Skip to content

Apa Hukum Menginapnya Wanita Yang Bersafar Tanpa Mahram?

1 July 2016

Soal:

Assalamualaikum. Maaf ustadz, mohon penjelasan tentang tidak diperbolehkannya safar bagi seorang perempuan itu maksudnya haram atau bagaimana ya ustadz? Terus maksud dari safar disini apakah sekedar di jalan saja atau posisi sudah di tempat tujuan tapi hanya beberapa hari masih dihitung safar? Contoh kasus, seorang wanita karena tugas, dia harus menginap di hotel luar kota (yang sudah terhitung safar) untuk beberapa hari tanpa di dampingi mahramnya. Mahram hanya mengantar dan menjemputnya ketika sudah selesai.  Apakah hal ini termasuk terlarang juga atau bagaimana ustadz? Terima kasih atas penjelasan Ustadz.

Wassalamualaikum.

Abdillah di S

 Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahamtullah wabarakatuh. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala rasulillah.

 

Berkaitan dengan soal di atas ada beberapa pertanyaan yang diajukan.

Apakah hukum safar wanita tanpa mahram?

Wanita tidak boleh safar tanpa mahram atau tanpa suaminya. Hal ini ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ.

“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bersafar sejauh perjalanan sehari semalam tanpa bersama mahramnya.”[1]

 

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ ، وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتِ امْرَأَتِي حَاجَّةً قَالَ اذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ.

“Tidak boleh seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita. Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya.” Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata, “Saya telah tercatat untuk ikut perang ini dan itu, sedangkan istriku telah keluar untuk berhaji.” Beliau bersabda, “Pergilah dan berhajilah bersama istrimu!”[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh lelaki tersebut untuk membatalkan jihadnya dan dia diperintahkan untuk menemani istrinya untuk bersafar. Ini menunjukkan wanita haram bersafar tanpa mahram atau tanpa suaminya. Oleh karena itu, seorang wanita yang merasa beriman kepada Allah dan hari akhir haruslah mengindahkan larangan ini. Dan larangan ini merupakan ijma’ atau kesepakatan para ulama, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani  rahimahullah:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ السَّفَرِ لِلْمَرْأَةِ بِلَا مَحْرَمٍ وَهُوَ إِجْمَاعٌ فِيْ غَيْرِ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَالْخُرُوْجِ مِنْ دَارِ الشِّرْكِ.

“Dan hadits ini dijadikan dalil yang menunjukkan tidak dibolehkannya safar bagi seorang wanita tanpa mahramnya. Dan ini adalah ijma’ (kesepakatan para ulama) pada selain haji, umrah dan keluar dari negeri syirik.”[3]

 

Apakah cukup dengan diantar dan dijemput jika seorang wanita safar dan tinggal di hotel?

Apabila wanita tersebut masih berstatus “sedang bersafar” meskipun dia sedang tinggal di hotel, penginapan, rumah orang lain dan semisalnya, maka dia harus ditemani oleh mahram atau suaminya. Jika tidak maka dia telah melakukan hal yang terlarang sebagaimana disebutkan pada dua hadits di atas. Berbeda jika wanita tersebut diantar atau dijemput oleh mahramnya di suatu tempat yang wanita tersebut akan bermukim (tinggal) di sana, maka hal tersebut tidak mengapa, selama bisa terjaga keamanannya.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada wanita-wanita yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah dan berniat untuk tinggal di Madinah, mereka mendapatkan keringanan untuk bersafar tanpa mahram, karena keberadaan mereka di Mekkah sangat berbahaya untuk mereka. Di Madinah sebagian besar mereka tidak memiliki mahram, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada para sahabat untuk menikahi mereka.

Allahu a’lam bishshawab. Billahittaufiq.

 

[1] HR Al-Bukhari no. 1088 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[2] HR Al-Bukhari no. 3006 dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.

[3] Fathul-Bari II/568.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: