Skip to content

FAIDAH-FAIDAH DARI KISAH LUQMAAN AL-HAKIM[1] BAGIAN I

25 December 2012

Kisah Luqmaan Al-Hakim1Oleh: Prof. Dr. ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbaad

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونتوب إليه, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضلّ له, ومن يضلل فلا هادي له.  وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له,

وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين وسلم تسليما كثيرا. أما بعد:

Sesungguhnya wasiat-wasiat yang terdapat di dalam kisah Luqmaan mengandung faidah-faidah yang sangat besar, mengandung pengarahan-pengarahan yang mulia, mengandung banyak keberkahan, dan mengandung manhaj (metode) yang benar untuk berdakwah menuju Allah (Ad-Da’wah Ilallaah), untuk mendidik anak-anak dan untuk menumbuhkembangkan generasi-generasi (kaum muslimin). Di dalam kisah tersebut terdapat penjelasan tentang sarana-sarana yang berhasil (digunakan) dan cara-cara yang bermanfaat untuk berdakwah menuju Allah tabaaraka wa ta’aalaa dan untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Oleh karena itu, merupakan hal yang perlu ditekankan kepada para pendidik, orang tua-orang tua dan guru-guru untuk bisa memperhatikan wasiat-wasiat tersebut satu persatu dan menjadikannya sebagai cara yang benar dan jalan yang lurus untuk berdakwah dan mengajar.

Dan juga, di dalam wasiat-wasiat tersebut terdapat cara-cara yang penuh hikmah untuk memikat hati, mengajak untuk berpikir, terdapat juga targhiib (pengabaran kabar gembira) dan tarhiib (ancaman). Di dalamnya terdapat juga cara menasihati yang baik dan terdapat juga cara yang bagus untuk bisa “masuk” ke dalam diri orang-orang untuk menjelaskan kebaikan kepada mereka dan mendakwahi mereka agar menuju ke agama Allah tabaaraka wa ta’aalaa.

Berdakwah selain membutuhkan ilmu dan amalan yang dibimbing ke arahnya, ternyata pada waktu yang sama dia juga membutuhkan hikmah, sarana-sarana yang bermanfaat dan cara-cara yang berpengaruh agar bisa masuk ke dalam hati-hati manusia.

Allah jalla wa ‘alaa telah memberikan hikmah kepada seorang hambanya yang bernama Luqmaan[2] dan menanamkan hikmah tersebut di dalam hatinya. Dan Allah menjadikan perkataan, nasihat, pengajaran dan pengarahannya (penuh dengan) hikmah.

Ini semua menuntut kita untuk bisa men-tadabbur-i, memahami dan mempelajari wasiat-wasiat ini yang Allah sebutkan di dalam kitab-Nya, yaitu Al-Qur’an Al-Karim, Allah ta’aalaa berfirman:

{ وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19) }

“Dan Sesungguhnya kami telah memberikan hikmah kepada Luqmaan, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (12) Dan (Ingatlah) ketika Luqmaan Berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (13) Dan kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun, (Oleh karena itu) bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kamu kembali. (14) Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya! Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik! Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku! Kemudian hanya kepada-Ku-lah tempat kembali kalian, maka kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (15) (Luqmaan berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (16) Hai anakku! Dirikanlah shalat! Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik! Cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar! Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (17) Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)! Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu! Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (19)” (QS Luqmaan: 12-19)

Pembahasan tentang ayat-ayat yang penuh keberkahan ini adalah dengan menyebutkan sejumlah faidah yang diambilkan dari ayat-ayat yang mulia tersebut. Saya telah menghitungnya dengan cepat dan jumlahnya ada 50 faidah. Saya sangat mengharapkan agar Allah memberikan kepada kita manfaat dari faidah-faidah tersebut dan memberikan taufik-Nya kepada kita untuk dapat benar-benar mengambil faidah dari wasiat-wasiat yang penuh hikmah dan keberkahan ini.

Faidah Pertama

Sesungguhnya hikmah adalah pemberian dan hadiah dari Rabb yang Allah jalla wa ‘alaa berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Hal ini dapat kita petik dari perkataan-Nya jalla wa ’alaa:

{ وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ }

“Dan Sesungguhnya kami telah memberikan hikmah kepada Luqmaan.”

Oleh karena itu, hikmah adalah karunia dari Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Allah:

{ يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا }

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, maka dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. (QS Al-Baqarah: 269)

Barang siapa yang ingin diberi taufiiq untuk itu dan ingin diberikan kebaikan, maka mintalah kepada Allah. Sesungguhnya kebaikan dan keutamaan berada di tangan Allah, ‘azza wa jalla. Dia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah memiliki keutamaan yang agung.

Kebaikan itu tidak akan didapatkan kecuali dengan bersikap jujur kepada Allah, menghadap kepada-Nya dengan baik, mengerjakan ketaatan kepada-Nya dan memohon taufiiq kepada-Nya dan kembali kepada-Nya untuk mendapatkannya. Sesungguhnya hidayah dan taufiiq tersebut berada di tangan-Nya dan tidak ada serikat bagi-Nya.

Faidah Kedua

Sesungguhnya untuk bisa mendapatkan hikmah, seorang hamba harus menempuh sebab-sebab untuk mendapatkannya. Barang siapa yang memperhatikan kisah Luqmaan dan kehidupannya, niscaya dia akan menemukan bahwa dia adalah seorang hamba yang soleh. Dia beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya dan memiliki hubungan yang baik dengan Rabb-nya.

Disebutkan di dalam biografinya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafidzh Ibnu Katsiir dan para ulama lainnya[3], dia adalah orang yang rajin beribadah, taat kepada Allah dan jujur. Dia sedikit berbicara, banyak berpikir dan bertadabbur. Dia mengambil faidah dari majlis-majlis kebaikan dan dia menganjurkan (orang lain) untuk mengambil faidah dari majlis-majlis kebaikan tersebut. Dia sering meminta pendapat ahli ilmu dan mengambil faidah dari mereka.

Yang terpenting adalah pengorbanan seorang hamba untuk mengerjakan sebab-sebab yang bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah tabaaraka wa ta’aalaa akan menghasilkan kebaikan dan keberuntungan, dan akan mendatangkan hikmah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ. )

“Bersemangatlah untuk mengerjakan yang bermanfaat untukmu dan mintalah pertolongan kepada Allah.” [4]

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

( إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، ومَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّ يُوْقَهُ.)

“Sesungguhnya (untuk mendapatkan) ilmu harus dengan belajar dan (untuk mendapatkan) kesabaran harus dengan melatihnya. Barang siapa yang berusaha mendapatkan kebaikan, maka akan diberikan kepadanya. Barang siapa yang berusaha mengindari keburukan, maka akan dijauhkan darinya.” [5]

Oleh karena itu, seorang hamba harus mengerjakan sebab untuk mendapatkan hikmah dan tidak hanya berkata, “Ya Allah! Berikanlah kepadaku hikmah!” atau berkata, “Ya Allah! Sesungguhnya saya memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang soleh” tanpa mengerjakan sebab-sebab (untuk memperolehnya). Allah jalla wa ‘alaa berfirman:

{ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ.}

“Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya”

Dan firman-Nya:

{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Faidah Ketiga

Pentingnya mensyukuri nikmat Allah dan besarnya pengaruh syukur tersebut agar kenikmatan selalu tetap ada, tumbuh dan berkembang. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

{ وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ }

“Dan Sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Luqmaan, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah.”

Dan apabila kenikmatan itu disyukuri maka dia akan tetap ada, apabila diingkari maka dia akan “berlari”. Oleh karena itu, sebagian ulama menamai syukur dengan Al-Haafidzh (Penjaga) dan Al-Jaalib (Pencari/Penarik), karena syukur dapat menjaga kenikmatan yang ada dan mencari kenikmatan yang hilang. Allah tabaaraka wa ta’aala berfirman:

{ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ }

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan-mu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu’.”

Pada ayat di atas Allah berkata, (أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ) “Bersyukurlah kepada Allah!” maksudnya adalah bersyukur atas kenikmatan, pemberian dan kedermawanan-Nya yang diberikan kepadamu. Dan di antara bentuk kedermawaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hambanya yang soleh adalah dengan memberikan kepadanya hikmah dan memberikannya taufiiq untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal yang soleh. Ayat itu juga menunjukkan bahwa seorang hamba yang diberi taufiiq untuk mendapatkan ilmu, bisa beramal dan menjalankan kebaikan, dia wajib selalu dan selamanya bersyukur kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Dia wajib mengenal kenikmatan, keutamaan, hidayah (petunjuk) dan taufiiq Allah yang telah diberikan kepadanya.

Faidah Keempat

Sesungguhnya mensyukuri nikmat bisa dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan kita. Ketiga hal ini digabungkan di dalam Firman Allah: (أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ) “Bersyukurlah kepada Allah!” Barang siapa yang diberikan hikmah, ilmu yang bermanfaat dan amalan yang soleh, maka cara bersyukur dengan hatinya adalah dengan mengenal kenikmatan Al-Mun’im (Yang Maha Pemberi Kenikmatan), cara bersyukur dengan lisannya adalah dengan menyanjung, memuji dan bersyukur kepada Allah dan cara bersyukur dengan perbuatannya adalah dengan mengerjakan ketaatan kepada-Nya.

Allah ta’aalaa berfirman:

{ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا }

“Beramallah Hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah).” (QS Saba’: 13)

Oleh karena itu, seorang hamba harus mengerjakan amalan-amalan soleh, bersemangat untuk mengerjakan ketaatan dan menggunakan kenikmatan tersebut pada jalan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah tabaaraka wa ta’aalaa.

Faidah Kelima

Sesungguhnya, perbuatan syukur yang dilakukan oleh orang-orang yang bersyukur kepada Allah tidak bisa memberikan manfaat kepada-Nya. Begitu pula perbuatan ingkar orang-orang yang kafir kepada-Nya tidak bisa me-mudharat-kan (membahayakan) Allah. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah:

{ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ }

“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS Luqmaan: 12)

Sesungguhnya perbuatan syukur orang yang bersyukur tidak dapat memberikan manfaat kepada Allah, perbuatan ingkar orang yang kafir tidak dapat membahayakan-Nya, perbuatan taat orang yang taat tidak bisa memberikan manfaat kepada Allah, perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang yang bermaksiat tidak bisa membahayakan-Nya. Dan perhatikan juga perkataan Allah pada hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu di dalam Shahiih Muslim[6]:

( يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا.)

“Wahai hamba-hambaku! Seandainya orang-orang yang paling awal sampai yang paling akhir dari kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, semuanya menjadi seperti orang yang memiliki hati yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal tersebut tidak dapat menambah sedikit pun dari kekuasaanku. Wahai hamba-hambaku! Seandainya orang-orang yang paling awal sampai yang paling akhir dari kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, semuanya menjadi seperti orang yang memiliki hati yang paling berdosa di antara kalian, maka hal tersebut tidak dapat mengurangi sedikit pun dari kekuasaanku.”

Oleh karena itu, ketaatan orang yang taat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak dapat memberikan manfaat kepada Allah dan perbuatan dosa orang yang berbuat maksiat tidak bisa membahayakan-Nya.

Bahkan (Allah subhanahu wa ta’ala berfirman):

{ مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا }

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri.” (QS Al-Israa’: 15)

Sedangkan Allah jalla wa ‘alaa, Dia-lah Al-Ghaniy (Yang Maha Kaya) dan Al-Hamiid (Yang Maha Terpuji). Di antara dalil yang menyebutkan hal ini adalah :

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) }

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (15) Jika dia menghendaki, niscaya dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu. (16)” (QS Faathir: 15 – 16)

Faidah Keenam

Sesungguhnya perbuatan syukur yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap nikmat Allah akan memiliki dampak dan manfaat kepada hamba itu sendiri. (Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman):

{ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ }

“Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS Luqmaan: 12)

Apabila seorang hamba bersyukur, maka syukur tersebut akan kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, nikmat yang telah diberikan akan tetap ada dan akan selalu tetap ada dan juga akan mendatangkan nikmat lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Di akhirat, dia akan mendapatkan pahala, ganjaran dan akhir yang baik.

Seorang hamba apabila dia bersyukur, maka syukurnya tersebut akan kembali kepada dan dia akan mendapatkan manfaat dengannya. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut yaitu (firman Allah ta’aalaa):

{ مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا }

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat untuk dirinya sendiri.” (QS Al-Israa’: 15)

Apabila hamba tersebut mengingkari nikmat tersebut/tidak bersyukur -kita berlindung kepada Allah dari perbuatan itu- maka hal tersebut akan berakibat buruk baginya, dia akan mendapatkan kerugian dan penyesalan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah jalla wa ‘alaa Maha Kaya (Tidak membutuhkan) syukur hamba tersebut.

Faidah Ketujuh

Kita beriman kepada kesempurnaan kekayaan Allah dari segala sisi dan dan rasa butuh hamb-hamba-Nya kepada-Nya dari segala sisi.

{ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ }

“Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Kita beriman bahwa Allah-lah yang Ghaniy (Maha Kaya). Al-Ghaniy adalah salah satu nama di antara nama-nama Allah yang bagus (Al-Asmaa-ul-Husnaa). Nama tersebut mengandung sifat-Nya yang memiliki kekayaan dan Allah jalla wa ‘alaa tidak membutuhkan hamba-hamba dan seluruh makhluk-Nya dari segala sisi. Sedangkan hamba-hamba dan seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan Allah dari segala sisi.

Kita beriman bahwa Rabb kita Al-Ghaniy (Yang Maha Kaya) bersemayam di atas ‘Arsy-Nya dan terpisah dengan makhluk-Nya sebagaimana Allah mengabarkannya di dalam kitab-Nya:

{ الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى }

“Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS Thaahaa: 5)

{ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ }

“Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS Al-A’raaf: 54)

Pada waktu yang bersamaan, kita juga harus mengimani bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak membutuhkan ‘Arsy-Nya dan seluruh makhluk di bawahnya. Seluruh makhluk-makhluk tersebut, yaitu ‘Arsy dan apa-apa yang ada di bawahnya sangat membutuhkan Allah.

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

{ إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا }

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap. Dan sungguh jika keduanya lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Fathir: 41)

Allah-lah yang menahan ‘Arsy, menahan langit-langit dan menahan bumi. Seluruh makhluknya berdiri atas usaha-Nya –tabaaraka wa ta’aalaa-. Seluruhnya tidak bisa merasakan tidak butuh kepada Allah meskipun hanya sekejap mata.

Faidah Kedelapan

(Pada kisah ini) terdapat penetapan kesempurnaan pujian kepada-Nya subhaanahu. Baginyalah segala pujian atas kebaikan pemberian nikmatnya dan keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah jalla wa ‘alaa berfirman:

{ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ }

“Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Al-Hamiid adalah salah satu nama di antara nama-nama Allah yang indah. Nama tersebut menunjukkan pujian yang diberikan kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Dia-lah yang memiliki pujian yang mutlak dan sempurna dalam keadaan apapun dan kapanpun.

Dia subhaanahu dipuji atas nama-nama dan sifat-sifat yang dimilikinya. Dia dipuji atas kenikmatan-kenikmatan, karunia-karunia dan pemberian-pemberian-Nya. Dialah Al-Hamiid (Yang Maha Terpuji) jalla wa ‘alaa Yang memiliki semua pujian. Allah ta’aalaa berfirman:

{ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ }

“Bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat.” (QS Al-Qashash: 70)

Dia-lah yang memiliki pujian di awal maupun di akhir. Dia-lah –tabaaraka wa ta’aalaa– yang memiliki semua pujian baik yang tampak maupun yang tidak. Seluruh pujian adalah milik Allah. Seluruh kenikmatan adalah berasal dari Allah. Apa yang didapatkan oleh hamba-hamba-Nya berupa kenikmatan, itu berasal dari Allah dan Dia-lah yang memberikannya.

Sudah sepantasnya, seluruh pujian tersebut hanya dikhususkan untuk Al-Mun’im (Yang Maha Pemberi Kenikmatan). Oleh karena itu, orang-orang yang sedang ber-talbiyah mengatakan dalam talbiyah-nya:

( إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ )

“Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Faidah Kesembilan

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) kedudukan hikmah dan manfaatnya yang besar pada diri orang yang Allah tabaaraka wa ta’aalaa berikan hikmah itu kepadanya dan Allah karunia dia untuk mendapatkannya. Ini sangat jelas pada konteks ayat yang diberkahi ini, di dalamnya terdapat pujian dan sanjungan Allah terhadap Luqman. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah memberinya hikmah.

Hal ini juga dapat menjadikan seorang hamba (semakin) bersemangat untuk mengenal hikmah, seperti apakah dia?, dan juga bersemangat untuk memiliki sifat tersebut.

Di antara makna hikmah yang disebutkan (oleh para ulama) adalah sebagai berikut:

–       Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat yang diiringi dengan amalan shaalih.

–       Hikmah adalah meletakkan berbagai perkara sesuai pada tempatnya.

–       Hikmah adalah ilmu, pemahaman, kelurusan (dalam bertingkah laku) dan (memiliki) cara pandang yang baik.

Dan disebutkan pula makna-makna yang lain.

Yang menjadi poin penting adalah hikmah tersebut memiliki kedudukan yang agung. Sudah sepantasnya setiap hamba bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkannya, serta menempuh segala cara yang disyariatkan dan segala jalan untuk mendapatkannya dan mengantarkannya dengan cara-cara dan jalan-jalan tersebut kepada hikmah yang dimaksud.

Bersambung …

50 Faidah dari Kisah Luqmaan Al-Hakim[7]

Bagian II

Oleh: Prof. Dr. ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbaad

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

Dan (Ingatlah) ketika Luqmaan berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (13)

Faidah Kesepuluh

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya cara menyampaikan pelajaran (al-wa’dzh) dalam mendidik dan mengajar. Allah ta’aalaa berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ

Dan (Ingatlah) ketika Luqmaan berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya

Cara menyampaikan nasihat memiliki pengaruh yang besar dalam mendidik manusia dan mengajarkan anak yang baru berkembang. Al-Wa’dzh, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, (artinya adalah) ilmu yang mana manusia diarahkan untuk mendapatkannya dan dibimbing untuk mengamalkannya disertai dengan targhiib (menyampaikan ganjaran yang baik) dan tarhiib (menyampaikan ancaman yang buruk).

Seseorang mengingatkan suatu kebaikan disertai dengan hal-hal yang dapat memberi semangat (untuk melakukannya). Seseorang mengingatkan suatu larangan juga disertai hal-hal yang dapat memberikan rasa takut (untuk melaksanakannya). Jadi yang dinamakan dengan al-wa’dzh adalah memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan disertai dengan targhiib dan tarhiib.

At-Targhiib dapat dilakukan dengan menyebutkan faidah-faidah, hasil-hasil dan pengaruh-pengaruh (yang baik) yang akan didapatkan oleh seorang hamba apabila mengamalkan perintah tersebut. At-Tarhiib dapat dilakukan dengan menyebutkan keburukan-keburukan dan bahaya-bahaya yang akan didapatkan oleh seseorang yang mengerjakannya.

Seperti itulah yang dilakukan oleh Luqmaan Al-Hakiim, nasihat-nasihatnya berisi targhiib yang bermanfaat untuk memotivasi orang yang didakwahi untuk mau melakukan apa yang didakwahkan dengan sebaik-baik cara dan keadaan, dan berisi pula tarhiib yang dapat menahan orang yang didakwahi untuk mengerjakan dosa dan kesalahan.

Faidah Kesebelas

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya perbuatan ramah dan besarnya pengaruh perbuatan ramah tersebut kepada orang yang berhadapan dan belajar dengannya.

Ketika Anda ingin memberikan al-wa’dzh (pelajaran yang disertai targhib dan tarhiib) dan memberikan nasihat kepada seseorang, sudah sepantasnya Anda berbuat ramah kepadanya. Sebutkanlah ungkapan-ungkapan yang lembut dan perkataan yang indah yang dapat memasukkan perkataan Anda ke dalam hatinya dan dapat menjadikan hatinya terbuka untuk menerima perkataan Anda.

Perhatikanlah Luqmaan ketika beliau memberi pelajaran kepada anaknya, beliau mengungkapkan perkataan yang indah, menggunakan cara yang berpengaruh dan menyampaikan kata-kata yang masuk ke dalam hati.

Lihatlah kelembutannya dalam perkataannya kepada anaknya ketika memberikan pelajaran, “Ya bunayya (Wahai anak kecilku)!” Perkataan tersebut berulang-ulang disebutkan, karena perkataan tersebut memiliki arti penting di dalam hati sang Anak. Perkataan tersebut memiliki pengaruh pada diri anaknya dan sangat membantunya untuk mendengarkan pelajaran tersebut dengan baik dan dapat benar-benar mengambil faidah dari pelajaran tersebut. Di dalamnya terdapat pengaruh yang besar pada perkataan apabila disampaikan dengan cara yang ramah.

Apabila pelajaran disampaikan dengan tidak ramah, seperti yang dikatakan oleh seseorang ketika dia menasihati atau melarang, “Ya walad (Wahai anak)!” (yaitu ungkapan kasar dalam bahasa Arab saat ini-pent.) atau sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang ketika berbicara dengan anaknya atau ketika melarangnya untuk melakukan sesuatu, mereka memanggilnya dengan nama-nama hewan. Bagaimana mungkin hati orang yang dinasihati akan terbuka untuk menerima penyampaian dengan cara ini yang begitu dibenci. Tidak ragu lagi, ini akan menutup dan menjadikan pemikiran tidak bersemangat (untuk menerimanya).

Terjadi perbedaan yang sangat mencolok antara cara penyampaian tersebut dengan orang yang memberikan pelajaran dengan cara penyampaian yang ramah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Luqmaan kepada anaknya, “Ya Bunayya (Wahai anak kecilku)!”, ucapan tersebut disampaikan dengan ???, rasa kebapakan, lembut dan ???. Hatinya anaknya pun terbuka.

Perhatikan juga perbuatan ramah yang baik yang terdapat pada hadits Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan berkata, “Ya Mu’aadz! Sesungguhnya aku menyayangimu.” Mu’aadz pun mengatakan, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah! Saya juga menyayangimu.” Beliau pun berkata, “Saya wasiatkan kepadamu ya Mu’aadz, setelah engkau shalat, janganlah pernah engkau tidak membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah! Bantulah diriku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan dapat beribadah dengan baik.[8]

Beliau memulai perkataanya dengan ramah dan lembut sehingga Mu’adz dapat menerima faidah, terbuka ??? hatinya dan bersiap-siap untuk mendapatkannya. Cara seperti ini harus digunakan ketika berdakwah menuju seruan Allah subhanahu wa ta’ala dan ketika mengajarkan kebaikan terhadap manusia.

Insya Allah Bersambung…

Download FAIDAH-FAIDAH DARI KISAH LUQMAAN AL-HAKIM[1]  BAGIAN I

 


[1]  Diterjemahkan dari buku beliau yang berjudul ‘Fawaaidu Mustanbathah min Qishshati Luqman Al-Hakiim’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek Al-Haramain Asy-Syariifain, kota Haail, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufiiq.

[2]  Dia adalah seorang hamba yang soleh dan bukan seorang nabi. Tidak ada dalil di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Nabi. Al-Imam Al-Baghawi mengatakan di dalam tafsirnya bahwa hal tersebut adalah kesepakatan (para ulama). Beliau berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa dia adalah seorang yang hakiim (memiliki hikmah) dan bukan nabi. Kecuali ‘Ikrimah, beliau berkata, ‘Dia adalah seorang nabi.’ Akan tetapi, beliau menyendiri dalam pendapatnya tersebut.” (Ma’aalimut-Tanziil III/490)

[3] Lihat biografinya di ‘Al-Bidaayah wa An-Nihaayah (II/146-153).

[4] HR Muslim no. 2664.

[5] HR Al-Khathiib di ‘At-Tariikh’ (IX/127) dari hadiits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Syaikh Al-Albani meng-hasan-kan sanadnya di dalam Ash-Shahiihah no. 342.

[6] No. 2577.

[7]  Diterjemahkan dari buku beliau yang berjudul ‘Fawaaidu Mustanbathah min Qishshati Luqman Al-Hakiim’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek Al-Haramain Asy-Syariifain, kota Haail, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufiiq.

[8] Diriwayatkan oleh Ahmad no. 22119, Abu Dawud no. 1522 dan An-Nasaa-i di dalam Al-Kubraa no. 9937. Syaikh Al-Albaani men-shahiih-kannya di dalam Shahih Al-Jaami’ no. 7969.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: