts ini di-shahîh-kan juga oleh Syaikh Al-Albâni di Shahîh Sunan At-Tirmîdzi.

2 Comments leave one →
  1. 3 August 2012 12:06

    makasih itu sangat brguna bgi orang2 pntar yang mengaku sbagai nabi dkrenakan mreka rang pintar yang tidak bsa menggunakan kepintaran’a dgn baik [don’t forget HATI2 BAGI ORANG2 PINTAR sprti rang kfir yang mrngtahui adanya Allah swt cuman mreka mementingkan ego’a sndri sprti ddlm Al-qur’an surat Al-baqorah ayat 6 smpai ayat 31

Trackbacks

  1. NABI AHMAD DI DALAM AL-QUR’ÂN | Pemuda Islam Bahagialah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: