Skip to content

BEKERJALAH WAHAI PENGANGGURAN

30 December 2013

usahaOleh: Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A.[1]

Sungguh sangat disayangkan sekali, banyak pengangguran di negeri kita ini. Para pelajar yang belajar di berbagai jenjang pendidikan, ketika lulus dari sekolah atau tempat dia belajar justru bukan “melahirkan” para pekerja atau pengusaha, tetapi justru “melahirkan” para pengangguran. Bagusnya suatu sekolah atau kuliah, ternyata bukan menjadi jaminan para pelajar tersebut akan bisa bekerja, berketerampilan yang baik atau membuka peluang usaha.

Banyak lembaga pendidikan justru mengajarkan pelajarnya untuk menjadi buruh atau pegawai. Sehingga kita dapatkan para pelajar mengatakan bahwa kami sedang menganggur, ketika lulus dari sekolah atau kuliah, jika mereka tidak mendapatkan pekerjaan.

Padahal pekerjaan bukan hanya menjadi pegawai atau buruh. Pekerjaan yang halal sangat banyak sekali. Bahkan kalau kita perhatikan di masyarakat kita, yang bekerja sebagai pegawai hanya sebagian saja. Ada yang bekerja di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, transportasi, komunikasi, jasa dll.

Orientasi pendidikan yang salah di negara kita menjadikan para pelajar kita tergantung dengan orang lain, tidak mau berusaha dan tidak mau berinisiatif mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. Dan yang sangat disayangkan mayoritas mereka adalah kaum muslimin.

Apakah Islam mengajarkan seperti itu? Tentu tidak.

Semangat ketergantungan kepada orang lain bukanlah suatu yang terpuji. Islam telah mengajarkan seluruh aspek kehidupan, termasuk permasalahan sosial seperti ini.

Anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar semua muslim mau berusaha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan para sahabat untuk mau bekerja dan tidak berdiam diri di rumah atau tergantung dengan orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

((لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ، أَوْ يَمْنَعَه.))

“Seseorang di antara kalian mencari seikat kayu bakar yang dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, terkadang diberi, terkadang tidak.”[2]

Pada hadits ini Rasulullah menganjurkan agar seorang muslim mau bekerja, meskipun pekerjaan tersebut sangat ringan atau tidak membutuhkan keterampilan khusus. Pekerjaan seperti ini sangat banyak di lingkungan kita, seperti: menjadi tukang angkat-angkat di pasar, menjadi tukang pemungut sampah, menjual telur atau makanan keliling dll.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berlindung dari sikap malas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa:

(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.))

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, ketakutan, kepelitan, dililit hutang dan dikuasai oleh orang-orang.”[3]

Seluruh apa yang disebutkan dalam doa di atas adalah akibat dari kelemahan, kemalasan dan kurangnya rasa tawakkal kepada Allah.

Penyakit inilah yang banyak menjangkit di masyarakat kita. Kaum muslimin harus bangkit dari tidur dan kemalasannya.

Orang yang kuat berusaha tidak pantas untuk meminta-minta

Orang yang kuat berusaha tidak sepantasnya menggantungkan dirinya kepada orang lain, kecuali jika benar-benar terpaksa atau benar-benar sangat membutuhkan, seperti: orang yang cacat total, sakit parah, tua renta, orang yang menanggung hutang orang lain, orang miskin yang tidak bisa mencukupi kebutuhan  hariannya dll.

Oleh karena itu, disebutkan di dalam hadits berikut:

(( عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِىِّ بْنِ الْخِيَارِ قَالَ: أَخْبَرَنِى رَجُلاَنِ أَنَّهُمَا أَتَيَا النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَقْسِمُ الصَّدَقَةَ فَسَأَلاَهُ مِنْهَا فَرَفَعَ فِينَا الْبَصَرَ وَخَفَضَهُ فَرَآنَا جَلْدَيْنِ فَقَالَ: (( إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيهَا لِغَنِىٍّ وَلاَ لِقَوِىٍّ مُكْتَسِبٍ. ))

Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Adi bin Al-Khiyar, dia mengatakan bahwa ada dua orang mengabarkan kepadaku bahwa mereka dulu pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji wada’ dan beliau sedang membagi-bagikan sedekah. Kemudian dua orang tersebut memintanya agar mendapatkan sedekah. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke atas sampai ke bawah tubuh kami. Beliau melihat  kami berdua sebagai orang yang kuat. Beliau pun mengatakan, “Jika kalian mau, saya akan memberikan kepada kalian berdua. Akan tetapi sedekah tidak diperuntukkan untuk orang yang kaya atau yang kuat untuk berusaha.”[4]

Pekerjaan yang halal sangat banyak sekali, meskipun hasilnya mungkin tidak begitu besar. Meskipun demikian penghasilan yang sedikit dan dapat menghidupi diri sendiri lebih baik daripada menjadi pengangguran dan tergantung dengan orang lain.

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin bekerja. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka adalah pekerja yang banyak menguras keringat.

(( عن عَائِشَةُ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- قالت: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ ، وَكَانَ يَكُونُ لَهُمْ أَرْوَاحٌ فَقِيلَ لَهُمْ لَوِ اغْتَسَلْتُمْ.))

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dulu sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pekerja untuk diri mereka sendiri. Dan dulu mereka memiliki bau (dari keringat mereka). Kemudian dikatakan kepada mereka, “Bagaimana jika kalian mandi?”[5]

Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang aktif bekerja.

Teladan yang baik dalam berusaha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kehidupan Nabi Dawud ‘alaihissalam yang makan dari hasil usahanya sendiri:

(( عَنِ الْمِقْدَامِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- عَنْ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ -عَلَيْهِ السَّلاَمُ- كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.))

Diriwayatkan dari Al-Miqdam radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada makanan yang dimakan oleh seseorang yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri. Dulu Nabi Dawud ‘alahissalam makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nama Nabi Dawud ‘alihissalam karena beliau adalah sosok yang terkenal dari banyak Nabi dan ternyata Nabi Dawud ‘alahissalam adalah seorang raja. Meskipun beliau menjadi seorang raja, beliau tetap tidak menggantungkan dirinya kepada rakyatnya. Beliau  berusaha sendiri untuk mencari penghasilan yang dapat mencukupi hidupnya dan keluarganya.

Begitu pula dengan Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّارًا.))

“Dulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.”[7]

 

Di dalam Shahih Al-Bukhari[8], ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan keadaan ayahnya setelah beliau diangkat menjadi khalifah, menggantikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( لَمَّا اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ قَالَ لَقَدْ عَلِمَ قَوْمِي أَنَّ حِرْفَتِي لَمْ تَكُنْ تَعْجِزُ عَنْ مَؤُونَةِ أَهْلِي وَشُغِلْتُ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَسَيَأْكُلُ آلُ أَبِي بَكْرٍ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَيَحْتَرِفُ لِلْمُسْلِمِينَ فِيه.))

“Ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq diangkat menjadi khalifah, beliau berkata, ‘Kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku tidaklah mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan aku disibukkan dengan urusan-urusan kaum muslimin. Keluarga Abu Bakr akan makan dari harta ini (baitul-mal) dan kaum muslimin akan mendapatkan pekerjaan di dalamnya.’.”

Seandainya Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengambil bagian dari baitul-mal begitu saja, sesuai kebutuhannya maka tidak mengapa. Tetapi beliau berinisiatif untuk membuka lapangan pekerjaan untuk kaum muslimin dengan modal yang dikeluarkan dari baitul-mal. Atas apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq tentunya beliau pun berhak mendapatkan keuntungan dari apa yang telah diusahakannya itu. Ini semua dilakukan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq agar tidak tergantung dari pemberian kaum muslimin.

Menanam modal pada anak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

 ((إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ.))

“Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah yang berasal dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anaknya termasuk usahanya.”[9]

Oleh karena itu, orang tua juga diperkenankan menikmati hasil yang diperoleh dari anaknya, karena harta anak adalah harta orang tua. Dan bukanlah suatu yang tercela jika orang tua meminta harta anaknya, selama tidak menzalimi anaknya tersebut, tidak memberikan kepada anaknya yang lain dan tidak mengambilnya pada saat mendekati ajal anaknya atau ajal dirinya sendiri.

Dulu ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata:

(يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ وَالِدِى يَجْتَاحُ مَالِى). قَالَ: (( أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ. ))

“Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya memiliki harta dan anak. Sesungguhnya orang tuaku banyak mengambil hartaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan hartamu adalah miliki orang tuamu. Sesungguhnya anak-anak kalian termasuk penghasilan kalian yang paling baik. Makanlah dari penghasilan anak-anak kalian.”[10]

Sehingga orang tua yang menginginkan anaknya memiliki penghasilan lebih darinya dapat menyekolahkannya/mengkursuskannya untuk mendapatkan suatu keahlian yang dapat digunakan untuk mencari pekerjaan. Setelah sang anak bekerja, dia bisa menikmati hasil yang telah dilakukannya itu.

Bekerjalah wahai pengangguran!

Sesungguhnya para sahabat di zaman dahulu menyibukkan dirinya dengan dua hal: yang pertama disibukkan dengan bekerja dan beribadah, dan yang kedua disibukkan dengan ibadah dan menuntut ilmu. Kedua kesibukan ini tidak tercela, karena kedua-duanya mengerjakan suatu yang bermanfaat untuk orang lain. Para sahabat sangat benci jika melihat seseorang yang kuat berusaha, tetapi tidak mau bekerja atau tidak mau menyibukkan dirinya dengan beribadah dan menuntut ilmu.

Sifat ketergantungan kepada orang lain harus segera disingkirkan. Termasuk di dalamnya ketergantungan kepada orang tua. Seorang anak yang sudah dewasa seharusnya memiliki rasa malu untuk meminta-minta kepada orang tuanya, meskipun orang tuanya mampu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 (( إِنَّ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِى أَمْرٍ لاَ بُدَّ مِنْهُ.))

“Sesungguhnya meminta-minta adalah cakaran yang seseorang mencakar sendiri wajahnya, kecuali seseorang yang meminta kepada pemimpin atau pada urusan yang harus untuk meminta.” [11]

(( مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.))

“Senantiasa seseorang meminta-minta kepada manusia, sampai nanti di hari kiamat wajahnya tidak memiliki daging sedikit pun.”[12]

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita kekuatan untuk berusaha dan tidak bergantung kepada orang lain dan hanya bertawakkal kepadanya.

Mudahan bermanfaat. Amin.

Daftar Pustaka

  1. Mir’atul-mafatih Syarh Misykatil-Mashabih . Muhammad ‘Abdussalam Al-Mubarakfuri.
  2. Subulussalam. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Kairo: Darul-Hadits.
  3. Syarh Riyadhishshalihin. Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Darussalam.
  4. Umdatul-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari. Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi.
  5. Buku-buku lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

[1] (S-1) Alumni Universitas Islam Madinah, Hadits. (S-2) Mediu Malaysia, Fiqhussunnah. Kepala SDIT Al-Istiqomah Prabumulih.

[2] HR. Al-Bukhari no. 2074.

[3] HR. Al-Bukhari no. 2893.

[4] HR. Abu Dawud no. 1635 dan An-Nasai no. 2598. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (V/335) mengatakan, “Sanad-nya shahih sesuai syarat Al-Bukhari. Ibnu ‘Abdil-Hadi men-shahih-kannya dan Ahmad mengatakan jayyid (baik).”

[5] HR. Al-Bukhari no. 2071.

[6] HR. Al-Bukhari no. 2072.

[7] HR. Ahmad no. 7947 dan Ibnu Majah no. 2150. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4456.

[8] HR. Al-Bukhari no. 2070.

[9] HR. An-Nasai no. 4452, At-Tirmidzi no 1358 dan Ibnu Majah no. 2137. Di-shahih-kan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 1626.

[10] HR. Abu Dawud no. 3530 dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dan Ibnu Majah no. 2291 dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih.” Dalam Al-Irwa’ no. 838.

[11] HR. Abu Dawud no. 1639, An-Nasa-i no. 2600 dan dalam As-Sunan Al-Kubra (III/80) no. 2392,  At-Tirmidzi no. 681. At-Tirimidzi dalam Sunan-nya beliau berkata, “Hasan Shahih.”,  Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1947 dan dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam catatan kakinya terhadap Musnad Ahmad.

[12] HR Al-Bukhari no 1474 dan Muslim no. 1040/2398.

One Comment leave one →
  1. 23 May 2014 21:15

    Reblogged this on enggus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: