Skip to content

Bagaimana Kedudukan Ilmu Umum Bila Dibandingkan dengan Ilmu Syar’i?

4 July 2016

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz, mohon penjelasannya, banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu, ilmu apakah yang dimaksud disini? Kalau yang dimaksud ilmu syar’i lalu bagaimana kedudukan ilmu umum seperti fisika, kimia dll.

Humaidi – pandeglang – 08578257XXXX

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris-pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan uang dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.”[1]

Pada hadits di atas kita memahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa para nabi hanyalah mewariskan ilmu dan kita juga tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan ilmu pertanian, ilmu peternakan dan ilmu-ilmu dunia lainnya.

Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwa seluruh lafaz ‘ilmu’ di dalam dalil-dalil syariat maksudnya adalah ilmu agama. Dengan demikian jika kita mendengar berbagai macam dalil yang menyebutkan keutamaan ilmu, keutamaan penuntut ilmu dan keutamaan ulama, maka seluruhnya kembali kepada ilmu agama dan bukan ilmu dunia.

Untuk ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat dan tidak menimbulkan mudharat (bahaya) maka tidak akan mendapatkan keutamaan apa-apa dengan sendirinya, kecuali jika diniatkan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, seperti: untuk meninggikan Islam, memberikan manfaat kepada orang lain, membantu dakwah, menyebarkan kebaikan dan melarang dari perbuatan mungkar, agar orang Islam tidak lagi memanfaatkan orang kafir untuk bekerja dll.

Oleh karena itu, orang yang menuntut ilmu dunia tidak mengapa mengharapkan balasan dari dunia, seperti: mendapatkan penghasilan besar dengan ilmunya, menjual ilmunya, mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan dll. Berbeda dengan orang yang menuntut ilmu agama Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menuntut ilmu yang diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tidaklah dia mempelajarinya kecuali hanya untuk mendapatkan barang-barang dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga di hari kiamat.”[2]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas di dalam Syarh Riyadhishshalihin, beliau mengatakan, “Ilmu-ilmu itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama harus diniatkan wajah Allah. Dia adalah ilmu-ilmu syariat dan apa-apa yang mendukungnya dari ilmu-ilmu Bahasa Arab. Dan bagian yang lain adalah ilmu dunia, seperti: ilmu teknik, bangunan, mekanik dan ilmu-ilmu sejenisnya. Adapun jenis ilmu yang kedua ini maka tidak mengapa seorang manusia mengharapkan dunia. Misalnya seorang belajar teknik agar menjadi teknisi, kemudian dia mengambil gaji dan upah, seorang belajar mekanik agar menjadi ahli mekanik kemudian dia bekerja, bersungguh-sungguh dan dia meniatkan dunia, maka hal tersebut tidak mengapa dia meniatkannya untuk dunia.

Akan tetapi kalau seseorang meniatkan untuk bisa bermanfaat untuk kaum muslimin dengan belajarnya tersebut maka itu lebih baik dan dia mendapatkan agama dan dunianya … Akan tetapi, kalau dia tidak meniatkan kecuali hanya dunia, maka hukumnya boleh dan dia tidak berdosa. Ini hukumnya seperti orang yang menjual dan membeli agar hartanya bertambah.”[3]

Orang-orang kafir berbangga-bangga dengan ilmu dunia yang mereka miliki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Ar-Rum: 7)

Meskipun kita mempelajari ilmu-ilmu dunia sudah sepantasnya kita tidak lalai dengannya dan meninggalkan belajar ilmu agama, karena ilmu-ilmu dunia yang dimiliki oleh orang-orang kafir tersebut tidak bermanfaat untuk akhirat mereka.

Akan tetapi, bukan berarti ilmu-ilmu dunia tidak bermanfaat dan tidak dibutuhkan di dalam agama ini. Bisa saja suatu ilmu dunia dihukumi fardhu kifayah dalam mempelajarinya, sehingga apabila di suatu wilayah tidak ada yang mempelajarinya maka semua orang di wilayah tersebut berdosa. Sebagai contoh, suatu negara membutuhkan orang yang mempelajari Bahasa pemprograman komputer dan ilmu-ilmu komputer lainnya, ternyata di negara tersebut tidak ada yang mengerti ilmu tersebut, sementara untuk berkomunikasi dengan negara-negara lain sangat dibutuhkan orang yang mengerti ilmu tersebut, jika tidak maka negara-negara lain bisa saja dengan mudah menipu pemerintah negara tersebut, maka hukum mempelajarinya menjadi fardhu kifayah. Jika kita katakan fardhu kifayah berarti ganjarannya sangat besar untuk orang yang mempelajarinya.

Billahittaufiq wallahu a’lam bishshawab.

[1] HR Abu Dawud no. 3643, At-Tirmidzi no. 2682 dan Ibnu Majah no. 223. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah.

[2] HR Abu Dawud no. 3666 dan Ibnu Majah no. 252. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah.

[3] Syarh Riyadhishshalihin, Hadits no. 1391.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: