Skip to content

YANG TERLUPAKAN DAN YANG MENJADI KEBIASAAN (Bagian II)

21 June 2012

Bagian II: Mengusap Khuff (Sepatu Yang Menutup Mata Kaki)

Sebagai Pengganti Mengusap Kaki Ketika Ber-wudhu

Oleh: Said Yai

Alhamdulillah. Wash-shalatu wassalam ‘ala Rasulillah.

A.   Hal-Hal dalam Yang Banyak Dilupakan

1. Mengusap Khuff (sepatu yang menutup mata kaki) disyariatkan di dalam Islam. Hal ini adalah ijma’ (kesepakatan kaum muslimin) dari kalangan Ahlussunnah dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali aliran-aliran sesat.

Mengusap khuff disebutkan di berbagai kitab fiqh, termasuk kitab-kitab fiqh Imam Syafi’i

Ibnul-Mundzir berkata, “Mereka (kaum muslimin) ber-ijma’ bahwa setiap orang yang telah sempurna thaharah-nya kemudian dia memakai kedua khuff-nya, kemudian dia ber-hadats, maka dia boleh mengusap bagian atas khuff-nya.” (Al-Ijma’, Permasalahan: 15)

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap bagian atas kedua khuff-nya.” (HR Al-Bukhari)

Akan tetapi sangat disayangkan, masih banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui hal ini. Terkadang seseorang bekerja di lapangan, lokasi kerjaan, hutan, daerah dingin dll yang menuntut mereka untuk selalu mengenakan sepatu, kemudian ketika datang waktu shalat mereka enggan untuk shalat karena malas membuka sepatunya. Padahal ada keringanan ini di dalam syariat kita.

2. Disyaratkan ketika ingin mengusap khuff, harus memakai khuff tersebut dalam keadaan suci secara sempurna dari hadats kecil dan besar. Misalkan, seorang yang ber-wudhu’ harus sudah selesai dari membasuh kedua kakinya, barulah dia memakai khuff-nya. Tidak diperkenankan jika dia sudah membasuh kaki kanannya tetapi belum membasuh kaki kirinya untuk memakai khuff tersebut.

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu berkata, “Suatu malam saya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Kemudian saya tuangkan (air) kepadanya dari tempat air. Kemudian beliau membasuh muka dan kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Saya pun bermaksud untuk melepaskan kedua khuff-nya kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah keduanya! Sesungguhnya saya memasukkannya dalam keadaan suci.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Khuff tersebut juga harus suci dari najis , menutup seluruh bagian kaki yang wajib dibasuh, yaitu sampai mata kaki. Boleh mengusap khuff yang sobeknya kecil, jika sobeknya sangat besar dan tidak memungkinkan berjalan di atasnya, maka tidak diperbolehkan mengusap bagian khuff tersebut.

3. Mengusap khuff dilakukan dengan cara:

–          Dimulai dengan wudhu’ yang sempurna sampai mengusap kepala,

–          Kemudian membasahi kedua tangan dengan air,

–          Kemudian mengusapkan dua telapak tangan secara bersamaan dari bagian depan-atas khuff sampai ujung khuff yang berdekatan dengan betis.

–          Tangan kanan mengusap khuff kanan dan tangan kiri mengusap khuff kiri.

–          Yang diusap adalah bagian atas khuff, bukan bawahnya. Cara inilah yang disebutkan di dalam hadits. (tidak ditemukan riwayat yang lebih baik dari riwayat ini di dalam buku-buku hadits, wallahu a’lam)

4. Orang yang muqim (menetap/tidak dalam perjalanan) diberi keringanan untuk melakukan hal ini selama sehari semalam. Sedangkan orang yang musafir (sedang dalam perjalanan) diberi keringan selama tiga hari-tiga malam.

‘Ali radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya tiga hari untuk orang yang bersafar dan satu hari untuk orang yang muqim.” (HR An-Nasai : Shahih)

Maksud dari satu dan tiga hari tersebut adalah seseorang apabila memakai khuff-nya dalam keadaan suci, kemudian dia ber-hadats kecil, maka dia boleh ber-wudhu’ dan mengusapnya sehingga dia dianggap telah bersuci. Begitu pula jika dia ber-hadats lagi, maka dia mengusap lagi, maka hal tersebut tidak mengapa dilakukan sampai habis masa waktu yang telah ditetapkan.

5. Detik pertama waktu tersebut berlaku sejak usapan pertama setelah ber-hadats kecil, dan bukan ketika ber-hadats yang pertama. Inilah pendapat yang kuat insya Allah, karena seseorang dianggap mengambil keringan tersebut ketika dia mengusap khuffnya untuk yang pertama kalinya. Misalkan seseorang memakai khuff dalam keadaan suci jam 6 pagi, kemudian dia buang angin jam 8, dia mengusap khuff tersebut jam 11, maka waktu satu atau tiga hari tersebut dihitung mulai jam 11 tersebut, sampai jam 11 di hari berikutnya.

6. Mengusap khuff ini bisa batal apabila telah habis masa yang ditetapkan dan telah berhadats besar. Apabila sudah habis masa satu hari untuk orang yang muqim dan tiga hari untuk musafir, maka tidak boleh lagi mengusap khuff tersebut. Kecuali dia mengulang wudhu’-nya dan memasangnya kembali dalam keadaan suci.

Melepaskan khuff sebelum habis masanya apakah membatalkan wudhu’? Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Jumhur ulama berpendapat batalnya. Sebagian ulama berpendapat hal tersebut tidak membatalkan. Allahu a’lam.

7. Bolehkah mengusap kaos kaki sebagaimana mengusap khuff?

Jawabannya adalah boleh. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Di antara yang berpendapat demikian adalah: ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Ali, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Uqbah bin ‘Amr, Anas bin Malik, Abu Umamah, Al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhum (Mushannaf Ibni Abi Syaibah).

8. Bolehkah mengusap perban, gip, kain, pembalut atau sejenisnya yang membalut luka atau tulang  yang patah?

Seseorang yang menggunakan sesuatu yang menutup anggota-anggota tubuhnya yang wajib dibasuh atau diusap karena memiliki uzur yang dibenarkan, boleh mengusap perban, gip, kain atau sejenisnya. Ini adalah keringan yang diberikan syariat kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Ketika ber-wudhu’ orang tersebut membasuh anggota-anggota wudhu’-nya yang bisa terkena air, kemudian ketika mendapatkan giliran membasuh/mengusap anggota tubuh yang diperban, digip atau dibalut, dia cukup mengusap dengan air bagian atas perban, gip atau pembalut tersebut. Setelah menyelesaikan ber-wudhu’ maka dia sempurnakan dengan bertayammum pada anggota-anggota tubuh yang memungkinkan untuk bertayammum.

Contohnya: seseorang patah tulang tangan kanannya sehingga harus digip. Ketika ber-wudhu dia berkumur-kumur dan ber-istinsyaq (memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya. Kemudian dia membasahi tangan kirinya dengan sedikit air kemudian diusapkan ke gip tangan kanan tersebut yang sejajar dengan bagian tangan kanan yang wajib dibasuh secara merata. Gipnya cukup diusap dan bukan dibasahi atau dicuci.

Kemudian dia membasuh tangan kirinya, mengusap kepalanya, membasuh dua kakinya. Setelah itu, dia bertayammum dengan mengusap mukanya, kemudian mengusap punggung telapak tangan kanannya, kemudian mengusap punggung telapak tangan kirinya.

Mengusap perban, gip, kain, pembalut atau sejenisnya tidak dibatasi oleh satu atau tiga hari sebagaimana mengusap khuff. Selama orang tersebut membutuhkannya atau mendapatkan uzur untuk itu, maka dia boleh mengusapnya. Begitu pula tidak disyaratkan harus dalam keadaan suci ketika memakainya.

Dalam hal ini, orang yang sakit dikatakan mendapatkan uzur  apabila dengan terkena air sakit anggota tubuh tersebut akan semakin  parah, semakin lambat sembuhnya atau menghalangi proses penyembuhan, maka dia mendapatkan uzur ini. Begitu pula orang sangat kesusahan untuk membuka pembalut tersebut, maka dia juga mendapatkan uzur itu.

B.    Kesalahan-kesalahan Yang Banyak Dilakukan

  1. Mengingkari adanya syariat mengusap khuff ini, seperti pengingkaran orang-orang syi’ah dan orang-orang sesat lainnya.
  2. Mengusap khuff lebih dari satu kali.
  3. Membasahi seluruh khuff dengan air.
  4. Mengusap bagian bawah khuff atau seluruh khuff.

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya agama ini adalah pemikiran, maka bagian bawah khuff lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Saya benar-benar telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khuff-nya.” (HR Abu Dawud: Shahih)

5. Mengusap khuff cukup dengan satu jari.

Wallahu a’lam bish-shawab wa billahit-taufiq. Mudahan bermanfaat.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: