Skip to content

FAIDAH-FAIDAH DARI KISAH LUQMAN AL-HAKIM[1] BAGIAN II

25 December 2012

Kisah Luqmaan Al-Hakim2Oleh: Prof. Dr. ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbaad

{ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

“Dan (Ingatlah) ketika Luqmaan berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqmaan : 13)

Faidah Kesepuluh

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya cara menyampaikan pelajaran (al-wa’dzh) dalam mendidik dan mengajar. Allah ta’aalaa berfirman:

{ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ }

“Dan (Ingatlah) ketika Luqmaan berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya.”

Cara menyampaikan nasihat memiliki pengaruh yang besar dalam mendidik manusia dan mengajarkan anak yang baru berkembang. Al-Wa’dzh, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, (artinya adalah) ilmu yang mana manusia diarahkan untuk mendapatkannya dan dibimbing untuk mengamalkannya disertai dengan targhiib (menyampaikan hal-hal yang menjadikannya tambah bersemangat) dan tarhiib (menyampaikan hal-hal yang dapat membuatnya takut), dimana seseorang mengingatkan suatu kebaikan disertai dengan hal-hal yang dapat memberi semangat (untuk melakukannya) dan mengingatkan suatu larangan juga disertai dengan hal-hal yang dapat memberikan rasa takut (untuk melaksanakannya). Jadi yang dinamakan dengan al-wa’dzh adalah memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan disertai dengan targhiib dan tarhiib.

At-Targhiib dapat dilakukan dengan menyebutkan faidah-faidah, hasil-hasil dan pengaruh-pengaruh (yang baik) yang akan didapatkan oleh seorang hamba apabila dia mengamalkan perintah tersebut. Adapun At-Tarhiib dapat dilakukan dengan menyebutkan keburukan-keburukan dan bahaya-bahaya yang akan didapatkan oleh seseorang yang mengerjakannya.

Seperti itulah yang dilakukan oleh Luqmaan Al-Hakiim, nasihat-nasihatnya berisi targhiib yang bermanfaat untuk memotivasi orang yang didakwahi untuk mau melakukan apa yang didakwahkan dengan sebaik-baik cara dan keadaan, dan berisi pula tarhiib yang dapat membentengi orang yang didakwahi untuk mengerjakan dosa dan kesalahan.

Faidah Kesebelas

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya perbuatan ramah dan besarnya pengaruh perbuatan ramah tersebut kepada orang yang mengambil ilmu dan belajar dengannya.

Ketika Anda ingin memberikan pelajaran dan memberikan nasihat kepada seseorang, sudah sepantasnya Anda berbuat ramah kepadanya. Sebutkanlah ungkapan-ungkapan yang lembut dan perkataan yang indah yang dapat memasukkan perkataan Anda ke dalam hatinya dan dapat menjadikan hatinya terbuka untuk menerima perkataan Anda.

Perhatikanlah Luqmaan ketika beliau memberi pelajaran kepada anaknya, beliau mengungkapkan perkataan yang indah, menggunakan cara yang berpengaruh dan menyampaikan kata-kata yang masuk ke dalam hati.

Lihatlah kelembutan perkataannya kepada anaknya ketika dia memberikan pelajaran, “Ya bunayya[2] (Wahai anak kecilku)!” Perkataan tersebut berulang-ulang disebutkan, karena perkataan tersebut memiliki arti penting di dalam hati sang Anak. Perkataan tersebut memiliki pengaruh pada diri anaknya dan sangat membantunya untuk mendengarkan pelajaran tersebut dengan baik, sehingga dia dapat benar-benar mengambil faidah dari pelajaran tersebut. Betapa besar pengaruh suatu perkataan apabila disampaikan dengan cara yang ramah.

Apabila pelajaran disampaikan dengan tidak ramah, seperti yang dikatakan oleh seseorang ketika dia menasihati atau melarang, “Ya walad[3] (Wahai anak)!” atau sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang ketika berbicara dengan anaknya atau ketika melarangnya untuk melakukan sesuatu, mereka memanggilnya dengan nama-nama hewan. Bagaimana mungkin hati orang yang dinasihati akan terbuka untuk menerima penyampaian dengan cara ini yang begitu dibenci. Tidak diragukan bahwa ini akan menutup pikiran dan menjadikannya tidak bersemangat (untuk menerimanya).

Terjadi perbedaan yang sangat mencolok antara cara penyampaian tersebut dengan orang yang memberikan pelajaran dengan cara penyampaian yang ramah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Luqmaan kepada anaknya, “Ya Bunayya (Wahai anak kecilku)!”, ucapan tersebut disampaikan dengan kasih sayang, sifat kebapakan, lembut dan cinta. Hati anaknya pun akan terbuka.

Perhatikan juga perbuatan ramah yang baik yang terdapat pada hadits Mu’aadz bin Jabal radhiallaahu ‘anhu. Pada suatu hari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan berkata, “Ya Mu’aadz! Sesungguhnya aku menyayangimu.” Mu’aadz pun mengatakan, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah! Saya juga menyayangimu.” Beliau pun berkata, “Saya wasiatkan kepadamu ya Mu’aadz, setelah engkau shalat, janganlah pernah engkau tidak membaca:

( اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )

“Ya Allah! Bantulah diriku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan dapat beribadah dengan baik.”[4]

Beliau memulai perkataannya dengan ramah dan lembut, sehingga Mu’aadz dapat menerima faidah, terbukalah “kerutan-kerutan” hatinya dan bersiap-siap untuk mendapatkannya. Cara seperti ini harus digunakan ketika berdakwah menuju seruan Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan ketika mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Faidah Kedua Belas

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya memperhatikan prioritas dalam berdakwah menuju seruan Allah. Hal ini sudah sepantasnya diperhatikan oleh para orang tua, para pendidik dan para daa’i. Ketika orang-orang yang berdakwah menuju seruan Allah ingin mengajak kepada kebaikan, maka mulailah dengan hal yang paling penting, kemudian yang penting, kemudian yang kepentingannya kurang. Begitu pula pada pendidikan anak-anak dan pengkaderan generasi-generasi muda.

Hal yang pertama kali kita lakukan adalah dengan “menanamkan” aqidah yang benar dan keimanan yang bermanfaat, setelah itu, kita mengajarkan macam-macam ibadah, adab dan akhlak. Oleh karena itu, ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’aadz bin Jabal radhiallaahu ‘anhu ke Yaman, beliau berkata kepadanya:

( إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى )

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab. Jadikanlah hal pertama yang engkau serukan kepada mereka agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala.”[5]

Inilah yang dilakukan oleh Luqmaan Al-Hakiim ketika hendak mewasiatkan anaknya dengan beberapa wasiat yang bermanfaat. Anaknya sangat membutuhkan wasiat-wasiat tersebut dan diajak untuk mengerjakannya. Beliau memulainya dengan berkata:

{ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ }

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah!” karena beliau memperhatikan prioritas (dalam berdakwah).

Faidah Ketiga Belas

Sesungguhnya kesyirikan adalah dosa yang terbesar dan paling berbahaya. Syirik adalah larangan Allah tabaaraka wa ta’aalaa yang paling besar. Kita mengetahui hal ini dengan (melihat) apa yang dilakukan oleh Luqmaan Al-Hakiim, beliau memulainya dengan memperingatkan hal yang paling berbahaya. Inilah jalan yang ditempuh oleh para pemberi nasihat ketika mereka melarang dari beberapa hal yang berbahaya, maka mereka mulai dari hal yang paling berbahaya.

Oleh karena itu, Luqmaan Al-Hakiim melarang anaknya untuk berbuat syirik. Kalau diperhatikan dalam konteks ayat-ayat yang penuh keberkahan ini, beliau melarang dari berbagai hal, seperti: sombong, menipu dan congkak. Akan tetapi, larangan yang pertama kali diucapkan adalah larangan untuk berbuat syirik kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa kesyirikan adalah hal yang paling berbahaya dan yang paling besar keburukannya.

Faidah Keempat Belas

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya menanamkan tauhid, ikhlas dan menjauhi perbuatan syirik kepada anak-anak sejak dia kecil. Faidah ini juga didapatkan pada wasiat ini:

{ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ }

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah!”

Anak-anak sangat butuh untuk diperingatkan akan bahaya syirik dan diajak untuk bertauhid dan ikhlas hanya untuk Allah tabaaraka wa ta’aalaa. Apabila seorang anak diajarkan tauhid di awal pertumbuhannya, maka -dengan izin Allah- itu akan mendatangkan manfaat yang sangat besar.

Oleh karena itu, di antara hikmah yang terkandung pada pemberian nama anak dengan nama ‘Abdullaah dan ‘Abdurrahmaan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits:

( خَيْرُ الأَسْمَاءِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ )

“Sebaik-baik nama adalah ‘Abdullaah dan ‘Abdurrahmaan.”[6]

adalah agar anak tersebut tumbuh di atas tauhid, dan berkembang dalam keadaan dia mengetahui bahwa dia adalah hamba Allah dan bukan hamba hawa nafsu, bukan pula hamba dunia, hamba setan dan hamba untuk kepentingan-kepentingan dirinya sendiri. Tetapi, dia adalah hamba Allah tabaaraka wa ta’aalaa.

Dia berkembang berlandaskan keimanan dan aqidah. Keimanan dan aqidah adalah pondasi yang bangunan agama, keyakinan dan kepercayaan dibangun di atasnya. Agama tidak akan bisa berdiri dan berjalan lurus kecuali berlandaskan tauhid dan ikhlas kepada Allah tabaaraka wa ta’aalaa.

Faidah Kelima Belas

Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman dan pelanggaran yang paling besar. Hal ini dapat kita petik dari perkataan Allah tabaaraka wa ta’aalaa:

{ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.“

Arti kezaliman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kezaliman apakah yang lebih besar daripada kezaliman meletakkan peribadatan tidak pada tempatnya? Bagaimana mungkin peribadatan diserahkan kepada makhluk yang lemah, penuh kekurangan, tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat dan menghilangkan bahaya dari dirinya sendiri dan tidak bisa menghidupkan dan juga membangkitkan.

Dosa manakah yang lebih besar daripada dosa ini? Allah telah menciptakan manusia, tetapi ternyata manusia memalingkan ibadah kepada selain-Nya? Allah telah memberinya rezeki,tetapi ternyata dia meminta rezeki kepada selain-Nya? Allah telah menyembuhkannya, tetapi dia memohon penyembuhan kepada selain Allah. Kezaliman mana yang lebih besar daripada ini?

Faidah Keenam Belas

Orang yang belajar atau didakwahi sangat butuh untuk mengetahui buah (yang bisa dipetik) dari perintah-perintah (yang dilaksanakan) dan bahaya (yang ditimbulkan akibat mengerjakan) larangan-larangan, agar dia mampu untuk menjalankannya.

Apabila disebutkan suatu perintah, maka dia butuh untuk disebutkan faidah dan hasil dari perintah tersebut. Apabila disebutkan suatu larangan, maka dia butuh untuk disebutkan akibat yang buruk yang akan didapatkan oleh orang-orang yang mengikuti jalan tersebut. Hal ini didapatkan dari kisah Luqmaan di beberapa tempat.

Faidah Ketujuh Belas

Pada ayat ini terdapat wasiat untuk berbakti, berbuat baik, berlaku mulia kepada kedua orang tua dan memperhatikan hak-hak mereka. Hal ini terdapat pada perkataan Allah ta’aalaa:

{ وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ}

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Oleh karena itu) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kamu kembali.” (QS Luqmaan: 14)

Wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sesuatu yang sangat besar. Yang menjadi wasiat hanyalah hal-hal yang besar saja. Dan jika kita lihat, wasiat di sini berasal dari Rabb semesta alam jalla wa ‘alaa. Oleh karena itu, beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan:

{ وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ }

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.”

Berada dalam konteks tambahan dari penyebutan Allah akan kisah Luqmaan tersebut. (Jadi itu bukan perkataan Luqmaan terhadap anaknya-pent.), tetapi itu adalah wasiat dari Allah jalla wa ‘alaa agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Oleh karena itu di dalam konteks tambahan ini terdapat faidah-faidah yang besar dan penuh dengan keberkahan yaitu wasiat kepada kedua orang tua, mengenal hak-hak mereka, berbuat baik dan berbakti kepada keduanya serta memenuhi segala hak keduanya.

Faidah Kedelapan Belas

Sesungguhnya di antara hal yang paling berpengaruh untuk mewujudkan bakti kepada kedua orang tua adalah dengan mengingat keindahan masa lalu dan kebaikan yang telah didapatkan. Hal ini dapat membantu seseorang untuk dapat berbakti (kepada kedua orang tuanya) dan menjauhkannya dari perbuatan durhaka dan memutuskan hubungan kekeluargaan.

Perhatikanlah perkataan Allah :

{ وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ }

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.”

Yaitu, ingatlah wahai anak! Apa yang telah terjadi pada diri ibumu, seperti: kasing sayang ibu dan saat-saat dia mengandung, menyusui dan mendidikmu. Ingatlah bagaimana ketika beliau hamil dan merasakan berbagai macam kesakitan dan kelelahan, dalam masa yang sangat lama engkau berada di rahim ibumu, betapa berat beliau membawamu di perutnya selama sembilan bulan. Begitu pula penderitaan yang dirasakan ketika beliau berdiri, duduk dan tidur.

Kemudian ingatlah ketika ibumu melahirkanmu. Betapa berat penderitaan yang dirasakan oleh ibumu sampai engkau keluar menuju kehidupan ini.

Kemudian ingatlah ketika ibumu menyusuimu dan ingatlah pula apa yang dirasakannya berupa kelelahan, rasa sakit dan bergadang .

Seluruh keindahan ini sudah sepantasnya untuk tidak dilupakan dan tidak hilang dalam ingatan.

Faidah Kesembilan Belas

Di antara hal yang dapat membantu untuk mewujudkan bakti (kepada kedua orang tua) adalah dengan mengingat tempat berasal dan kembali kita kepada Allah. Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dia akan kembali kepada Allah dan akan mendapatkan balasan perbuatan baik dan baktinya itu. Dengan demikian, dia akan semakin berbakti dan berbuat baik (kepada kedua orang tuanya).

Sedangkan orang yang durhaka (kepada kedua orang tuanya), maka dia akan kembali kepada Allah dan akan mendapatkan hukuman akibat kedurhakaannya itu. Sehingga dia akan merasa ngeri untuk menghina dan berbuat durhaka kepada keduanya. Hal ini dapat kita petik dari perkataan-Nya:

{ إِلَيَّ الْمَصِيرُ }

“Hanya kepada-Ku-lah kamu kembali.“

Faidah Kedua Puluh

(Di dalam ayat ini dijelaskan tentang) besarnya hak seorang ibu. Sesungguhnya ibu adalah manusia yang paling utama untuk berbakti kepadanya dan yang paling utama diperlakukan dengan baik. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:

( يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: (أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (ثُمَّ أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (ثُمَّ أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَبُوكَ).

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia pun bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.”[7]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut ibu sebanyak tiga kali, karena perlakuan baik lebih berhak dan lebih utama diserahkan kepada sang ibu. Hal ini dikarenakan kebaikan yang didapatkan oleh seorang anak dari ibunya tidak akan ada yang bisa menyamainya atau bahkan mendekatinya.

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya pada ayat ini terdapat dalil dan pendukung terhadap perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu.”

Sisi pandangnya adalah seperti ini, Allah jalla wa ‘alaa menyebutkan ibu di dalam konteks ayat ini dalam tiga tingkatan di dalam perbuatan baiknya kepada si anak.

Tingkatan pertama adalah sifat keibuan,

(وأُمُّهُ)

Tingkatan kedua adalah mengandungnya,

(حَمَلَتْهُ)

Tingkatan ketiga adalah menyusuinya ,

(وَفِصَالُهُ)

Inilah ketiga tingkatan yang berasal dari seorang ibu yang tidak bisa didapatkan (dari selainnya), tidak bisa didapatkan dari sang Ayah, ataupun dari seluruh orang yang pernah berbuat baik kepada anak tersebut.

Ini mengandung pengertian, agar seorang anak membalas keindahan dan kebaikan tersebut dengan kebaikan juga dan sang Ibu menjadi orang yang paling berhak untuk diberikan kebaikan kepadanya.

Akan tetapi, di antara musibah yang sangat besar, Anda akan mendapatkan sebagian orang yang mendapatkan dari ibunya kebaikan yang terus menerus dan keindahan yang tidak pernah berhenti, memberikan bakti, kelemahlembutan dan perbuatan baiknya kepada orang-orang yang belum tentu pernah memberikan sepersepuluh dari kebaikan yang diberikan oleh sang Ibu. Akan tetapi, dia tidak berlaku baik sedikit pun kepada ibunya. Kalaupun dia memberikan kebaikannya , dia hanya memberikan kelebihannya saja dan itupun sangat sedikit.

Apakah demikian cara membalas keindahan dan kebaikan dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik?

Oleh karena itu, durhaka kepada sang Ibu adalah termasuk dosa dan kehinaan yang paling besar. Bagaimana mungkin seseorang akan durhaka kepada ibunya, sedangkan ibunyalah orang yang paling banyak memberikan kebaikan dan kedermawanan kepadanya.

Faidah Kedua Puluh Satu

Sesungguhnya apa yang pernah dirasakan oleh seorang ibu, berupa: kesusahan dan kelelahan ketika hamil dan melahirkan adalah hal yang tidak akan pernah bisa dibalas oleh si anak meskipun dia berusaha untuk berbakti dan bersungguh-sungguh (untuk membalasnya).

Faidah Kedua Puluh Dua

Sesungguhnya didampingkannya hak kedua orang tua dengan hak Allah (pada ayat ini) menunjukkan ketinggian kedudukan hak mereka berdua. Hak mereka adalah hak yang lebih wajib untuk dipenuhi setelah hak Allah.

Pendampingan ini banyak terdapat di dalam Al-Qur’an, dimana Allah mendampingkan antara hak-Nya ‘azza wa jalla dengan hak kedua orang tua.

Faidah Kedua Puluh Tiga

Sesungguhnya bersyukur kepada kedua orang tua dapat dilakukan dengan mencintai, mendoakan, manyambung silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka berdua.

Faidah Kedua Puluh Empat

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) bahaya durhaka kepada kedua orang tua. Kedurhakaan tersebut termasuk dosa yang paling besar dan paling tercela.

Di dalam Shahihain di dalam hadits Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟) –ثَلاَثًا- قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ) -وَجَلَسَ ، وَكَانَ مُتَّكِئًا- فَقَالَ: (أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ) قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ.

“Maukah kalian saya kabarkan tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” Para Sahabat pun berkata, “Ya.” Beliau berkata, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua.” Kemudian beliau pun duduk setelah tadinya berbaring, beliau mengatakan, “Ketahuilah, dan juga perkataan dusta.” Abu Bakrah mengatakan, “Beliau terus-menerus mengulang-ngulanginya sampai kami berkata, “Seandainya beliau diam.”[8]

Bersambung…

Download KISAH LUQMAN AL-HAKIM II


[1]  Diterjemahkan dari buku beliau yang berjudul ‘Fawaaidu Mustanbathah min Qishshati Luqman Al-Hakiim’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek Al-Haramain Asy-Syariifain, kota Haail, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufiiq.”

[2] (Yaitu panggilan yang sangat halus ketika memanggil seorang anak dalam bahasa Arab dari dulu sampai saat ini-Pent.)

[3] (Yaitu panggilan yang sangat kasar ketika memanggil seorang anak dalam bahasa Arab saat ini-Pent.)

[4] Diriwayatkan oleh Ahmad no. 22119, Abu Daawuud no. 1522 dan An-Nasaa-i di dalam Al-Kubraa no. 9937. Syaikh Al-Albaani men-shahiih-kannya di dalam Shahih Al-Jaami’ no. 7969.

[5] HR Al-Bukhaari no. 1389 dan 6937 dan Muslim no. 19 dari hadits Ibnu ‘Abbaas radhiallaahu ‘anhu.

[6] HR Ahmad no. 17606 dan Al-Haakim (IV/276), Al-Haakim men-shahiih-kannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Lihat Ash-Shahiihah no. 904.

[7] HR Al-Bukhaari no. 5971 dan Muslim no. 2548 dari hadits Abu Hurairah.

[8] HR Al-Bukhaari no. 2654 dan Muslim no. 87.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: