Skip to content

PENJAGAAN ISLAM TERHADAP WANITA

30 December 2013

langitOleh: Said Yai[1]

 

LAFAZ HADITS

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِى أُسَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلنِّسَاءِ:

(( اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ, عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّرِيقِ )). فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ.

 

Diriwayatkan dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari dari ayahnya (Abu Usaid Al-Anshar radhiallahu ‘anhu) bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sedang keluar dari masjid (dan melihat) laki-laki dan perempuan bercampur baur di jalan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para wanita), “Mundurlah! Sesungguhnya bukan hak kalian berjalan di tengah jalan. Hendaklah kalian  berjalan di pinggir jalan.” (Abu Usaid Al-Anshary radhiallahu ‘anhu) berkata, “maka para wanita mendekatkan dirinya ke tembok sampai-sampai baju mereka terkait  tembok karenanya.

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5272, Ath-Thabari dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (IX/262) dan Imam Al-Baihaqi dalam Al-Jami’ li Syu’abil Iman No. 7437. Ibnu Hibban juga meriwayatkan dari jalan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu  dengan lafadz ( ليس للنساء وسط الطريق )  dalam Shahih Ibnu Hibban bi tartib Ibni Balaban no. 5601.

Derajat hadits ini hasan sebagaimana yang dikatakan oleh syeikh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (II/511) no. 856.

 

FAIDAH-FAIDAH HADITS

  1. Diharamkan ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram pada satu tempat).
  2. Islam melarang segala hal yang dapat menjerumuskan seseorang kepada perbuatan zina. Di antaranya adalah seperti yang dicantumkan di hadits.
  3. Islam menjaga kaum wanita agar tidak diganggu oleh para lelaki.
  4. Wanita lebih utama berada di dalam rumahnya, kecuali ada keperluan yang dibenarkan oleh syariat untuk keluar rumah.
  5. Praktik Amr bil-ma’ruf wan-nahyu ‘anil-munkar (memerintahkan kepada perbuatan baik dan melarang dari yang mungkat)) yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Semangat para sahabat  dalam menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini terlihat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita untuk berjalan di pinggir, maka seketika itu pula mereka langsung mengamalkan perintah tersebut

 

PENJELASAN HADITS

Islam Sangat Menghormati Kaum Wanita

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan umatnya untuk berperilaku yang mulia, yaitu dengan melarang ikhtilath antara laki-laki dan perempuan. Beliau juga mengarahkan para wanita tentang cara yang benar ketika berjalan bersama laki-laki di jalan, yaitu dengan berjalan di pinggir jalan bukan di tengahnya karena tengah jalan diperuntukkan untuk laki-laki.

Dengan demikian mereka akan terhindar dari ikhtilath, serta terhindar dari hal-ha yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan dengannya pula kesucian diri akan terjaga terutama kesucian para wanita.

Seorang wanita dalam Islam layaknya mutiara yang sangat berharga. Oleh karena itu, syariat islam datang untuk menjaga para wanita, dan bukan sebaliknya.

Banyak orang yang berhati kotor ingin merusak kehormatan wanita sehingga mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengekang dan memenjarakan wanita. Ini adalah suatu perkataan yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada Rasulnya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan iman yang benar yang meyakini kesempurnaan agama ini.

 

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mulia. Islam sangat memperhatikan kemuliaan akhlak dan budi pekerti.  Oleh karena itu, Islam mengharamkan ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya) serta menutup rapat-rapat segala jalan yang dapat membawa kepadanya.

 

Kerusakan – kerusakan Yang Disebabkan oleh Ikhtilath

Tidaklah Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan sesuatu, melainkan hal tersebut pasti memiliki  kerusakan atau bahaya. Begitu pula dengan ikhtilath, tidaklah ikhtilath diharamkan melainkan karena ikhtilath adalah penyebab besar dari kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi ini.

Di antara kerusakan yang disebabkan oleh ikhtilath adalah:

  1.  Dia merupakan sebab ternodanya kesucian diri dan harga diri seseorang, terutama kaum wanita

Betapa sering kita mendengar berita atau membaca di surat kabar tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang -orang yang hatinya rusak terhadap kaum wanita, baik di jalan, di kendaraan umum atau bahkan di lembaga-lembaga pendidikan. Ini semua tidaklah terjadi melainkan ada pintu menuju hal-hal tersebut yang terbuka lebar..

  1. Hilangnya kecemburuan dan rasa malu

Bukan hal yang tabu lagi pada zaman kita sekarang ini, apabila seorang wanita pergi berduaan atau berjalan berduaan dengan pria yang bukan mahramnya. Hal seperti ini sudah menjadi hal yang biasa, tidak ada rasa malu pada diri mereka ketika melakukan hal tersebut dan tidak ada rasa kecemburuan dari keluarga si perempuan apabila melihat anaknya atau saudarinya berjalan dengan lelaki yang bukan mahramnya.

Ini semua tidaklah terjadi kecuali karena ihktilath sudah menjadi hal yang dianggap biasa oleh kebanyakan kaum muslimiin.

Ibnu-Qayyim Al-Jauziyah juga menyebutkan kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh ikhtilath, beliau berkata:

ولا ريب أن تمكين النساء من اختلاطهن بالرجال أصل كل بلية وشر وهو من أعظم أسباب نزول العقوبات العامة كما أنه من أسباب فساد أمور العامة والخاصة واختلاط الرجال بالنساء سبب لكثرة الفواحش والزنا وهو من أسباب الموت العام والطواعين المتصلة.

ولما اختلط البغايا بعسكر موسى وفشت فيهم الفاحشة أرسل الله عليهم الطاعون فمات في يوم واحد سبعون ألفا والقصة مشهورة في كتب التفاسير. فمن أعظم أسباب الموت العام كثرة الزنا بسبب تمكين النساء من اختلاطهن بالرجال والمشي بينهم متبرجات متجملات ولو علم أولياء الأمر ما في ذلك من فساد الدنيا والرعية قبل الدين لكانوا أشد شيء منعا لذلك

 

”Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan wanita bercampur-baur dengan laki-laki adalah sumber dari segala petaka, dan ia termasuk sebab terbesar dari sebab-sebab turunnya azab yang secara merata menimpa manusia, sebagaimana pula ia termasuk sebab kerusakan perkara-perkara yang menyangkut orang banyak maupun pribadi. Campur baur pria dengan wanita adalah sebab munculnya banyak perbuatan keji dan zina. Dia juag sebagai sebab dari tersebarnya wabah kematian dan penyakit tha’un yang merata dan mematikan.

Ketika para pezina bercampur dengan pasukan Nabu Musa ‘alaihissalam dan menyebar kemaksiatan di antara mereka, maka Allah ‘azza wa jalla mengirim wabah penyakit tha’un yang mematikan, sampai-sampai dalam satu hari meninggallah tujuh puluh ribu orang dari mereka. Kisah ini sangat masyhur di kitab-kitab tafsir. Maka termasuk sebab menyebarnya wabah kematian yang merata adalah tersebarnya zina yang disebabkan oleh campur baurnya para wanita dengan laki-laki dan berjalan di tengah mereka dengan berhias-hias dan bersolek-solek. Seandainya para pemegang kekuasaan mengetahui akibat dari hal tersebut pada dunia dan masyarakat, sebelum memandangnya dari segi agama, niscaya mereka akan sangat melarang perbuatan tersebut .” (Ath-Thuruq Al-Hukmiyah Fissiyaasah Asy-Syar’iyah hal. 407)

 

 

Islam Menjaga Kaum Wanita

Apa yang kita dengar dan kita lihat dari fenomena pelecehan terhadap wanita tidaklah terjadi melainkan karena penyimpangan terhadap syariat islam yang mulia ini. Pada hakikatnya syariat islam tidaklah diturunkan melainkan untuk menjaga kesucian diri manusia terutama kaum wanita. Oleh karena itu, Islam mensyariatkan hukum-hukum khusus untuk kaum wanita yang ini tidaklah disyariatkan melainkan untuk menjaga kesucian mereka, diantara hukum-hukum itu adalah :

  1. Diwajibkan bagi kaum wanita untuk berhijab yaitu menutup seluruh auratnya dan perhiasannya. Dalil yang menunjukan hal ini adalah :

{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} [الأحزاب: 59]

 “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri – istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Dan di dalam hadits :

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ, لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهِ.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Semoga Allah memberikan rahmat kepada wanita-wanita dari kaum muhajirin generasi pertama, ketika Allah menurunkan ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,” maka mereka langsung menyobek sarung-sarung mereka dan menggunakannya sebagai kain penutup wajah mereka.” (HR Al-Bukhari no.4758)

  1. Diwajibkan bagi wanita untuk menetap di rumah kecuali ada kepentingan yang mengharuskan ia keluar rumah, dalil yang menunjukan hak ini adalah :

Firman Allah ‘azza wa jalla :

(وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى ) [الأحزاب: 33]

Artinya : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

  1. Diharamkan bagi wanita untuk bertabaruj.

Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di hadapan laki-laki asing. Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya dari pada sufur, karena mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya. Sebagaimana dijelaskan pada ayat di atas.

Dan seperti terdapat pada hadits :

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله : ” صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli orang-orang dengannya dan para wanita yang berbaju tapi mereka telanjang, berlenggak-lenggok kepala mereka bagaikan punuk unta yang bergoyang. Wanita-wanita itu tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Padahal bau surga bisa tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

  1. Bagi wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya. Diantara  dalil yang menunjukkan hal itu adalah:

عن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال : قال النبي: ((لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ ” رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang wanita tidak boleh bepergian melainkan dengan mahramnya, seorang laki-laki tidak boleh menemui seorang wanita melainkan bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862)

 

Inilah beberapa hukum yang menunjukkan perhatian agama islam kepada wanita, tidaklah ini semua disyariatkan melainkan untuk melindungi kemuliaan dan kesucian diri wanita.

 

Mudahan bermanfaat.

 

Daftar Pustaka:

  1. Al-Jami’ li syu’abil Iman. Imam Al-Baihaqi, Tahqiq: Mukhtar Ahmad An-Nadawy. Maktabah Ar-Rusyd.
  2. Al-Mu’jam Al-Kabir. Imam At-Thabary. Tahqiq: Hamdi ‘Abdul Majid As-Salafy. Maktabah Ibnu Taimiyyah.
  3. Ath-Thuruq Al-Hukmiyah. Muhammad bin Abi Bakr Ayyub, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Muhammad Jamil Ghazi. Kairo: Mathba’ah Al-Madani.
  4. ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Al-Allamah Muhammad Syamsul-Haq Al-‘Azhim Abadi. Darul Kutub Al-Ilmiyyah Bairut. Cetakan I.
  5. Shahih Bukhari. Imam Al-Bukhari. Al-Maktabah As-salafiyyah.
  6. Shahih Ibnu Hibban Bitartib Ibnu Balban. Al-Amir Ala’uddin ‘Ali bin Balban Al-Farisi. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth. Muassasah Ar-Risalah.
  7. Shahih Muslim. Imam Muslim. Darul-Kutub Al-Ilmiyyah
  8. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Maktabah Ma’arif.
  9. Sunan Abi Dawud. Imam  Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistany. Maktabah Al-Ma’arif, cetakan II.

 

 

 

 

 


[1] Tulisan ini diadopsi dengan beberapa penambahan dan pengurangan dari tulisan Ust. Adi Aprianto (Mahasiswa Universitas Islam Madinah) yang berjudul ‘Islam Menjagamu Wahai Saudariku’ sebagai tugas Mata Kuliah Hadits sewaktu beliau di Ma’had Ali Imam Syafii Jember.

One Comment leave one →
  1. 9 April 2014 13:42

    Blognya Keren dan Salam Kenal

    Blogwalking Web Kimia SMK Asyik
    Di
    http://www.trigpss.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: