Skip to content

Di Antara Keutamaan dan Adab Puasa

30 December 2013

muharramOleh: Said Yai

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: قَالَ اللَّهُ: ((كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ, وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ، وَلاَ يَصْخَبْ, فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ, وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ, لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ.))

Arti Hadits:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berkata, ‘Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila pada suatu hari seseorang di antara kalian berpuasa, maka dia tidak boleh berkata kotor dan tidak boleh berteriak (yang sia-sia). Apabila seseorang mulai mengejek atau mengajaknya berkelahi, maka katakanlah: Sesungguhnya saya adalah orang yang sedang berpuasa. Demi yang jiwa Muhammad ada di tangannya. Perubahan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak misk/kesturi. Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang membahagiakan dirinya. Apabila dia berbuka maka dia senang (dengan buka puasanya) dan apabila dia bertemu dengan Rab-nya, maka dia akan senang dengan puasanya.’.”

Takhrij Ringkas:

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam Kitab Ash-Shaum, Bab Hal Yaquulu Innii Shaaim idzaa syutima, no. 1904,

Dan Al-Imam Muslim (dalam bab-bab yang dibuat oleh Imam Nawawi) Bab Fadhlush-Shiyam No. 1151/2762 dan lain-lain.

Hadits ini dishahihkan oleh kedua Imam tersebut dan yang lainnya.

Makna Ringkas:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan perkataan Allah kepada para sahabatnya, Allah subhanahu wa ta’ala berkata:

Setiap amalan anak Adam (meliputi shalat, zakat, sedekah, membantu orang lain dan lain-lain) adalah untuknya sendiri kecuali puasa (karena puasa tidak terdapat riya’/ingin dipuji oleh orang lain ketika mengerjakannya).

Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya (dengan balasan yang sangat berlipat ganda yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah).

Puasa adalah perisai (yang dapat membantu melindungi seseorang dari perbuatan maksiat atau dosa, sehingga melindunginya dari neraka).

Apabila pada suatu hari seseorang di antara kalian berpuasa, maka dia tidak boleh (atau dilarang) berkata kotor (yaitu perkataan yang berhubungan dengan syahwat terhadap wanita) dan tidak boleh berteriak (yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukan perbuatan dusta, maka Allah tidak memiliki hajat untuk menerima (apa yang ditinggalkannya) berupa makan dan minum (HR Al-Bukhari), artinya Allah tidak akan menerima puasanya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim yang berpuasa harus memperhatikan segala apa yang dilakukannya ketika puasa sehingga tidak merusak puasa yang dikerjakannya atau menjadikannya sia-sia.)

Apabila seseorang mulai mengejek (memulai memancingnya untuk menjawab celaannya tersebut dengan ejekan juga) atau mengajaknya berkelahi (menantangnya untuk berkelahi atau telah memukulnya), maka katakanlah: Sesungguhnya saya adalah orang yang sedang berpuasa. (Ini menunjukkan dianjurkan mengucapkan perkataan ini kepada orang yang mencela atau menantangnya tersebut dan menghindari perbuatan mencela dan berkelahi tersebut dengan berbagai cara. Jika tidak cukup dengan perkataan, maka dengan mengelak, jika tidak bisa dihindarkan maka dengan menangkis pukulan orang tersebut atau berlari). Demi yang jiwa Muhammad ada di tangannya (Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah atas nama Allah). Perubahan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah (yakni Allah akan menggantikan bau mulut tersebut di akhirat dengan bau yang sangat dan lebih harum) daripada minyak kesturi/misk (yaitu minyak harum yang di ambil dari cairan yang menggumpal di tubuh rusa jenis tertentu. Minyak ini sangat harum dan sangat disukai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang membahagiakan dirinya. Apabila dia berbuka maka dia senang (dengan buka puasanya, karena lapar dan dahaganya hilang ketika diperbolehkan untuk berbuka atau bergembira karena dia telah menyelesaikan puasanya dan menjalankan ketaatan kepada Allah).

dan apabila dia bertemu dengan Rab-nya, maka dia akan senang dengan puasanya (yaitu ketika bertemu dengan Rab-nya dengan membawa banyak kebaikan dari puasanya tersebut dan mengetahui besarnya pahala puasa yang telah dia kerjakan)’.”

Penjelasan Hadits

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ)

“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

Para ulama berselisih pendapat dalam mengartikan hadits ini dan menyebutkan alasan mengapa hanya Allah yang membalasnya, di antara pendapat-pendapat mereka sebagai berikut:

  1. Seluruh amalan anak Adam mungkin saja terjadi riya’ di dalam hatinya, tetapi tidak demikian dengan puasa. Puasa tidak terdapat riya’ di dalamnya.
  2. Seluruh amalan anak Adam memiliki keuntungan untuknya kecuali puasa. Puasa tidak memiliki keuntungan baginya.
  3. Allah tidak makan dan tidak minum, sehingga seorang hamba memiliki sifat tersebut ketika berpuasa, tentunya dengan keyakinan bahwa sifat Allah jelas berbeda dengan sifat makhluk-Nya.
  4. Puasa disandarkan kepada Allah dalam penyebutannya di dalam hadits, ini menunjukkan besarnya kedudukan puasa di hadapan Allah.
  5. Seluruh amalan-amalan yang zhahir/tampak dicatat oleh para malaikat, sedangkan puasa tidak diketahui oleh malaikat, karena puasa hanya terdiri dari niat berpuasa dan menahan diri dari yang membatalkannya. Dan disebutkan beberapa pendapat lain.

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ)

“Maka katakanlah: Sesungguhnya saya adalah orang yang sedang berpuasa.”

Para ulama berselisih pendapat, apakah lebih baik diucapkan dengan lisan atau cukup di dalam hati. Allahu a’lam, zhahir (yang tampak) dalam hadits ini adalah diucapkan dengan lisan.

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ)

“Perubahan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi/misk.”

Para ulama menyebutkan beberapa penafsiran dari lafaz ini. Di antara tafsiran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Allah akan menggantikan bau mulutnya tersebut dengan bau mulut yang lebih harum dari misk di hari kiamat
  2. Bau mulut tersebut hanya sekedar majas saja/bukan makna yang sebenarnya. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal tersebut untuk menunjukkan kedekatan Allah dengan orang yang berpuasa.
  3. Dia akan mendapatkan pahala melebihi pahala orang yang memakai minyak wangi. Karena memakai minyak wangi hukumnya adalah sunnah.
  4. Menurut para malaikat bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk, meskipun menurut manusia tidak demikian dan disebutkan beberapa pendapat lain.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama, karena di dalam shahih Muslim[1] dengan jelas terdapat tambahan (يَوْمُ الْقِيَامَة) hari kiamat.

Beberapa permasalahan fiqh

Apakah berdusta, berkelahi, ghibah dan sejenisnya dapat membatalkan puasa?

Berdusta, berkelahi, ghibah, mencela orang lain dan amalan-amalan sejenisnya tidak membatalkan puasa, tetapi hal-hal tersebut dapat menghapuskan pahala puasa dengan dalil yang telah disebutkan di atas. Inilah pendapat sebagian besar ulama (jumhur). Sebagian ulama seperti Al-Auza’i, Ibnu Hazm dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berpendapat bahwa ghibah dapat membatalkan puasa. Pendapat ini lemah.

Apa hukum bersiwak atau menggosok gigi ketika puasa?

Tidak mengapa bersiwak atau menggosok gigi ketika berpuasa karena dalil yang menunjukkan disunnahkan untuk bersiwak bersifat umum baik dalam keadaan berpuasa atau tidak, seperti perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ)

“Siwak adalah pembersih mulut dan diridhai oleh Allah.”[2] Dan perkataan beliau:

(لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي ، لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ.)

“Kalaulah tidak memberatkan umatku, maka saya akan menyuruh mereka untuk bersiwak setiap hendak shalat.”[3]

Dan tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan bahwa tidak diperbolehkan bersiwak ketika berpuasa baik sebelum atau setelah masuk waktu dzuhur (zawal). Dan yang masyhur di madzhab Imam Syafi’i hukumnya adalah makruh (dibenci) setelah masuk waktu dzhuhur. Pendapat ini kurang tepat sebagaimana telah dijelaskan.

Apa hukum menggunakan siwak yang basah dan berasa atau menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi dalam keadaan berpuasa?

Menggunakan siwak yang basah dan berasa atau menggunakan pasta gigi sebaiknya dihindari, dan ini bisa dilakukan di malam hari, karena dengan tertelannya cairan dari siwak atau pasta gigi tersebut dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum. Oleh karena itu, para ulama menghukumi makruhnya. Gunakan sikat gigi dengan tidak memakai odol.

Allahu a’lam bishshawab. Mudahan bermanfaat.

Daftar Pustaka

  1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi.
  2. Al-Mufhim lima Asykala min Shahih Muslim. Abul-‘Abbas Ahmad bin ‘Umar Al-Qurthubi.
  3. Fathul-Bari. Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani.
  4. ‘Umdatul-qari Syarh Shahih Al-Bukhari. Badruddin Al-‘Aini.
  5. Dan lain-lain

[1] No. 1151

[2] HR An-Nasai no. 5 dan Ibnu Majah no. 289. Syaikh Al-Albani menshahihkannya.

[3] HR Muslim no. 252, An-Nasai no. 7, At-Tirmidzi no. 22 dan Ibnu Majah no. 287 dari Abu Hurairah dan Abu Dawud no. 47 dan At-Tirmidzi no. 23 dari Khalid Al-Juhani.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: