Skip to content

FAIDAH-FAIDAH DARI KISAH LUQMAN AL-HAKÎM[1] BAGIAN III

29 December 2012

Kisah Luqmaan Al-Hakim4Oleh: Prof. Dr. ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbâd

{ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ }

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembali kalian, maka Ku-beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqmân : 15)

Faidah Kedua Puluh Lima 

(Pada kisah Luqmân terdapat penjelasan tentang) cara bermuamalah dengan ayah dan ibu jika keduanya adalah orang musyrik atau fasiq. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’âlâ:

{ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا }

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqmân : 15)

Sang Ayah tidak boleh ditaati, begitu pula sang Ibu, apabila mereka meminta anaknya untuk berbuat kesyirikan kepada Allah atau melakukan perbuatan maksiat. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan dia harus tetap memperlakukan mereka dengan baik.

Faidah Kedua Puluh Enam

(Pada kisah Luqmân terdapat penjelasan tentang) kesempurnaan syariat dalam seruannya untuk menjaga perbuatan baik dan memperhatikan akhlak yang mulia. Ini sangat jelas, meskipun sang Ayah dan Ibu seorang musyrik, kemudian mereka mengajak anaknya untuk berbuat syirik, Allah berfirman:

{ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا }

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Perlakuan seperti ini harus diberikan kepada kedua orang tua yang musyrik. Dengan demikian, bagaimana seharusnya perlakuan (anak) kepada kedua orang tuanya yang beriman, tidak menyuruh anaknya kecuali kebaikan dan tidak pernah mengajak kecuali kepada ketakwaan dan kebaikan?

Faidah Kedua Puluh Tujuh

Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk pun dalam hal kemaksiatan kepada Al-Khâliq (Sang Pencipta).

Allah ta’âlâ berfirman:

{ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا }

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Faidah Kedua Puluh Delapan

Sesungguhnya orang-orang yang sesat dan berada dalam kebatilan, terkadang mereka menggunakan pemaksaan, ekspansi (meluaskan usaha) dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyebarkan kebatilan mereka dan mengajak kepada kesesatan mereka.

Ini sangat jelas diterangkan pada ayat:

{ وَإِنْ جَاهَدَاكَ }

“Dan jika keduanya memaksamu.”

Dan sebaliknya, terkadang sebagian orang-orang yang berada di dalam haq/kebenaran bermalas-malas dan semakin futur (tidak bersemangat) pada bab ini.

Faidah Kedua Puluh Sembilan

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) perbedaan antara ketidaktaatan dengan kedurhakaan. Sebagian orang mencampuradukkan hal in dan menganggap kedua hal tersebut adalah sama. Yang benar, keduanya berbeda. Allah ta’âlâ berfirman:

{ فَلَا تُطِعْهُمَا }

“Maka janganlah kamu mengikuti (menaati) keduanya.”

Allah tidak berkata, “Durhakalah kepada keduanya!’

Faidah Ketiga Puluh

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) keutamaan para sahabat dan orang-orang yang terbaik di umat ini. Hal ini bisa dipetik dari firman Allah:

{ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ }

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”

Apabila Anda melihat keadaan para sahabat dan orang-orang yang terbaik di umat ini, maka Anda akan mendapatkan keadaan mereka adalah keadaan orang-orang yang selalu kembali kepada Allah jalla wa ‘alâ.

Oleh karena itu, Anda akan mendapatkan sebagian ahli tafsir mengartikan: “dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” dengan  Abu Bakr. Sebagian lagi mengartikannya dengan para sahabat. Semua tafsiran ini adalah tafsiran dengan menyebutkan sebagian saja dari hal-hal yang termasuk di dalamnya atau menyebutkan yang paling utama dari hal-hal tersebut.

Ini menunjukkan kepada kita tentang keutamaan para sahabat dan keutamaan umat terbaik. Dan sudah sepantasnya kita mengenal jalan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh, yaitu orang-orang terbaik dan bisa dijadikan percontohan, serta berhati-hati untuk mengikuti jalan selain jalan kaum mukminin.

{ وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا }

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisâ’ : 115)

Faidah Ketiga Puluh Satu

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya memilih teman. Seorang mukmin tidaklah pantas untuk berteman dengan seluruh orang yang dia inginkan. Betapa banyak terjadi keburukan pada diri seseorang akibat teman dekatnya.  Seorang hamba dituntut untuk tidak berteman dengan semua orang. Dia hanyalah bergaul dengan orang-orang yang baik, memiliki keutamaan dan kepandaian. Ini juga bisa dipetik dari perkataan Allah:

{ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ }

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”

Faidah Ketiga Puluh Dua

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) inâbah (kembali) kepada Allah dan kedudukan orang yang kembali kepada Allah. Inilah yang terlihat pada perkataan Allah:

{ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ }

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”

Allah telah menjadikan jalan orang-orang yang kembali kepada-Nya sebagai jalan yang (harus) diikuti dan ditempuh.

Inâbah (kembali) kepada Allah terdiri dari empat hal, yaitu: cinta, tunduk, menghadap kepada-Nya dan menolak semua yang bukan dari-Nya.

Ibnul-Qayyim pernah berkata, “Tidak berhak seseorang dikatakan Al-Munîb (orang yang kembali), kecuali telah terkumpul pada dirinya keempat hal ini. Penafsiran para salaf untuk lafaz ini berputar pada makna-makna tersebut.”[2]

Faidah Ketiga Puluh Tiga

Sesungguhnya semua amalan hamba-hamba akan dicatat dan mereka akan mengetahuinya di hari kiamat.

{ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ }

“Kemudian hanya kepada-Kulah kembali kalian, maka Ku-beritakan kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan.”

Faidah Ketiga Puluh Empat

Sesungguhnya kesyirikan itu tidak ada dalil yang mendukungnya. Dan tidak bisa menjadi hujjah bagi keluarganya untuk memaksa anaknya (untuk melakukannya). Ini diambil dari perkataan Allah:

{ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ }

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu.”

Ini seperti firman Allah tabâraka wa ta’âlâ:

{ وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ }

“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu.” (QS Al-Mu’minûn: 117)

Kesyirikan seperti apapun jenis dan sifatnya, maka tidak ada dalil/hujjah untuknya. Inilah sifat yang lazim untuk kesyirikan, pada setiap keadaan dan semua bentuknya.

Faidah Ketiga Puluh Lima

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya penekanan bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Dan Allah akan membalas semua yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya di kehidupan ini, ketika kita mengajak manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari keburukan. Sudah sepantasnya para dâ’i memperhatikan hal ini ketika berdakwah.

Karena penekanan ini sangat penting, maka di dalam kisah Luqmân terdapat pengulangan (sebanyak dua kali), yaitu pada firman Allah ta’âlâ:

(إَلَيَّ الْمَصِيْرُ)

“Kepada-Kulah tempat kembali (kalian).”

Dan firman-Nya setelah itu:

{ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ }

(Kepada-Kulah kembali kalian)

Perkara ini sangat dibutuhkan oleh manusia untuk diingatkan berkali-kali dan berulang-ulang, sampai hal ini benar-benar tertanam di dalam pikiran manusia, yaitu manusia akan menghadap Allah dan Allah tabâraka wa ta’âlâ akan membalas amalan-amalan yang telah mereka kerjakan di kehidupan ini agar mereka bisa memperbaiki persiapannya dan siap menghadapi yaumul-ma’âd.

Faidah Ketiga Puluh Enam

(Pada ayat selanjutnya terdapat penjelasan tentang) ilmu/pengetahuan Allah jalla wa ‘alâ tentang segala sesuatu. Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari Allah, baik yang berada di bumi maupun yang ada di langit. (Allah ta’âlâ berfirman):

{ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ }

“(Luqmân berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqmân: 16)

Faidah Ketiga Puluh Tujuh

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pengaruh keimanan kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya terhadap kesolehan hamba dan kesucian amalan-amalannya. Seorang hamba yang lebih mengenal Rabb-nya, maka dia akan semakin giat beribadah dan semakin jauh dari perbuatan maksiat. Dan Luqmân mengulang-ulang penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Faidah Ketiga Puluh Delapan

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya mendidik anak agar merasa selalu diawasi oleh Allah. Apabila Anda berkata kepada anak Anda, “Janganlah kamu lakukan ini!”, maka janganlah engkau jadikan dirinya merasa diawasi oleh Anda. Tetapi arahkanlah, agar dia merasa selalu diawasi oleh Allah di dalam amalan-amalannya, contohnya Anda mengatakan, “Wahai anakku! Shalat-lah dan jauhilah perbuatan haram! Sesungguhnya Allah melihat dan mengawasimu. Tidak ada sesuatu apapun dari apa yang kamu lakukan yang tersembunyi dari-Nya. Sesungguhnya wahai anakku, seandainya engkau melakukan kesalahan kecil, meskipun kesalahan ini berada di dalam batu yang bisu, di langit atau di dalam bumi yang terdalam, maka Allah akan mendatangkan balasannya di hari kiamat. Hati-hatilah wahai anakku! Merasalah bahwa Allah selalu mengawasimu.”

Betapa besar manfaat ucapan ini dalam mendidik anak-anak.

Faidah Ketiga Puluh Sembilan

Sesungguhnnya timbangan di hari kiamat menggunakan timbangan yang dapat mengukur berat dzarrah (atom/bagian terkecil dari benda).

(Allah ta’âlâ berfirman):

{ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8) }

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8).” (QS Az-Zalzalah: 7-8)

Ini dipetik dari firman Allah ta’âlâ:

{ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ }

“Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi.”

Faidah Keempat Puluh

Sesungguhnya kezoliman tidak akan lenyap meskipun hanya sedikit. Setiap kezoliman akan didatangkan balasannya di hari kiamat, bahkan perkara yang sedikit dan yang remeh sekalipun. Oleh karena itu, sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allah:

{ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ }

“Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi” dengan “Kezoliman meskipun kecil sekali, maka Allah jalla wa ‘alâ akan mendatangkan balasannya.”

Faidah Keempat Puluh Satu

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) keimanan kepada dua nama Allah, yaitu: Al-Lathîf dan Al-Khabîr. Kedua nama ini berulang kali digabungkan di beberapa ayat Al-Qur’an Al-Karîm.

Nama Al-Khabîr maknanya kembali kepada ilmu/pengetahuan terhadap hal-hal samar/tersembunyi yang paling halus dan kecil serta sangat tersembunyi. Tentunya, untuk hal-hal yang lebih telihat dan lebih jelas pasti Allah lebih mengetahuinya.

Adapun nama Al-Lathîf, dia memiliki dua makna:

Yang pertama artinya semakna dengan Al-Khabîr, yang kedua artinya Yang memberikan maslahat dan kebaikan kepada hamba-hamba dan wali-wali-Nya dengan jalan-jalan yang tidak mereka rasakan.

Faidah Keempat Puluh Dua

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) kedudukan shalat dan urgensi mengerjakannya, dan (terdapat juga penjelasan tentang) cara mendidik anak-anak kecil untuk dapat menjaga shalat.

Shalat termasuk kewajiban yang paling agung dan fardhu yang paling besar yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Shalat adalah tiang agama dan rukun terpenting setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Shalat adalah penghubung antara hamba dan Rabb-nya. Shalat adalah amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Apabila shalat-nya bagus, maka baguslah seluruh amalannya. Apabila shalat-nya buruk, maka buruklah seluruh amalannya.

Shalat adalah pembeda antara seorang muslim dengan kafir. Mendirikan shalat adalah keimanan, sedangkan meninggalkannya adalah kufur dan melampaui batas.

Tidak dianggap beragama (Islam) orang yang tidak mengerjakan shalat. Dan tidak ada bagian sedikitpun di dalam Islam untuk orang yang meninggalkan shalat.

Barang siapa yang menjaga shalat-nya, maka dia akan memiliki cahaya di hati, wajah, kuburnya dan di hari hasyr (dikumpulkannya semua manusia). Dan dia akan mendapatkan keselamatan di hari kiamat dan dikumpulkan bersama orang-orang yang diberi kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, para shiddîq (orang yang sangat membenarkan), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang soleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Barang siapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak akan memiliki cahaya, petunjuk dan keselamatan di hari kiamat. Dan dia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Hâmân, Qârûn dan Ubay bin Khalaf. Wal-‘iyâdzu billâh.

{ يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ }

“Hai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu! Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS Luqmân: 17)

Faidah Keempat Puluh Tiga

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) melatih anak-anak untuk ber-amr bil-ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan ber-nahy ‘anil-munkar (melarang dari kemungkaran) sejak kecil. Pada yang demikian itu terdapat manfaat untuk mereka dan juga orang lain. Karena seorang anak, jika dari kecil tumbuh sebagai seorang dâ’i (pendakwah) kepada kebaikan, maka dia sendiri akan mendapatkan manfaatnya, begitu juga orang lain. Dan ini juga akan menjaganya agar orang-orang lain tidak bisa mengajaknya untuk melakukan kemungkaran. Orang-orang dahulu mengatakan, “Jika engkau tidak mendakwahi (orang lain), maka kamulah yang didakwahi.”

Apabila seorang anak menjadi seorang  dâ’i kepada kebaikan, maka ini sekaligus menjadi perisai dirinya dari para dâ’i yang mengajak kepada keburukan, karena mereka mengetahui bahwa dia adalah seorang dâ’i yang mengajak kepada kebaikan. Dan mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki jalan untuk mengajaknya.

Dengan memberi manfaat kepada orang lain, bisa jadi hal tersebut menjadikan orang-orang mendapatkan petunjuk karenanya dan hal tersebut tercatat di mîzân hasanâtihi (timbangan amal kebaikannya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ.))

“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang karena usahamu, maka itu lebih baik bagimu, daripada engkau memiliki onta merah.”[3]

Faidah Keempat Puluh Empat

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) wasiat untuk bersabar, terutama untuk para dâ’i (pendakwah) ilallâh dan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Posisi mereka yang seperti itu membutuhkan kesabaran yang besar.

{ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ }

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu! Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Faidah Keempat Puluh Lima

Sesungguhnya tidak ada yang “bangkit” untuk mengerjakan hal-hal yang wajib kecuali orang-orang yang memiliki jiwa yang besar.

Faidah Keempat Puluh Enam

{ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ }

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqmân : 18)

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) larangan bangga dan sombong, di dalam firman Allah:

{ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ }

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Ibnu Katsir berkata, “Arti Mukhtâl adalah kagum terhadap dirinya sendiri, sedangkan arti dari fakhûr adalah kagum dengan merasa lebih dari orang lain.”[4]

Faidah Keempat Puluh Tujuh

{ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ }

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS Luqmân: 19)

 (Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) dakwah agar bersikap pertengahan dan lurus. Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

{ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ }

Faidah Keempat Puluh Delapan

(Pada ayat kedelapan belas terdapat) penetapan sifat mahabbah (cinta) untuk Allah. Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

{ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ }

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Faidah Keempat Puluh Sembilan

Islam menyerukan untuk berakhlak mulia dan melarang dari akhlak yang buruk.

Faidah Kelima Puluh

Pentingnya membuat permisalan ketika mengajar. Perkataan Allah:

{ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ }

“Lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”[5]

adalah permisalan yang sangat tepat. Meninggikan suara yang buruk dan terdapat kemungkaran di dalamnya (adalah perbuatan yang tidak baik). Seandainya benar suara tersebut memiliki faidah, lalu mengapa Allah menyebutkan hewan ini? Padahal kita semua mengetahui bahwa keledai adalah hewan yang buruk dan bodoh.

Ini adalah sebagian faidah yang dipetik dari beberapa ayat yang penuh keberkahan ini. Sesungguhnya wasiat-wasiat yang diwasiatkan oleh Luqmân kepada anaknya mengumpulkan berbagai induk dari perbuatan hikmah, sehingga perkara-perkara yang belum disebutkan harus mengikutinya.

Setiap wasiat disampaikan dengan menyebutkan hal-hal yang memotivasi/menyemangati untuk melakukannya, jika itu adalah perintah, serta menyebutkan hal-hal yang dapat mengajak untuk meninggalkannya jika itu adalah larangan.

Ini semua menunjukkan atas apa-apa yang telah kami sebutkan ketika menafsirkan arti ‘hikmah’. Sesungguhnya dia adalah ilmu tentang berbagai hukum, hikmah-hikmah dan keselarasan-keselarasannya.

Beliau memerintahkan anaknya untuk menjaga pondasi agama yaitu tauhid dan melarangnya dari syirik. Beliau memerintahkan anaknya untuk berbakti kepada kedua orang tua dan menjelaskan sebab-sebab yang menyebabkan anaknya wajib untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Beliau memerintahkan anaknya untuk bersyukur kepada Allah dan bersyukur kepada kedua orang tuanya. Kemudian beliau menyebutkan batasan ketaatan dan melaksanakan perintah mereka berdua, selama mereka tidak menyuruh untuk melakukan perbuatan maksiat. Meskipun demikian sang Anak tetap tidak boleh durhaka kepada mereka berdua, tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka berdua, meskipun sang Anak tidak mematuhi mereka jika mereka memaksa untuk berbuat syirik.

Beliau memerintahkannya agar terus merasa diawasi oleh Allah dan menakut-nakutinya untuk melakukan perbuatan dosa. Tidaklah dia mengerjakan hal kecil dan besar  yang berupa kebaikan dan keburukan kecuali Allah akan mendatangkan balasannya.

Beliau melarang anaknya untuk berbuat sombong dan memerintahkannya untuk ber-tawâdhu’ (rendah hati). Beliau melarangnya dari perbuatan angkuh, congkak dan sombong. Beliau memerintahkan anaknya untuk tenang dalam bergerak dan bersuara serta melarangnya untuk melakukan kebalikannya.

Beliau memerintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, mengerjakan shalat dan bersabar, yang dengan keduanya maka segala perkara menjadi mudah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’âlâ.

Sungguh, orang yang mewasiatkan wasiat-wasiat ini adalah orang yang diberi kekhususan dengan hikmah dan beliau terkenal dengan hikmah tersebut. Oleh karena itu, di antara karunia Allah kepada seluruh hambanya, Allah menceritakan kepada mereka sebagian hikmah Luqmân, sehingga hal ini menjadi teladan yang baik untuk mereka.[6]

Saya berharap kepada Allah jalla wa ‘alâ dengan semua nama-namanya yang indah dan sifat-sifatnya yang tinggi agar kisah ini mendatangkan manfaat dan mangajari kita dan agar Allah menjadikan apa yang kita pelajari sebagai penolong untuk kita dan justru bukan menjadi pencelaka kita. Dan mudah-mudahan Allah memberikan rezeki kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amalan soleh.

Saya memohon kepada Allah agar membalas Luqmân Al-Hakîm sebaik-baik balasan dan memaafkan kita dan dia, begitu pula kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat baik yang hidup maupun yang telah wafat. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.

Wallâhu ta’âla a’lam washallallâhu wa sallama ‘alâ nabiyyinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihî ajma’în.

Download Faidah-Faidah Dari Kisah Luqman AL-Hakim III

 


[1]  Diterjemahkan dari buku beliau yang berjudul ‘Fawâidu Mustanbathah min Qishshati Luqmân Al-Hakîm’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek Al-Haramain Asy-Syarîfain, kota Hâil, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufîq.”

[2] Madârijus-Sâlikîn I/434.

[3] HR Al-Bukhari no. 3009, 3701 dan 4210 dari hadîts Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu.

[4] Tafsîr Ibni Katsîr (VI/339).

[5] QS Luqmân: 19.

[6] Tafsîr Ibni Sa’di hal. 762.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: